Compartilhar

Janji

Autor: Strawberry
last update Data de publicação: 2026-10-16 21:13:02

“Mas…!”

Pekikan Nismara memecah udara di dalam paviliun. Suara itu pelan, tapi cukup untuk menghentikan segalanya.

Satria membeku di tempat. Tangannya yang sempat menarik kain gaun Nismara berhenti di tengah gerakan.

Napasnya masih memburu dan…berat, dadanya naik-turun tak beraturan, tapi matanya melebar—seolah baru saja tersadar dari sebuah mimpi buruk yang ia ciptakan sendiri. Jari-jarinya masih mencengkeram sobekan kecil di bahu gaun itu, dan ia bisa merasakan getaran halus di ujung jarinya
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Madu Untuk Ndoro   Kalau Bukan Kamu, Aku Tidak Akan Menyentuhnya!

    “Tidak Mas! Aku tidak ingin memiliki anak darimu!” Nismara mendorong tubuh Satria dari atas tubuhnya pelan tapi sedikit bertenaga.Namun Satria tidak serta merta menurut begitu saja, ia mengunci tangan Nismara di atas kepalanya dengan posisi masih sama. Tubuh berkeringat dan lengket mereka masih saling menempel.“Nismara, kalau kamu memang percaya padaku seharusnya tidak masalah kita memiliki anak”Nismara menggeleng kuat “Tidak! Tidak Mas Satria! Tidak sampai statusku jelas!”Satria menatap lurus netra hitam Nismara yang berkilat tajam “Jadi kamu tidak percaya padaku?” tanyanya.Nismara mencoba melepaskan diri, tapi percuma. Walaupun kejantanan Satria sudah tidak setegang tadi di dalam tubuhnya tapi tangannya yang terkunci itu membuat tekanan demi tekanan yang diberikan Satria membuat tubuh Nismara bergetar, area intimnya berdenyut kembali.“Mas Satria..aku bukan tidak percaya! Tapi, apa Mas Satria nggak kasihan dengan anak kita nanti kalau keadaan kita masih seperti ini? Lihat Ndor

  • Madu Untuk Ndoro   Ingin Punya Anak Darimu

    Satria mengangkat wajah sejenak. “Bilang saja kalau mau berhenti.”Nismara menggeleng kecil, kemudian tersenyum. “Jangan berhenti.” Satu kalimat saja cukup membakar gairah yang ada di dalam diri Satria.Satria menarik turun sisa gaun Nismara dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati dari sebelumnya. Kain itu meluncur dari bahu, tersangkut sejenak di siku, lalu jatuh ke pinggang. Payudara Nismara terekspos di bawah cahaya lampu yang redup. Satria menatapnya lama, seolah menghafal, lalu menunduk.“Ah..Nismara…aku rindu…” desahnya pelan. Dada Nismara naik turun menikmati sentuhan demi sentuhan itu, lembut tapi mengirimkan ketegangan yang besar.“Mas…Pelan…” dia mengerang dengan suara tertahan.Lidahnya menyentuh pucuk yang sudah mengeras, menjilat pelan, lalu menghisap. Nismara tersentak, tangan mencengkeram rambut Satria. Satria tidak buru-buru. Ia menghabiskan waktu di sana, berganti dari satu sisi ke sisi lain, memilin dengan lidah, menggigit sangat pelan hingga Nismara mengerang ter

  • Madu Untuk Ndoro   Kamu Satu-Satunya!

    “Kamu… serius?” tanya Satria dengan suara yang bergetar.Nismara mengangguk kecil. Rambutnya yang sedikit berantakan jatuh menutupi sisi wajahnya. “Aku tidak bilang aku sudah sepenuhnya percaya. Aku juga tidak bilang semua amarahku sudah hilang. Masih ada luka dan juga banyak pertanyaan. Tapi… aku akan mencoba menunggu. Asalkan Mas tidak lagi memaksaku. Tidak lagi menarikku kasar seperti tadi. Dan tidak lagi membuatku merasa seperti aku hanya benda yang bisa diatur sesuka hati.”Satria menunduk. Keningnya menempel di lutut Nismara sejenak. Napasnya berat, hangat, dan gemetar. Ia memejamkan mata, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka.“Aku janji,” bisiknya. Suaranya hampir tenggelam di kain gaun Nismara. “Aku akan berusaha lebih baik. Aku tidak akan memaksamu lagi seperti tadi. Aku akan belajar… menjadi seseorang yang bisa kamu percaya tanpa harus takut.”Nismara mengulurkan tangan. Gerakannya ragu-ragu di awal, seolah masih menimbang. Lalu jari-jarinya menyentuh rambut

