Masuk
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki Elena terasa berat saat ia menuruni tangga besar di rumah sakit. Hatinya masih kacau, pikirannya belum bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya kini sedang berada di antara hidup dan mati. Semuanya terasa terlalu cepat, terlalu mendadak. Suara notifikasi ponselnya berdering. Ia merogohnya, menemukan pesan dari pihak rumah sakit, “Mohon hadir ke ruang direktur untuk membicarakan pembayaran dan kelanjutan perawatan pasien.” Dadanya seketika sesak. Uang. Lagi-lagi masalah uang. Elena menutup mata sejenak, menenangkan diri. Ia tahu, setelah ini, tak ada jalan lain selain menghadapi kenyataan jika biaya operasi ayahnya takkan mampu ia tanggung sendiri. Apa yang akan dia lakukan? Di sisi lain kota, sebuah mobil hitam mewah melaju kencang menembus keramaian lalu lintas Jakarta malam itu. Di kursi belakang, seorang pria dengan jas hitam elegan duduk dengan sikap angkuh. Tatapannya tajam, dingin, nyaris menusuk siapa saja yang berani menantangnya. Dialah Leonardo Ricardo, penguasa bisnis bawah tanah yang lebih dikenal sebagai mafia berdarah dingin. Ia baru saja menyelesaikan sebuah pertemuan rahasia dengan rekan bisnis luar negeri. Tapi bukan urusan itu yang membuat kepalanya berat malam ini. Sejak kematian adiknya setahun lalu, Leon tak pernah lagi bisa benar-benar tidur nyenyak. Adiknya mati di tangan pengkhianat. Dan sejak itu, Leon bersumpah, takkan ada seorang pun yang bisa menyentuh keluarganya lagi. Namun, takdir selalu punya permainan sendiri. Elena duduk di kursi ruang tunggu direktur rumah sakit. Tangannya menggenggam erat map hasil pemeriksaan ayahnya. Begitu pintu terbuka, ia berdiri dengan sopan. “Silakan duduk, Nona Elena,” ucap dokter yang menangani. “Bagaimana keadaan Ayah saya, Dok?” tanyanya pelan. “Sebetulnya, operasi harus segera dilakukan. Tapi biayanya tidak kecil.” Elena menunduk. “Berapa… kira-kira?” Dokter itu menyebut angka fantastis yang membuat jantungnya hampir berhenti berdetak. “Tidak mungkin saya bisa mengusahakan sebanyak itu dalam waktu singkat, Dok.” Si Dokter hanya menghela napas. “Kami bisa memberi tenggat beberapa hari. Tapi selebihnya, mohon maaf, perawatan akan terhenti.” Seakan seluruh dunia menutup diri, Elena berdiri dengan tubuh gemetar. “Saya akan cari caranya,” bisiknya lirih. Sementara itu, Leon keluar dari mobilnya, melangkah masuk ke rumah sakit yang sama. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa ia diam-diam memiliki saham besar di rumah sakit itu. Langkahnya terhenti ketika pandangannya menangkap sosok perempuan di koridor. Rambut hitam panjang yang terurai seadanya, mata merah bengkak karena menangis, namun tetap ada cahaya keanggunan yang tak bisa diabaikan. Elena. Perempuan itu berjalan sambil menunduk, nyaris menabrak Leon tanpa sadar. “Perhatikan jalanmu,” suara Leon dingin. Elena terperanjat, buru-buru menunduk. “M-maaf, saya tidak…” Kalimatnya terhenti begitu ia menatap wajah pria itu. Mata gelap penuh wibawa, rahang tegas, dan aura mengintimidasi. “Kenapa menangis?” tanya Leon tiba-tiba, nadanya tak biasa untuk seorang asing. Elena berusaha tegar. “Itu bukan urusan Anda.” Sudut bibir Leon terangkat tipis, nyaris seperti ejekan. “Kamu berani bicara begitu kepadaku?” Ada sesuatu yang membuat Elena gemetar, bukan hanya karena sikapnya, tapi juga tatapan matanya yang terasa seolah mampu menelanjangi isi hati. Menghindari Elena, ada senyum kecut yang tampak diwajah Leon, ia bergumam dengan nada amarah, "Gadis itu berani sekali..." Leon melangkah ke ruang direktur, ia kemudian bertanya, "Siapa nama gadis itu?" "Ooo... Dia bernama Elena tuan." Sang direktur juga menjelaskan kondisi keuangan keluarga Elena, juga tentang operasi yang mendesak. Leon mendengarkan dalam diam. Ada ketertarikan aneh yang muncul. Ketika Leon keluar ruangan, ia mendapati Elena duduk termenung di bangku panjang koridor. Gadis itu tampak begitu rapuh, namun juga keras kepala dalam keteguhannya. “Kamu butuh uang?” tanya Leon blak-blakan. Elena mendongak kaget. “Apa