LOGINSiang hari di pabrik percetakan, suhu ruangan terasa gerah dan pengap oleh uap panas mesin. Bau tinta dan pelumas menguar tajam di seluruh ruang produksi.
Devan bekerja ekstra keras mengangkat gulungan kertas besar seberat puluhan kilogram ke atas poros mesin cetak. Otot lengannya menegang setiap kali menahan beban silinder kertas agar terpasang presisi. Begitu mesin dinyalakan, gemuruh logam memekakkan telinga. Keringat deras membasahi kaus seragamnya saat mengawasi cetakan ratusan meter spanduk demi mengejar target bulanan. "Woi, Van! Semangat amat hari ini, habis dapat vitamin dari ibu kos baru, ya?" teriak Bimo, operator mesin sebelah, tergelak di tengah deru mesin. "Vitamin apanya, belum sarapan dari pagi!" balas Devan setengah berteriak sambil menyeka peluh di dahi. "Nanti sore pas istirahat, ngopi dulu di belakang biar melek!" sahut rekan kerja lain sambil melempar gulungan selotip ke meja Devan. Devan menangkap selotip itu dan tersenyum tipis. Suasana pabrik yang bising dan candaan rekan-rekannya sedikit mengalihkan pikirannya dari kejadian aneh di kosan tadi pagi. *** Tepat pukul empat sore, bel pergantian sif berbunyi nyaring. Devan mematikan mesinnya, lalu berjalan gontai menuju kantin di belakang pabrik. Demi menghemat sisa uang lima puluh ribu rupiah di dompetnya, ia hanya membeli sebungkus nasi dengan lauk tahu dan tempe goreng. Ia duduk menyendiri di ujung bangku sambil membuka bungkusan itu. Baru suapan kedua masuk ke mulutnya, ponsel di saku celananya bergetar panjang. Nama "Bapak" terpampang di layar retak. Devan menghela napas berat dan menelan nasinya yang terasa seret di tenggorokan sebelum menggeser tombol jawab. "Halo, Pak." "Van ... tolong Bapak, Van." Suara Pak Herman terdengar serak dan memelas, diselingi batuk kering yang dibuat-buat. "Dada Bapak sesak dari semalam. Obat paru-paru dari klinik habis. Kirimkan tiga ratus ribu saja buat tebus obat sore ini." Tangan Devan yang memegang bungkusan nasi terhenti di udara. Ia menajamkan pendengaran saat menangkap suara gemuruh yang tidak asing di latar belakang telepon ayahnya. Klotok-klotok ... Buka! Pasang besar! Sikat! Suara kocokan dadu di atas meja kayu dan teriakan orang-orang di lapak judi terdengar jelas menembus mikrofon. Di sela batuk Pak Herman, terdengar suara bandar menyuruh ayahnya segera memasang taruhan. Dada Devan sesak. Rahangnya mengeras hingga giginya bergemeletuk. Belum genap sehari ia diusir Bu Elis dan uang sewanya habis dikuras untuk menebus nyawa pria tua itu, ayahnya sudah kembali lagi ke meja judi. Tidak ada obat klinik. Yang ada hanyalah ketagihan yang mendarah daging. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Devan menekan tombol merah. Ia membanting pelan ponselnya ke meja kantin. Nafsu makannya lenyap seketika. Ia melipat kembali bungkusan nasi tahu tempenya untuk disimpan sebagai ganjal perut nanti malam. Sore itu Devan menemui mandor di ruang pengawas dan mengambil jatah lembur rekannya yang izin pulang cepat. Ia baru boleh pulang pukul sebelas malam. *** Selama enam jam tambahan itu, Devan terus berdiri memotong lembaran vinil dan mengangkat kardus cetakan tanpa henti. Punggung dan betisnya sudah kaku sejak dua jam lalu, tapi ia tidak berhenti. Saat jam dinding menunjuk tepat pukul sebelas malam, barulah ia mematikan sakelar mesinnya. Perutnya yang sejak sore hanya diganjal beberapa teguk air putih dari galon pabrik terasa melilit. Ia mencuci wajahnya di wastafel, menyambar jaket lusuh, lalu berjalan menuju parkiran motor. Begitu keluar dari gerbang pabrik, gerimis mulai turun membasahi aspal. Ia menarik resleting jaket hingga ke dagu dan memacu motor bebek tuanya menembus jalanan kota yang sepi. Air hujan yang bercampur angin malam membuat jari-jari tangannya kebas di setang motor. Jalanan menuju Rumah Kos Asri Riyadi tampak gelap gulita tanpa seorang pun yang melintas. Ketika