MasukPendaran Api Suci Abadi Tingkat Dewa kemudian meledak dari raga Martis bagaikan gunung berapi yang meletupkan seluruh lava intinya. Suhu panas ratusan ribu derajat seketika membakar tanah Lembah Tengkorak Berdarah, bahkan sampai melelehkan batuan hitam beracun menjadi lautan magma dalam hitungan mikrodetik. Mengerikan! "LARI! ORANG INI IBLIS SEJATI!" jerit Panglima Manusia Iblis saat melihat aura emas murni yang menutupi seluruh kawah. Ia menyebut Martis Iblis, padahal dia sendiri manusia iblis. Namun ternyata, tidak ada jalan lari bagi mereka. BOOOOOOOOOOMMMM! Martis melesat menembus barisan ribuan Manusia Iblis dengan kecepatan yang melampaui batas nalar manusia biasa. Ia tidak lagi sekadar bertarung untuk membasmi kejahatan. Pada setiap tebasan, pukulan, dan pancaran apinya adalah wujud dari kepedihan, penyesalan, dan amarah yang meremas dadanya selama tiga bulan terakhir. "LANCELOT! AKU HARAP KAU BAIK-BAIK SAJA!" Raungan keras Martis membelah angkasa saat tangan kana
Waktu berlalu bagaikan guguran daun bambu di musim gugur. Tiga bulan telah melintasi Benua Utama sejak kenyataan pahit tentang Lancelot menghantam jiwa Martis. Bagi sosok Penguasa Api yang sanggup meruntuhkan gunung hanya dengan kibasan tangan, rasa kehilangan putra tunggalnya adalah satu-satunya luka yang tak bisa disembuhkan oleh Api Suci Hijau Zamrud atau ramuan tingkat atas milik Sistem. Selama berbulan-bulan, Martis lebih banyak berdiam diri di puncak bukit belakang Hutan Bambu Emas. Wajahnya yang biasa memancarkan kehangatan percaya diri berganti menjadi tatapan mata yang kosong dan redup. Namun, Martis tidak sendirian melewati masa-masa kelam tersebut. Mia tidak pernah beranjak dari sisinya, setiap malam ia duduk memeluk lengan Martis seraya membisikkan kata-kata penguat. Estias, dengan cara konyolnya setiap hari membawa berbagai jenis daging buruan raksasa yang gosong demi memancing tawa Martis. Sementara itu, Rafaela secara rutin mengalirkan Esensi Cahaya Purba untuk
Keheningan di dalam gubuk bambu terasa begitu pekat setelah kisah kelam tentang kehancuran dunia fana mereda. Martis mengelap sisa air mata Mia seraya membelai lembut jemari istrinya. Namun, di tengah kepedihan tentang dunia asal mereka yang telah menjadi debu radiasi, sebuah pikiran yang jauh lebih menakutkan mendadak mencuat di dalam benak Martis. Dada sang Pahlawan Api terasa menyempit. Matanya menatap lurus ke dalam mata Mia dengan kecemasan yang tak pernah terlihat sebelumnya. "Mia..." suara Martis bergetar, hampir tak terdengar. "Bagaimana dengan... Lancelot? Di mana putra kita?" Pertanyaan itu menghantam Mia bagaikan petir di siang bolong. Tubuh wanita itu seketika kaku. Air mata yang baru saja mengering kini kembali membendung di pelupuk matanya, mengalir semakin deras menelusuri pipinya yang pucat. Mia menggelengkan kepalanya pelan, bibirnya gemetar hebat sampai tak sanggup mengutarakan kata-kata. Martis yang menyadari respons tersebut merasakan jantungnya seolah be
Pendaran cahaya perak di langit perlahan menyusut, menyisakan kehangatan matahari yang lembut di atas Hutan Bambu Emas. Di dalam gubuk kayu yang kini terasa jauh lebih hidup, Martis perlahan melepaskan pelukannya, menuntun Mia untuk duduk di atas pembaringan rumput. Martis berbalik menatap dua sahabatnya yang masih berdiri di ambang pintu. Dengan senyuman hangat yang jarang sekali terlihat di wajah sang Penguasa Api, Martis merangkul bahu raksasa Estias dan melambai pada Rafaela. "Mia, perkenalkan," ujar Martis seraya menunjuk raksasa di sampingnya. "Ini Estias, sahabat terbaikku di Ranah Atas. Dia raksasa yang sedikit konyol, tapi memiliki keteguhan hati sekeras zirah batunya. Dan di sebelahnya adalah Rafaela, keturunan Suku Cahaya Purba." Mia mendongak, menatap Estias dan Rafaela dengan binar mata penuh rasa terima kasih. Ia membungkukkan badannya dengan anggun. "Salam kenal, Estias, Rafaela... Terima kasih telah menemani dan berjuang bersama Martis selama ini." Estias yan
