MasukAeri semakin kesal dengan segala omong kosong ini. Tetapi demi mencapai tujuannya, mau tidak mau dia harus melayani hal-hal tidak penting ini.
"Benar tuan. Saya lebih tua dari tuan. Saya berusia hampir 27 tahun sementara tuan 25 tahun," kata Aeri. Aeri pernah melihat informasi di internet bahwa usia sebenarnya anggota keluarga Leander bisa jadi tidak sama dengan yang ditampilkan ke publik. Saat pertama kali bekerja pada Eryx, dia diberikan informasi oleh salah satu pengawal bahwa Eryx berusia hampir 25 tahun. "Jadi tidak masalah jika aku memanggilmu kakak," kata Eryx lagi dengan senyum puas seperti anak kecil. Mendengar itu, Aeri menjadi merasa punya masalah. Masalah pertama adalah setiap hari di sini membuat tujuan awal Aeri semakin kabur. Masalah kedua—yang paling mengganggu—adalah kemungkinan bahwa Eryx tidak bersalah sama sekali. "Aku harus pancing dia," batin Aeri. Saat Aeri akan menggali informasi lebih jauh soal keluarga Leander terutama soal Eryx, Eryx bicara lagi. "Aku izinkan kamu panggil aku Eryx saja tanpa tuan. Mungkin kalau kita lagi berdua saja seperti sekarang," kata Eryx. Eryx menatap Aeri dengan seringai tipis. Aeri menyipitkan kedua matanya. "Dia, kenapa dia sampai sejauh ini bermain-main? Otaknya itu terbuat dari apasih? Apa hanya karena dia terlalu baik sampai membiarkan pengawalnya tidak memanggilnya tanpa sebutan tuan," batin Aeri. "Tidak mungkin tuan Eryx, saya akan selalu memanggil anda tuan," kata Aeri. Eryx mendecih, mengalihkan pandangan, dan mengatakan tidak seru. Ekspresinya jelas bosan dan kesal. Dia seketika seperti butuh sesuatu yang baru. Aeri jadi khawatir dirinya dipecat sebelum berhasil balas dendam. "Ini malah bagus. Aku akan memancing dia untuk mengungkapkan seperti apa dia pada pengawal sebelumnya," batin Aeri. "Memangnya tuan Eryx selalu seperti ini pada bodyguard sebelumnya?" tanya Aeri dengan nada maskulinnya. Eryx yang tidak menatap ke Aeri langsung menatap ke arahnya. Tetapi tidak mengatakan apapun sejenak. "Aku tidak punya pengawal pribadi sebelumnya. Dikawal pengawal ayahku. Aku dan dia tidak dekat sama sekali karena dibandingkan dengan pengawal, dia lebih seperti penguntit karena...dia selalu melaporkan apapun kepada ayahku," kata Eryx. "Huh? Kak Felix seharusnya tidak pernah melakukan itu. Jangan-jangan, dia membunuh kak Felix karena bersikap seperti itu," batin Aeri. "Tuan, yang namanya pengawal memang mengikuti kemana-mana," kata Aeri. "Coba panggil aku Eryx. Jika kamu tidak memanggilku Eryx saja, aku tidak akan pernah mengikuti jadwal yang kamu tentukan," kata Eryx menatap Aeri dengan tatapan jahil. Aeri menahan nafas, menariknya, dan menghembuskannya perlahan. Dia ingin marah tetapi dia harus menahannya mati-matian. Bekerja dibawah Eryx Leander harus punya kesabaran setengah mati. "Eryx, saya juga seperti seorang penguntit kalau begitu," kata Aeri pada akhirnya memanggil dengan nama saja. "Kamu tidak sam. Kalau sama, sudah jelas melaporkan apapun kepada ayahku," kata Eryx. "Bagaimana kalau saya sudah melaporkan selama ini?" tanya Aeri mencoba melihat reaksi Eryx jika dia berbuat sesukanya. Eryx terkejut, menatap Aeri dengan tatapan tidak percaya. Dia juga tampak ketakutan dan ada kesedihan di matanya. "Kan! Orang seperti itu masa membunuh kakakku?" batin Aeri. Aeri memahami kalau Eryx tampaknya sangat dimanja, dia tidak pernah mengalami kesulitan dalam hidupnya tampaknya makanya menunjukkan ekspresi seperti itu ketika ada masalah sedikit saja atau ada sesuatu yang tidak beres. "Jika memang tidak punya pengawal sebelumnya, kenapa sekarang punya pengawal?" tanya Aeri. "Kamu sudah melihat dan mendengarnya bukan? Aku dituduh membunuh seseorang," kata Eryx seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ini dia," batin Aeri antusias. "Memang kamu yang telah membunuh kakakku. Sebab kalau bukan kamu siapa lagi?" tanya