تسجيل الدخولRapat berlanjut.
Eryx menyetujui beberapa hal. Menolak yang lain. Membuat keputusan besar berdasarkan kriteria yang Aeri tidak sepenuhnya pahami—apakah ia tertarik, apakah ia bosan, apakah ia sedang merasa beruntung. Di tengah rapat, seorang asisten membawa makanan ringan. Eryx langsung mengambil pastry dan mulai makan dengan santai, sementara CFO sedang menjelaskan arus kas. Aeri ingin menarik rambutnya sendiri. Ketika rapat akhirnya selesai pukul sepuluh tiga puluh—tiga puluh menit lebih cepat dari jadwal karena Eryx jelas sudah bosan—Aeri merasa seperti baru menyelesaikan maraton. “Itu brutal,” kata Eryx sambil berjalan keluar dari ruang rapat, seolah itu hanya komentar santai. “Serius, kenapa mereka harus presentasi sampai membosankan begitu? Kenapa tidak langsung ke inti saja?” “Mereka berusaha menyampaikan secara menyeluruh, Tuan,” jawab Aeri kaku. “Itu bagian dari pekerjaan mereka.” “Ya, tapi ada perbedaan antara menyeluruh dan terlalu bertele-tele,” kata Eryx sambil masuk ke lift lagi. “Harus ada keseimbangan. Mereka tidak menemukannya. Mereka cuma bicara, bicara, dan terus bicara.” Aeri berdiri di dalam lift bersama Eryx yang tampaknya tidak menyadari bahwa keputusan yang ia buat tiga puluh menit lalu bisa berdampak pada ribuan orang. “Jadwal berikutnya adalah pertemuan dengan investor eksternal pukul sebelas,” kata Aeri sambil memeriksa ponselnya. “Lokasi—” “Batalkan,” potong Eryx. Aeri menatapnya. “Tuan?” “Batalkan. Aku tidak mau ke sana hari ini,” kata Eryx santai. “Jadwalkan ulang… entahlah, minggu depan?” “Para investor sudah menunggu, Tuan. Mereka datang dari luar kota khusus untuk pertemuan ini.” “Kalau begitu, mereka bisa datang lagi minggu depan,” kata Eryx, masuk ke kantornya dan langsung menjatuhkan diri ke sofa seolah gravitasi adalah musuh pribadinya. “Aku tidak mau menghadapi investor hari ini. Aku lelah.” “Anda baru bangun empat jam yang lalu, Tuan.” “Justru itu. Kepalaku sudah lelah dari semua pembicaraan dan keputusan,” kata Eryx sambil memejamkan mata. “Katakan saja aku menjadwalkan ulang. Katakan apa pun yang menurutmu bisa membuat mereka tidak marah. Itu tugasmu, kan?” Aeri ingin mengatakan bahwa tugasnya adalah melindungi, bukan mengatur jadwal sosial atau membersihkan akibat keputusan impulsif. Aeri ingin mengatakan bahwa ini tidak profesional, bahkan mungkin melanggar banyak hal. Tetapi yang dia hadapi adalah Eryx Leander yang seenaknya dan tidak peduli dengan sekitarnya. Jadi untuk apa dia terus menentang keputusannya? Justru ini menguntungkan. Dia akan membantunya untuk gagal. Dia hanya perlu fokus pada tujuannya yaitu balas dendam. Malah sikap Eryx sangat mendukungnya untuk bisa balas dendam. "Baiklah tuan," jawab Aeri. Aeri berbalik, keluar dari ruangan, dan menelepon pihak investor untuk menjadwalkan ulang. Telepon itu berlangsung lebih lama dari yang seharusnya. Aeri berdiri di lorong yang sepi, suaranya tetap stabil, profesional, sementara di ujung sana nada kecewa berusaha ditekan agar tetap sopan. Ia memberikan alasan yang cukup masuk akal—penyesuaian jadwal internal, urgensi mendadak, komitmen lain yang tidak bisa ditinggalkan. Kata-kata yang rapi. Kebohongan yang bersih. Saat panggilan berakhir, Aeri menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kosong sejenak. Ini bukan bagian dari pekerjaannya. Tapi sekarang… entah sejak kapan, jadi bagian. Ia menarik napas pendek, lalu kembali ke kantor Eryx. Pintu terbuka tanpa suara. Eryx masih di sofa, satu tangan terlipat di bawah kepala, mata terpejam. Sekilas terlihat seperti benar-benar tertidur. Namun saat Aeri melangkah dua langkah masuk— “Berhasil?” suara itu muncul. Mata Eryx terbuka, menatap langit-langit. “Sudah saya