MasukSuasana ruang rawat itu dipenuhi aroma antiseptik yang menusuk hidung, begitu kuat hingga membuat dada Elena terasa kencang. Monitor di samping ranjang berdetak pelan, teratur, seperti menghitung detik-detik penting yang menentukan nyawa ayahnya. Setiap bunyi bip seakan memukul batinnya.
Elena duduk di kursi plastik kecil, tubuhnya condong ke depan. Jemarinya menggenggam tangan ayahnya yang dingin dan lemah. Tulang-tulang di tangan itu tampak begitu menonjol, seakan waktu menggerogotinya tanpa ampun. Elena menyusuri tangan lemah itu dengan jari-jarinya yang gemetar. “Bertahanlah, Yah… tolong bertahan,” bisiknya parau. " Demi aku Yah...." Tanpa terasa air matanya luruh, ia menjadi sangat lemas dan tak berdaya. "Yah...." Suara itu pecah berkali-kali, seperti tidak sanggup menahan beban yang menekan dari segala arah. Air mata jatuh tanpa diminta. Rasanya ia ingin berteriak, membuat langit-langit rumah sakit runtuh, menghentikan semua penderitaan. Tapi kenyataan terlalu keras, ia tak bisa melakukan apa pun. Semua pintu seperti menutup dirinya dari segala arah. Hingga sosok itu muncul di ambang pintu. Leon berdiri di sana, tegap, seperti bayangan gelap yang menyusup ke dalam cahaya putih ruang rawat. Jas hitamnya rapi, terlalu kontras dengan dunia rapuh yang Elena tinggali saat ini. Ia membawa sebuah map cokelat di tangan, dan di wajahnya tergambar senyum tipis yang sulit ditebak. “Elena,” suaranya berat, stabil, namun mengandung tekanan yang membuat bulu kuduk berdiri. Elena menoleh pelan. Matanya yang sembab menatap pria itu dengan campuran bingung, takut, dan marah yang tak bisa ia rangkai menjadi kata. “Kenapa Anda ada di sini?” suaranya nyaris hilang. Leon masuk tanpa meminta izin, langkahnya mantap seolah ruangan itu miliknya. “Karena aku tahu kamu sudah mengambil keputusan.” Elena mengerjap, bingung. “Saya belum mengambilnya--” “Sudah,” potong Leon tanpa memberi celah. “Kalau tidak, kamu tidak akan membiarkanku melangkah sejauh ini.” Ia meletakkan map itu di meja kecil, lalu membuka isinya. Lembaran-lembaran kertas tersusun rapi, itu adalah sebuah kontrak. Ada kalimat-kalimat hukum tajam yang menghiasi lembaran putih itu. “Baca.” Elena menatap kontrak itu, lalu menatap wajah Leon. Ia tidak mengerti. “Apa ini?” “Sebuah kesepakatan,” jawabnya datar. “Aku akan membayar semua biaya perawatan dan operasi ayahmu. Sebagai gantinya…” Ia sedikit condong, mengurangi jarak, suaranya turun menjadi bisikan yang menggetarkan, “kamu harus menjadi milikku. Sepenuhnya. Perlu aku ingatkan, pantang bagimu untuk menolak." Jantung Elena berhenti sejenak. Kata 'Milik' seakan menghantamnya seperti palu. Dadanya sesak. “Saya… manusia,” suaranya bergetar hebat, “bukan barang dagangan! Dan siapa Anda sebenarnya?" Leon tersenyum tipis, senyum yang justru membuat Elena semakin takut. “Hei, aku tidak akan memperlakukanmu sebagai barang. Tapi kamu harus tahu, dunia ini bergerak karena dua hal yakni kekuatan dan pengorbanan." Elena mengerutkan dahi, tidak mengerti maksud dari pria itu. Kedua tangan Elena gemetar. Pandangannya naik turun antara wajah ayahnya dan lembar kontrak itu. Ketidakadilan dunia membuat darahnya mendidih, tapi ia tidak punya pilihan. Setiap detik yang berlalu bisa menjadi detik terakhir bagi ayahnya. Dengan napas terputus-putus, Elena akhirnya meraih pena. Air mata jatuh membasahi kertas itu saat ia menuliskan namanya. Selesai. Leon tersenyum puas, lipatannya rapi penuh kehati-hatian. “Bagus. Mulai hari ini, kamu bukan lagi hanya Elena.” Ia menatapnya tajam. “Kamu adalah milikku.” Tubuh Elena berguncang. “Apa yang akan Anda lakukan pada saya?” Leon mendekat, meraih dagunya dengan sentuhan yang terasa terlalu lembut untuk sosok sekejam dirinya. Wajah Elena terangkat, terpaksa menatap mata pria itu, mata indah tapi sangat dingin, mata yang menyimpan badai. “Pertama,” ucap Leon rendah, “kamu akan tinggal di rumahku. Kedua, kamu belajar aturan. Dunia yang akan kamu masuki tidak mengenal kelemahan." Elena terdiam, berusaha mencerna kalimat-kalimat yang terasa asing di telinga. Siapa sebenarnya pria ini? ** Tak terasa senja mulai turun ketika Elena berdiri di balkon rumah sakit. