Share

07

Penulis: Eselitaa
last update Tanggal publikasi: 2026-04-24 22:40:28

Rapat berlanjut.

Eryx menyetujui beberapa hal. Menolak yang lain. Membuat keputusan besar berdasarkan kriteria yang Aeri tidak sepenuhnya pahami—apakah ia tertarik, apakah ia bosan, apakah ia sedang merasa beruntung.

Di tengah rapat, seorang asisten membawa makanan ringan. Eryx langsung mengambil pastry dan mulai makan dengan santai, sementara CFO sedang menjelaskan arus kas.

Aeri ingin menarik rambutnya sendiri.

Ketika rapat akhirnya selesai pukul sepuluh tiga puluh—tiga puluh menit lebih cepat dari jadwal karena Eryx jelas sudah bosan—Aeri merasa seperti baru menyelesaikan maraton.

“Itu brutal,” kata Eryx sambil berjalan keluar dari ruang rapat, seolah itu hanya komentar santai. “Serius, kenapa mereka harus presentasi sampai membosankan begitu? Kenapa tidak langsung ke inti saja?”

“Mereka berusaha menyampaikan secara menyeluruh, Tuan,” jawab Aeri kaku. “Itu bagian dari pekerjaan mereka.”

“Ya, tapi ada perbedaan antara menyeluruh dan terlalu bertele-tele,” kata Eryx sambil masuk ke lift lagi. “Harus ada keseimbangan. Mereka tidak menemukannya. Mereka cuma bicara, bicara, dan terus bicara.”

Aeri berdiri di dalam lift bersama Eryx yang tampaknya tidak menyadari bahwa keputusan yang ia buat tiga puluh menit lalu bisa berdampak pada ribuan orang.

“Jadwal berikutnya adalah pertemuan dengan investor eksternal pukul sebelas,” kata Aeri sambil memeriksa ponselnya. “Lokasi—”

“Batalkan,” potong Eryx.

Aeri menatapnya. “Tuan?”

“Batalkan. Aku tidak mau ke sana hari ini,” kata Eryx santai. “Jadwalkan ulang… entahlah, minggu depan?”

“Para investor sudah menunggu, Tuan. Mereka datang dari luar kota khusus untuk pertemuan ini.”

“Kalau begitu, mereka bisa datang lagi minggu depan,” kata Eryx, masuk ke kantornya dan langsung menjatuhkan diri ke sofa seolah gravitasi adalah musuh pribadinya. “Aku tidak mau menghadapi investor hari ini. Aku lelah.”

“Anda baru bangun empat jam yang lalu, Tuan.”

“Justru itu. Kepalaku sudah lelah dari semua pembicaraan dan keputusan,” kata Eryx sambil memejamkan mata. “Katakan saja aku menjadwalkan ulang. Katakan apa pun yang menurutmu bisa membuat mereka tidak marah. Itu tugasmu, kan?”

Aeri ingin mengatakan bahwa tugasnya adalah melindungi, bukan mengatur jadwal sosial atau membersihkan akibat keputusan impulsif.

Aeri ingin mengatakan bahwa ini tidak profesional, bahkan mungkin melanggar banyak hal.

Tetapi yang dia hadapi adalah Eryx Leander yang seenaknya dan tidak peduli dengan sekitarnya. Jadi untuk apa dia terus menentang keputusannya? Justru ini menguntungkan. Dia akan membantunya untuk gagal. Dia hanya perlu fokus pada tujuannya yaitu balas dendam. Malah sikap Eryx sangat mendukungnya untuk bisa balas dendam.

"Baiklah tuan," jawab Aeri.

Aeri berbalik, keluar dari ruangan, dan menelepon pihak investor untuk menjadwalkan ulang.

Telepon itu berlangsung lebih lama dari yang seharusnya.

