FAZER LOGIN"Mas Satria... Ndoro Ayu pasti sekarang sedang gelisah..." ucap Nismara pelan.Satria tersenyum tipis. "Biar saja. Orang yang pikirannya hanya berisi rencana jahat pasti akan gelisah."Jadi, ini tadi Satria dan Nismara tahu kalau ada yang mengikuti sampai ke kaputren itu kenapa Satria sengaja mengucapkan kalimat tersebut.Nismara mengangguk. Ia mengulas senyum tipis sambil tangannya telaten meracik teh di dalam teko keramik China antik. Aroma daun teh hangat menguar perlahan, memenuhi udara sore di ruang tengah kaputren."Kenapa kamu terus-terusan memikirkan Prameswari? Orang yang terang-terangan memikirkanmu di sini, tidak pernahkah kamu pikirkan?"Nada suara Satria sedikit meninggi, namun Nismara tahu pria itu tidak bersungguh-sungguh marah. Tak lama kemudian, tangan besarnya sudah melingkar hangat di pinggang ramping Nismara dari belakang."Mas Satria... saya sedang meracik teh panas," Nismara mengingatkan pelan, berusaha menjaga tangannya agar tidak tumpah."Kalau begitu hati-hati
"Menangis malu? Kenapa aku harus menangis malu? Memangnya kenapa aku harus menangis malu?" sahut Prameswari, suaranya terdengar sangat sombong."Maaf Ndoro Ayu, saya juga tidak mengerti apa yang dimaksudkan Ndoro Den... Nismara itu benar-benar tidak tahu malu!" jawab Mbok Nah yang tadi diutus mencari informasi dan mengikuti Nismara serta Asih kembali ke kaputren."Ah... sudah, jangan bahas dia lagi," potong Prameswari cepat. “Aku langsung mual mendengar namanya saja” Prameswari mengomel.Padahal, sejatinya ia memang sudah merasa kalah, hanya saja ego tingginya sama sekali tidak bisa menerima kenyataan itu.Dari awal, Nismara hanyalah perempuan yang ia bawa masuk untuk dijadikan pengganti, dan seterusnya harus tetap seperti itu. Kenapa sekarang posisinya malah terbalik? Kenapa justru Nismara yang melangkah dengan kepala tegak, sementara dirinya yang terus-terusan mengelus dada memendam keprihatinan?"Mbok Nah... kamu belum ada kabar tentang keberadaan Budhe Murni?" tanya Prameswari ti
Asih menggamit lengan Nismara rapat-rapat. Jemari gadis itu gemetar, buru-buru mempercepat langkah kaki demi mengejar pergerakan Nismara yang memang lincah meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih."Nismara... tunggu dulu," bisik Asih setengah berbisik, matanya berkali-kali menoleh ke belakang, takut kalau-kalau Mbok Nah atau abdi lain membuntuti mereka dari taman samping. "Memangnya apa maksudmu tadi? Apa... apa Ndoro Ayu bukan darah biru asli?"Nismara menghentikan langkahnya sejenak sebelum menutupi ambang pintu lorong kaputren. Ia melirik Asih dengan raut tenang yang sulit dibaca."Kamu sangat pintar menebak, Asih," sahut Nismara pelan, menyunggingkan senyum tipis. "Tapi lebih baik kita tidak usah membahasnya lagi. Aku hanya menggertaknya."Asih menarik napas panjang, mengelus dadanya yang berdebar kencang. Ia ingin bertanya lebih lanjut, namun tatapan mata Nismara yang dingin menyiratkan batas yang tak boleh dilangkahi.Begitu mereka menginjakkan kaki di pelataran depan kaputren, la
Mau lari ke mana lagi kamu, Nismara?"Suara dingin Prameswari mendadak memotong sunyinya lorong samping kediaman utama.Nismara menghentikan langkahnya seketika. Padahal, ia sengaja mengambil jalur lingkar yang sepi, meniti pelataran batu berlumut dengan bantuan Asih yang memegangi siku lengannya. Tubuhnya masih amat pegal dan lemas usai menghadap Pangarsa Sesepuh di Sasana Agung. Namun, menghindar dari keretakan rumah ini rupanya tidak semudah memutar arah langkah.Di bawah naungan pohon kamboja tua yang membatasi taman dengan paviliun utama, Prameswari berdiri mencegat jalan. Lengannya bersilang di dada, terbalut kebaya sutra pudar yang menyembunyikan kerapuhan fisiknya usai kejadian semalam. Di belakangnya, Mbok Nah berdiri bagai bayangan kelam yang siap menjalankan perintah.“Ada apa lagi mereka menghadang kita,” dumal Nismara merasa kesal. Dia sudah capek terus-terusan berseteru dan beradu argumen dengan Prameswari, namun tampaknya Prameswari memang sangat bersemangat mengajak
Satria terpaksa meninggalkan paviliun pagi itu.Ada urusan di perkebunan yang sangat mendesak. Ia menerima laporan ada kerusakan saluran air dan sengketa batas tanah yang tidak bisa ditunda lagi. Sebelum pergi, dia sempat berlutut di sisi dipan, menggenggam tangan Nismara cukup lama.“Jangan kemana-mana, hm?,” katanya pelan tapi tegas. “Tunggu sampai aku pulang.”Nismara hanya mengangguk.Namun belum genap satu jam setelah Satria pergi, Asih masuk dengan wajah tegang.“Nismara… Pangarsa Sesepuh memanggilmu ke Sasana Agung. Sekarang.”Nismara terdiam sejenak. Berbagai pertanyaan mendadak berputar di kepalanya. Untuk apa para tetua memanggilnya?Meski bingung dan tubuhnya masih amat lemah, Nismara tahu ia tidak punya pilihan selain datang. Menolak hanya akan membuat mereka curiga seolah ia memiliki kesalahan, padahal ia tidak merasa melakukan kejahatan apa pun. Lagipula, ia tidak takut pada apa pun.Dengan bantuan Asih, Nismara berganti kebaya yang rapi dan merapikan gelung rambutnya. S
Nismara terbangun karena rasa hangat di punggung tangannya.Satria masih di situ. Kepalanya tertunduk dengan dahi menempel di tepi dipan, jari-jari panjangnya menggenggam tangan Nismara seolah takut melepaskannya. Napasnya teratur, tapi jelas dia tidak benar-benar tidur.Nismara menggerakkan jari.Satria langsung mengangkat wajah. Matanya merah, sedikit bengkak, tapi saat bertemu pandang dengan Nismara, ada kelegaan yang begitu kentara.“Sudah bangun?” suaranya parau.Nismara mengangguk pelan.Satria bangkit, menuangkan air hangat, lalu menolong Nismara duduk dengan gerakan yang sangat hati-hati. Satu lengan menopang punggungnya, yang lain memegang cangkir.“Minumlah,” katanya. “Bagaimana keadaanmu? Apa kamu merasa jauh lebih baik?”Nismara menyesap air itu, ada rasa hangat merayap perlahan. Sebelum akhirnay dia mengangguk pelan.“Mas Satria, kamu nggak tidur sama sekali, ya?”Satria tidak menjawab langsung. Dia hanya menarik kursi lebih dekat dan duduk lagi, masih memegang tangan Nis