maksud Anda?” “Untuk operasi ayahmu. Kamu tidak akan bisa membayar itu. Tapi aku bisa.” Elena berdiri dengan marah. “Saya tidak mengenal Anda. Dan saya tidak butuh belas kasihan!” Leon melangkah lebih dekat, menurunkan suara hingga terdengar mengancam. “Kamu bahkan tidak tahu siapa aku, tapi menolak bantuanku? Dunia ini tidak semudah yang kau kira, Elena.” Elena mencoba menahan air mata. “Kalau saya menerima bantuan Anda, pasti ada harga yang harus dibayar. Bukan begitu?” Tatapan Leon menajam. “Tepat sekali.” Ia mencondongkan tubuh, berbisik. “Aku akan bayar semua biaya ayahmu. Tapi sebagai gantinya…” Elena menahan napas. Aura pria itu begitu mendominasi, membuat lututnya hampir lemas. “Kamu akan menjadi milik ku.” Elena terkejut. “Milik… siapa?” “Milikku dan tak bisa dibantah setelah kamu menerima uang dari ku. Kamu akan tinggal di sisiku. Kamu akan jadi milikku!” Kalimat itu menghantam keras seperti palu. Elena menatapnya dengan ngeri sekaligus bingung. “Apa Anda gila?! Kita bahkan baru bertemu!” Leon menatapnya tenang, nyaris dingin. “Aku tidak pernah main-main. Dunia yang kujalani tidak mengenal kata kebetulan. Kamu muncul di depanku bukan tanpa alasan. Dan perlu kamu tahu, kamu tak punya hak menolak permintaan sang penguasa seperti ku." Elena ingin menolak, tapi bayangan wajah ayahnya yang terbaring di ruang ICU kembali menghantui. Kalau ia menolak, operasi itu takkan pernah terjadi. Ayahnya bisa kehilangan nyawa. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air mata perlahan jatuh tanpa bisa ia tahan. Leon berdiri tegap, menunggu. Ia seolah tahu perempuan ini sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Dan ia tahu, pada akhirnya, keputusasaan selalu menjadi pintu masuk terbaik. “Elena,” suara Leon merendah, hampir seperti bisikan maut. “Putuskan sekarang. Kamu mau menyelamatkan ayahmu… atau kehilangan dia selamanya?” Ketika Elena akhirnya mengangkat wajahnya, tatapannya penuh luka. Suaranya gemetar, tapi tegas. “Kalau saya terima… apa yang akan terjadi pada saya?” Leon menatapnya lama, lalu mengukir senyum tipis. “Kamu akan tahu nanti.”"Sssst...."Andrian memberi isyarat ke Elena supaya tidak bergerak. Ia bagaikan predator yang tengah mengamati mangsanya. Namun, saat langkah kaki itu semakin mendekat, ia justru menurunkan kewaspadaannya. Ia melepaskan genggamannya pada lengan Elena dan berdiri dengan tenang, seolah-olah moncong senjata yang mengintai di balik pintu bukanlah ancaman baginya."Lampu," ucap Andrian singkat, suaranya bergema dengan otoritas yang tak terbantahkan.Seketika, cahaya putih yang tajam kembali menyala, menyilaukan mata Elena yang masih bersembunyi di balik meja ek. Di ambang pintu, berdirilah dua pria bertubuh tegap dengan setelan hitam tanpa cela. Mereka tidak tampak seperti pembunuh bayaran yang dikirim Leon, melainkan unit taktis yang terlatih. Salah satu dari mereka segera menurunkan senjatanya dan membungkuk hormat."Tuan Romanov," ujar pria di depan, suaranya parau. "Maaf atas gangguan ini, tapi situasinya mendesak."Elena perlahan bangkit, merapikan rambutnya yang berantakan dengan jar
Ketakutan itu, ketakutan yang langka dan asing bagi Leon, menyengat. Ia tidak pernah berpikir Elena akan benar-benar meninggalkannya. Dia miliknya. Selalu begitu. Tapi Romanov… Andrian Romanov memiliki cara untuk masuk ke dalam pikiran seseorang, menawarkan hal-hal yang paling didambakan.Leon mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat dengan jari-jari yang gemetar karena amarah yang ditahan: Awasi setiap gerakannya. Jangan lengah sedikit pun.Ia menatap pintu perpustakaan itu lagi. Sebuah pertarungan telah dimulai, dan kali ini, hadiahnya adalah Elena. Dan Leon Arisano tidak pernah kalah.Di balik pintu jati yang berat itu, keheningan perpustakaan terasa seperti sebuah entitas yang hidup. Aroma kertas tua, kulit pembungkus buku, dan wangi kayu cendana yang samar menyelimuti ruangan. Elena berdiri mematung di dekat rak buku-buku hukum klasik, namun fokusnya sama sekali bukan pada judul-judul emas di hadapannya.Langkah kaki Andrian Romanov terdengar pelan, namun setiap ketukannya