tangani, Tuan,” jawab Aeri. “Hm.” Eryx mengangguk kecil, masih dalam posisi yang sama. “Mereka marah?” “Kecewa. Tapi masih bisa dikendalikan.” “Bagus.” Sudut bibir Eryx terangkat tipis. “Berarti kamu cukup pintar memilih kata.” Aeri tidak menanggapi. Ia berdiri di dekat pintu, kembali ke posisi siaga. Hening sejenak. Lalu— “Duduk saja.” Aeri mengerutkan alis tipis. “Tuan?” “Kamu berdiri terus dari tadi pagi. Melelahkan dilihat,” kata Eryx, masih tidak bergerak. “Sofa itu cukup besar.” “Saya baik-baik saja berdiri, Tuan.” Eryx mendengus pelan. “Kamu selalu begitu ya.” “Begitu bagaimana?” “Tegang. Kaku. Seperti dunia ini akan runtuh kalau kamu santai sedikit saja.” Ia akhirnya menoleh, menatap Aeri. “Duduk, kak.” Aeri membeku. Sepersekian detik. Sangat singkat—tapi cukup untuk terasa. “…Tuan?” suaranya tetap datar, tapi ada jeda yang tidak biasa. Eryx mengangkat alis, seolah tidak mengerti. “Apa?” “Anda memanggil saya… apa tadi?” Eryx terlihat berpikir sejenak, lalu bahunya terangkat ringan. “Kakak.” Hening. “Kenapa?” lanjutnya santai. “Masalah?” “Itu tidak sesuai dengan posisi profesional kita, Tuan.” “Semua yang aku lakukan hari ini juga tidak sesuai standar profesional, kalau kamu belum sadar,” balas Eryx tanpa beban. “Tapi kamu tetap di sini, kan?” "Lagipula, berapa umurmu Ka Gahensa? Sepertinya lebih tua kamu daripada aku. Jadi tidak salah bukan memanggilmu kakak?" Aeri berusia hampir 27 tahun. Sementara Eryx berusia hampir 25.Aeri berdiri diam dibalik tembok. Tak jauh darinya, orang-orang dari perusahaan Leander tengah membicarakan bos mereka, Eryx Leander. "Bukankah badan Eryx semakin bagus?" "Benar. Wajahnya juga rasanya semakin hari semakin tampan. Namun sifatnya sangat disayangkan. Kupikir wanita yang paling mencintainya dengan tulus sekalipun lama kelamaan akan kerepotan dengan sifatnya. Kemungkinan besar dia akan dijodohkan. Tetapi sejauh ini, kita belum mendengar kabar soal pasangannya." "Karena dia seorang pewaris tentu saja harus memiliki keturunan untuk mewarisi kepala keluarga. Saat ini kepala keluarga adalah orang yang tidak akan membiarkan takhta itu jatuh ke tangan siapapun. Meskipun keluarga Leander begitu tenang di luar, tetapi aku yakin di dalam mereka penuh persaingan yang sangat busuk." "Dan bos kita malah semakin bermain-main seperti itu." "Kabarnya pengawalnya sekarang adalah orang yang sangat ahli bela diri. Semoga ke depannya dia tidak diserang lagi. Entah dia sudah terlu
"Aku tidak suka makan malam keluarga," kata Eryx dengan tone yang terdengar putus asa sekaligus punya ketegasan di dalamnya yang mengartikan keinginan kuatnya. "Karena mereka selalu komplain. Tentang keputusan bisnisnya, tentang skandal, tentang apa yang aku lakukan salah. Setiap kali ada masalah, aku yang disalahkan. Setiap kali ada pertanyaan sulit, aku yang ditanya." Eryx terdengar sangat mengeluh. Berdasarkan pengakuannya, Aeri sekarang jadi bisa merasakan tekanan keluarga Leander. Keluarga ini juga dianggap misterius. Kenyataannya memang benar. "Aku terus meminta pada ayahku untuk tidak selalu mengikuti makan malam keluarga dan akhirnya dia mengizinkanku untuk tidak hadir," lanjut Eryx. "Aku biasanya menulis surat permintaan maaf dengan berbagai macam alasan. Ayahku menyetujui itu tanpa pertanyaan." Aeri merasa kecewa, tapi juga... penasaran. "Jadi kamu tidak akan hadir?" tanya Aeri. Eryx tersenyum dengan cara yang jahil—senyum yang sudah dikenali Aeri sebagai tanda
