เข้าสู่ระบบPertempuran di Ngarai Tengkorak Kelam telah melampaui batas nalar. Langit yang semula diselimuti awan sore kini berganti malam pekat, lalu kembali berangsur terang oleh fajar. Tiga jam... lima jam... hingga delapan jam berlalu tanpa hentinya dentuman energi yang meretakkan bukit-bukit batu di sekeliling mereka. Udara terasa begitu panas bercampur racun belerang yang memadatkan napas. Di dasar kawah yang luluh lantak, Martis berdiri dengan napas terengah-engah. Peluh dan darah tipis mengalir di pelipisnya, namun mata keemasannya membara lebih terang dari sebelumnya. Sebaliknya, Jenderal Valthor tampak dalam kondisi yang mengenaskan. Peningkatan kekuatan dua kali lipat yang disuntikkan dari energi kehampaan mulai menunjukkan efek samping yang mengerikan, dan zirah merahnya meletup-letup, memperlihatkan daging bermutasi yang terkelupas oleh panas Api Suci. "Hhh... hhh... tidak mungkin..." bisik Valthor seraya memegang sabitnya yang membengkok. "Aku sudah menerima kekuatan Tuan Baya
"Awas, Martis!" teriak Estias menggelegar. Dengan daya tahan tubuhnya yang kini telah melonjak tiga kali lipat, Estias melompat ke depan tanpa ragu. Urat-urat emas di zirahnya bersinar membara saat ia menyilangkan kedua lengan raksasanya di udara. "Benteng Emas Dominion!" BOOOOOOMMMM! Tebasan sabit Valthor menghantam tepat di kedua lengan Estias. Benturan dahsyat itu menciptakan gelombang kejutan raksasa yang meruntuhkan tebing-tebing ngarai di sekeliling mereka. Tanah di bawah kaki Estias ambles sejauh tiga meter, namun sang raksasa berdiri kokoh, menahan daya hancur serangan yang kini dua kali lipat lebih kuat dari sebelumnya dengan raungan keberanian. "Hahaha! Zirah batumu lumayan juga, Raksasa!" raung Valthor histeris. Dari balik topeng besinya, gumpalan api hitam menyembur keluar. "Tapi bagaimana dengan ini?!" Valthor memutar sabit raksasanya dengan kecepatan membabi buta, melancarkan belasan tebasan beruntun yang membentuk jaring-jaring bayangan pembunuh. Setiap ay
Proses evakuasi dari penjara bawah tanah berlangsung penuh haru. Martis dan Estias membimbing para wanita serta gadis-gadis yang selamat kembali ke Desa Lembah Asri. Tangis bahagia dan pelukan hangat membuncah di alun-alun desa saat keluarga yang terpisah akhirnya dipersatukan kembali. Selama dua hari, Martis memanfaatkan Api Suci Hijau Zamrud serta persediaan obat-obatan purba dari Sistemnya untuk memulihkan gizi buruk dan kesehatan para warga. Dan Estias, yang kini dianggap sebagai sang pahlawan raksasa oleh anak-anak desa. Ia bahkan rela membagikan setengah dari cadangan daging buruannya sampai perutnya sendiri berbunyi nyaring sepanjang malam. Setelah memastikan keadaan Desa Lembah Asri benar-benar aman dan makmur kembali, Martis dan Estias melambaikan tangan, melangkah pergi melanjutkan perjalanan mereka menuju jantung Benua Utama. Namun, kedamaian di perbatasan itu tidak bertahan lama. Saat Martis dan Estias melintasi sebuah celah ngarai terjal berpohon mati yang diseb
Aroma busuk belerang dan jeritan keputusasaan menyelimuti markas persembunyian antek-antek Valthor yang berada di pinggiran Desa Lembah Asri. Pertempuran di permukaan tanah berlangsung singkat dan brutal. Tanpa belas kasihan, Martis dan Estias menyapu bersih puluhan prajurit penindas yang tersisa. Estias mengayunkan tinju emasnya, melemparkan para prajurit pembeli pajak itu bagaikan pin boling yang berhamburan, sementara Api Suci Merah Keemasan Martis membakar senjata-senjata haram mereka hingga meleleh menjadi cairan tak berguna. BAM! BRUAKKK! "A-Ampun, Tuan! Ampun!" jerit salah seorang kepala pengawal yang tersisa, berlutut dengan tubuh gemetar di hadapan Martis seraya memegangi lengannya yang patah. Martis melangkah maju, tatapan matanya yang keemasan menusuk langsung ke dalam kalbu sang kepala pengawal. "Di mana tempat kalian menyembunyikan sisa hasil jarahan dan para warga yang kalian culik?" Dengan bibir gemetar pucat, sang kepala pengawal menunjuk ke arah celah dindin