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, sementara angin malam mengusap wajahnya yang basah. Ada secercah lega — ayahnya mendapatkan harapan. Tapi rasa hancur dalam dirinya tak bisa ia tolak. Ia telah mengorbankan kebebasannya… untuk harga yang terlalu mahal. Leon muncul di sampingnya, menyulut rokok dengan gerakan tenang. Asap putih melayang, bercampur udara dingin. “Kamu terlihat menyesal,” katanya tanpa menoleh. “Tentu saja saya menyesal!” Elena hampir berteriak. “Hidup saya… bukan lagi milik saya!” Leon menatap jauh ke lampu-lampu kota, wajahnya tidak berubah. “Kamu pikir aku hidup dengan pilihan bebas? Tidak.” Ia menghembuskan asap. “Aku pun terikat oleh janji, dendam, dan darah. Kita sama, Elena.” Kata-katanya membuat Elena terdiam. Ada luka di sana, ada luka yang nyata. “Kenapa saya?” bisiknya akhirnya. “Kenapa harus saya?” Leon menatapnya lama. Mata Elena seolah disihir untuk balik menatapnya. "Mata itu..." suaranya merendah. Mata? Elena mengedip-ngedip. "Lupakan." Leon berpaling. Ucapannya tak dilanjutkan, ia biarkan menggantung di udara."Sssst...."Andrian memberi isyarat ke Elena supaya tidak bergerak. Ia bagaikan predator yang tengah mengamati mangsanya. Namun, saat langkah kaki itu semakin mendekat, ia justru menurunkan kewaspadaannya. Ia melepaskan genggamannya pada lengan Elena dan berdiri dengan tenang, seolah-olah moncong senjata yang mengintai di balik pintu bukanlah ancaman baginya."Lampu," ucap Andrian singkat, suaranya bergema dengan otoritas yang tak terbantahkan.Seketika, cahaya putih yang tajam kembali menyala, menyilaukan mata Elena yang masih bersembunyi di balik meja ek. Di ambang pintu, berdirilah dua pria bertubuh tegap dengan setelan hitam tanpa cela. Mereka tidak tampak seperti pembunuh bayaran yang dikirim Leon, melainkan unit taktis yang terlatih. Salah satu dari mereka segera menurunkan senjatanya dan membungkuk hormat."Tuan Romanov," ujar pria di depan, suaranya parau. "Maaf atas gangguan ini, tapi situasinya mendesak."Elena perlahan bangkit, merapikan rambutnya yang berantakan dengan jar
Ketakutan itu, ketakutan yang langka dan asing bagi Leon, menyengat. Ia tidak pernah berpikir Elena akan benar-benar meninggalkannya. Dia miliknya. Selalu begitu. Tapi Romanov… Andrian Romanov memiliki cara untuk masuk ke dalam pikiran seseorang, menawarkan hal-hal yang paling didambakan.Leon mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat dengan jari-jari yang gemetar karena amarah yang ditahan: Awasi setiap gerakannya. Jangan lengah sedikit pun.Ia menatap pintu perpustakaan itu lagi. Sebuah pertarungan telah dimulai, dan kali ini, hadiahnya adalah Elena. Dan Leon Arisano tidak pernah kalah.Di balik pintu jati yang berat itu, keheningan perpustakaan terasa seperti sebuah entitas yang hidup. Aroma kertas tua, kulit pembungkus buku, dan wangi kayu cendana yang samar menyelimuti ruangan. Elena berdiri mematung di dekat rak buku-buku hukum klasik, namun fokusnya sama sekali bukan pada judul-judul emas di hadapannya.Langkah kaki Andrian Romanov terdengar pelan, namun setiap ketukannya
