Renda hitam itu membalut tubuhku yang proposional dengan sempurna. Roknya sangat pendek, nyaris tak mampu menutup bokongku, sementara kakiku yang jenjang memantulkan kilau lembut di bawah cahaya lampu.Napas Rian terdengar jelas jadi lebih berat.“Silvia, kamu sudah gila?”“Iya, aku sudah gila.” Aku melangkah ke hadapannya, lalu duduk mengangkang di atas pangkuannya sambil melingkarkan kedua lenganku di lehernya, melanjutkan, “Aku sudah gila karena dirimu.”Aku menunduk, inisiatif mencium bibirnya lebih dulu.Dia tak mendorongku.Tangannya seolah bergerak dengan sendirinya, mulai meraba punggungku yang mulus, lalu terus meluncur turun dan menyusup ke balik renda hitam yang misterius.“Dasar genit,” bisiknya sambil menggigit daun telingaku dengan suara yang sangat serak.“Sudah begitu merindukanku?”“Iya,” jawabku sambil menempelkan tubuh ke dadanya, merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang.“Rindu sampai mau mati rasanya.”“Rian, jangan buang aku.”Ada nada memohon yang terseli
Leer más