LOGINKeesokan harinya, sinar mentari pagi membias hangat di sekeliling kawasan hutan rimba yang tak jauh dari Desa Lembah Asri. Suasana hutan terasa sejuk oleh embusan angin segar dan gemericik air sungai. Estias dan Brakas melangkah santai menyusuri rimbunnya pepohonan purba seraya membawa kapak pemburu dan tali tambang. Dua raksasa Dominion itu sedang berburu hewan buruan untuk menambah pasokan bahan makanan pesta desa. Di pinggang mereka, dua kendi giok yang kini telah menjadi milik Rian dan Lina tak lagi tergantung, membuat Estias dan Brakas berjalan lebih bebas. Namun, di tengah perjalanan mereka, lima sosok berjubahkan kain abu-abu seperti bayangan busuk mendadak muncul dari balik semak-semak lebat, itu adalah Torgar sang Penghisap Jiwa beserta empat pengembara sesatnya. Awalnya, Estias dan Brakas sama sekali tidak menghiraukan kehadiran kelima pengembara asing tersebut. Dua raksasa setinggi tiga setengah meter itu hanya menganggap mereka sebagai pengelana biasa yang tersesat
Pendaran cahaya ganda dari Kontrak Jiwa Setia yang baru saja terjalin secara mutlak antara Rian, Lina, dan Duo Naga Lele Purba Yin-Yang perlahan-lahan meredup di tepi Danau Lembah Asri. Gelak tawa Estias dan Brakas yang bergema konyol, dipadukan dengan kehangatan senyuman Martis dan Mia, masih menyelimuti udara pagi yang amat damai. Lembah tersebut seolah menjadi suaka paling aman di seluruh Benua Utama, tempat di mana luka jiwa dua anak yatim piatu dipulihkan secara sempurna oleh kasih sayang dan takdir pelindung yang tangguh. Namun, tanpa ada yang menyadari, penyatuan dua energi purba skala dewa dalam proses pengikatan kontrak suci tersebut telah memicu gelombang getaran esensi yang amat dahsyat. Fluktuasi daya batin dari esensi Yin dan Yang murni itu menerobos benteng pertahanan alam lembah, membumbung tinggi ke angkasa, dan memancar keluar hingga belasan kilometer jauhnya melintasi batas bukit batu. Di balik bukit batu gersang yang membatasi wilayah perbatasan luar Desa Lemb
Sinar mentari pagi membakar hangat padang rumput di tepi Danau Lembah Asri. Embusan angin sejuk membawa kepulan uap air pemurni saat proses pelatihan beladiri generasi baru dimulai secara resmi. Di atas padang rumput, Rian dan Lina berdiri tegak mengenakan pakaian latihan kain tebal. Di hadapan mereka, dua Naga Lele Purba Yin-Yang melayang anggun di angkasa. Ikan Lele Hitam menyelimuti tubuhnya dengan aura kegelapan yang pekat, sementara Ikan Lele Putih memancarkan gelombang cahaya perak yang menyilaukan. "Dengar baik-baik, murid-muridku!" seru Ikan Lele Hitam dengan suara naga yang menggelegar nyaring. "Jalur Beladiri Yin-Yang Kuno bukan untuk penakut! Rian, kau harus menahan beban Tekanan Jiwa Bayangan di punggungmu seraya mengayunkan pedang ini seribu kali tanpa henti!" "Lina!" tambah Ikan Lele Putih dengan suara tegas namun hangat. "Kau harus memfokuskan Esensi Cahaya Yang di telapak tanganmu untuk memurnikan seratus tetes air danau di udara secara serentak!" "Siap, Guru
Beberapa minggu berlalu sejak Rian dan Lina secara sah diangkat menjadi anak oleh Martis dan Mia. Kehidupan di Desa Lembah Asri berlangsung dengan penuh kedamaian dan kehangatan. Setiap hari, Rian dan Lina menikmati kasih sayang yang melimpah dari Mia dan Rafaela, serta bimbingan tegas namun penuh kehangatan dari Martis. Namun, tinggal di lingkungan yang dikelilingi oleh para entitas terkuat di Benua Utama perlahan-lahan menyulut sebuah percikan baru di dalam jiwa kedua anak tersebut. Rian, yang kini berusia 11 tahun, kerap memperhatikan Martis dan Estias saat mereka bersila memicu energi alam. Sementara Lina kecil yang berusia 7 tahun selalu berbinar-binar setiap kali melihat pendaran cahaya sihir pemurni milik Rafaela. Suatu sore di tepi Danau Lembah Asri, Rian dan Lina duduk berdua di atas dermaga kayu, menatap pantulan bayangan mereka di atas air jernih. "Lina..." buka Rian seraya memegang gagang pedang kayu latihan yang dibuatkan oleh Estias. "Aku ingin menjadi kuat. Aku
