INICIAR SESIÓNPengumuman dari Ikan Lele Putih tentang Pilar Utara yang bersalju seketika mengubah suasana di lereng Gunung Api Purba yang baru saja pulih. Jika biasanya Estias dan Brakas berdiri gagah bagaikan pilar batu yang tak tergoyahkan, kali ini respons kedua raksasa pelindung itu benar-benar di luar dugaan. "S-Salju Abadi?!" bisik Estias dengan suara beratnya yang mendadak bergetar hebat. Raksasa batu berzirah emas-perak itu memegang dadanya yang dilapisi Zirah Pelindung Dominion Absolut, lalu pelan-pelan merosot duduk di atas batuan pasir hitam. Wajah garangnya mendadak pucat pasi. "Kak Estias... jangan bilang kalau..." Brakas ikut menegang. Ia reflek merapatkan kedua lengan zirah raksasanya ke badan, melipat tubuh tingginya hingga terlihat seperti benteng melingkar yang konyol. "Tubuh batu kita... kalau kena dingin ekstrem Utara... bersin sedikit saja bisa retak-retak!" "Benar, Adikku!" jerit Estias dramatis seraya memegang kepala raksasanya dengan kedua tangan. "Ingatkah kau kejad
Aura ketakutan seketika melingkupi pucuk Gunung Api Purba. Kebekuan kristal keemasan yang menahan aliran lahar raksasa itu seakan menjadi penanda batas antara kekuatan mahluk biasa dan sang Pengendali Sistem sejati. Jenderal Iblis Kerak Bumi meraung murka, tubuh lahar raksasanya membesar dua kali lipat akibat penolakan atas kekalahannya. "Manusia sombong! Aku dibuat dari Inti Magma Benua Utama! Kau tidak bisa menghancurkanku!" Sang Jenderal Iblis menerjang langsung ke arah Martis dengan kedua tangannya yang mengepal raksasa, membawa tekanan panas yang sanggup melumuri seluruh kawah menjadi abu dalam sekejap. Namun, Martis hanya menarik napas pelan. Matanya berkilat dengan pendaran sistem yang teramat pekat. "Memutarbalikkan Struktur Elemen: Inti Es Api Murni!" TRING! [Sistem Pengendali Utama: Mengeksekusi Reorganisasi Molekul Magma] [Efek: Mengubah Energi Panas Menjadi Segel Dominion Suci Absolut] WUSZZZZZZZT—BOOOOM! Tanpa sentuhan fisik sama sekali, gelombang aura k
Mendengar peringatan dari Sistem tentang ancaman di Pilar Barat, udara di sekitar Altar Lautan Purba kembali menegang. Kraken Purba yang kini bernama Samudra setelah disapa lembut oleh Mia, ia mengeluarkan dengkuran rendah, menegaskan kesiapannya untuk membawa rombongan menembus samudra menuju daratan bagian Barat Benua Utama. "Pilar Gunung Api Purba di Ujung Barat..." gumam Martis seraya menatap batas cakrawala yang memerah di kejauhan. "Pilar itu memegang kendali atas inti magma dan stabilitas tektonik seluruh benua. Jika faksi musuh berhasil menyerap energinya, seluruh Benua Utama bisa runtuh menjadi lautan lahar." "Siapa sebenarnya faksi kegelapan yang berani mendahului kita ke sana, Ayah Martis?" tanya Rian seraya memegang erat Belati Naga Perak Yin di pinggangnya. TRING! [Sistem Pahlawan Api: Analisis Sinyal Musuh di Pilar Barat] [Faksi Penyerang: Sekte Bayangan Darah Purba & Jenderal Iblis Kerak Bumi] [Tujuan Musuh: Memaksa Inti Magma Purba Meletus & Menyerap Energi
Raungan Kraken Purba Terkontaminasi Racun Dominion Malapetaka membelah lautan Ujung Timur dengan getaran yang amat dahsyat. Gelombang air setinggi puluhan meter membumbung tinggi, menghempas dinding-dinding karang raksasa di sekitar tempat rombongan berdiri. Langit di atas Lautan Purba yang semula biru kelam mendadak berubah menjadi keunguan pekat, diselimuti kilatan petir merah darah yang saling menyambar. Dari dasar laut yang mendidih, gurita raksasa berukuran sebesar gunung itu perlahan memunculkan wujudnya. Delapan tentakel utamanya berlapis batu karang hitam yang mengkristal, memancarkan racun spasial berwarna hijau tua yang melelehkan apa saja yang disentuhnya. Mata tunggal raksasa di tengah kepalanya berkilat merah membara, memancarkan keputusasaan dan kegilaan dari ribuan tahun terkunci dalam kontaminasi racun purba. "Semuanya, ayo bertahan di belakang pilar cahaya!" seru Mia dengan wibawa bagaikan seorang permaisuri. Jari-jemari Mia yang lentik menari di udara, memanggi
