LOGINDi kehidupan sebelumnya, aku menikah dengan Lukas, orang kepercayaan mafia paling tampan di Barnia. Semua orang iri padaku, mereka bilang derajatku langsung naik jadi orang terpandang. Adik kembarku, Luna, yang diliputi kecemburuan hingga kehilangan akalnya, mendorongku jatuh dari tangga. Saat aku keguguran dan tak berdaya, dia membekapku dengan bantal ... sampai aku mati. Saat aku membuka mata lagi, aku justru kembali ke hari pertemuan keluarga itu. Di dalam kamar, adikku Luna sedang telanjang, menunggangi Lukas dengan kedua kaki terbuka. Tubuhnya bergerak naik turun mengikuti ritme kasar pria itu. “Kakak, kamu datang terlambat.” Dia terengah-engah, menatapku dengan tatapan penuh kemenangan. “Akulah yang dicintai Lukas. Kami sudah tidur bersama. Di kehidupan ini, yang akan menikah dengannya adalah aku!” Semua orang menatapku, seakan menungguku menggila. Namun, aku justru tersenyum. Adikku tersayang, yang kamu tahu hanyalah dia muda, tampan, dan kaya raya. Namun yang tidak kamu ketahui ... di ruang rahasia dalam kamarnya tersembunyi begitu banyak alat untuk menyiksa wanita. Dan juga ... bagaimana dia merencanakan untuk “membagi” dirimu, sebagai mainan barunya dengan anak buahnya.
View MoreViktor tampak begitu bahagia, seperti anak kecil.Dia menggendongku berputar-putar lalu dalam sekejap berhenti dan menurunkanku dengan hati-hati.“Hati-hati ya.” Dia mengusap perutku. “Jangan sampai melukainya.”“Mungkin dia perempuan,” kataku.“Perempuan juga nggak masalah.” Dia mencium keningku. “Dia akan secantik dirimu.”Luna keguguran saat usia kandungannya tiga bulan.Lukas tidak menikahinya. Pria itu hanya memberinya sejumlah uang dan menyuruhnya menghilang.Ayah mencoba memintaku membela Luna, tapi aku menolaknya.“Dia sudah membunuh anakku,” kataku. “Dia juga membunuhku.”Ayahku terdiam.Sejak saat itu, dia tidak pernah menyebut nama Luna lagi.Hari demi hari, perutku kian membesar.Viktor selalu mengusap perutku setiap hari lalu berbicara dengan bayi kami. Dia menggunakan aksen Barnia dan menceritakan kisah-kisah kuno.Terkadang, dia menempelkan telinganya di perutku sambil mendengarkan detak jantung bayi kami.“Dia bergerak!” katanya. Matanya terlihat berbinar seperti bintan
Suasana di sekitar mendadak hening.Kemudian, ucapan selamat langsung berdatangan.Orang-orang beralih ke Lukas, menepuk bahunya dan memberikan selamat satu per satu.Ekspresi Lukas tak karuan.Dia terlihat bangga, tetapi juga seperti ada kegelisahan yang tak bisa kupahami.Viktor pun berbisik di telingaku, “Aktingnya lumayan bagus.”Aku menoleh padanya.“Kamu sudah tahu ya?”“Sudah dari 3 hari lalu.” Dia menyesap sampanyenya. “Dokter di klinik itu adalah orangku.”Luna masih menerima ucapan selamat. Tangannya diletakkan di perutnya yang masih rata sambil tersenyum seolah menang.Namun, dia tidak tahu.Dia mungkin tak akan pernah tahu.Di tengah resepsi, Viktor membawaku ke balkon.Pemandangan malam Nolvara terbentang dan gemerlap cahaya di mana-mana.“Apa kamu gugup?” tanyanya.“Iya, sedikit.”“Kamu nggak perlu gugup.”Dia memelukku dari belakang, tangannya bertumpu di perutku. “Malam ini malam pertama kita. Aku cuma mau kamu merasa nyaman.”Jarinya mengusap pelan perutku.“Mungkin sa
Aku dibuat tak mampu berkata-kata dan hanya bisa mengeluarkan desahan yang terputus-putus.“Viktor, terlalu dalam ....”“Ini masih belum cukup dalam.” Hentakkannya justru semakin dalam dan kuat.“Aku mau kamu mengingat perasaan ini. Aku mau kamu ingat siapa yang menidurimu, siapa pemilikmu.”Telapak tangannya menampar pantatku dan meninggalkan bekas merah.“Katakan, siapa pemilikmu?”“Kamu, ah ... tentu saja kamu.”“Siapa yang akan memberimu anak?”“Kamu, Viktor.”“Siapa yang akan membuat Lukas nggak akan pernah bisa menyentuhmu lagi?”“Kamu, ah ... kumohon.”Dia tiba-tiba mempercepat gerakannya, menghantam liar seperti binatang buas.Meja kerja Viktor berguncang hebat, benda-benda di atasnya berjatuhan ke lantai.Aku sudah mencapai puncak, tubuhku pun bergetar hebat.Namun, Viktor belum selesai.Dia membalik tubuhku, membaringkanku di atas meja, lalu mengangkat kedua kakiku ke bahunya.Posisi yang seperti ini membuatnya masuk jauh lebih dalam.“Lihat aku,” perintahnya. “Tatap aku di s
Malam sebelum pernikahan, Viktor mengirim orang untuk menjemputku.Bukan ke gedung pernikahan, melainkan ke kediamannya di Citra Mandala.“Bos mau makan malam bersama Anda,” kata supir itu. “Sekalian, agar Anda terbiasa dengan kehidupan setelah menikah.”Aku tahu betul maksudnya.Kediamannya luas dan megah seperti kastil.Para pelayan berbaris menyambutku dan memanggilku "Nyonya".Viktor menungguku di ruang kerjanya.Dia mengenakan jubah tidur beludru bewarna biru tua, dadanya sedikit terbuka.Rambut pirangnya masih sedikit basah seperti baru selesai mandi.Ruangannya hanya diterangi sebuah lampu meja, ditemani cahaya api dari perapian yang menari-nari di dinding.“Sudah ditandatangani?” tanyanya.“Sudah.”“Ada yang mau diubah?”“Nggak ada,” jawabku. “Sudah cukup adil.”Dia tersenyum lalu menutup bukunya.“Kemarilah.”Aku mendekat. Tangannya menarikku pelan hingga aku terjatuh duduk di pangkuannya.Kain jubahnya sangat tipis.Aku bisa merasakan kerasnya otot pahanya dan sesuatu di anta






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.