Share

Bab 2

Author: Merisa storia
last update publish date: 2026-10-03 07:20:07

Keesokan paginya, Devan terbangun dengan tubuh yang masih berat akibat kelelahan pindahan semalam. Cahaya matahari pagi menembus tipis dari sela gorden kamarnya.

Ia bangkit dan mulai membongkar kardus. Satu per satu pakaian kerjanya dilipat rapi, lalu ditata ke dalam lemari kayu di sudut kamar.

Merasa udara kamar agak pengap, ia mendekati jendela yang menghadap ke lorong samping dan membukanya lebar-lebar.

Bau amis yang pekat seperti lumpur rawa bercampur darah langsung menyergap hidungnya. Devan mengernyit dan mencondongkan kepala keluar, tapi bau itu sudah keburu hilang terbawa angin pagi sebelum ia sempat mencari sumbernya.

"Pagi, Mas! Penghuni baru yang masuk semalam, ya?"

Suara ramah itu membuyarkan lamunannya. Dari arah Kamar Nomor 2, seorang pemuda berseragam kurir ekspedisi tersenyum lebar sambil melangkah mendekat.

"Pagi, Mas. Saya Devan, baru masuk tadi malam."

"Kenalkan, saya Agung." Pemuda itu mengulurkan tangan. 

 Agung bercerita bahwa kosan ini memang surga bagi perantau bergaji pas-pasan.

"Bukan cuma murah, Mas Devan," bisik Agung sambil bersandar di kusen pintu. "Pak Riyadi sama Bu Nunik itu sangat dermawan. Mereka suka bagi-bagi makanan enak gratis, tiap minggu pasti ada."

"Masa gratis? Tidak ada syaratnya?"

"Nah, itu dia enaknya tinggal di sini." Agung menepuk bahu Devan. "Kamu beruntung bisa dapat kamar kosong. Orang-orang di luar sana rebutan mau masuk."

Ceklek.

Obrolan mereka terhenti saat pintu Kamar Nomor 4 di seberang lorong terbuka perlahan. Seorang gadis cantik dengan riasan tipis melangkah keluar sambil menguap, mengenakan daster satin selutut yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas.

Begitu melihat Devan berdiri di depan Kamar Nomor 3, mata gadis itu langsung berbinar. Ia menyibakkan rambut panjangnya ke belakang, berjalan mendekat sambil menatap postur Devan dari atas ke bawah.

"Wah, ada tetangga baru rupanya," sapa gadis itu dengan manja dan senyum menggoda. "Pantas semalam aku dengar suara motor masuk. Kenalkan, Mas, aku Meli."

"Saya ... Devan, Mbak." Devan menjawab agak gugup sambil mengalihkan pandangan.

"Kalau butuh apa-apa atau kesepian malam-malam, ketuk saja pintu kamarku, ya, Mas Devan." Meli mengedipkan sebelah matanya.

Agung yang berdiri di sebelahnya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum maklum.

Belum sempat Devan menanggapi godaan Meli, aroma rempah dan santan yang harum menguar dari arah dapur. Ketiga penghuni kos itu menoleh bersamaan.

Bu Nunik muncul dengan wajah berseri-seri, di tangannya tergantung rantang susun yang mengepulkan uap hangat. Ia berjalan menghampiri Devan dan menyodorkan rantang tersebut.

"Pagi semuanya! Wah, sudah pada kenalan sama Nak Devan, ya?" sapanya lembut. "Ini, Ibu bawakan opor ayam kuah kental buat sarapan Nak Devan. Hitung-hitung sedekah buat menyambut penghuni baru."

Bu Nunik membuka sedikit tutup rantang paling atas, memperlihatkan potongan paha ayam besar berkuah kuning yang menggugah selera.

Kruuuk.

Perut Devan yang belum diisi apa pun demi menghemat uang langsung berbunyi. Agung dan Meli ikut menelan ludah mencium wangi opor itu.

"Aduh, Bu, terima kasih banyak. Saya jadi tidak enak, sudah diberi keringanan sewa, sekarang malah diberi makanan juga."

"Ah, tidak usah sungkan. Makan yang banyak, ya, biar tetap kuat kerja," sahut Bu Nunik sambil menatap lekat ke arah rantang di tangan Devan.

Baru saja tangannya hendak menyendok kuah opor, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari lorong belakang.

Eva muncul menenteng ember plastik berisi air dan sebatang gagang sapu. Gadis itu berjalan lurus melewati Kamar Nomor 3 tanpa melirik kanan-kiri. Tepat di samping Devan, dengan gerakan bahu dan ayunan sapu yang tampak disengaja, Eva menyenggol keras siku Devan.

Prang!

Rantang susun terlepas dari genggaman Devan dan jatuh menghantam lantai. Tutup kalengnya terpental, membuat seluruh potongan ayam dan kuah opor tumpah berserakan.

Suasana lorong seketika hening.

"Eva!"