motornya berbelok melewati tumpukan tempat sampah di pinggir jalan, sorot lampu depannya menangkap gerakan lemah. Srek ... Meong …. Rintihan halus terdengar dari balik tumpukan kardus basah yang hancur terkena hujan. Devan spontan mengerem motornya. Di bawah cahaya lampu motor yang redup, tampak seekor kucing jalanan berwarna oren meringkuk di sudut kardus. Tubuhnya agak gempal dan ekornya sedikit bengkok, tengah menggigil hebat dengan bulu kotor berlumpur. Devan mematikan mesin dan turun dari motor. Ia berjongkok perlahan mendekati kardus itu, mengulurkan tangan kanannya. Fhsss! Kucing oren itu mendesis garang dan mengangkat cakarnya hendak mencakar, tubuhnya menegang siap menyerang. Devan tidak mundur. Ia membiarkan tangannya tetap terulur, telapaknya terbuka. Hidung kucing itu bergerak-gerak. Ia mencium sesuatu. Begitu moncongnya menyentuh pergelangan tangan Devan yang dilingkari gelang akar bahar warisan kakeknya, desisan itu berhenti. Bulu yang semula berdiri tegak perlahan merebah. Hewan liar itu mengeong pelan dan menggesekkan kepalanya ke telapak tangan Devan seolah sudah mengenal pemuda itu sejak lama. Devan tersenyum tipis. "Nasib kita sama, ya, Meng." Ia merengkuh tubuh menggigil kucing itu ke dalam balutan jaketnya. Aturan kos Pak Riyadi melarang penghuni membawa hewan peliharaan, tapi Devan tidak peduli. Motornya kembali melaju menuju gerbang besi Rumah Kos Asri Riyadi. Setibanya di pekarangan, ia mematikan mesin perlahan dan turun tanpa suara. Dengan mengendap-endap, Devan menyusuri lorong lantai satu. Jaketnya digendong erat-erat di dada, gundukan kecil di dalamnya sesekali bergerak. Sesampainya di depan Kamar Nomor 3, ia memasukkan kunci dan memutar pelan. Klek. Pintu terkunci dari dalam. Devan menurunkan kucing oren itu ke lantai dan membelai kepalanya. "Mulai sekarang namamu Oyen, ya. Selamat datang di rumah baru."Eva berjalan berjingkat tanpa suara, membawa semangkuk lodeh yang ditutup serbet. Ia berhenti di depan Kamar Nomor 6 dan menoleh ke kanan dan kiri. Setelah yakin lorong kosong, ia meletakkan mangkuk di tangannya ke atas meja dan mengambil mangkuk yang ditinggalkan Bu Nunik.Mangkuknya sama persis tapi isinya tidak.Setelah menukarkan mangkuk. Gadis itu berbalik dan melangkah kembali menuju dapur sambil mendekap mangkuk beracun di dadanya. Jalur itu melewati jendela kamar Devan.Langkah Eva berhenti.Matanya melebar saat menyadari jendela kamar Devan terbuka sedikit dan ada seseorang yang memperhatikannya dari baliknya. Wajahnya menegang, jari-jarinya mencengkeram tepi mangkuk.Devan tersenyum hangat dan mengacungkan ibu jarinya.Ketegangan di wajah Eva mengendur perlahan. Alisnya terangkat bingung, seolah tidak percaya ia tidak sedang dimarahi.Devan mengulurkan tangan ke luar jendela dengan telapak terbuka, lalu menggerakkan bibirnya tanpa suara. “Sini.”Eva menoleh ke arah dapur, l
Senin pagi, Devan berangkat ke pabrik. Sepanjang jalan, pikirannya berputar pada ancaman Pak Riyadi semalam. Kalau Eva bicara, makhluk di ruang belakang akan membunuh orang tuanya di depan mata gadis itu. Kalau Devan diam, Agung dan Tiwi bisa jadi korban berikutnya.Ia harus menemukan cara melindungi mereka semua tanpa membuat orang tua Eva mati seketika. Dan sampai sekarang, ia belum tahu caranya.Menjelang siang, mesin cetak spanduk berhenti mendadak di tengah deru ruang produksi. Bimo dan dua operator lain mengerumuni mesin itu sambil saling menyalahkan, sementara mandor berdiri di belakang mereka dengan wajah menegang.Devan menyelinap di antara kerumunan, membuka penutup rol, dan menemukan selembar vinil yang tersangkut di sela rol penarik. Ia menariknya pelan-pelan agar tidak robek, lalu menutup kembali penutupnya dan menekan tombol hidup.Gerrr ... Tak-tak-tak!Mesin itu menyala lagi. Bimo bersiul panjang dan menepuk punggungnya keras-keras."Kerja bagus, Van." Mandor menyelipk