Angin laut masih berdenyut di pipi Elena, namun hawa dingin yang sebenarnya berasal dari pilihan yang baru saja disodorkan Romanov. Ia berdiri di dek, menatap siluet Leon yang terpantul samar di balik kaca. Pria itu adalah jaring pengaman, sekaligus sangkar emas. Andrian, di sisinya, adalah jurang yang memanggil.“Mungkin kita harus kembali ke dalam,” suara Andrian memecah keheningan. Nadanya tenang, namun ada urgensi yang tak terucap. “Aku punya sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”Elena menoleh, matanya menelisik wajah Andrian Romanov. Tidak ada senyum licik, hanya tatapan yang begitu dalam hingga seolah melihat langsung ke jiwanya. Ia mengangguk.Mereka kembali melewati lorong yang sama, denting gelas dan tawa palsu kembali menyambut. Namun, Andrian tidak membawa Elena kembali ke aula utama. Ia memimpin ke sebuah koridor tersembunyi di buritan kapal, di mana suara musik dan keramaian meredup, digantikan oleh keheningan yang lebih pribadi. Sebuah pintu kayu gelap dengan ukiran ru
Benar saja, Elena menjalankan permintaan Leon. Malam di Laut Adriatik terasa seperti lembaran beludru hitam yang disobek perlahan oleh cahaya lampu kapal. Velikiy Nocturne meluncur anggun, terlalu mewah untuk disebut sekadar kapal pesiar. Ia lebih pantas disebut istana terapung—dingin, sunyi, dan penuh rahasia yang tidak pernah mengapung ke permukaan. Elena berdiri di depan cermin kamar suite yang disediakan khusus untuknya. Gaun hitam itu menempel di tubuhnya dengan cara yang membuatnya merasa telanjang dan bersenjata sekaligus. Punggung terbuka, belahan rendah, sederhana namun berbahaya. Leon memilihkannya tanpa banyak komentar, hanya satu kalimat singkat yang masih terngiang di kepalanya. Romanov menyukai sesuatu yang tampak rapuh, tapi jelas tahu cara melukai. Elena menghela napas pelan. Tangannya dingin. Bukan karena udara laut, melainkan karena fakta bahwa pria yang akan ia temui malam ini sudah pernah menatapnya… dan mengingatnya. Kafe kecil di Milan itu kembali muncul
"A-ku pikir kamu...."Sosok itu mendekat dan itu adalah Leon.Dengan senyum tipis dan sedikit sinis ia kemudian berkata," Mati."Elena terdiam. Apalagi kegelapan di dalam apartemen itu terasa mencekik, lebih pekat daripada malam di pinggiran Milan. Elena tidak menurunkan senjatanya. Moncong pistol itu tetap lurus mengarah ke dada Leon, tepat di mana jantung pria itu seharusnya berdetak—jika ia memang masih memiliki satu.Leon tidak bergerak. Ia berdiri dengan bahu yang lebar, mengisi ruang kosong di antara jendela dan meja kayu dengan aura dominasi yang menyesakkan. Bau asap tembakau dan aroma hutan basah yang melekat pada mantelnya perlahan menguasai penciuman Elena, memicu memori-memori traumatis sekaligus adiktif dari masa lalu."Turunkan senjatamu, Elena. Kita berdua tahu kamu tidak akan menekannya," suara Leon sedingin es yang retak."Kamu sudah mati," bisik Elena, suaranya parau. "Aku melihat gudang itu meledak. Aku mendengar tembakannya. Kamu seharusnya menjadi abu!"Leon melan
Leon tidak bergeming. Di tengah kekacauan, ia tetap berdiri tegak dengan aura predator yang tak goyah, meski darah merembes dari luka di pahanya. Ia menjatuhkan senapannya dengan dentang logam yang dingin di atas lantai beton."Kamu ingin kartunya? Ada padaku," suara Leon datar, tanpa emosi, seperti seorang algojo yang sedang membacakan vonis. "Ambil, dan biarkan dia pergi. Kamu hanya menginginkan data itu, Victor. Jangan biarkan obsesimu menghambat bisnismu."Victor tertawa terbahak-bahak, sebuah suara serak yang penuh kegilaan. "Ayah memang menginginkan datanya, Leon. Tapi Ayah jauh lebih ingin melihatmu hancur berkeping-keping. Kamu adalah kegagalan terbaik yang pernah Ayah ciptakan!"Saat Victor terdistraksi oleh euforia kemarahannya, Leon melakukan gerakan yang tidak terduga. Bukan serangan langsung, melainkan sebuah manuver taktis yang sudah ia siapkan sejak menginjakkan kaki di tempat terkutuk itu. Ia melempar sebuah granat—bukan ke arah Victor, melainkan ke arah tangki gas rak