Aeri dalam hati. "Ayah sangat mengkhawatirkanku. Jadi dia mencarikanku pengawal yang sanagt terlatih," kata Eryx. "Menurutku aneh. Kamu adalah pewaris kepala keluarga bukan? Seharusnya sejak kecil punya pengawal pribadi yang tidak sama dengan pengawal ayahmu," kata Aeri. "Standar pengawal kami cukup tinggi. Jarang yang memenuhi standar itu. Kamu beruntung kak bisa menjadi pengawalku, nanti aku tambah gaji," kata Eryx. "Kamu sangat baik Eryx. Orang sebaik kamu seharusnya tidak pernah membunuh," kata Aeri.Setelah perbincangan beralih ke perihal gaji dan kecelakaan Felix, keheningan kembali menguasai kamar tidur utama paviliun barat. Aeri menekan seluruh gejolak emosinya, kembali memasang topeng "Gahensa" yang patuh, dan dengan telaten mengurus segala keperluan Eryx. Dia menyiapkan obat penenang dari tim medis, membantu membetulkan posisi perban di perut pria itu, hingga akhirnya Eryx memejamkan mata dan tertidur pulas di bawah pengaruh obat.Begitu deru napas Eryx terdengar konstan dan berat, Aeri bergerak tanpa suara. Mengambil kain lap dan beberapa peralatan pembersih, dia mulai menyeka sisa-sisa air hujan yang sempat terbawa masuk ke lantai marmer dekat balkon. Namun, itu hanyalah kedok. Sembari membersihkan tempat itu, Aeri menyelidiki setiap sudut kamar dengan jeli. Matanya menyisir sela-sela laci, kolong meja, hingga balik bingkai lukisan besar, berharap menemukan sisa-sisa rahasia yang mungkin Eryx sembunyikan—semacam kertas, dokumen, berkas Proyek Utama, atau petunjuk apa pun t
Setelah punggung Kaeragha menghilang di balik pintu kaca lobi, suasana koridor kembali lengang. Keheningan yang tertinggal terasa pekat dan menekan, menyisakan ketegangan yang masih berdesir di udara. Eryx membalikkan tubuhnya perlahan, jubah kebesaran yang tersampir di pundaknya berdesir halus mengikuti pergerakannya. "Kau terluka lagi, Kak Gahensa," ucap Eryx tiba-tiba. Suaranya tidak lagi menggelegar penuh harga diri seperti saat menghadapi Kaeragha tadi. Nada bicaranya melunak, kembali pada intonasi rendah yang sarat akan perhatian posesif yang teramat akrab—dan teramat dibenci Aeri karena selalu berhasil menggoyahkan dinding pertahanannya. Aeri tersentak kecil di balik topeng penyamarannya. Dia buru-buru menyembunyikan telapak tangannya yang terbalut saputangan ke balik saku celana taktisnya. "Ini hanya luka kecil akibat pecahan kaca di kantor polisi kemarin, Tuan Muda. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Eryx tidak menjawab. Dia hanya menatap Aeri dengan sepasang manik ma
Lobi Kediaman Utama Leander yang luas mendadak terasa menyempit. Aura intimidatif dari Kaeragha, berpadu dengan kekejaman laten yang menguar dari tubuh Eryx. Di antara mereka, Aeri berdiri tegak sebagai Gahensa, merasakan tatapan tajam Kaeragha seolah sedang menguliti topengnya lapis demi lapis. Pria itu belum lupa rasa sakit akibat serangan di jalan layang semalam, dan dia sepertinya sedang mencoba menyambungkan titik-titik yang meresahkan itu dengan kehadiran Aeri."Ada seseorang di balik layar, Eryx," suara Kaeragha memecah keheningan, matanya tak lepas dari wajah Aeri. "Seseorang yang cukup serius ingin mengorek kematian Felix hingga ke tulang-tulangnya. Ini bukan lagi sekadar bisingnya publik, tapi sabotase yang terencana. Kau harus lebih waspada."Eryx menanggapi dengan tawa dingin yang terdengar seperti gesekan pisau. Dia melirik Kaeragha dengan tatapan penuh penghinaan. "Kau bicara seolah kau peduli, Kaeragha. Padahal, sejak hari pertama Felix tewas, kau bahkan tidak menunjuk