Aeri berdiri di lorong yang sepi, suaranya tetap stabil, profesional, sementara di ujung sana nada kecewa berusaha ditekan agar tetap sopan. Ia memberikan alasan yang cukup masuk akal—penyesuaian jadwal internal, urgensi mendadak, komitmen lain yang tidak bisa ditinggalkan.

Kata-kata yang rapi.

Kebohongan yang bersih.

Saat panggilan berakhir, Aeri menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kosong sejenak.

Ini bukan bagian dari pekerjaannya.

Tapi sekarang… entah sejak kapan, jadi bagian.

Ia menarik napas pendek, lalu kembali ke kantor Eryx.

Pintu terbuka tanpa suara.

Eryx masih di sofa, satu tangan terlipat di bawah kepala, mata terpejam. Sekilas terlihat seperti benar-benar tertidur.

Namun saat Aeri melangkah dua langkah masuk—

“Berhasil?” suara itu muncul.

Mata Eryx terbuka, menatap langit-langit.

“Sudah saya tangani, Tuan,” jawab Aeri.

“Hm.” Eryx mengangguk kecil, masih dalam posisi yang sama. “Mereka marah?”

“Kecewa. Tapi masih bisa dikendalikan.”

“Bagus.” Sudut bibir Eryx terangkat tipis. “Berarti kamu cukup pintar memilih kata.”

Aeri tidak menanggapi. Ia berdiri di dekat pintu, kembali ke posisi siaga.

Hening sejenak.

Lalu—

“Duduk saja.”

Aeri mengerutkan alis tipis. “Tuan?”

“Kamu berdiri terus dari tadi pagi. Melelahkan dilihat,” kata Eryx, masih tidak bergerak. “Sofa itu cukup besar.”

“Saya baik-baik saja berdiri, Tuan.”

Eryx mendengus pelan. “Kamu selalu begitu ya.”

“Begitu bagaimana?”

“Tegang. Kaku. Seperti dunia ini akan runtuh kalau kamu santai sedikit saja.” Ia akhirnya menoleh, menatap Aeri. “Duduk, kak.”

Aeri membeku.

Sepersekian detik.

Sangat singkat—tapi cukup untuk terasa.

“…Tuan?” suaranya tetap datar, tapi ada jeda yang tidak biasa.

Eryx mengangkat alis, seolah tidak mengerti. “Apa?”

“Anda memanggil saya… apa tadi?”

Eryx terlihat berpikir sejenak, lalu bahunya terangkat ringan. “Kakak.”

Hening.

“Kenapa?” lanjutnya santai. “Masalah?”

“Itu tidak sesuai dengan posisi profesional kita, Tuan.”

“Semua yang aku lakukan hari ini juga tidak sesuai standar profesional, kalau kamu belum sadar,” balas Eryx tanpa beban. “Tapi kamu tetap di sini, kan?”

"Lagipula, berapa umurmu Ka Gahensa? Sepertinya lebih tua kamu daripada aku. Jadi tidak salah bukan memanggilmu kakak?"

Aeri berusia hampir 27 tahun. Sementara Eryx berusia hampir 25.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   102

    Setelah perbincangan beralih ke perihal gaji dan kecelakaan Felix, keheningan kembali menguasai kamar tidur utama paviliun barat. Aeri menekan seluruh gejolak emosinya, kembali memasang topeng "Gahensa" yang patuh, dan dengan telaten mengurus segala keperluan Eryx. Dia menyiapkan obat penenang dari tim medis, membantu membetulkan posisi perban di perut pria itu, hingga akhirnya Eryx memejamkan mata dan tertidur pulas di bawah pengaruh obat.Begitu deru napas Eryx terdengar konstan dan berat, Aeri bergerak tanpa suara. Mengambil kain lap dan beberapa peralatan pembersih, dia mulai menyeka sisa-sisa air hujan yang sempat terbawa masuk ke lantai marmer dekat balkon. Namun, itu hanyalah kedok. Sembari membersihkan tempat itu, Aeri menyelidiki setiap sudut kamar dengan jeli. Matanya menyisir sela-sela laci, kolong meja, hingga balik bingkai lukisan besar, berharap menemukan sisa-sisa rahasia yang mungkin Eryx sembunyikan—semacam kertas, dokumen, berkas Proyek Utama, atau petunjuk apa pun t