Pertanyaan yang bergulat di dalam benak Martis terasa mengalir begitu dalam. Tatapan matanya menembus lautan bintang di atas Kota Megah Pahlawan Api. Di bawah sana, kehangatan pesta syukuran bergema riuh, suara tawa Lina kecil yang digendong Estias, tingkah konyol Duo Naga Lele yang berebut makanan dengan Kiki, serta kebanggaan prajurit Pasukan Garuda Hitam yang memutari panggung latihan. Sebuah langkah halus tanpa suara mendekat dari balik pintu kayu balkon. Bau harum bunga melati yang amat familier menenangkan pergolakan batin Martis. "Kau sedang memikirkan perjalanan ke tiga pilar penyeimbang itu, Martis?" suara Mia terdengar lembut namun penuh kedewasaan. Ia melangkah berdiri tepat di samping Martis, menyandarkan kepalanya pelan di bahu sang suami. Martis mengelus rambut Mia dengan jemari keemasannya yang hangat. "Pilar di Lautan Purba Ujung Timur dan dua wilayah lainnya tidak seperti Lembah Tengkorak Hitam. Perjalanan ke sana akan melintasi batas Benua Utama, menembus wilay
Suara embusan angin pegunungan yang dingin dan kering menyapu punden batu meteorit di Lembah Tengkorak Hitam. Di bawah naungan kubah cahaya keemasan yang diciptakan oleh Martis, suasana yang semula tegang dan mencekam perlahan berubah menjadi hangat dan penuh rasa kebersamaan. Estias dan Brakas berdiri tegap seraya memperhatikan raga mereka sendiri yang kini diselimuti oleh zirah pelindung baru yang memancarkan pendaran emas-perak murni. "Luar biasa..." bisik Estias dengan suara beratnya yang menggetarkan batuan di sekitarnya. Raksasa batu itu mengepalkan tangan kirinya yang telah pulih sepenuhnya, merasakan aliran energi Dominion Murni berayun lembut dan selaras dengan inti jantung batunya. "Kekuatan ini... terasa begitu menyatu dengan jiwa dan ragaku. Tidak ada lagi rasa panas beracun atau tekanan gravitasi yang merusak." Brakas menepuk dada tegapnya yang kini dilapisi Zirah Pelindung Dominion Absolut. Suara benturan permukaannya terdengar nyaring bagaikan dentang lonceng purb
Jackson adalah seorang pejuang yang terkenal di kalangannya. Dia dikenal karena kecepatan dan kekuatannya yang luar biasa, tetapi yang paling menonjol adalah kemampuan khususnya. Jackson memiliki kemampuan untuk memanipulasi waktu. Dalam pertempuran, dia bisa melambatkan waktu di sekitarnya, memberi
Akhirnya pengintai yang berhasil Martis tangkap langsung dibawa oleh Odele untuk diinterogasi.Namun nampaknya, kali ini orang itu benar-benar mengunci mulutnya dengan rapat. Setiap kali diancam dan bahkan dipukuli, orang itu hanya menyeringai. Dan lagi, ia seperti tidak merasakan sakit sedikitpun.Od
Martis pun bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang . Sebab, salah satu langkah saja, maka kehidupan di masa depan akan ada dampak buruknya. Maka dari itu, Martis akhirnya berpikir sejenak. Dalam hatinya Martis berkata, 'Sistem, apakah ada kemungkinan aku bisa menghubungi keluargaku di dimensi
Kali ini, pada tahapan selanjutnya, yaitu Tapak Ketiga, nampaknya Elnara mengalami sedikit kesulitan. Wajar saja, karena Martis sendiri pun tadi malam cukup kesulitan untuk bisa menguasai Tapak Ketiga ini. "Guru, apakah sesulit ini?" tanya Elnara, ia mulai terengah. "Begitulah. Elnara, jujur sa







