مشاركة

Bab 12

مؤلف: Liam
Begitu turun dari kereta, aku melangkah kembali ke rumah sakit dengan lesu, seperti ayam jago yang kalah bertarung.

Rian sudah menungguku di dalam ruang kantornya.

Dia duduk di balik meja kerja, menatapku dengan santai seolah sedang melihat seekor burung kenari yang pulang sendiri ke sangkarnya.

“Sudah puas mainnya?” tanyanya.

Aku tak bersuara, hanya menatapnya lekat-lekat dengan penuh amarah.

“Kenapa? Nggak terima?” Dia berdiri, melangkah ke hadapanku, lalu mencengkeram daguku dan melanjutkan,
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 13

    Karena jasanya yang besar dalam membongkar kasus ini, ditambah dengan kemampuannya yang memang luar biasa, Rian pun naik jabatan dengan sangat mulus menjadi wakil direktur rumah sakit termuda.Dia membeli rumah, mobil dan memberikan segala kemewahan materi yang diimpikan oleh semua wanita untukku.Dia memperlakukanku dengan sangat baik, bahkan sangking baiknya hingga tak ada celah untuk dikritik.Dia selalu ingat siklus menstruasiku dan akan menyiapkan wedang jahe hangat untukku. Dia menemaniku belanja, menungguku dengan sabar saat diriku mencoba satu demi satu bajuku. Dia bahkan mau turun tangan untuk memasakkan iga asam manis, makanan kesukaanku.Semua orang iri padaku. Mereka bilang aku beruntung bisa mendapatkan pria idaman yang tampan, kaya dan perhatiannya luar biasa.Namun, hanya diriku yang sadar bahwa semua ini hanyalah bentuk tebusan darinya.Dia telah menghancurkan rasa cintaku, jadi mencoba menebusnya dengan materi.Kami hidup layaknya sepasang kekasih yang paling mesra, ti

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 12

    Begitu turun dari kereta, aku melangkah kembali ke rumah sakit dengan lesu, seperti ayam jago yang kalah bertarung.Rian sudah menungguku di dalam ruang kantornya.Dia duduk di balik meja kerja, menatapku dengan santai seolah sedang melihat seekor burung kenari yang pulang sendiri ke sangkarnya.“Sudah puas mainnya?” tanyanya.Aku tak bersuara, hanya menatapnya lekat-lekat dengan penuh amarah.“Kenapa? Nggak terima?” Dia berdiri, melangkah ke hadapanku, lalu mencengkeram daguku dan melanjutkan, “Kamu pikir aku bakal benar-benar membiarkanmu pergi?”“Rian, sebenarnya apa maumu?” Akhirnya aku tak tahan lagi dan berteriak histeris, “Kamu sudah punya Felly, kok masih nggak mau melepaskanku?”“Siapa yang bilang aku sudah punya Felly?” tanyanya sambil mengangkat alis.“Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri! Kamu memapahnya masuk ke dalam hotel!”“Lalu?” Dia menatapku dengan pandangan gemas dan melanjutkan, “Kamu lihat kami check-in? Atau kamu lihat kami tidur bersama?”Aku langsung terdiam.

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 11

    Koridor kembali diselimuti keheningan.Rian berbalik dan menatapku dengan tatapan mata yang sulit diartikan.“Mulai sekarang, jauhi dia,” ujarnya.“Kenapa?” tanyaku.“Nggak perlu tanya kenapa.” Rian melepaskan genggaman tangannya, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruang kantornya.Melihat punggungnya yang menjauh, sebuah spekulasi berani mendadak terlintas di benakku.Dia menyuruhku menjauhi Felly bukan karena takut diriku akan mencelakainya.Namun, karena takut Felly akan mencelakaiku.Kesadaran itu bagaikan sebutir batu yang dilempar ke dalam hatiku, menimbulkan riak ombak.Mungkin dia bukan tak punya perasaan sama sekali padaku.Aku pun mulai mencoba untuk mengambil kendali.Aku tak lagi pasif menunggu ‘panggilan’ darinya, melainkan mulai aktif bergerak.Aku mulai membawakannya bekal makan siang masakanku sendiri. Saat dia sedang operasi, aku akan menyiapkan air hangat dan handuk bersih untuknya lebih dulu.Aku bahkan mulai belajar meniru gaya Felly, bersikap manja dan agak