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   101

    Setelah punggung Kaeragha menghilang di balik pintu kaca lobi, suasana koridor kembali lengang. Keheningan yang tertinggal terasa pekat dan menekan, menyisakan ketegangan yang masih berdesir di udara. Eryx membalikkan tubuhnya perlahan, jubah kebesaran yang tersampir di pundaknya berdesir halus mengikuti pergerakannya. "Kau terluka lagi, Kak Gahensa," ucap Eryx tiba-tiba. Suaranya tidak lagi menggelegar penuh harga diri seperti saat menghadapi Kaeragha tadi. Nada bicaranya melunak, kembali pada intonasi rendah yang sarat akan perhatian posesif yang teramat akrab—dan teramat dibenci Aeri karena selalu berhasil menggoyahkan dinding pertahanannya. Aeri tersentak kecil di balik topeng penyamarannya. Dia buru-buru menyembunyikan telapak tangannya yang terbalut saputangan ke balik saku celana taktisnya. "Ini hanya luka kecil akibat pecahan kaca di kantor polisi kemarin, Tuan Muda. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Eryx tidak menjawab. Dia hanya menatap Aeri dengan sepasang manik ma

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   100

    Lobi Kediaman Utama Leander yang luas mendadak terasa menyempit. Aura intimidatif dari Kaeragha, berpadu dengan kekejaman laten yang menguar dari tubuh Eryx. Di antara mereka, Aeri berdiri tegak sebagai Gahensa, merasakan tatapan tajam Kaeragha seolah sedang menguliti topengnya lapis demi lapis. Pria itu belum lupa rasa sakit akibat serangan di jalan layang semalam, dan dia sepertinya sedang mencoba menyambungkan titik-titik yang meresahkan itu dengan kehadiran Aeri."Ada seseorang di balik layar, Eryx," suara Kaeragha memecah keheningan, matanya tak lepas dari wajah Aeri. "Seseorang yang cukup serius ingin mengorek kematian Felix hingga ke tulang-tulangnya. Ini bukan lagi sekadar bisingnya publik, tapi sabotase yang terencana. Kau harus lebih waspada."Eryx menanggapi dengan tawa dingin yang terdengar seperti gesekan pisau. Dia melirik Kaeragha dengan tatapan penuh penghinaan. "Kau bicara seolah kau peduli, Kaeragha. Padahal, sejak hari pertama Felix tewas, kau bahkan tidak menunjuk

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   99

    Setelah merangkak keluar dari pipa ventilasi, Aeri bergegas merapikan kembali seragam taktisnya di toilet lantai dua. Dia mengatur napasnya yang memburu, menghapus sisa abu besi yang menempel pada wajah penyamarannya, lalu melangkah kembali ke koridor luar ruang rapat dengan postur "Gahensa" yang tegak.Tidak lama kemudian, pintu mahagoni ruang rapat terbuka. Eryx melangkah keluar sendirian, jubah kebesarannya tampak sedikit longgar, memancarkan aura frustrasi yang jarang ia tunjukkan. Aeri segera menyambutnya dan berjalan di sampingnya menuju paviliun barat.Memanfaatkan situasi, Aeri memberanikan diri untuk bertanya soal rapatnya. "Bagaimana hasil rapatnya, Tuan Muda?"Eryx mendengus pendek, rahangnya mengeras. "Rapatnya masih belum selesai, Kak Gahensa. Dewan tetua masih belum menetapkan aku sebagai calon pewaris kepala keluarga yang sah. Mereka terlalu pengecut."Eryx menjeda langkahnya, menatap Aeri dengan sorot mata yang dipenuhi kejengkelan yang mendalam. "Mereka ketakutan kare