Angin laut masih berdenyut di pipi Elena, namun hawa dingin yang sebenarnya berasal dari pilihan yang baru saja disodorkan Romanov. Ia berdiri di dek, menatap siluet Leon yang terpantul samar di balik kaca. Pria itu adalah jaring pengaman, sekaligus sangkar emas. Andrian, di sisinya, adalah jurang yang memanggil.“Mungkin kita harus kembali ke dalam,” suara Andrian memecah keheningan. Nadanya tenang, namun ada urgensi yang tak terucap. “Aku punya sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”Elena menoleh, matanya menelisik wajah Andrian Romanov. Tidak ada senyum licik, hanya tatapan yang begitu dalam hingga seolah melihat langsung ke jiwanya. Ia mengangguk.Mereka kembali melewati lorong yang sama, denting gelas dan tawa palsu kembali menyambut. Namun, Andrian tidak membawa Elena kembali ke aula utama. Ia memimpin ke sebuah koridor tersembunyi di buritan kapal, di mana suara musik dan keramaian meredup, digantikan oleh keheningan yang lebih pribadi. Sebuah pintu kayu gelap dengan ukiran ru
Benar saja, Elena menjalankan permintaan Leon. Malam di Laut Adriatik terasa seperti lembaran beludru hitam yang disobek perlahan oleh cahaya lampu kapal. Velikiy Nocturne meluncur anggun, terlalu mewah untuk disebut sekadar kapal pesiar. Ia lebih pantas disebut istana terapung—dingin, sunyi, dan penuh rahasia yang tidak pernah mengapung ke permukaan. Elena berdiri di depan cermin kamar suite yang disediakan khusus untuknya. Gaun hitam itu menempel di tubuhnya dengan cara yang membuatnya merasa telanjang dan bersenjata sekaligus. Punggung terbuka, belahan rendah, sederhana namun berbahaya. Leon memilihkannya tanpa banyak komentar, hanya satu kalimat singkat yang masih terngiang di kepalanya. Romanov menyukai sesuatu yang tampak rapuh, tapi jelas tahu cara melukai. Elena menghela napas pelan. Tangannya dingin. Bukan karena udara laut, melainkan karena fakta bahwa pria yang akan ia temui malam ini sudah pernah menatapnya… dan mengingatnya. Kafe kecil di Milan itu kembali muncul
"A-ku pikir kamu...."Sosok itu mendekat dan itu adalah Leon.Dengan senyum tipis dan sedikit sinis ia kemudian berkata," Mati."Elena terdiam. Apalagi kegelapan di dalam apartemen itu terasa mencekik, lebih pekat daripada malam di pinggiran Milan. Elena tidak menurunkan senjatanya. Moncong pistol itu tetap lurus mengarah ke dada Leon, tepat di mana jantung pria itu seharusnya berdetak—jika ia memang masih memiliki satu.Leon tidak bergerak. Ia berdiri dengan bahu yang lebar, mengisi ruang kosong di antara jendela dan meja kayu dengan aura dominasi yang menyesakkan. Bau asap tembakau dan aroma hutan basah yang melekat pada mantelnya perlahan menguasai penciuman Elena, memicu memori-memori traumatis sekaligus adiktif dari masa lalu."Turunkan senjatamu, Elena. Kita berdua tahu kamu tidak akan menekannya," suara Leon sedingin es yang retak."Kamu sudah mati," bisik Elena, suaranya parau. "Aku melihat gudang itu meledak. Aku mendengar tembakannya. Kamu seharusnya menjadi abu!"Leon melan
Leon tidak bergeming. Di tengah kekacauan, ia tetap berdiri tegak dengan aura predator yang tak goyah, meski darah merembes dari luka di pahanya. Ia menjatuhkan senapannya dengan dentang logam yang dingin di atas lantai beton."Kamu ingin kartunya? Ada padaku," suara Leon datar, tanpa emosi, seperti seorang algojo yang sedang membacakan vonis. "Ambil, dan biarkan dia pergi. Kamu hanya menginginkan data itu, Victor. Jangan biarkan obsesimu menghambat bisnismu."Victor tertawa terbahak-bahak, sebuah suara serak yang penuh kegilaan. "Ayah memang menginginkan datanya, Leon. Tapi Ayah jauh lebih ingin melihatmu hancur berkeping-keping. Kamu adalah kegagalan terbaik yang pernah Ayah ciptakan!"Saat Victor terdistraksi oleh euforia kemarahannya, Leon melakukan gerakan yang tidak terduga. Bukan serangan langsung, melainkan sebuah manuver taktis yang sudah ia siapkan sejak menginjakkan kaki di tempat terkutuk itu. Ia melempar sebuah granat—bukan ke arah Victor, melainkan ke arah tangki gas rak