Pagi yang cerah menaungi Desa Lembah Asri. Angin pegunungan yang sejuk bertiup lembut, menggoyangkan dedaunan hijau di sekeliling rumah kayu Martis dan Mia. Di teras depan, aroma harum teh herbal yang diseduh Rafaela menyatu dengan wangi roti gandum hangat yang baru saja dipanggang. Rian dan Lina duduk berdua di bangku kayu teras, membantu Mia merapikan keranjang buah-buahan. Meskipun duka di hati mereka perlahan mulai mengering setelah pemusnahan Klan Serigala Hitam, tatapan mata kedua anak kecil itu masih menyimpan keraguan akan masa depan mereka. Mereka menyadari bahwa mereka hanyalah dua yatim piatu yang menumpang di desa asing. Martis melangkah keluar dari dalam rumah dengan jubah tempurnya yang melambai tenang. Mata keemasannya menatap lembut ke arah Rian dan Lina, lalu beralih ke arah Mia yang tersenyum hangat padanya. Sebuah kepastian yang telah mereka diskusikan sepanjang malam kini siap untuk diwujudkan. Martis berjalan mendekat, lalu berlutut perlahan di hadapan Ria
Sinar mentari pagi membiaskan cahaya keemasan yang hangat di atas bukit-bukit yang mengapit Desa Lembah Asri. Angin sejuk berembus lembut, membawa aroma wangi bunga teratai purba dan tanah basah. Di halaman depan rumah kayu, Mia dan Rafaela sedang membimbing Rian dan Lina menyiram tanaman herbal. Senyuman tipis dan rona merah di pipi kedua bocah malang itu menandakan bahwa trauma di dalam jiwa mereka perlahan mulai memudar oleh kasih sayang dan kehangatan tempat tinggal baru mereka. Sejatinya, Mia dan Rafaela sudah menganggap kedua anak itu seperti anak mereka sendiri. Mereka berdua tau, bahwa anak seusia Rian dan Lina saat ini sangat membutuhkan yang namanya rasa kasih sayang dan cinta dari keluarga. Rafaela tau betul bagaimana rasanya hidup sebatang kara. BOOOOOOOOOOMMMM! Kemudian, tiga pilar cahaya keemasan menerobos lautan awan pagi dan mendarat mulus di halaman utama desa. Pijakan kaki Martis, Estias, dan Brakas memicu gelombang udara hangat yang membuat warga desa berham
Pertemuan Martis dengan Raja Garza sangat memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Dari Martis, ia merasa untung karena akhirnya mendapatkan tempat yang sangat cocok untuknya betlatih meningkatkan kekuatannya. Sedangkan dari Kerajaan Garza, mereka merasa untung karena sejak kabar berita tentang Marti
Hari ini adalah hari di mana hati dan pikiran Martis dipenuhi tanda tanya. Namun, untuk saat ini Martis tidak mau terlalu pusing dengan keadaan dan situasi saat ini. Pikirnya, yang terpenting setidaknya ia dapat menghilangkan rasa rindunya pada keluarga kecil yang amat dicintainya. Setelah mereka s
Si Topi Merah sangat yakin bahwa kali ini ia berhasil menghabisi Martis. Namun keyakinannya itu runtuh setelah ia melihat bahwa yang ia hantam hanyalah lantai, tanpa ada tubuh Martis di sana. "Ke mana dia...?" Si Topeng Merah melihat ke sekelilingnya guna menemukan keberadaan Martis. Akan tetapi s
Martis yang terus ditatap oleh Mona dengan cara tidak biasa akhirnya merasakan tatapan itu. "Ada apa, Mona? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Martis secara langsung, ia justru mendekatkan wajahnya pada Mona. Mona yang tersadar langsung terkejut. "Eh, anu, itu, aku..., tidak, tidak! Tidak ad