  • Madu Untuk Ndoro   Janji

    “Mas…!”Pekikan Nismara memecah udara di dalam paviliun. Suara itu pelan, tapi cukup untuk menghentikan segalanya.Satria membeku di tempat. Tangannya yang sempat menarik kain gaun Nismara berhenti di tengah gerakan. Napasnya masih memburu dan…berat, dadanya naik-turun tak beraturan, tapi matanya melebar—seolah baru saja tersadar dari sebuah mimpi buruk yang ia ciptakan sendiri. Jari-jarinya masih mencengkeram sobekan kecil di bahu gaun itu, dan ia bisa merasakan getaran halus di ujung jarinya.Keheningan yang menyusul terasa jauh lebih berat daripada amarah mana pun.Satria melepaskan cengkeramannya pelan-pelan, seolah takut kalau ia bergerak terlalu cepat, Nismara akan hancur di hadapannya. Ia mundur satu langkah, lalu dua langkah. Jarak yang ia ciptakan terasa seperti tembok. Jari-jarinya gemetar di sisi tubuhnya. Bukan karena marah yang belum selesai, melainkan karena takut. Takut pada dirinya sendiri dan juga takut pada apa yang hampir ia lakukan.“Maaf…” suaranya serak, hampir

  • Madu Untuk Ndoro   Kebenaran yang Tertunda

    Nismara mendongak, menatap lurus mata pria yang berdiri tegap di hadapannya demi menemukan sebintik kejujuran di sana. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya—senyuman yang tak lagi memuat ketakutan, melainkan sebuah penantian dingin."Mas Satria tahu kan bukti itu ada di mana?" tanyanya pelan.Satria bergeming. Hening menggantung di antara mereka beberapa saat, membiarkan deru rintik hujan di luar koridor membalas pertanyaan Nismara. Satria menatap Nismara dengan sorot mata yang tak tertebak."Aku tidak tahu," jawab Satria akhirnya, suaranya terdengar rendah dan berjarak.Nismara tak memprotes. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berbalik membelakangi Satria."Baiklah... kita istirahat," ucap Nismara halus.Tanpa menunggu balasan dari pria di belakangnya, Nismara mempercepat langkahnya. Tumit kakinya menapak tegas di atas lantai kayu koridor, bergerak menuju kamar dengan ketetapan hati.“Nismara, aku benar-benar tidak tahu!” Ucap Satria setengah berteriak tapi Nismara menulikan pendenga

  • Madu Untuk Ndoro   Hilang

    “Ndoro Ayu…sebaiknya Ndoro Ayu tenangkan diri dulu…” ucapan Nismara berhasil membuat Prameswari terkejut. Suara Nismara terdengar begitu tenang, bahkan ketika mata Prameswari membulat penuh terkejut. Nismara berdiri tegak di tempatnya tanpa sedikitpun ragu atau rasa panik, menatap Prameswari yang terlihat kacay hadapannya dengan sorot mata jernih.Bahkan, saat ini Nismara malah kasihan dengan Prameswari setelah tahu kebenarannya dari Budhe Murni."Aku yakin kamu tidak akan setenang itu setelah tahu kenyataannya, Nismara!" cibir Prameswari, bibirnya yang pucat menyunggingkan senyum sengit.Nismara tak bergeming. Ia hanya merapikan jemarinya yang saling bertaut di balik lipatan kain gaunnya. "Apa pun itu, Ndoro Ayu...Sebaiknya Ndoro Ayu istirahat dulu, Ndoro Den sudah ada di sini, ia tidak akan kemana-mana."“Kamu hanya pelayan! Kamu mengajariku?!” sungutnya dengan emosi yang menggulung.Nismara mencoba menyentuh bahu Prameswari “Ndoro Ayu…tenang ya…”Prameswari memutar tubuhnya kasar,

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status