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   98

    Aeri melangkah dengan tergesa menuju lorong darurat yang sepi di sisi barat aula utama. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam karena terbentur oleh tembok kerahasiaan keluarga Leander. Di dalam ruangan di ujung koridor sana, rapat rahasia yang akan menentukan nasib penyelidikan kematian kakaknya sedang berlangsung, dan dia dikunci di luar seperti orang asing.Dengan tangan yang masih gemetar menahan amarah, Aeri meraba saku taktisnya dan mengeluarkan gawai enkripsi khusus. Dia langsung menghubungi saluran anonim milik detektif terhebat di negara itu."Mereka sedang berkumpul di ruang rapat utama sekarang," bisik Aeri dengan nada bariton penyamarannya yang mendesak, matanya melirik tajam ke setiap sudut langit-langit untuk menghindari kamera pengawas. "Tiago, Selena, dan Eryx ada di dalam. Ini saatnya. Lakukan penyerangan sekarang juga ke kediaman ini. Gunakan wewenang pasukan kementerian untuk mendobrak mereka saat mereka sedang lengah!"Namun, di seberang sa

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   97

    Malam pelantikan yang agung itu tiba dengan kemegahan yang dingin. Riuh rendah musik klasik dan obrolan para petinggi distrik di aula utama Kediaman Leander terdengar samar hingga ke koridor ruang kerja Tiago yang sepi. Sesuai rencana Calixto, lampu indikator kamera pengawas di lorong itu mendadak mati, berkedip merah sebelum padam total selama lima belas menit.Aeri bergerak laksana bayangan. Menggunakan duplikat stempel digital Eryx yang berhasil ia kloning, ia menempelkannya pada panel pemindai pintu baja di balik tirai mahagoni.Klik. Pintu brankas terbuka tanpa suara.Jantung Aeri bertalu hebat saat jemarinya memilah tumpukan dokumen rahasia, arsip Proyek Utama, hingga mutasi rekening gelap faksi militer. Namun, nihil. Aeri tidak menemukan berkas apa pun soal kematian Felix. Lembar arsip untuk bulan tersebut kosong melompong, seolah sengaja dieliminasi dari sejarah keluarga.Aeri mengepalkan tangannya hingga gemetar. Dia yakin berkas itu sudah diamankan di tempat lain, karena Ery

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   06

    Namun ketegangan itu segera berubah total. Lantai kantor Leander Corporation adalah gambaran efisiensi dan kekuasaan. Setiap orang bergerak dengan tujuan. Setiap interaksi terukur. Setiap detail direncanakan. Lalu Eryx masuk, dan semuanya berubah menjadi kacau. “Halo, semuanya,” katanya denga

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   05

    Pukul delapan pagi, Eryx muncul di ruang makan dengan penampilan yang membuat Aeri terdiam sejenak. Ia tidak bertelanjang dada seperti yang Aeri bayangkan. Sebaliknya, ia mengenakan kaus desainer yang pas di tubuh, celana rapi berpotongan presisi, dan arloji yang nilainya lebih tinggi dari gaji Ae

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   04

    Aeri datang lebih awal karena itu adalah cara untuk menunjukkan kepada Eryx Leander bahwa keputusannya untuk mengambil Gahensa Xan bukan kesalahan—itu adalah investasi dalam hidupnya sendiri.Maya, pembantu rumah tangga, terlihat terkejut melihat Aeri sudah di penthouse saat pagi buta."Tuan Eryx m

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   03

    "Gahensa Xan, tuan.""Gahensa," ulangi Eryx, melafalkannya dengan cara yang berlagak-lagak, seolah-olah nama itu adalah bahan lelucon. "Nama yang aneh. Kamu dari planet mana? Atau itu nama asli? Karena ini terdengar seperti nama yang dibuat saat ayahmu sedang mabuk dan ibu mu sedang—""Tuan," poto

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status