Bu Nunik menjerit marah dengan wajah merah padam. Tanpa memedulikan keberadaan Devan, Agung, dan Meli, ia melangkah maju dan mencubit lengan kurus Eva dengan kasar.

"Kamu punya mata tidak, hah?!" maki Bu Nunik sambil memelintir kulit lengan putrinya hingga Eva meringis menahan perih. "Dasar anak ceroboh! Tidak tahu sopan santun sama penghuni baru! Cepat minta maaf!"

Devan menghela napas kasar, menatap sarapan gratisnya yang kini bercampur debu lantai. Rezeki makan gratis di depan matanya lenyap begitu saja, dan ia semakin yakin bahwa gadis pucat itu memang membencinya sejak semalam.

"Maaf ...," ucap Eva lirih sambil menunduk.

Namun, saat Eva mengangkat sedikit wajahnya dan tatapan mereka bertemu, kening Devan berkerut. Di balik sorot mata Eva yang basah menahan sakit, ia justru menangkap kilatan rasa lega yang aneh saat melihat opor ayam itu tumpah di lantai.

"Sudah, Bu, tidak apa-apa," ucap Devan akhirnya untuk menghentikan kemarahan Bu Nunik.

Dengan napas memburu, Bu Nunik meminta maaf berkali-kali pada Devan, lalu mencengkeram pergelangan tangan Eva dan menyeretnya menuju ruang belakang. 

Agung dan Meli yang merasa suasana berubah canggung memilih pamit kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap berangkat kerja.

Tinggallah Devan sendirian di teras Kamar Nomor 3.

Sambil menggerutu pelan, ia mengambil kain lap dari kamar mandi dan berjongkok membersihkan tumpahan kuah opor.

Saat tangannya hendak mengelap suwiran daging ayam yang terselip di celah nat keramik, gerakannya terhenti. Seekor kecoa besar keluar dari celah pipa saluran air dan menghampiri suwiran ayam tersebut.

Baru saja serangga itu menggigit sedikit, tubuhnya bergetar hebat.

Krek.

Dalam hitungan detik, kecoa itu kejang dengan kaki terbalik, lalu mati mengering kehitaman seolah seluruh cairan di tubuhnya tersedot habis.

 “Kok bisa langsung mati? Apa karena lantainya di pel cairan desinfektan?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penghuni Kos Terakhir    Bab 12

    Eva berjalan berjingkat tanpa suara, membawa semangkuk lodeh yang ditutup serbet. Ia berhenti di depan Kamar Nomor 6 dan menoleh ke kanan dan kiri. Setelah yakin lorong kosong, ia meletakkan mangkuk di tangannya ke atas meja dan mengambil mangkuk yang ditinggalkan Bu Nunik.Mangkuknya sama persis tapi isinya tidak.Setelah menukarkan mangkuk. Gadis itu berbalik dan melangkah kembali menuju dapur sambil mendekap mangkuk beracun di dadanya. Jalur itu melewati jendela kamar Devan.Langkah Eva berhenti.Matanya melebar saat menyadari jendela kamar Devan terbuka sedikit dan ada seseorang yang memperhatikannya dari baliknya. Wajahnya menegang, jari-jarinya mencengkeram tepi mangkuk.Devan tersenyum hangat dan mengacungkan ibu jarinya.Ketegangan di wajah Eva mengendur perlahan. Alisnya terangkat bingung, seolah tidak percaya ia tidak sedang dimarahi.Devan mengulurkan tangan ke luar jendela dengan telapak terbuka, lalu menggerakkan bibirnya tanpa suara. “Sini.”Eva menoleh ke arah dapur, l

  • Penghuni Kos Terakhir    Bab 11

    Senin pagi, Devan berangkat ke pabrik. Sepanjang jalan, pikirannya berputar pada ancaman Pak Riyadi semalam. Kalau Eva bicara, makhluk di ruang belakang akan membunuh orang tuanya di depan mata gadis itu. Kalau Devan diam, Agung dan Tiwi bisa jadi korban berikutnya.Ia harus menemukan cara melindungi mereka semua tanpa membuat orang tua Eva mati seketika. Dan sampai sekarang, ia belum tahu caranya.Menjelang siang, mesin cetak spanduk berhenti mendadak di tengah deru ruang produksi. Bimo dan dua operator lain mengerumuni mesin itu sambil saling menyalahkan, sementara mandor berdiri di belakang mereka dengan wajah menegang.Devan menyelinap di antara kerumunan, membuka penutup rol, dan menemukan selembar vinil yang tersangkut di sela rol penarik. Ia menariknya pelan-pelan agar tidak robek, lalu menutup kembali penutupnya dan menekan tombol hidup.Gerrr ... Tak-tak-tak!Mesin itu menyala lagi. Bimo bersiul panjang dan menepuk punggungnya keras-keras."Kerja bagus, Van." Mandor menyelipk