Langkah kaki Martis dan Estias menyusuri jalan setapak berdebu yang membelah bukit perbatasan Benua Utama. Bau debu kering dan pepohonan meranggas menyambut perjalanan mereka, hingga di balik tikungan tebing, sebuah permukiman luas membentang di dalam lembah kecil. Seharusnya, desa itu menjadi tempat yang asri. Sisa-sisa petakan sawah bertingkat dan bekas kincir air kayu di tepi sungai menunjukkan bahwa tempat ini dulunya makmur. Namun, pemandangan yang tersaji di depan mata Martis dan Estias kini sangat kontras. Atap-atap rumah kayu banyak yang runtuh dan hangus terbakar. Dinding-dinding tanah liat retak berlubang, sementara jalanan desa dipenuhi dedaunan busuk yang tak disapu. Suasana begitu hening, sunyi dari gelak tawa anak-anak atau riuh aktivitas warga. "Martis... tempat ini baunya seperti gubuk hantu," bisik Estias. Tangannya refleks meraba perutnya sendiri, memikirkan apakah ada kedai makan yang buka di desa sesepi ini. "Waspada, Estias," sahut Martis pendek. Mata ke
Gemuruh di Lembah Angin Kelam mencapai puncaknya. Kawah raksasa yang tercipta akibat benturan energi kini membara oleh sisa-sisa Api Suci Merah Keemasan milik Martis. Jenderal Valthor berdiri terengah-engah di dasar kawah, zirahnya terkoyak hebat dan topeng besinya telah retak separuh, memperlihatkan raut wajahnya yang pucat dan dipenuhi kemurkaan. "Aku adalah Penguasa Setengah Dewa dari Sekte Bayangan Abadi!" raung Valthor histeris. Ia mengangkat sabit tulangnya yang retak, mencoba memanggil sisa-sisa Angin Kelam Pemotong Realitas. "Kalian tidak akan pernah bisa melampauiku!" "Banyak bicara!" teriak Estias menggelegar. Dengan kekuatan Evolusi Dominion tiga kali lipatnya, Estias menerjang maju mendahului angin. Raksasa itu tidak lagi menggunakan senjata, melainkan memusatkan seluruh aura batu emasnya ke dalam dua telapak tangannya. BAM! BAM! Estias menepuk kedua sisinya, mengunci pergerakan sabit Valthor tepat di tengah cengkeraman tangannya yang sekeras baja purba. Logam
Martis kemudian mendekatkan wajahnya pada Mona. Martis memperhatikan kedua bola matanya. Dan akhirnya, Martis menemukan sesuatu yang terasa janggal. "Tunggu...! Siapa namamu?" tanya Martis, ia segera menarik tangan Mona yang hendak berbalik badan kemudian pergi. Jantung Mona berdebar lebih cepat sa
Martis yang terus ditatap oleh Mona dengan cara tidak biasa akhirnya merasakan tatapan itu. "Ada apa, Mona? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Martis secara langsung, ia justru mendekatkan wajahnya pada Mona. Mona yang tersadar langsung terkejut. "Eh, anu, itu, aku..., tidak, tidak! Tidak ad
Mereka berusaha memasuki markas tersebut, tetapi pasukan penjaga langsung menghadang mereka. Martis dan timnya terpaksa mulai berperang dengan para pasukan The Silent Hand. Mereka berusaha dengan segala cara untuk masuk ke dalam markas dan menemukan Xander.Tiba-tiba, seorang anggota musuh muncul dar
Meskipun Lancelot memiliki sistem utama, dia masih harus banyak belajar lebih banyak lagi. Tapi syukurnya, ada ayahnya di sisinya."Ayah, apa yang harus aku lakukan untuk melawan teknik ilusi yang digunakan musuh kita ini?" tanya Lancelot pada ayahnya."Jangan bingung Nak. Cobalah lebih fokus. Kamu bu