Setelah merangkak keluar dari pipa ventilasi, Aeri bergegas merapikan kembali seragam taktisnya di toilet lantai dua. Dia mengatur napasnya yang memburu, menghapus sisa abu besi yang menempel pada wajah penyamarannya, lalu melangkah kembali ke koridor luar ruang rapat dengan postur "Gahensa" yang tegak.Tidak lama kemudian, pintu mahagoni ruang rapat terbuka. Eryx melangkah keluar sendirian, jubah kebesarannya tampak sedikit longgar, memancarkan aura frustrasi yang jarang ia tunjukkan. Aeri segera menyambutnya dan berjalan di sampingnya menuju paviliun barat.Memanfaatkan situasi, Aeri memberanikan diri untuk bertanya soal rapatnya. "Bagaimana hasil rapatnya, Tuan Muda?"Eryx mendengus pendek, rahangnya mengeras. "Rapatnya masih belum selesai, Kak Gahensa. Dewan tetua masih belum menetapkan aku sebagai calon pewaris kepala keluarga yang sah. Mereka terlalu pengecut."Eryx menjeda langkahnya, menatap Aeri dengan sorot mata yang dipenuhi kejengkelan yang mendalam. "Mereka ketakutan kare
Aeri melangkah dengan tergesa menuju lorong darurat yang sepi di sisi barat aula utama. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam karena terbentur oleh tembok kerahasiaan keluarga Leander. Di dalam ruangan di ujung koridor sana, rapat rahasia yang akan menentukan nasib penyelidikan kematian kakaknya sedang berlangsung, dan dia dikunci di luar seperti orang asing.Dengan tangan yang masih gemetar menahan amarah, Aeri meraba saku taktisnya dan mengeluarkan gawai enkripsi khusus. Dia langsung menghubungi saluran anonim milik detektif terhebat di negara itu."Mereka sedang berkumpul di ruang rapat utama sekarang," bisik Aeri dengan nada bariton penyamarannya yang mendesak, matanya melirik tajam ke setiap sudut langit-langit untuk menghindari kamera pengawas. "Tiago, Selena, dan Eryx ada di dalam. Ini saatnya. Lakukan penyerangan sekarang juga ke kediaman ini. Gunakan wewenang pasukan kementerian untuk mendobrak mereka saat mereka sedang lengah!"Namun, di seberang sa
Malam pelantikan yang agung itu tiba dengan kemegahan yang dingin. Riuh rendah musik klasik dan obrolan para petinggi distrik di aula utama Kediaman Leander terdengar samar hingga ke koridor ruang kerja Tiago yang sepi. Sesuai rencana Calixto, lampu indikator kamera pengawas di lorong itu mendadak mati, berkedip merah sebelum padam total selama lima belas menit.Aeri bergerak laksana bayangan. Menggunakan duplikat stempel digital Eryx yang berhasil ia kloning, ia menempelkannya pada panel pemindai pintu baja di balik tirai mahagoni.Klik. Pintu brankas terbuka tanpa suara.Jantung Aeri bertalu hebat saat jemarinya memilah tumpukan dokumen rahasia, arsip Proyek Utama, hingga mutasi rekening gelap faksi militer. Namun, nihil. Aeri tidak menemukan berkas apa pun soal kematian Felix. Lembar arsip untuk bulan tersebut kosong melompong, seolah sengaja dieliminasi dari sejarah keluarga.Aeri mengepalkan tangannya hingga gemetar. Dia yakin berkas itu sudah diamankan di tempat lain, karena Ery
Di daratan utama, jeritan peluru di Gudang 44 akhirnya mereda. Pasukan elite akademi yang digerakkan oleh dana taktis Eryx, berkolaborasi dengan tim taktis Tiago Leander, berhasil membalikkan keadaan. Alih-alih melakukan pembantaian, perintah mutlak dari Eryx yang diteruskan secara rahasia membu
Pagi hari tiba membawa kabut tipis yang menyelimuti Renhill. Sesuai dengan instruksi Tiago, sebuah mobil limusin hitam mewah sudah terparkir di depan lobi utama. Tidak lama kemudian, Lyra Xan datang. Wanita itu tampak anggun sekaligus angkuh dalam balutan gaun kasual mahal, lengkap dengan kacamata
Eryx masih terpaku. Rasa panik yang samar di matanya perlahan mengendap, digantikan oleh senyuman tipis yang dipaksakan. Dia menatap Gahensa dengan pandangan menilai. Pertanyaan tentang Kaeragha dan Felix jelas mengusik ketenangannya, namun hasrat untuk bebas dari cengkeraman ayahnya jauh lebih bes
Rapat berlanjut.Eryx menyetujui beberapa hal. Menolak yang lain. Membuat keputusan besar berdasarkan kriteria yang Aeri tidak sepenuhnya pahami—apakah ia tertarik, apakah ia bosan, apakah ia sedang merasa beruntung.Di tengah rapat, seorang asisten membawa makanan ringan. Eryx langsung mengambil p