Minggu malam sekitar pukul sembilan, hujan rintik-rintik mulai turun dan menimpa atap kosan. Devan mengambil sebungkus mi instan dari lemari, memasukkan ke saku jaketnya, lalu membuka pintu kamar.Oyen sudah mengekor sampai ke ambang pintu, ekor bengkoknya menyapu betis Devan."Di dalam saja, Meng. Jangan keluar." Devan menunjuk ke arah kasur. Oyen mengeong pendek, tapi akhirnya duduk di tempat dan menatapnya dengan mata bulat selama Devan menutup pintu dan menguncinya dari luar.Lorong lantai satu lebih sepi dari biasanya. Lampu neon berdengung pelan, dan bau tanah basah dari luar merembes masuk lewat celah ventilasi. Devan sengaja melewati lorong sempit di samping dapur agar tidak perlu mendekati halaman belakang.Langkahnya terhenti di dekat pintu kayu yang menghubungkan kosan dengan rumah induk pemilik kos.Dari balik pintu itu terdengar suara perempuan yang membentak dengan nada tertahan, disusul isak tangis yang sangat Devan kenal. Pintunya tidak tertutup rapat. Ada celah sempit
Minggu pagi, Devan terbangun tanpa alarm. Hari ini ia libur, dan untuk pertama kalinya sejak pindah ke kosan ini tubuhnya tidak diburu apa pun.Tumpukan pakaian kotor di sudut kamar sudah menggunung. Ia memasukkan semuanya ke ember di kamar mandi, menaburkan sisa deterjen sachet, lalu mengucek satu per satu sampai telapak tangannya memerah.Oyen duduk di ambang pintu kamar mandi sambil menjilati kaki depannya. Kucing itu tampak jauh lebih tenang daripada semalam.Devan memeras kemeja terakhir dan membawa ember ke lorong. Kantong sampah semalam masih tergeletak di sudut kamar, jadi ia menjinjingnya sekalian dengan tangan yang lain.Tali jemuran di lantai dua sudah penuh oleh seprai Tiwi dan Meli. Devan mendecak pelan, lalu berbelok ke lorong samping menuju halaman belakang yang jarang dilewati penghuni.Siang hari ternyata tidak seseram malam. Sampah ia buang ke tong di samping dapur, lalu ia melangkah ke tali jemuran di bawah pohon beringin.Tapi suasana di sana tetap terasa aneh. Dau
Malam itu sekitar pukul sembilan, Devan baru saja memarkir motornya di pekarangan setelah menyelesaikan sif siang di percetakan. Tubuhnya pegal, tapi setidaknya hari ini tidak ada lembur. Begitu masuk ke Kamar Nomor 3, Oyen langsung melompat turun dari kasur dan menggesekkan tubuh gempalnya ke pergelangan kaki Devan sambil mengeong. "Iya, iya. Lapar, ya?" Devan menuangkan biskuit kucing ke mangkuk plastik di sudut lemari. Oyen langsung menundukkan kepala dan makan dengan lahap, ekor bengkoknya bergoyang pelan. Sambil menunggu Oyen selesai makan, Devan mengumpulkan bungkus-bungkus bekas dan sisa kemasan biskuit ke dalam kantong plastik. Sudah menumpuk sejak kemarin dan mulai berbau. Ia membuka pintu kamar, dan melangkah ke lorong dengan kantong sampah di tangan. Tong sampah ada di samping dapur belakang, tinggal lurus melewati beberapa kamar. Tepat saat ia melewati Kamar Nomor 4 di seb
Keesokan paginya hari Sabtu, Devan terbangun lebih pagi dari biasanya. Sif kerjanya baru mulai siang nanti, jadi ia punya waktu luang.Setelah memberi Oyen biskuit khusus kucing yang dibelinya kemarin dan air minum, ia berjalan kaki keluar kamar, mengenakan kaos oblong dan sandal jepit. Perutnya butuh nasi uduk dan stok sabun mandinya sudah habis sejak kemarin. Di depan gerbang kosan, langkahnya melambat.Eva sedang menyapu daun-daun kering yang berserakan di pelataran depan. Gerakan sapunya lambat, nyaris malas-malasan, karena matanya tidak tertuju pada daun di bawah kakinya. Gadis itu menatap ke arah jalan raya di luar pagar dengan sorot yang Devan kenali seperti sorot orang yang sudah lama tidak pergi ke mana-mana."Pagi, Mbak Eva," sapa Devan.Eva menoleh, agak terkejut. "Pagi, Mas.""Saya mau ke warung ujung gang. Mbak mau titip sesuatu?" Devan berhenti di samping gerbang. "Atau sekalian mau ikut jalan? Saya mau beliin Mbak jajanan pasar buat ucapan terima kasih kemarin karena







