مشاركة

Pengobatan Rahasia Si Perawat
Pengobatan Rahasia Si Perawat
مؤلف: Liam

Bab 1

مؤلف: Liam
“Jangan gerak, biar kuperiksa.”

Di koridor yang sepi larut malam itu, suara kepala departemen, si Rian terdengar sangat dingin dan akurat bagaikan pisau bedah yang membelah keheningan.

Namaku Silvia, seorang perawat magang di Rumah Sakit Universitas Amarta. Tiga bulan lagi, nasibku akan ditentukan, apakah akan dipertahankan atau dipecat.

Dan aku menyimpan sebuah rahasia yang terlalu memalukan untuk diceritakan.

Aku mengidap kelainan saraf tepi yang langka. Setiap bulan selalu ada beberapa hari di mana tubuhku terasa seperti mengalami korslet. Dari tulang ekor, aliran listrik halus menjalar ke seluruh tubuh dalam sekejap.

Perasaan itu bukan rasa sakit, melainkan sensasi geli dan kebas yang membuat tubuh merinding, bahkan sela-sela tulangku pun ikut terasa geli.

Agar tidak ada yang menyadari keanehanku, setiap kali gejala itu kambuh, aku akan bersembunyi di gudang penyimpanan paling terpencil.

Aku akan menekan tubuhku kuat-kuat ke lemari besi yang dingin, menggunakan rasa sakit untuk menahan getaran hebat yang menyiksa itu.

Namun hari ini, Rian malah memergokiku.

Dia baru saja menyelesaikan operasi yang berlangsung selama sepuluh jam. Meski tampak lelah, tatapannya masih setajam elang.

Saat itu, aku sedang meringkuk di sudut ruangan. Karena posisiku yang membungkuk, ujung rok seragam perawatku tersingkap hingga ke pangkal paha. Kedua kakiku yang dibalut stoking putih bergetar pelan tanpa bisa kukendalikan.

Aku mengira dia akan memarahiku karena bermalas-malasan.

Namun, ternyata tidak.

Dia hanya menatapku beberapa detik, lalu menutup pintu gudang, mengunci dunia luar di balik pintu.

Di ruang yang sempit itu, hanya tersisa suara napas kami yang terdengar semakin jelas dan aroma samar cairan disinfektan dari tubuhnya, serta aroma maskulin pria yang terasa asing, tapi sangat dominan.

“Kakimu kram?” tanyanya sambil melangkah mendekat. Sosoknya yang tinggi langsung mengurungku.

Aku menggigit bibir bawah dan tak berani mengangkat kepala. Aku hanya bisa mengangguk asal.

“Kaki yang mana?” Dia membungkuk, hembusan napas hangatnya terasa di atas kepalaku.

Tubuhku kaku seperti batu.

Sensasi kebas yang mengganggu itu kembali menjalar dari tulang belakang. Aku mencengkeram telapak tanganku sendiri erat-erat, berharap rasa sakit bisa mengalahkan semuanya.

Namun, tangannya sudah lebih dulu mendarat di pergelangan kaki kananku yang bergetar paling hebat.

Meski terhalang lapisan stoking yang tipis, kehangatan telapak tangannya terasa begitu jelas.

“Yang ini?”

Jarinya bergerak perlahan mengikuti lekuk betisku.

Itu bukan sentuhan genit, melainkan pemeriksaan profesional yang menekan otot dan urat dengan gerakan yang akurat.

Setiap tekanan terasa seperti menekan sakelar di sistem sarafku.

Tubuhku bergetar hebat dan sebuah erangan tertahan nyaris lolos dari tenggorokanku.

“Hm….”

Detak jantungku melewatkan satu ketukan.

Dia tahu.

Dia pasti menyadari sesuatu.

Aku mencoba menarik kakiku dengan panik, tapi dia malah menggenggamnya lebih kuat. Tangannya seperti penjepit besi yang mengunci pergelangan kakiku, tak memberiku ruang untuk bergerak.

“Jangan tegang,” katanya, seolah menyadari ketakutanku. Nada suaranya agak melunak, tapi tangannya sama sekali tak melepaskan genggamannya, “Aku hanya seorang dokter.”

Iya, dia itu dokter.

Kepala departemen dokter termuda dan paling berwibawa di departemen bedah jantung, sekaligus atasan yang bisa menentukan nasibku.

Sedangkan diriku hanyalah seorang peserta magang biasa yang bisa digantikan kapan saja.

