LOGIN
"Mana uang sewanya?! Kamu pikir ini panti sosial, hah?!"
Devan baru saja mematikan mesin motornya ketika teriakan itu menyambar dari arah teras. Ibu Elis sudah berdiri di sana dengan tangan berkacak pinggang dan wajah merah padam. "Bu, saya—" "Dua bulan, Devan! Dua bulan kamu menunggak!" Telunjuk wanita paruh baya itu menuding tepat ke wajahnya. "Pokoknya, malam ini juga kamu angkat kaki dari sini. Saya sudah muak!" Devan hanya bisa menunduk. Rahangnya mengeras, tapi memang tidak ada bantahan yang bisa ia keluarkan karena semua itu benar. Uang sewa dua bulan itu sudah habis dikirim ke rekening ayahnya tiga hari lalu. Pukul dua dini hari ponselnya bergetar, dan suara ayahnya di seberang sana terdengar seperti orang yang sedang dicekik. "Mereka bilang mau bunuh Bapak, Van. Tolong. Janji, kali ini yang terakhir." Terakhir. Kata yang sudah ia dengar belasan kali dari mulut yang sama. Tapi tetap saja Devan mentransfer seluruh isi tabungannya pagi itu. "Kenapa malah bengong? Mau saya panggil warga?!" "Jangan, Bu. Saya kemasi barang saya sekarang." Devan mengangkat kedua tangannya sambil mundur selangkah. Tidak butuh waktu lama. Semua pakaian dan barang-barangnya muat dalam satu tas gunung dan satu kardus kecil. Devan memanggul keduanya, melirik kamar yang ia tinggali selama setahun untuk terakhir kalinya, lalu melangkah keluar tanpa menoleh. Motor tuanya batuk-batuk begitu distarter. Devan mengegas dua kali sebelum mesin itu akhirnya hidup dengan erangan lemah. Ia melaju tanpa tujuan. Setelah tiga kilometer, mesin motornya tiba-tiba mati. Ia memutar kunci beberapa kali, tapi mesin tetap tidak mau hidup karena bensinnya sudah habis. Angin malam menerpa tengkuknya yang basah oleh keringat, dingin dan menusuk. Devan menoleh refleks ke belakang tapi tidak ada siapa-siapa di sepanjang jalan yang gelap dan sepi itu. Ia menghela napas, lalu mulai mendorong. Suara sepatunya yang menyeret aspal dan bunyi jangkrik menjadi satu-satunya yang menemani perjalanannya malam itu. Beruntung, warung bensin eceran di tikungan jalan masih menyalakan lampu remangnya. Devan menyandarkan motor, merogoh sisa uang receh dari saku celana, dan membeli satu botol bensin. Sambil menuang bensin ke tangki, ia melihat selembar kertas lusuh yang menempel di tiang listrik tepat di samping warung. Tulisannya dicetak tebal dengan tinta hitam yang sedikit luntur. "Rumah Kos Asri Riyadi: Terima Kos Pria/Wanita, Fasilitas Mewah Harga Subsidi." Devan membaca angka harganya dua kali. Harga itu bahkan tidak sampai sepertiga kosan Ibu Elis. Ia tidak punya banyak pilihan. Devan merobek bagian bawah selebaran yang mencantumkan alamat, lalu menyalakan mesin motornya. Jalan menuju alamat itu semakin menyempit dengan pepohonan rimbun di kedua sisi yang daunnya nyaris membentuk kanopi menutup langit. Dan kemudian, ia melihatnya. Di balik gerbang besi yang terbuka lebar, berdiri sebuah bangunan dua lantai bercat putih. Lampu taman, lampu teras, lampu di setiap jendela, semuanya menyala terang. Lebih mirip vila pribadi ketimbang rumah kos di pinggiran kota. Devan mematikan mesin dan turun dari motor, melangkah masuk ke halaman. Udara tiba-tiba berubah sejuk — aneh untuk musim kemarau. Dan ada bau samar yang menusuk hidungnya, bau tanah basah yang mengingatkannya pada pemakaman setelah hujan. "Selamat malam!" Devan terlonjak. Sepasang suami istri sudah berdiri di ambang pintu utama. Pria berkumis tipis dengan kemeja batik dan wanita bertubuh subur dengan senyum keibuan. Keduanya tersenyum lebar, seolah sudah menunggu kedatangannya sejak tadi. "Cari kos, ya, Mas?" Pria itu mengulurkan tangan. "Saya Pak Riyadi. Ini istri saya, Bu Nunik." "Devan." Ia menjabat tangan dingin