Mag-log inUjung pisau ritual berukir tengkorak itu tinggal berjarak seujung kuku dari dada Lina kecil. Torgar sang Penghisap Jiwa tertawa melengking keji, matanya yang merah menyala memancarkan kegilaan mutlak saat membayangkan esensi Yin-Yang murni meletup keluar untuk diserapnya. "Mati kau, Bocah!" jerit Torgar penuh nafsu membunuh! "JANGAAAANN! JANGAN SENTUH ADIKKU!" teriak Rian histeris seraya memaksakan raga kecilnya bergerak, namun rantai hitam menahannya tanpa ampun. "Hahaha! Tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian!" gelak Torgar kian menjadi-jadi. Namun, tepat pada detik terakhir yang teramat kritis itu— BOOOOOOOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMM!!! Dinding batu goa bagian depan mendadak hancur berkeping-keping dalam satu ledakan dahsyat yang teramat mengerikan. Serpihan batu raksasa beterbangan bagaikan peluru, memotong arus mantra empat kultivator sesat secara mendadak. Kepulan debu batu dan uap panas membumbung tinggi, menyelimuti seisi ruangan goa. Sebelum Torgar sempat mereaksikan matan
Jaringan benang hitam dari Jala Penghisap Jiwa mengerat semakin kuat, meremas raga kecil Rian dan Lina tanpa ampun. Setiap kali benang-benang sihir itu bergetar, hawa dingin yang amat beracun merayap menembus pori-pori kulit, menusuk meridian, dan membakar saluran daya batin mereka dari dalam. Rian berusaha memaksakan matanya tetap terbuka. Jemari tangannya yang gemetar dan bersimbah darah dingin mencengkeram erat benang jala yang mengiris kulitnya, mencoba sekuat tenaga menahan beban sihir agar tidak mengenai Lina yang mendekap erat di dadanya. "L-Lina... Bertahanlah, Adikku... Kakak... Kakak ada di sini..." bisik Rian dengan suara parau yang amat tipis. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun menahan rasa sakit luar biasa. "Kak Rian... Sakit sekali..." tangis Lina kecil sesenggukan. Suaranya kian melemah, bibir kecilnya membiru hebat akibat terpaan racun jiwa. "Hahaha! Jangan membuang-buang tenagamu, Bocah!" gelak salah seorang anak buah Torgar seraya menarik tali jala
Dua komet cahaya Hitam Onyx dan Putih Mutiara membelah angkasa Desa Lembah Asri dengan kecepatan yang teramat dahsyat. Di atas punggung raksasa Duo Naga Lele Purba, Rian dan Lina menggenggam erat sisik-sisik naga guru mereka, mata mereka yang tajam menatap lurus ke arah gerbang kayu utama desa. Namun, saat kedua naga lele mendarat melayang di udara tepat di atas gerbang, pemandangan mengerikan di bawah sana seketika membuat Rian dan Lina terperanjat horor! Brakas terbaring kaku di atas tanah berdebu. Kulit perunggu merahnya kini hampir seluruhnya berubah menjadi hitam pekat akibat racun mematikan yang merayap cepat menyiksa meridiannya. Napas raksasa itu bertiup sangat tipis dan parau. Di dekatnya, burung Phoenix ajaib milik Martis, Ignis yang terkulai bersimbah darah. Bulu-bulu emasnya yang biasa berpendar megah kini redup dan dipenuhi jarum-jarum racun hitam. Ignis tidak dapat bergerak bebas saat bertarung karena dipaksa harus berdiri pasang badan dan membentengi raga Brakas
Estias berlari kencang membelah jalanan Desa Lembah Asri. Langkah kakinya yang berat memicu guncangan gempa kecil di sepanjang rumah-rumah warga. Air mata amarah bercampur cemas mengucur deras melintasi wajah batunya yang retak-retak. Bayangan tubuh Brakas yang terkulai bersimbah racun hitam serta Ignis yang terhempas demi membentengi adiknya terus membayangi benak raksasa Dominion tersebut. "MARTIS! MARTIS, TOLONG!" jerit Estias histeris saat mendarat keras di halaman depan rumah kayu. Namun, suasana halaman rumah terasa lengang. Pintu depan terbuka pelan, tetapi sosok Martis dan Mia sama sekali tidak terlihat di sana. Rupanya, pagi itu Martis dan Mia sedang pergi ke wilayah bukit utara untuk mengambil pasokan kayu purba dan herbal langka. Pintu rumah mendadak terbuka lebar. Rafaela melangkah keluar bersama Rian dan Lina. Melihat kondisi Estias yang bersimbah peluh, dengan zirah batu emas retak-retak dan bercak darah di tangannya, raut wajah anggun Rafaela seketika berubah ce
