مشاركة

Bab 2

مؤلف: Liam
Rian tampak sangat sabar, tak terburu-buru menuntut jawabanku.

Jarinya meninggalkan bagian belakang lututku, lalu bergerak ke atas dan berhenti di sisi dalam pahaku yang hanya terhalang laporan kain rok yang tipis.

Seluruh tubuhku langsung menegang.

Kulit di sana adalah bagian paling lembut dan sensitif.

Jarinya yang panjang bergerak perlahan, seolah sedang mengukur sebidang tanah, maju sedikit demi sedikit ke arah atas.

Ujung rokku terdorong semakin tinggi oleh gerakannya. Udara dingin yang menyentuh pangkal pahaku membuatku tanpa sadar merapatkan kedua kaki.

“Rileks,” perintahnya. Tekanan tangannya bertambah kuat, mematahkan upaya perlawananku dengan mudah.

“Otot yang terlalu tegang akan mengganggu diagnosisku.”

Akhirnya, ujung jarinya berhenti di sebuah titik yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari area paling intim di balik rokku.

Posisi itu terasa begitu canggung dan ambigu.

Aku bahkan bisa merasakan kapalan tipis di ujung jarinya yang terus bergesekan di atas kulitku yang paling sensitif, meski terhalang selembar kain.

“Silvia, katakan padaku,” ujarnya dengan nada yang seakan mengandung sedikit godaan.

“Sebenarnya penyakit apa yang kamu derita?”

Aku seperti ikan yang dipaku di atas talenan, tak bisa melarikan diri.

Akal sehatku mengatakan bahwa aku harus segera mendorongnya, berteriak meminta tolong dan membongkar topeng pria munafik yang sok suci ini.

Namun, naluriku malah membuat mulutku terkunci dan kakiku tak bisa melangkah.

Keinginan yang selama ini terpendam membelit tubuhku seperti sulur tanaman, membuatku malah ingin berada lebih dekat dengannya.

“Aku… aku nggak tahu….” Akhirnya, aku berhasil menemukan suaraku kembali, meski terdengar sangat pelan seperti bisikan nyamuk.

“Oh iya?” Rian terkekeh pelan. Suara tawa itu terdengar sangat jelas di ruang sempit ini, “Kalau begitu, biar aku membantumu mendiagnosis.”

Usai bicara, tangan satunya lagi tiba-tiba melingkar dari belakang dan menempel tepat di perut bagian bawahku.

Meski terhalang seragam, kehangatan telapak tangannya terasa seolah mampu menembus kain.

Aku benar-benar terpaku.

Ini apa? Pemeriksaan di bagian perut?

Namun, tangannya tidak hanya diam di sana. Dengan gerakan perlahan dan tegas, tangannya bergerak naik.

Melewati pinggangku yang ramping, melintasi sisi tulang rusuk, lalu akhirnya berhenti di bagian dadaku yang lembut dan montok.

“Boom….”

Otakku langsung kosong. Seluruh darah di tubuhku rasanya mendidih sampai ke ubun-ubun.

Berani… beraninya dia?!

Hari ini, agar seragam perawatku terlihat lebih pas badan dan menonjolkan lekuk tubuh, aku sengaja tak memakai bra dan hanya menggunakan dua nipple pad kecil.

Saat ini, telapak tangannya yang lebar dan tebal menempel tanpa penghalang, menangkup bagian tubuhku yang paling lembut dan sensitif.

Melalui kain seragam yang tipis, aku bahkan bisa merasakan dengan jelas tekstur setiap garis di telapak tangannya.

“Napasmu berantakan,” ujarnya seolah sedang menyampaikan gejala medis yang biasa saja, tapi jari-jarinya malah memainkan kuncup sensitif di puncak dadaku dengan tekanan yang pas.

“Aah!”

Aku tak bisa menahannya lagi. Sebuah jeritan pendek yang memalukan spontan lolos dari mulutku.

Seluruh tenaga di tubuhku rasanya seperti dikuras habis, tubuhku lemas seperti genangan lumpur. Aku hanya bisa bersandar pada tubuhnya agar tidak terjatuh ke lantai.

“Sepertinya, sumber masalahnya bukan di sini,” ujarnya dengan sedikit nada tawa dalam suaranya, seolah sangat puas dengan reaksiku.

Tangannya memang menjauh dari dadaku, tapi dia tak berhenti sampai di sana.

