Se connecterPerjalanan kembali menuju Kota Megah Pahlawan Api terasa jauh lebih singkat dan dipenuhi keceriaan. Rian, Kiki, dan Kira menempuh jalur perbukitan utara dengan penuh tawa. Kira yang baru pertama kali keluar dari Lembah Petir Terlarang tak berhenti dibuat kagum oleh cerita-cerita Rian tentang keajaiban Ayah Martis, kehangatan Ibu Mia, hingga kekonyolan para raja yang kini menjadi pekerja bakti di kota. Saat fajar menyingsing di Ujung Selatan, dinding benteng setinggi dua puluh meter milik Kota Pahlawan Api mulai terlihat membentang megah di balik bukit. "Wah... luar biasa!" pekik Kira seraya menatap benteng batu granit yang memancarkan pendaran segel sihir pelindung tersebut. "Kota ini terasa begitu hidup dan dilindungi oleh aura yang teramat agung." CIT-CIT! Kiki melompat ke bahu Rian seraya menepuk dadanya bangga. "Ini baru benteng luarnya, Kira! Tunggu sampai kau merasakan pisang goreng hangat buatan Ibu Mia!" Dari atas menara pengawas benteng timur, Estias sang Raksasa Ba
Angin dingin membekukan kulit bertiup kencang di puncak tertinggi Gunung Langit Kelabu. Di tengah hamparan badai salju dan kilatan petir ungu, berdiri sebuah kubah Kristal Segel Jiwa Purba berukuran raksasa. Di dalam kubah bening yang berkilau dingin itu, tampak sesosok kera berbulu emas tebal yang tertidur lelap, dia adalah Kira, adik kandung Kiki yang membeku demi melindungi klannya. Tetua Agung Kaelen, Rian, dan puluhan kera penjaga berdiri beberapa meter di belakang Kiki. Hawa dingin dari kristal segel itu begitu pekat hingga mampu membekukan sirkulasi energi kultivator biasa. "Kiki, berhati-hatilah," ujar Tetua Agung Kaelen dengan suara sarat kekhawatiran. "Kubah kristal ini menyerap daya batin siapa saja yang menyentuhnya secara paksa. Banyak ksatria klan yang mencoba memecahkannya, namun energi mereka justru terkuras habis." Kiki melangkah tegap mendekati kubah kristal. Zirah emas murninya berpendar hangat, menepis hawa salju yang membeku di sekelilingnya. Kiki menempel
Kabut tebal berwarna kelabu perlahan terbelah saat ketiga penjaga membimbing Rian dan Kiki menelusuri lorong tebing batu yang tersembunyi. Di balik lorong terjal itu, terhampar sebuah lembah raksasa yang amat menakjubkan, itu adalah Lembah Petir Terlarang. Lembah itu dikelilingi oleh pilar-pilar kristal petir ungu raksasa yang memancarkan pendaran cahaya redup namun hangat. Di sepanjang lereng tebing, berdiri bangunan-bangunan batu berukir sejarah purba tempat tinggal ratusan anggota Klan Kera Dewa Petir. Tampak kera-kera muda berbulu keemasan sedang berlatih ketangkasan dan memercikkan petir halus dari telapak tangan mereka. Kedatangan Kiki dan Rian yang dikawal oleh tiga penjaga langsung menyedot perhatian seluruh warga klan. Ratusan pasang mata merah delima menatap Kiki dengan raut takjub dan terperangah. Aura keagungan dari zirah emas murni dan Inti Petir Purba di dada Kiki memancar begitu pekat, membuat kera-kera di sepanjang jalan menundukkan kepala secara refleks. "Liha
Sorak-sorai hangat dan lambaian tangan dari seluruh warga Kota Megah Pahlawan Api mengiringi langkah Rian dan Kiki. Di pintu gerbang utara, Lina kecil melompat-lompat gembira sambil membawa bungkusan bekal pisang goreng hangat buatan Ibu Mia, sementara Estias dan Brakas melambai-lambaikan pilar batu raksasa mereka sebagai tanda pelepasan ksatria. Bahkan Kaisar Malakori, yang jarinya masih belepotan kain lap dan sabun, sempat menghentikan aktivitas mengelap jendelanya sejenak untuk menundukkan kepala penuh hormat kepada Kiki. "Kak Kiki, Kak Rian, jangan lupa pulang membawa saudara baru ya!" jerit Lina kecil riang. CIT-CIT! Kiki melompat ke bahu Rian, mengelus zirah emasnya seraya tersenyum bulat dan gagah. "Pasti, Adik Lina! Kami akan kembali membawa kabar gembira untuk keluarga kita." Rian mengangguk tegap, menyerap kehangatan salam dari Ayah Martis dan Ibu Mia, lalu melangkah mantap membelah jalur perbukitan utara. Setelah tiga hari dua malam menempuh perjalanan melintasi