"Tidak apa-apa kak. Aku dikenal sebagai yang paling baik di keluarga ini jadi jika ada masalah dalam keluarga ini yang diketahui publik, biasanya aku yang disalahkan. Itu seperti...memang kinerjanya seperti itu. Jika aku berbalik menyerang, itu malah bisa menimbulkan masalah yang lebih serius, jadi lebih baik diam saja. Lagipula aku benci pertarungan dalam bentuk apapun," kata Eryx seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam."Tcih, apakah keputusan menjadi pengawal Eryx salah? Mungkin seharusnya aku menjadi pengawal anggota keluarga Leander yang lain yang bisa memberiku lebih banyak informasi. JIka perlu, atasan Kak Felix langsung," keluh Aeri di dalam hati. "Meskipun di sisi lain aku bisa memanfaatkan Eryx tetapi tampaknya butuh waktu lama," batin Aeri. "Sayang sekali Eryx. Saya harap bisa berguna untuk membelamu," kata Aeri. "Haha kakak kamu sepertinya tertarik dengan berita itu. Padahal itu kan sudah lama. Tetapi memang dibandingkan berita soal keluarga Leander yang lain, berita t
Untuk sesaat, Eryx tidak bergerak. Lalu ia tertawa—tawa yang ringan dan santai, seolah Aeri baru saja mengatakan sesuatu yang lucu. “Membunuh?” ulang Eryx, menatap Aeri dengan ekspresi polos. “Ya jelas lah aku tidak membunuh. Memegang senjata saja aku tidak berani." Aeri mengamati matanya. Mencari tanda. Ada sesuatu yang sempat berkilat—sangat cepat—lalu menghilang. “Tapi bagaimana dengan tuduhan itu,” kata Aeri hati-hati. “Iya, dituduh,” jawab Eryx sambil mengangkat bahu dengan santai. “Tapi ada perbedaan antara dituduh dan benar-benar melakukannya, kan? Ayahku hanya ingin aku punya pengawal karena dia terlalu protektif. Kamu tahu sendiri bagaimana orang tua—dengar gosip sedikit langsung panik.” Eryx berdiri dan berjalan ke arah jendela, menatap kota di bawah. “Lagi pula, ini topik yang membosankan,” katanya. “Bisa kita bicara hal lain? Kamu punya orang yang kamu suka atau semacamnya?” Perubahan topik yang tiba-tiba itu adalah ciri khas Eryx. Mengalihkan dengan pertanya
Aeri semakin kesal dengan segala omong kosong ini. Tetapi demi mencapai tujuannya, mau tidak mau dia harus melayani hal-hal tidak penting ini. "Benar tuan. Saya lebih tua dari tuan. Saya berusia hampir 27 tahun sementara tuan 25 tahun," kata Aeri. Aeri pernah melihat informasi di internet bahwa usia sebenarnya anggota keluarga Leander bisa jadi tidak sama dengan yang ditampilkan ke publik. Saat pertama kali bekerja pada Eryx, dia diberikan informasi oleh salah satu pengawal bahwa Eryx berusia hampir 25 tahun. "Jadi tidak masalah jika aku memanggilmu kakak," kata Eryx lagi dengan senyum puas seperti anak kecil. Mendengar itu, Aeri menjadi merasa punya masalah. Masalah pertama adalah setiap hari di sini membuat tujuan awal Aeri semakin kabur. Masalah kedua—yang paling mengganggu—adalah kemungkinan bahwa Eryx tidak bersalah sama sekali. "Aku harus pancing dia," batin Aeri. Saat Aeri akan menggali informasi lebih jauh soal keluarga Leander terutama soal Eryx, Eryx bicara la
Rapat berlanjut.Eryx menyetujui beberapa hal. Menolak yang lain. Membuat keputusan besar berdasarkan kriteria yang Aeri tidak sepenuhnya pahami—apakah ia tertarik, apakah ia bosan, apakah ia sedang merasa beruntung.Di tengah rapat, seorang asisten membawa makanan ringan. Eryx langsung mengambil pastry dan mulai makan dengan santai, sementara CFO sedang menjelaskan arus kas.Aeri ingin menarik rambutnya sendiri.Ketika rapat akhirnya selesai pukul sepuluh tiga puluh—tiga puluh menit lebih cepat dari jadwal karena Eryx jelas sudah bosan—Aeri merasa seperti baru menyelesaikan maraton.“Itu brutal,” kata Eryx sambil berjalan keluar dari ruang rapat, seolah itu hanya komentar santai. “Serius, kenapa mereka harus presentasi sampai membosankan begitu? Kenapa tidak langsung ke inti saja?”“Mereka berusaha menyampaikan secara menyeluruh, Tuan,” jawab Aeri kaku. “Itu bagian dari pekerjaan mereka.”“Ya, tapi ada perbedaan antara menyeluruh dan terlalu bertele-tele,” kata Eryx sambil masuk ke l