Tangan nakal itu meluncur turun mengikuti garis pinggangku dan akhirnya mendarat di bokongku.

Berbeda dengan bagian dada yang lembut, otot di bagian itu terasa padat dan kenyal.

Seakan sedang menimbang sepotong giok yang sangat berharga, dia membuka kelima jarinya, meremas penuh sebelah bokongku yang bulat dan montok ke dalam genggamannya, lalu meremasnya dengan kuat.

“Hmm….”

Kedua kakiku langsung lemas, hampir saja jatuh berlutut.

Sensasi ini terlalu mendebarkan.

Malu, takut, bingung, serta percikan gairah terlarang yang selama ini terpendam di lubuk hati, semuanya bercampur membentuk jaring raksasa yang mengurungku erat-erat.

“Sepertinya masalahnya memang berasal dari bagian bawah,” ujar Rian menyimpulkan.

Telapak tangannya menopang bokongku, menarik tubuhku agar menempel lebih rapat ke tubuhnya.

Reaksi tubuhku terpampang nyata di bawah tatapannya. Setiap getaran dan gejolak yang kurasakan tidak ada yang luput dari matanya.

Dan sialnya, aku malah menjadi gila karena sentuhan ini.

Melalui dua lapis kain tipis, aku bisa merasakan jelas ada perubahan menakjubkan di bagian tertentu di tubuhnya.

Sensasi panas dan keras itu terasa begitu jelas, seolah meninggalkan jejak di perut bagian bawahku.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 13

    Karena jasanya yang besar dalam membongkar kasus ini, ditambah dengan kemampuannya yang memang luar biasa, Rian pun naik jabatan dengan sangat mulus menjadi wakil direktur rumah sakit termuda.Dia membeli rumah, mobil dan memberikan segala kemewahan materi yang diimpikan oleh semua wanita untukku.Dia memperlakukanku dengan sangat baik, bahkan sangking baiknya hingga tak ada celah untuk dikritik.Dia selalu ingat siklus menstruasiku dan akan menyiapkan wedang jahe hangat untukku. Dia menemaniku belanja, menungguku dengan sabar saat diriku mencoba satu demi satu bajuku. Dia bahkan mau turun tangan untuk memasakkan iga asam manis, makanan kesukaanku.Semua orang iri padaku. Mereka bilang aku beruntung bisa mendapatkan pria idaman yang tampan, kaya dan perhatiannya luar biasa.Namun, hanya diriku yang sadar bahwa semua ini hanyalah bentuk tebusan darinya.Dia telah menghancurkan rasa cintaku, jadi mencoba menebusnya dengan materi.Kami hidup layaknya sepasang kekasih yang paling mesra, ti

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 12

    Begitu turun dari kereta, aku melangkah kembali ke rumah sakit dengan lesu, seperti ayam jago yang kalah bertarung.Rian sudah menungguku di dalam ruang kantornya.Dia duduk di balik meja kerja, menatapku dengan santai seolah sedang melihat seekor burung kenari yang pulang sendiri ke sangkarnya.“Sudah puas mainnya?” tanyanya.Aku tak bersuara, hanya menatapnya lekat-lekat dengan penuh amarah.“Kenapa? Nggak terima?” Dia berdiri, melangkah ke hadapanku, lalu mencengkeram daguku dan melanjutkan, “Kamu pikir aku bakal benar-benar membiarkanmu pergi?”“Rian, sebenarnya apa maumu?” Akhirnya aku tak tahan lagi dan berteriak histeris, “Kamu sudah punya Felly, kok masih nggak mau melepaskanku?”“Siapa yang bilang aku sudah punya Felly?” tanyanya sambil mengangkat alis.“Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri! Kamu memapahnya masuk ke dalam hotel!”“Lalu?” Dia menatapku dengan pandangan gemas dan melanjutkan, “Kamu lihat kami check-in? Atau kamu lihat kami tidur bersama?”Aku langsung terdiam.