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 10

    Renda hitam itu membalut tubuhku yang proposional dengan sempurna. Roknya sangat pendek, nyaris tak mampu menutup bokongku, sementara kakiku yang jenjang memantulkan kilau lembut di bawah cahaya lampu.Napas Rian terdengar jelas jadi lebih berat.“Silvia, kamu sudah gila?”“Iya, aku sudah gila.” Aku melangkah ke hadapannya, lalu duduk mengangkang di atas pangkuannya sambil melingkarkan kedua lenganku di lehernya, melanjutkan, “Aku sudah gila karena dirimu.”Aku menunduk, inisiatif mencium bibirnya lebih dulu.Dia tak mendorongku.Tangannya seolah bergerak dengan sendirinya, mulai meraba punggungku yang mulus, lalu terus meluncur turun dan menyusup ke balik renda hitam yang misterius.“Dasar genit,” bisiknya sambil menggigit daun telingaku dengan suara yang sangat serak.“Sudah begitu merindukanku?”“Iya,” jawabku sambil menempelkan tubuh ke dadanya, merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang.“Rindu sampai mau mati rasanya.”“Rian, jangan buang aku.”Ada nada memohon yang terseli

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 9

    “Sini,” perintahnya.Aku tak bergerak sedikitpun.“Kenapa? Sudah merasa hebat?” ujarnya sambil mengerutkan kening.“Rian.” Aku menatap matanya langsung, untuk pertama kali memanggil namanya langsung. “Kamu mencintainya?”Dia sempat terdiam sejenak, kemudian terkekeh sinis, “Emangnya ada hubungannya denganmu?”“Kamu hanya perlu ingat satu hal, dirimu itu hanya pasienku.”“Pasien?” Aku menertawakan diriku sendiri, “Iya, aku hanya pasienmu. Pasien yang bisa dipermainkan sesuka hati dan bisa dibuang kapan saja kalau sudah bosan!”Rasa sesak dan amarah yang sudah terpendam sekian lama akhirnya meledak di detik ini.“Lalu bagaimana dengan Felly? Dia juga pasienmu? Kamu juga bakal melakukan hal-hal yang sama padanya?!” tanyaku dengan histeris, menuntut jawabannya.“Plak!”Satu tamparan keras mendarat di wajahku.Pipiku terasa sangat panas, aku bisa merasakan bau amis darah di sudut bibir.Aku sampai terbengong.Ini pertama kalinya dia main tangan denganku.“Silvia, tahu diri dan sadar posisi

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 8

    Aku benar-benar hancur total.Bagaikan seekor hewan lunak yang seluruh tulangnya telah dicabut, lalu perlahan melorot menyusuri dinding hingga terduduk di lantai.Aku menyerah.Di bawah kekuasaan mutlak dan hasrat mesumnya, aku sama sekali tak punya peluang untuk menang.Dengan tubuh gemetaran, aku menjulurkan ujung lidahku, lalu menjilat pelan jari yang berlumuran aroma tubuhku sendiri.Rasa asin dan sedikit manis yang khas langsung menyebar di dalam rongga mulutku.Itu rasa dari penghinaan.Rian tampak sangat puas melihat kepatuhanku.Dia menyimpan kembali ponselnya, lalu menatapku dari atas, seolah-olah sedang mengagumi sebuah karya seni yang telah berhasil dia jinakkan sepenuhnya.“Silvia, ingat baik-baik rasa ini.”“Mulai hari ini, kamu itu milikku.”….Sejak malam itu, aku resmi menjadi ‘pasien’ pribadi Rian.Dia memang tak pernah lagi menggunakan alat medis yang mengerikan itu padaku, tapi cara ‘pengobatan’ yang dia berikan terus berganti cara untuk menyiksaku.Di sela-sela wakt

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status