  • Penghuni Kos Terakhir    Bab 10

    Minggu malam sekitar pukul sembilan, hujan rintik-rintik mulai turun dan menimpa atap kosan. Devan mengambil sebungkus mi instan dari lemari, memasukkan ke saku jaketnya, lalu membuka pintu kamar.Oyen sudah mengekor sampai ke ambang pintu, ekor bengkoknya menyapu betis Devan."Di dalam saja, Meng. Jangan keluar." Devan menunjuk ke arah kasur. Oyen mengeong pendek, tapi akhirnya duduk di tempat dan menatapnya dengan mata bulat selama Devan menutup pintu dan menguncinya dari luar.Lorong lantai satu lebih sepi dari biasanya. Lampu neon berdengung pelan, dan bau tanah basah dari luar merembes masuk lewat celah ventilasi. Devan sengaja melewati lorong sempit di samping dapur agar tidak perlu mendekati halaman belakang.Langkahnya terhenti di dekat pintu kayu yang menghubungkan kosan dengan rumah induk pemilik kos.Dari balik pintu itu terdengar suara perempuan yang membentak dengan nada tertahan, disusul isak tangis yang sangat Devan kenal. Pintunya tidak tertutup rapat. Ada celah sempit

  • Penghuni Kos Terakhir    Bab 9

    Minggu pagi, Devan terbangun tanpa alarm. Hari ini ia libur, dan untuk pertama kalinya sejak pindah ke kosan ini tubuhnya tidak diburu apa pun.Tumpukan pakaian kotor di sudut kamar sudah menggunung. Ia memasukkan semuanya ke ember di kamar mandi, menaburkan sisa deterjen sachet, lalu mengucek satu per satu sampai telapak tangannya memerah.Oyen duduk di ambang pintu kamar mandi sambil menjilati kaki depannya. Kucing itu tampak jauh lebih tenang daripada semalam.Devan memeras kemeja terakhir dan membawa ember ke lorong. Kantong sampah semalam masih tergeletak di sudut kamar, jadi ia menjinjingnya sekalian dengan tangan yang lain.Tali jemuran di lantai dua sudah penuh oleh seprai Tiwi dan Meli. Devan mendecak pelan, lalu berbelok ke lorong samping menuju halaman belakang yang jarang dilewati penghuni.Siang hari ternyata tidak seseram malam. Sampah ia buang ke tong di samping dapur, lalu ia melangkah ke tali jemuran di bawah pohon beringin.Tapi suasana di sana tetap terasa aneh. Dau

  • Penghuni Kos Terakhir    Bab 8

    Malam itu sekitar pukul sembilan, Devan baru saja memarkir motornya di pekarangan setelah menyelesaikan sif siang di percetakan. Tubuhnya pegal, tapi setidaknya hari ini tidak ada lembur. Begitu masuk ke Kamar Nomor 3, Oyen langsung melompat turun dari kasur dan menggesekkan tubuh gempalnya ke pergelangan kaki Devan sambil mengeong. "Iya, iya. Lapar, ya?" Devan menuangkan biskuit kucing ke mangkuk plastik di sudut lemari. Oyen langsung menundukkan kepala dan makan dengan lahap, ekor bengkoknya bergoyang pelan. Sambil menunggu Oyen selesai makan, Devan mengumpulkan bungkus-bungkus bekas dan sisa kemasan biskuit ke dalam kantong plastik. Sudah menumpuk sejak kemarin dan mulai berbau. Ia membuka pintu kamar, dan melangkah ke lorong dengan kantong sampah di tangan. Tong sampah ada di samping dapur belakang, tinggal lurus melewati beberapa kamar. Tepat saat ia melewati Kamar Nomor 4 di seb

  • Penghuni Kos Terakhir    Bab 7

    Keesokan paginya hari Sabtu, Devan terbangun lebih pagi dari biasanya. Sif kerjanya baru mulai siang nanti, jadi ia punya waktu luang.Setelah memberi Oyen biskuit khusus kucing yang dibelinya kemarin dan air minum, ia berjalan kaki keluar kamar, mengenakan kaos oblong dan sandal jepit. Perutnya butuh nasi uduk dan stok sabun mandinya sudah habis sejak kemarin. Di depan gerbang kosan, langkahnya melambat.Eva sedang menyapu daun-daun kering yang berserakan di pelataran depan. Gerakan sapunya lambat, nyaris malas-malasan, karena matanya tidak tertuju pada daun di bawah kakinya. Gadis itu menatap ke arah jalan raya di luar pagar dengan sorot yang Devan kenali seperti sorot orang yang sudah lama tidak pergi ke mana-mana."Pagi, Mbak Eva," sapa Devan.Eva menoleh, agak terkejut. "Pagi, Mas.""Saya mau ke warung ujung gang. Mbak mau titip sesuatu?" Devan berhenti di samping gerbang. "Atau sekalian mau ikut jalan? Saya mau beliin Mbak jajanan pasar buat ucapan terima kasih kemarin karena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status