Compartir

Tidak Bisa Bersatu

Autor: Strawberry
last update Fecha de publicación: 2026-10-11 21:25:23

"Bibi Kirana... kenapa kami tidak dapat bersatu?"

Langkah Nismara terhenti. Ia melepaskan genggaman tangan Satria, lalu berbalik mendekati Kirana.

Dua tangannya terulur meraih jemari dingin bibinya yang terkepal kaku. Nismara tidak ingin kembali ke Tirtawening membawa rasa penasaran yang memenuhi rongga dadanya—terutama melihat sikap buruk Kirana yang terus memusuhi mendiang ibunya, Kejora.

Kirana menarik tangannya kasar dari genggaman Nismara. Sebuah dengusan napas disertai tatapan sinis meng
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Berhenti Mengancamku!

    “Nismara…apapun yang terjadi di dalam nanti, perasaanku, janjiku padamu tidak akan berubah! Kamu mengerti?” tegas Satria sebelum mesin mobil benar-benar mati.Nismara tersenyum, kemudian mengangguk “Mengerti.”Hujan yang mengguyur Tirtawening belum sepenuhnya reda saat mobil hitam milik Satria akhirnya berhenti presisi di depan halaman kediaman utama Sasmita. Lampu gantung teras membiaskan pendar kekuningan yang temaram, memperlihatkan beberapa abdi dalem yang berdiri cemas dengan wajah pucat di dekat anak tangga.Satria melangkah turun lebih dulu tanpa mematikan mesin, memutari kap mobil lalu membukakan pintu untuk Nismara. Tanpa mengucap sepatah kata pun, jemari tegapnya menggenggam erat tangan Nismara—sebuah gestur diam yang menegaskan bahwa wanita itu tak akan melangkah sendirian di dalam rumah ini.Sastro yang sudah tiba lebih awal bergegas menyambut mereka di ambang pintu utama."Bagaimana di atas?" tanya Satria singkat, nadanya datar tanpa ada riak kepanikan."Ndoro Ayu mengun

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Pengganti Ranjang

    "Kirana... Kirana..."Napas Budhe Murni terdengar tersendat saat melafalkan nama itu. Pandangannya bergeser ragu, menatap wajah kaku Satria."Kirana pernah menjadi perempuan pengganti di ranjang Ayah Ndoro Den Satria... saat Ibunda Ndoro Den sedang mengandung Ndoro Den."Satria tak memudar ekspresinya, seolah informasi itu sudah lama singgah di kepalanya. Berbeda dengan Nismara—dada gadis itu seketika bergemuruh pelan. Nismara memilih merapatkan bibir, kini mengerti alasan Kirana menyindir bahwa dirinya sudah ada di sekitar orang tuanya jauh sebelum Nismara lahir ke dunia."Bibi tahu apa saja yang ia lakukan selama satu tahun itu?" tanya Satria singkat, bernada datar tanpa intonasi tinggi."Selama satu tahun itu, dia selalu pergi bersama Ayah Ndoro Den," cerita Budhe Murni, suaranya pelan dan bergetar. "Lebih banyak ikut ke tempat kerja ketimbang diam di rumah. Karena Kirana cerdas, dia juga membantu mengurus pekerjaan Ndoro Besar.""Apa dia pernah bertemu dengan Harya Kalingga?" poto

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Anak Rahasia

    "Budhe... Bibi Kirana cerita banyak hal. Kenapa Budhe malah panik? Budhe pasti kenal Bibiku, kan?" tanya Nismara polos, menatap wanita tua itu dengan nada suara yang tenang.Budhe Murni menggeleng kuat-kuat."Aneh... Harusnya kenal sih. Kata Bibi, dia sudah ada di dekat Ibu dan Ayah jauh sebelum aku lahir," gumam Nismara pelan, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri."Nismara... Kamu dan Ndoro Den sudah tahu semuanya?" tanya Budhe Murni, nadanya kian panik.Nismara mengangguk pelan. Sebuah anggukan polos, sebab ia sendiri sebenarnya tidak benar-benar paham arti kata 'semuanya' yang dimaksud oleh Budhe Murni.Reaksi itu membuat Budhe Murni seketika bergeser turun dari tepi dipan. Wanita tua itu duduk bersimpuh di atas tanah dingin, tepat di kaki Nismara. Dari sudut ruangan, Satria mengawasi gestur itu dengan mata dingin. Ia memberi isyarat gelengan kepala saat Nismara hendak bergerak membantunya berdiri."Ampuni Budhemu ini, Nismara... Budhe tidak pernah bermaksud jahat. Kebaikan da

