LOGINBerbulan-bulan telah berlalu sejak penumpasan Sekte Bayangan Abadi dan penetasan Burung Phoenix Api Emas yang kini diberi nama Ignis oleh Mia. Kehidupan di Desa Lembah Asri berlangsung dalam kedamaian yang tak tergoyahkan. Kehadiran Brakas, adik kandung Estias memberikan warna baru di desa tersebut. Bersama Estias, kedua raksasa itu membantu warga membangun infrastruktur benteng dan pertanian dengan kekuatan Dominion mereka yang tak terbatas. Namun, di balik kedamaian yang melingkupi Benua Utama, Martis tidak pernah melupakan tugasnya sebagai Penguasa Mutlak. Di puncak bukit tertinggi di balik desa, Martis duduk bersila dalam meditasi. Di sekeliling tubuhnya, Tujuh Api Suci Abadi Tingkat Dewa memancar tenang, menyatu secara harmonis dengan pusaran esensi alam. Ignis melayang anggun di angkasa di atas Martis, menjaga ketenangan sang majikan. [Sistem: Melakukan Pemindaian Rutin Multiverse] [Deteksi Anomali: Terjadi Fluktuasi Energi Asing di Sektor Perbatasan Alam Bahtera!] [Tingka
Pendaran sinar matahari sore membiaskan warna keemasan di sepanjang jalan setapak menuju Desa Lembah Asri. Embusan angin sejuk membawa aroma harum bunga liar dan dedaunan basah, menyambut kepulangan rombongan Martis dari Kota Batu Berdarah. Di barisan depan, Martis melangkah dengan tenang. Di dalam pelukannya, Telur Binatang Dewa Suci berpendar hangat secara teratur, memancarkan garis-garis cahaya keemasan yang kian terang akibat pasokan energi Api Suci Abadi Tingkat Dewa yang disuntikkan Martis secara halus di sepanjang perjalanan. Di sampingnya, dua raksasa setinggi tiga setengah meter, Estias dan Brakas berjalan seraya tertawa terbahak-bahak, saling menepuk bahu batu mereka hingga memicu dentuman-dentuman kecil yang menggetarkan tanah. "Hahaha! Brakas, nanti di desa aku akan mengenalkanmu pada daging panggang bumbu pedas buatan warga!" seru Estias penuh semangat, mata raksasanya berbinar konyol. "Tapi kau harus ingat, jangan makan dua porsi sekaligus seperti waktu kita di kot
Gema sorak-sorai dan teriakan penuh penghormatan membahana di seluruh pelosok Kota Batu Berdarah. Ribuan warga dan petarung bersujud di atas tanah, menatap sosok Martis yang melayang tenang di tengah panggung dengan mata yang dipenuhi rasa kagum mutlak. Nama Martis sang Pahlawan Api yang telah memusnahkan sosok bayangan misterius dan menyelamatkan Benua Utama kini terngiang nyata di hadapan mereka. Tetua Kaelas masih berlutut di panggung batu meteorit yang retak. Pria tua yang menjadi jawara bertahan di kota itu mengangkat kedua tangannya ke udara seraya melilitkan jubah taoisnya secara rapi. "Hamba... dan seluruh petarung di Kota Batu Berdarah," ujar Tetua Kaelas dengan suara lantang yang menggetarkan arena, "dengan ini menyatakan mundur dari sayembara! Tidak ada satu pun manusia di tempat ini yang cukup bodoh untuk mengukur kekuatan melawan sang Penyelamat Benua!" Pengawas arena yang gemetar hebat buru-buru menyapu keringat di keningnya. Dengan tangan yang menggigil, ia mengambi
Lautan api hitam beracun milik Gideon membumbung tinggi, mengurung seluruh sudut panggung batu meteorit. Pria berzirah besi duri itu meraung murka, menghantamkan gada raksasanya lurus menuju kepala Martis dengan kecepatan yang membelah udara. "Mati kau!" jerit Gideon histeris. Martis bahkan tidak berpaling. Ia hanya mengangkat jari telunjuk tangan kanannya secara santai, menyambut ujung gada besi raksasa yang diliputi sihir api hitam tersebut. TING! Tidak ada dentuman suara ledakan. Tidak ada gelombang kejut yang meruntuhkan tribun. Hanya bunyi tingting halus yang memecah keheningan. Ujung jari telunjuk Martis menahan gada besi berbobot belasan ton itu dengan ketahanan mutlak tanpa bergeser serambut pun! Gideon terbelalak horor, matanya hampir melompat keluar dari kelopaknya. "A-Apa?! Dengan satu jari?!" Martis menatap Gideon dengan mata keemasan yang memancarkan pendaran dingin. "Ini bahkan belum mencapai seperseribu dari kekuatanku." [Sistem: Mengaktifkan Output Ener