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 11

    Koridor kembali diselimuti keheningan.Rian berbalik dan menatapku dengan tatapan mata yang sulit diartikan.“Mulai sekarang, jauhi dia,” ujarnya.“Kenapa?” tanyaku.“Nggak perlu tanya kenapa.” Rian melepaskan genggaman tangannya, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruang kantornya.Melihat punggungnya yang menjauh, sebuah spekulasi berani mendadak terlintas di benakku.Dia menyuruhku menjauhi Felly bukan karena takut diriku akan mencelakainya.Namun, karena takut Felly akan mencelakaiku.Kesadaran itu bagaikan sebutir batu yang dilempar ke dalam hatiku, menimbulkan riak ombak.Mungkin dia bukan tak punya perasaan sama sekali padaku.Aku pun mulai mencoba untuk mengambil kendali.Aku tak lagi pasif menunggu ‘panggilan’ darinya, melainkan mulai aktif bergerak.Aku mulai membawakannya bekal makan siang masakanku sendiri. Saat dia sedang operasi, aku akan menyiapkan air hangat dan handuk bersih untuknya lebih dulu.Aku bahkan mulai belajar meniru gaya Felly, bersikap manja dan agak

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 10

    Renda hitam itu membalut tubuhku yang proposional dengan sempurna. Roknya sangat pendek, nyaris tak mampu menutup bokongku, sementara kakiku yang jenjang memantulkan kilau lembut di bawah cahaya lampu.Napas Rian terdengar jelas jadi lebih berat.“Silvia, kamu sudah gila?”“Iya, aku sudah gila.” Aku melangkah ke hadapannya, lalu duduk mengangkang di atas pangkuannya sambil melingkarkan kedua lenganku di lehernya, melanjutkan, “Aku sudah gila karena dirimu.”Aku menunduk, inisiatif mencium bibirnya lebih dulu.Dia tak mendorongku.Tangannya seolah bergerak dengan sendirinya, mulai meraba punggungku yang mulus, lalu terus meluncur turun dan menyusup ke balik renda hitam yang misterius.“Dasar genit,” bisiknya sambil menggigit daun telingaku dengan suara yang sangat serak.“Sudah begitu merindukanku?”“Iya,” jawabku sambil menempelkan tubuh ke dadanya, merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang.“Rindu sampai mau mati rasanya.”“Rian, jangan buang aku.”Ada nada memohon yang terseli

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 9

    “Sini,” perintahnya.Aku tak bergerak sedikitpun.“Kenapa? Sudah merasa hebat?” ujarnya sambil mengerutkan kening.“Rian.” Aku menatap matanya langsung, untuk pertama kali memanggil namanya langsung. “Kamu mencintainya?”Dia sempat terdiam sejenak, kemudian terkekeh sinis, “Emangnya ada hubungannya denganmu?”“Kamu hanya perlu ingat satu hal, dirimu itu hanya pasienku.”“Pasien?” Aku menertawakan diriku sendiri, “Iya, aku hanya pasienmu. Pasien yang bisa dipermainkan sesuka hati dan bisa dibuang kapan saja kalau sudah bosan!”Rasa sesak dan amarah yang sudah terpendam sekian lama akhirnya meledak di detik ini.“Lalu bagaimana dengan Felly? Dia juga pasienmu? Kamu juga bakal melakukan hal-hal yang sama padanya?!” tanyaku dengan histeris, menuntut jawabannya.“Plak!”Satu tamparan keras mendarat di wajahku.Pipiku terasa sangat panas, aku bisa merasakan bau amis darah di sudut bibir.Aku sampai terbengong.Ini pertama kalinya dia main tangan denganku.“Silvia, tahu diri dan sadar posisi

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 8

    Aku benar-benar hancur total.Bagaikan seekor hewan lunak yang seluruh tulangnya telah dicabut, lalu perlahan melorot menyusuri dinding hingga terduduk di lantai.Aku menyerah.Di bawah kekuasaan mutlak dan hasrat mesumnya, aku sama sekali tak punya peluang untuk menang.Dengan tubuh gemetaran, aku menjulurkan ujung lidahku, lalu menjilat pelan jari yang berlumuran aroma tubuhku sendiri.Rasa asin dan sedikit manis yang khas langsung menyebar di dalam rongga mulutku.Itu rasa dari penghinaan.Rian tampak sangat puas melihat kepatuhanku.Dia menyimpan kembali ponselnya, lalu menatapku dari atas, seolah-olah sedang mengagumi sebuah karya seni yang telah berhasil dia jinakkan sepenuhnya.“Silvia, ingat baik-baik rasa ini.”“Mulai hari ini, kamu itu milikku.”….Sejak malam itu, aku resmi menjadi ‘pasien’ pribadi Rian.Dia memang tak pernah lagi menggunakan alat medis yang mengerikan itu padaku, tapi cara ‘pengobatan’ yang dia berikan terus berganti cara untuk menyiksaku.Di sela-sela wakt

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status