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Kebaikan Yang Tersisa

    "Budhe... dari dulu aku selalu menganggap Budhe seperti orangtuaku sendiri. Budhe selalu ada di sampingku... Jadi ternyata, semua itu cuma pura-pura?"Budhe Murni tidak menjawab. Wajah tuanya tetap menunduk dalam.Nismara tersenyum tipis—sebuah senyuman getir yang menyembunyikan rasa kecewanya. "Aku nggak marah kok sama Budhe. Aku masih ingat semua kebaikan Budhe padaku selama ini... Aku cuma butuh alasan Budhe."Lagi-lagi, tak ada suara yang keluar dari bibir keriput wanita itu.Nismara berlutut pelan di hadapan kursi kayu tersebut. Tangannya terulur meraih pipi Budhe Murni, lalu mengusap air mata yang menetes di sana dengan ibu jarinya."Budhe... Boleh katakan padaku kenapa?" bujuk Nismara lembut.Tetap hening. Budhe Murni mengatupkan bibirnya rapat-rapat, enggan membalas tatapan Nismara.Nismara menarik napas panjang, lalu berdiri dan berbalik menatap Satria yang sejak tadi mengawasi dari sudut ruangan."Mas Satria, boleh nggak aku lepas ikatannya? Tangan Budhe pasti sakit..." pint

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Kebenaran

    "M-Mas... Nd-Ndoro Den... kenapa kita ke sini? Jangan kurung saya lagi..." suara Nismara gemetar, jelas sekali kalau dia ketakutan. Trauma masa lalu di gubuk kayu itu mendadak bangkit, memutarkan kembali memori kelam saat Satria menahannya secara paksa di tempat yang sama. Jemari Nismara cemas meremas sabuk pengaman, matanya bergerak liar menatap pepohonan rindang yang kini dibasahi rintik hujan.Satria bergeser mendekat. Tangannya terulur menyentuh lembut siku Nismara, ingin meyakinkan kalau dia akan baik-baik saja."Nismara, tenang..." bisik Satria lembut, suaranya sarat akan rasa bersalah saat melihat kilat ketakutan di mata gadis itu.Nismara menggeleng cepat, ia masih menatap Satria dengan tatapan curiga."Aku tidak akan mengurungmu lagi," lanjut Satria mantap, menatap lurus manik mata Nismara yang bergetar. "Kita ke sini untuk bertemu dengan seseorang yang ada di dalam."Nismara menghembuskan napas panjang, gumpalan sesak di dadanya perlahan melonggar. "Si-siapa?""Nanti kamu j

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Rahasia Apa?

    Suasana yang tadinya tegang dan penuh perdebatan langsung berubah hening.Pengakuan Kirana yang menggantung di udara menahan langkah Satria dan Nismara. Niat mereka untuk segera memasuki mobil dan melintasi jalanan desa sirnah seketika. Satria memutar langkah, berbalik menatap Kirana yang masih berdiri tegak di ambang pintu dengan keangkuhan yang sebenarnya malah menunjukkan betapa rapuhnya dia."Bibi... sepertinya Bibi berutang penjelasan kepada kami," tagih Satria dingin, suaranya tenang namun penuh dengan tekanan sebagai pria yang kini merasa bertanggung jawab melindungi Nismara.Kirana masih bersikap tak acuh. Senyum sinis terpatri di bibir merahnya seraya menyilangkan kedua tangan di dada. "Siapa kamu sampai merasa berhak memerintahku?" Satria hendak melangkah maju, namun jemari lembut Nismara menyentuh lengannya, menahannya secara halus. Nismara maju satu langkah, menatap lurus mata bibinya tanpa rasa takut."Bibi benar, Mas Satria atau aku tidak punya hak untuk memaksa Bibi m

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status