Tekanan aura Api Suci Abadi Tingkat Dewa yang melingkupi raga Martis kian pekat, memancarkan gelombang panas yang memurnikan setiap sisa aroma racun di udara. Vanya berlutut di atas panggung batu meteorit, napasnya tersengal-sengal dengan wajah yang pucat pasi. Efek balik dari hancurnya Sihir Penggoda Purba miliknya melumpuhkan seluruh aliran energi di dalam jiwanya. Melihat mata keemasan Martis yang begitu dingin dan tak tersentuh, Vanya menyadari jurang perbedaan kekuatan di antara mereka. Ia mengepalkan tangannya di atas tanah yang membara, meremas gaun sutra hitamnya dengan bibir gemetar ketakutan. "A-Aku... aku menyerah!" jerit Vanya terengah-engah seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam ke tanah. GONGGGGG! Suara gong perunggu berdentum nyaring menggelegar ke seluruh penjuru arena. "Pemenang babak ini... Nomor Peserta 45, Martis!" teriak pengawas arena dengan suara membahana, memecah keheningan penonton yang masih terpukau oleh pemurnian instan tersebut. Vanya berd
Suara dentuman gong perunggu kembali membelah keriuhan Kota Batu Berdarah. Asap tipis yang tersisa dari pertarungan sebelumnya perlahan memudar, memperlihatkan permukaan panggung batu meteorit yang kini dipenuhi retakan mendalam. Martis mendarat dengan anggun di tengah panggung. Jubah tempurnya yang berujung keemasan melambai tenang ditiup angin sore, sementara mata keemasannya memancarkan pendaran dingin yang teramat tenang. Di antara ribuan penonton yang memadati tribun, bisik-bisik penasaran mulai merebak. Penampilan Martis yang rapi dan tampan tampak sangat kontras jika dibandingkan dengan para petarung bersenjata berat yang mendominasi sayembara ini. "Nomor Peserta 45 telah bersiaga!" seru pengawas arena seraya mengangkat tangannya. "Dan lawannya di babak ini adalah... sang mawar beracun yang tak terkalahkan, Vanya si Penyihir Mawar Hitam!" Dari sudut panggung yang lain, sesosok wanita melangkah keluar dengan keanggunan yang menghipnotis. Ia mengenakan gaun sutra hitam be
Wow, tampaknya Jendral William memiliki kekuatan yang luar biasa! Meskipun terlihat terluka dan terbaring, dia masih memiliki semangat dan kegigihan untuk melawan. Dia bangkit kembali dengan tekad yang kuat, menunjukkan bahwa pertempuran ini belum berakhir.Dengan gerakan yang cepat, Jendral William
Lalu keesokan harinya Martis mengatakan bahwa ia akan mencoba menemui pemimpin Bayangan Hitam. Terkadang, keberanian sejati bukanlah tentang berperang, akan tetapi tentang mencari cara untuk menyelesaikan konflik tanpa harus bertempur. Dengan kekuatan dan kebijaksanaannya, Martis akan mencoba untuk
Seiring dengan berjalannya waktu, Dr. X semakin tampak lemah dan terdesak. Martis dengan kekuatan Elysium terus menyerang tanpa henti. Setiap serangan yang dilancarkan oleh Martis tampaknya berhasil membuat Dr. X semakin terpojok."Kali ini aku tidak akan memberimu kesempatan untuk memulihkan diri,"
Martis langsung bersiap akan menuju toko kue milik orang tuanya itu."Martis, biar Ayah saja yang ke sana. Kau tetaplah di sini saja," ucap Marten yang ingin mencegah Martis pergi. Marten khawatir akan terjadi sesuatu pada anak kesayangannya ini."Tidak Ayah! Mungkin tadi belum cukup untuk membuat mer






