Mag-log inDi Puncak Gunung Api Purba, Pahlawan Api Martis masih terus membimbing latihan pribadi putri kecilnya dengan penuh kesabaran, kehangatan, dan rasa bangga. Di bawah arahan langsung sang ayah, Lina kecil kian mahir mengendalikan Wadah Cahaya Purba Absolut yang bersemayam di dalam raga kecilnya. Kupu-kupu api keemasan buatan Lina kini tidak hanya menari-nari memutari lereng gunung, melainkan sanggup menyebarkan pendaran hawa pemulih yang menyejukkan seluruh permukaan tanah batu yang semula tandus. Namun, di sudut lain Kota Megah Pahlawan Api, ada dua sosok tubuh tinggi besar yang menyaksikan perkembangan pesat anak-anak muda itu dari kejauhan dengan mata berbinar campur aduk. Mereka adalah Brakas dan Estias sang Raksasa Batu. Keduanya berdiri bersandar pada dinding pilar benteng barat seraya memperhatikan Rian yang sedang mengasah tebasan bayangan peraknya, Kiki dan Kira yang sibuk meletupkan petir kombinasi, serta tawa riang Lina kecil yang baru saja memunculkan bunga-bunga krista
Hari-hari berikutnya di Kota Megah Pahlawan Api diwarnai oleh fenomena unik yang kian hari kian membuat seluruh penghuni kediaman takjub sekaligus garuk-garuk kepala. Lina kecil, yang biasanya hanya sibuk berlari riang membawa kue mangkok atau mengerjai para mantan penguasa, menunjukkan perkembangan kekuatan alami yang teramat tidak masuk akal dan di luar nalar kultivasi biasa. Kejadian aneh pertama bermula pada suatu pagi yang cerah saat Lina bermain petak umpet bersama Kiki dan Kira di area taman dalam. Lina yang kebingungan mencari tempat bersembunyi dari incaran dua Kera Dewa itu mendadak memejamkan mata dan memusatkan pikirannya. Secara tidak sengaja, raga kecilnya mengeksekusi langkah Bayangan Ruang Murni yang memindahkan tubuhnya menembus dinding batu benteng setinggi lima meter tanpa menyisakan bekas retakan atau riak energi sedikit pun. Kiki dan Kira yang mencari ke sana-kemari sampai memanjat atap seketika melotot kaget saat menemukan Lina sedang santai duduk di balik
Pagi hari di Kota Megah Pahlawan Api biasanya dipenuhi suara dentang pedang Pasukan Garuda Hitam atau teriakan tegas Dosen Kaisar Malakori. Namun pagi ini, suasana di area taman tengah kediaman utama terasa sedikit berbeda. Lina kecil duduk di atas rumput hijau seraya memegangi nampan kue mangkoknya yang kosong dengan raut wajah cemberut dan mata berkaca-kaca. Di hadapannya, ada tiga ekor Tikus Berduri Kristal monster kerdil pencuri yang meloloskan diri dari sisa-sisa gelombang anomali yang sedang berdiri di atas batu seraya mengunyah kue mangkok terakhir milik Lina tanpa rasa dosa sedikit pun. CIT-CIT! Tikus-tikus kecil itu bahkan mengibaskan ekor berduri mereka konyol, seolah-olah mengejek Lina yang tampak polos dan tak berdaya. "Kue mangkok buatan Ibu Mia... dimakan sama tikus nakal..." bisik Lina kecil dengan suara gemetar, bibirnya melengkung ke bawah. Dari kejauhan, Rian yang baru selesai mengelap Belati Naga Perak Yin kaget melihat Lina menangis. "Lina! Ada apa?!" K
Sinar mentari pagi memancar hangat menembus sisa-sisa kabut tipis di atas Kota Megah Pahlawan Api. Udara segar berembus lembut membawa harum dedaunan dan aroma roti panggang buatan Ibu Mia. Suasana di sekitar benteng tampak sibuk namun dipenuhi gelak tawa. Para prajurit Pasukan Garuda Hitam sedang bergotong-royong merapikan sisa-sisa retakan batu, sementara Lina kecil terlihat riang menunggangi bahu Estias sang Raksasa Batu. Namun, pemandangan paling mengocok perut pagi itu terjadi di sudut alun-alun kota. Raja Gungnir yang bertelanjang dada tampak ngos-ngosan mendorong gerobak pupuk tanaman raksasa. Di sampingnya, Kaisar Malakori berjalan tegap mengenakan celemek bunga matahari kesayangannya seraya membawa sapu lidi dan sebuah papan nilai dari batu. "Dorong lebih lurus, Gungnir!" teriak Kaisar Malakori berapi-api bagaikan mandor galak. "Postur tubuhmu miring ke kiri! Bagaimana pupuk ini bisa sampai ke ladang jagung kalau gerobakmu oleng begitu?! Sebagai mantan raja, sapuan da