itu. “Maaf, Pak. Apa masih ada kamar yang kosong?” "Wah, pas sekali! Kebetulan ada satu kamar yang kosong." Pak Riyadi menepuk bahu Devan seolah mereka sudah saling kenal bertahun-tahun. "Kamar Nomor 3 di lantai satu. Langsung bisa ditempati malam ini juga." "T-tapi … maaf, Pak. Saat ini saya belum ada uang untuk —" "Tidak perlu, tidak perlu." Bu Nunik mengibaskan tangannya. Senyumnya tidak bergeser satu milimeter pun. "Kamu kan pasti capek. Istirahat saja dulu. Masalah pembayaran, itu gampang." Tanpa dimintai KTP, tanpa deposit, dan tanpa pertanyaan apa pun, Pak Riyadi langsung menyerahkan kunci dengan gantungan plastik bertuliskan angka 3. Devan menerimanya dengan perasaan ganjil yang mengganjal, tapi ia sudah kehabisan tenaga untuk mempertanyakan apa pun. Lorong lantai satu terang benderang oleh lampu neon putih. Langkah Devan bergema pelan di lantai keramik bersih sambil memanggul tas gunung dan menenteng kardus. Ia melewati Kamar 1 dan Kamar 2 yang pintunya tertutup rapat. Lalu tepat sebelum ia sampai di Kamar 3, langkahnya terhenti. Seorang gadis berambut panjang sedang mengepel lantai di ujung lorong dengan gerakan lambat. Wajahnya manis, tapi pucat seperti orang yang sudah lama tidak terkena matahari. Gadis itu menghentikan gerakan pelnya dan mendongak. Sorot matanya yang tajam langsung mengunci pandangan Devan. "Pergi." Devan mengerjap. "Apa?" Gadis itu melangkah satu langkah lebih dekat, suaranya turun menjadi bisikan. "Pergi dari sini. Sebelum kamu menyesal."Eva berjalan berjingkat tanpa suara, membawa semangkuk lodeh yang ditutup serbet. Ia berhenti di depan Kamar Nomor 6 dan menoleh ke kanan dan kiri. Setelah yakin lorong kosong, ia meletakkan mangkuk di tangannya ke atas meja dan mengambil mangkuk yang ditinggalkan Bu Nunik.Mangkuknya sama persis tapi isinya tidak.Setelah menukarkan mangkuk. Gadis itu berbalik dan melangkah kembali menuju dapur sambil mendekap mangkuk beracun di dadanya. Jalur itu melewati jendela kamar Devan.Langkah Eva berhenti.Matanya melebar saat menyadari jendela kamar Devan terbuka sedikit dan ada seseorang yang memperhatikannya dari baliknya. Wajahnya menegang, jari-jarinya mencengkeram tepi mangkuk.Devan tersenyum hangat dan mengacungkan ibu jarinya.Ketegangan di wajah Eva mengendur perlahan. Alisnya terangkat bingung, seolah tidak percaya ia tidak sedang dimarahi.Devan mengulurkan tangan ke luar jendela dengan telapak terbuka, lalu menggerakkan bibirnya tanpa suara. “Sini.”Eva menoleh ke arah dapur, l
Senin pagi, Devan berangkat ke pabrik. Sepanjang jalan, pikirannya berputar pada ancaman Pak Riyadi semalam. Kalau Eva bicara, makhluk di ruang belakang akan membunuh orang tuanya di depan mata gadis itu. Kalau Devan diam, Agung dan Tiwi bisa jadi korban berikutnya.Ia harus menemukan cara melindungi mereka semua tanpa membuat orang tua Eva mati seketika. Dan sampai sekarang, ia belum tahu caranya.Menjelang siang, mesin cetak spanduk berhenti mendadak di tengah deru ruang produksi. Bimo dan dua operator lain mengerumuni mesin itu sambil saling menyalahkan, sementara mandor berdiri di belakang mereka dengan wajah menegang.Devan menyelinap di antara kerumunan, membuka penutup rol, dan menemukan selembar vinil yang tersangkut di sela rol penarik. Ia menariknya pelan-pelan agar tidak robek, lalu menutup kembali penutupnya dan menekan tombol hidup.Gerrr ... Tak-tak-tak!Mesin itu menyala lagi. Bimo bersiul panjang dan menepuk punggungnya keras-keras."Kerja bagus, Van." Mandor menyelipk