Sinar mentari pagi menyiram Kota Megah Pahlawan Api dengan kehangatan yang amat menenangkan. Namun, suasana di sepanjang jalan batu utama dan area kediaman kota justru dipenuhi oleh pemandangan yang teramat ajaib, konyol, dan sanggup membuat siapa pun yang melihatnya menepuk jidat. Kaisar Malakori, penguasa kegelapan dari Benua Utara yang dahulu ditakuti oleh hampir seluruh benua kini berdiri kaku di depan jendela kediaman utama. Zirah hitam mewahnya yang bertengkorak naga telah ditanggalkan, berganti dengan celemek kain merah bergambar bunga matahari yang agak kekecilan. Dengan muka ditekuk kaku dan napas tersengal-sengal, Kaisar Malakori meremas kain perca kumal di tangan kanannya, lalu mengelap kaca jendela dengan gerakan memutar yang sangat canggung. SRUK-SRUK-SRUK! "Kaisar... lihat ini! Ada noda air liur ikan lele purba di sudut kaca bawah!" bisik jenderal kepercayaan Malakori yang berdiri di sampingnya seraya memegang ember kayu berisi air sabun. "Bagaimana ini, Kaisar?!
Keesokan harinya, pemandangan paling menggelikan dalam sejarah Benua Utama terjadi di sepanjang jalan-jalan batu Kota Megah Pahlawan Api. Raja Gungnir, penguasa Benua Barat yang tadinya sangat arogan dan merasa tak tertandingi, kini berdiri kaku mengenakan celemek kain kumal seraya memegang sapu lidi raksasa. Di belakangnya, lima puluh ribu prajurit bertopeng besi yang tadinya begitu gagah, kini berbaris rapi membawa ember kayu, pengki, dan kain lap untuk membersihkan seluruh selokan serta dinding benteng kota! "Ayo, Raja Gungnir! Sapu bagian sudut jalan itu sampai mengkilap!" teriak Brakas sang Raksasa Perunggu seraya berkacak pinggang di tepi jalan. "Kalau masih ada sebutir debu yang tersisa, jatah makan siangmu cuma dapat kuah sayur tanpa daging!" "I-Iya, Paman Raksasa! Saya sapu sekarang juga!" jerit Raja Gungnir histeris seraya menyapu jalanan batu kencang-kencang sampai peluh dingin mengucur deras di dahinya. Kiki yang mengenakan zirah emas murni terbang melayang rendah d
Jeritan minta tolong itu menggema di tengah derasnya hujan dan gemuruh petir. Martis berlari sekencang mungkin ke arah sumber suara dengan jantungnya yang berdebar-debar. Saat Martis tiba, ia melihat tenda Aidit sudah porak-poranda, kainnya terkoyak dan tercabik-cabik oleh tubuh raksasa anaconda it
Sosok misterius itu menatap tajam petir yang Martis maksud. Ia pun berkata dalam hatinya, 'Apa...?! Bukankah Petir ini adalah petir putih? Petir putih adalah petir yang paling tinggi! Celaka, aku belum pernah sebelumnya melawan petir tingkatan ini. Tapi apa boleh buat, aku tidak akan mau dipermaluk
Dalam sejarah hidupnya, sampai saat ini hanya ada dua orang yang mampu menghadapi serangan meteor miliknya. Dan orang kedua itu adalah Martis. "Si-siapa kau sebenarnya?" tanya Edmiral Kaziru yang akhirnya penasaran. "Aku?" Martis menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah kau sudah tahu, bahwa namaku ada
Martis dan Gozil melihat bahwa Edmiral Kaziru berhasil menahan serangan yang Gozil lakukan. Melihat itu, Gozil sangat frustasi. Matanya melotot dan ia mengeraskan rahangnya lalu berteriak, "Jangan remehkan kekuatan Ras Naga...!" Gozil pun kembali membuka mulutnya berniat sekali lagi menembakkan bola