Udara di dasar celah bawah tanah mendadak berubah menjadi lautan kelabu yang pekat dan sangat padat. Bau belerang purba yang berumur jutaan tahun menyeruak tajam, berpadu dengan hawa dingin yang sanggup meledakkan pembuluh darah. Di kedalaman ribuan meter itu, Martis berdiri melayang di tengah pusaran ruang yang terdistorsi. Jubah keemasannya berkibar hebat, memancarkan pendaran Api Murni Pahlawan Api yang menahan tekanan ribuan atmosfer. Di hadapannya, pusaran hitam, kelabu itu perlahan memadat. Bayangan raksasa sang Entitas Purba peninggalan dari Era Keretakan Dimensi mulai menampakkan wujud aslinya. Entitas itu tidak memiliki wajah manusia, melainkan gumpalan kristal kegelapan raksasa berhiaskan belasan mata merah darah yang berdenyut redup. Dari celah-celah badannya, menjulur puluhan tentakel gravitasi cair yang memancarkan daya hancur mutlak. GROAARRRRRRRRRRRRR! Raungan entitas itu tidak merambat melalui udara, melainkan menghantam langsung dinding jiwa Martis. BOOOOOOO
Niat suci dan tekad membara Rian, Kiki, dan Kira untuk membantu Ayah Martis mendadak membentur kenyataan yang teramat pahit. Baru saja ketiga ksatria muda itu melompat turun sejauh lima puluh meter menembus retakan tanah raksasa di alun-alun kota, udara di dalam celah bawah tanah tersebut mendadak membeku secara tidak masuk akal. Warna udara berubah menjadi kelabu pekat, memancarkan gelombang gravitasi raksasa yang kepadatannya menyerupai dinding baja murni dari era purba. HUMMMMMMMMMMM—BOOOOOOOOOOMMMM! Tanpa sempat mengeksekusi jurus pertahanan atau mengayunkan belati, sebuah Hempasan Aura Gravitasi Purba meletup dahsyat dari kedalaman bumi. Hempasan energi itu bagaikan dinding gunung tak kasat mata yang dihantamkan secara mendadak dari arah bawah. Pelindung petir emas milik Kiki, perisai petir ungu milik Kira, serta aura bayangan Yin milik Rian seketika retak hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan milidetik. "UAAAAAGHH!" Jeritan Rian, Kiki, dan Kira membumbung ti
Sosok misterius itu menatap tajam petir yang Martis maksud. Ia pun berkata dalam hatinya, 'Apa...?! Bukankah Petir ini adalah petir putih? Petir putih adalah petir yang paling tinggi! Celaka, aku belum pernah sebelumnya melawan petir tingkatan ini. Tapi apa boleh buat, aku tidak akan mau dipermaluk
Dalam sejarah hidupnya, sampai saat ini hanya ada dua orang yang mampu menghadapi serangan meteor miliknya. Dan orang kedua itu adalah Martis. "Si-siapa kau sebenarnya?" tanya Edmiral Kaziru yang akhirnya penasaran. "Aku?" Martis menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah kau sudah tahu, bahwa namaku ada
Martis dan Gozil melihat bahwa Edmiral Kaziru berhasil menahan serangan yang Gozil lakukan. Melihat itu, Gozil sangat frustasi. Matanya melotot dan ia mengeraskan rahangnya lalu berteriak, "Jangan remehkan kekuatan Ras Naga...!" Gozil pun kembali membuka mulutnya berniat sekali lagi menembakkan bola
Martis yang terus ditatap oleh Mona dengan cara tidak biasa akhirnya merasakan tatapan itu. "Ada apa, Mona? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Martis secara langsung, ia justru mendekatkan wajahnya pada Mona. Mona yang tersadar langsung terkejut. "Eh, anu, itu, aku..., tidak, tidak! Tidak ad