Minggu malam sekitar pukul sembilan, hujan rintik-rintik mulai turun dan menimpa atap kosan. Devan mengambil sebungkus mi instan dari lemari, memasukkan ke saku jaketnya, lalu membuka pintu kamar.Oyen sudah mengekor sampai ke ambang pintu, ekor bengkoknya menyapu betis Devan."Di dalam saja, Meng. Jangan keluar." Devan menunjuk ke arah kasur. Oyen mengeong pendek, tapi akhirnya duduk di tempat dan menatapnya dengan mata bulat selama Devan menutup pintu dan menguncinya dari luar.Lorong lantai satu lebih sepi dari biasanya. Lampu neon berdengung pelan, dan bau tanah basah dari luar merembes masuk lewat celah ventilasi. Devan sengaja melewati lorong sempit di samping dapur agar tidak perlu mendekati halaman belakang.Langkahnya terhenti di dekat pintu kayu yang menghubungkan kosan dengan rumah induk pemilik kos.Dari balik pintu itu terdengar suara perempuan yang membentak dengan nada tertahan, disusul isak tangis yang sangat Devan kenal. Pintunya tidak tertutup rapat. Ada celah sempit
Minggu pagi, Devan terbangun tanpa alarm. Hari ini ia libur, dan untuk pertama kalinya sejak pindah ke kosan ini tubuhnya tidak diburu apa pun.Tumpukan pakaian kotor di sudut kamar sudah menggunung. Ia memasukkan semuanya ke ember di kamar mandi, menaburkan sisa deterjen sachet, lalu mengucek satu per satu sampai telapak tangannya memerah.Oyen duduk di ambang pintu kamar mandi sambil menjilati kaki depannya. Kucing itu tampak jauh lebih tenang daripada semalam.Devan memeras kemeja terakhir dan membawa ember ke lorong. Kantong sampah semalam masih tergeletak di sudut kamar, jadi ia menjinjingnya sekalian dengan tangan yang lain.Tali jemuran di lantai dua sudah penuh oleh seprai Tiwi dan Meli. Devan mendecak pelan, lalu berbelok ke lorong samping menuju halaman belakang yang jarang dilewati penghuni.Siang hari ternyata tidak seseram malam. Sampah ia buang ke tong di samping dapur, lalu ia melangkah ke tali jemuran di bawah pohon beringin.Tapi suasana di sana tetap terasa aneh. Dau
Malam itu sekitar pukul sembilan, Devan baru saja memarkir motornya di pekarangan setelah menyelesaikan sif siang di percetakan. Tubuhnya pegal, tapi setidaknya hari ini tidak ada lembur. Begitu masuk ke Kamar Nomor 3, Oyen langsung melompat turun dari kasur dan menggesekkan tubuh gempalnya ke pergelangan kaki Devan sambil mengeong. "Iya, iya. Lapar, ya?" Devan menuangkan biskuit kucing ke mangkuk plastik di sudut lemari. Oyen langsung menundukkan kepala dan makan dengan lahap, ekor bengkoknya bergoyang pelan. Sambil menunggu Oyen selesai makan, Devan mengumpulkan bungkus-bungkus bekas dan sisa kemasan biskuit ke dalam kantong plastik. Sudah menumpuk sejak kemarin dan mulai berbau. Ia membuka pintu kamar, dan melangkah ke lorong dengan kantong sampah di tangan. Tong sampah ada di samping dapur belakang, tinggal lurus melewati beberapa kamar. Tepat saat ia melewati Kamar Nomor 4 di seb
Keesokan paginya hari Sabtu, Devan terbangun lebih pagi dari biasanya. Sif kerjanya baru mulai siang nanti, jadi ia punya waktu luang.Setelah memberi Oyen biskuit khusus kucing yang dibelinya kemarin dan air minum, ia berjalan kaki keluar kamar, mengenakan kaos oblong dan sandal jepit. Perutnya butuh nasi uduk dan stok sabun mandinya sudah habis sejak kemarin. Di depan gerbang kosan, langkahnya melambat.Eva sedang menyapu daun-daun kering yang berserakan di pelataran depan. Gerakan sapunya lambat, nyaris malas-malasan, karena matanya tidak tertuju pada daun di bawah kakinya. Gadis itu menatap ke arah jalan raya di luar pagar dengan sorot yang Devan kenali seperti sorot orang yang sudah lama tidak pergi ke mana-mana."Pagi, Mbak Eva," sapa Devan.Eva menoleh, agak terkejut. "Pagi, Mas.""Saya mau ke warung ujung gang. Mbak mau titip sesuatu?" Devan berhenti di samping gerbang. "Atau sekalian mau ikut jalan? Saya mau beliin Mbak jajanan pasar buat ucapan terima kasih kemarin karena