Keesokan harinya, sinar mentari pagi membias hangat di sekeliling kawasan hutan rimba yang tak jauh dari Desa Lembah Asri. Suasana hutan terasa sejuk oleh embusan angin segar dan gemericik air sungai. Estias dan Brakas melangkah santai menyusuri rimbunnya pepohonan purba seraya membawa kapak pemburu dan tali tambang. Dua raksasa Dominion itu sedang berburu hewan buruan untuk menambah pasokan bahan makanan pesta desa. Di pinggang mereka, dua kendi giok yang kini telah menjadi milik Rian dan Lina tak lagi tergantung, membuat Estias dan Brakas berjalan lebih bebas. Namun, di tengah perjalanan mereka, lima sosok berjubahkan kain abu-abu seperti bayangan busuk mendadak muncul dari balik semak-semak lebat, itu adalah Torgar sang Penghisap Jiwa beserta empat pengembara sesatnya. Awalnya, Estias dan Brakas sama sekali tidak menghiraukan kehadiran kelima pengembara asing tersebut. Dua raksasa setinggi tiga setengah meter itu hanya menganggap mereka sebagai pengelana biasa yang tersesat
Pendaran cahaya ganda dari Kontrak Jiwa Setia yang baru saja terjalin secara mutlak antara Rian, Lina, dan Duo Naga Lele Purba Yin-Yang perlahan-lahan meredup di tepi Danau Lembah Asri. Gelak tawa Estias dan Brakas yang bergema konyol, dipadukan dengan kehangatan senyuman Martis dan Mia, masih menyelimuti udara pagi yang amat damai. Lembah tersebut seolah menjadi suaka paling aman di seluruh Benua Utama, tempat di mana luka jiwa dua anak yatim piatu dipulihkan secara sempurna oleh kasih sayang dan takdir pelindung yang tangguh. Namun, tanpa ada yang menyadari, penyatuan dua energi purba skala dewa dalam proses pengikatan kontrak suci tersebut telah memicu gelombang getaran esensi yang amat dahsyat. Fluktuasi daya batin dari esensi Yin dan Yang murni itu menerobos benteng pertahanan alam lembah, membumbung tinggi ke angkasa, dan memancar keluar hingga belasan kilometer jauhnya melintasi batas bukit batu. Di balik bukit batu gersang yang membatasi wilayah perbatasan luar Desa Lemb
Sosok misterius itu menatap tajam petir yang Martis maksud. Ia pun berkata dalam hatinya, 'Apa...?! Bukankah Petir ini adalah petir putih? Petir putih adalah petir yang paling tinggi! Celaka, aku belum pernah sebelumnya melawan petir tingkatan ini. Tapi apa boleh buat, aku tidak akan mau dipermaluk
Dalam sejarah hidupnya, sampai saat ini hanya ada dua orang yang mampu menghadapi serangan meteor miliknya. Dan orang kedua itu adalah Martis. "Si-siapa kau sebenarnya?" tanya Edmiral Kaziru yang akhirnya penasaran. "Aku?" Martis menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah kau sudah tahu, bahwa namaku ada
Jendral Salim sebenarnya sudah menduga bahwa hal ini pasti akan terjadi. 'Anakku ini, rasa percayanya pada seseorang sangat hati-hati. Aku tak habis pikir, setelah Ibunya meninggal, sikapnya jadi seperti ini. Apa yang harus aku lakukan agar ia kembali seperti dulu lagi?' Sambil menatap langit, Jend
Martis dan Gozil melihat bahwa Edmiral Kaziru berhasil menahan serangan yang Gozil lakukan. Melihat itu, Gozil sangat frustasi. Matanya melotot dan ia mengeraskan rahangnya lalu berteriak, "Jangan remehkan kekuatan Ras Naga...!" Gozil pun kembali membuka mulutnya berniat sekali lagi menembakkan bola