Langit merah darah yang menggantung di atas Benua Utama terus bergulung dahsyat, memancarkan gelombang tekanan yang membuat seluruh pepohonan Bambu Emas tertunduk kaku. Udara di sekeliling Martis, Estias, dan Rafaela mendadak dipenuhi oleh energi misterius yang menggetarkan fondasi ruang dan waktu. Estias pasang kuda-kuda kokoh dengan memasang badan di depan Rafaela, mata raksasanya menatap liar ke arah pusaran awan merah. "Martis! Apakah ini sisa-sisa sekte musuh?! Kenapa aromanya rasanya seperti hukum alam yang dipaksa robek?!" Martis tidak langsung menjawab. Mata Penglihat Kehampaan milik Martis berpendar terang, menembus lapisan awan merah menyala tersebut. Di saat yang sama, antarmuka Sistem di dalam benaknya berkedip-kedip cepat dengan warna biru yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, bukan peringatan bahaya pemusnah, melainkan modul rekognisi memori tingkat tinggi. [Sistem: Menganalisis Fluktuasi Energi Dimensi...] [Hasil Analisis: Tidak Terdeteksi Aura Kehampaan Maupun
Sinar matahari fajar yang hangat menembus celah-celah daun bambu keemasan, membiaskan pendaran cahaya sejuk di atas gubuk kayu tersembunyi. Di dalam gubuk, suasana terasa tegang namun penuh harap. Estias tak henti-hentinya berjalan mondar-mandir dengan langkah raksasanya yang canggung, sementara Rafaela duduk bersila seraya menyatukan kedua tangannya, memanjatkan doa tulus untuk keselamatan sang pahlawan api. "Estias, duduklah... kau membuat gubuk ini berguncang," bisik Rafaela lembut, meski matanya sendiri kerap mengarah ke pintu luar. "Bagaimana aku bisa duduk?!" balas Estias seraya menepuk dadanya panik. "Martis bertarung sendirian melawan Hantu Hitam itu! Kalau dia sampai lecet sedikit saja, aku tidak akan pernah memaafkan diriku—" BOOM! Sebuah deru angin hangat mendadak berembus dari luar, menghentikan kalimat Estias. Pendaran cahaya keemasan yang menenangkan merayap masuk melintasi celah jendela gubuk. Sesosok pria melangkah masuk dengan santai. Pakaian tempurnya yan
Pertemuan Martis dengan Raja Garza sangat memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Dari Martis, ia merasa untung karena akhirnya mendapatkan tempat yang sangat cocok untuknya betlatih meningkatkan kekuatannya. Sedangkan dari Kerajaan Garza, mereka merasa untung karena sejak kabar berita tentang Marti
Phynoglip merah muda yang merasa sedikit kesal pada Martis mejelaskan apa yang terjadi. Rupanya, Phynoglip merah muda tidak mau keberadaannya diketahui oleh orang lain selain Freya dan Alpha. Namun Martis bertanya-tanya, "Apakah Freya dan Alpha juga melupakanmu?" Entah mengapa, pertanyaan Martis in
Meskipun Martis begadang semalaman untuk mencari tahu lebih banyak tentang huruf 'D' dan Phynoglip, ia tetap bersemangat untuk berlatih. Ia tahu bahwa meningkatkan kekuatannya adalah kunci untuk mengungkap semua misteri yang tersembunyi. Ia juga harus menyelesaikan banyak misi yang diberikan oleh si
Setelah Martis mendengar dan melihat keadaan pasukannya yang kurang baik, ia bergegas menuju gerbang depan wilayah kekuasaannya. Wilayah kekuasan Martis ini memang terbilang tidak terlalu luas, dan wilayah itu kini disebut Rebelco. Penamaan Rebelco sendiri terbentuk karena desas-desus yang beredar d