Apapun yang ingin dia lakukan padaku, rasanya diriku tak punya banyak ruang untuk menolak.

Di tengah rasa takut dan malu, muncul pula secercah harapan yang aneh.

Aku ingin dia melanjutkan pemeriksaannya.

Aku ingin dia menggunakan tangan yang biasa memegang pisau bedah itu untuk mengungkap rahasia tubuhku dan mencari tahu dari mana sebenarnya asal sensasi aneh yang selama ini menghantuiku.

Seolah mendengar isi hatiku, jarinya kembali bergerak.

Kali ini, dia tak melanjutkan ke atas betis, melainkan meraba bagian belakang lututku, area lipatan dalam yang lembut dan sensitif.

“Sshhh….”

Aku menarik napas dalam-dalam, seluruh kakiku terasa lemas.

Di sanalah tempat berkumpulnya jaringan saraf yang paling padat. Biasanya, sentuhan ringan saja akan membuat aku merinding.

Saat ini, ujung jari Rian sedang membuat gerakan melingkar perlahan di sana dengan tekanan yang pas, tidak kuat dan tidak lembut.

“Bagaimana rasanya di sini?” Suaranya terdengar sangat dekat di telingaku, hembusan napas hangatnya membuat daun telingaku terasa geli.

Apa yang harus kujawab?

Haruskah aku bilang kalau diriku hampir meleleh? Haruskah aku bilang kalau aliran listrik di tubuhku telah berubah menjadi lautan yang siap menenggelamkanku?

Aku hanya bisa menggigit bibir kuat-kuat, menelan kembali semua desahan.

Namun, tubuhku malah mengkhianatiku.

Sudah terjadi perubahan di balik rok perawat yang kupakai. Celana dalam thong tipis itu hampir basah kuyup karena cairan yang membanjir.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 13

    Karena jasanya yang besar dalam membongkar kasus ini, ditambah dengan kemampuannya yang memang luar biasa, Rian pun naik jabatan dengan sangat mulus menjadi wakil direktur rumah sakit termuda.Dia membeli rumah, mobil dan memberikan segala kemewahan materi yang diimpikan oleh semua wanita untukku.Dia memperlakukanku dengan sangat baik, bahkan sangking baiknya hingga tak ada celah untuk dikritik.Dia selalu ingat siklus menstruasiku dan akan menyiapkan wedang jahe hangat untukku. Dia menemaniku belanja, menungguku dengan sabar saat diriku mencoba satu demi satu bajuku. Dia bahkan mau turun tangan untuk memasakkan iga asam manis, makanan kesukaanku.Semua orang iri padaku. Mereka bilang aku beruntung bisa mendapatkan pria idaman yang tampan, kaya dan perhatiannya luar biasa.Namun, hanya diriku yang sadar bahwa semua ini hanyalah bentuk tebusan darinya.Dia telah menghancurkan rasa cintaku, jadi mencoba menebusnya dengan materi.Kami hidup layaknya sepasang kekasih yang paling mesra, ti

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 12

    Begitu turun dari kereta, aku melangkah kembali ke rumah sakit dengan lesu, seperti ayam jago yang kalah bertarung.Rian sudah menungguku di dalam ruang kantornya.Dia duduk di balik meja kerja, menatapku dengan santai seolah sedang melihat seekor burung kenari yang pulang sendiri ke sangkarnya.“Sudah puas mainnya?” tanyanya.Aku tak bersuara, hanya menatapnya lekat-lekat dengan penuh amarah.“Kenapa? Nggak terima?” Dia berdiri, melangkah ke hadapanku, lalu mencengkeram daguku dan melanjutkan, “Kamu pikir aku bakal benar-benar membiarkanmu pergi?”“Rian, sebenarnya apa maumu?” Akhirnya aku tak tahan lagi dan berteriak histeris, “Kamu sudah punya Felly, kok masih nggak mau melepaskanku?”“Siapa yang bilang aku sudah punya Felly?” tanyanya sambil mengangkat alis.“Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri! Kamu memapahnya masuk ke dalam hotel!”“Lalu?” Dia menatapku dengan pandangan gemas dan melanjutkan, “Kamu lihat kami check-in? Atau kamu lihat kami tidur bersama?”Aku langsung terdiam.

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 11

    Koridor kembali diselimuti keheningan.Rian berbalik dan menatapku dengan tatapan mata yang sulit diartikan.“Mulai sekarang, jauhi dia,” ujarnya.“Kenapa?” tanyaku.“Nggak perlu tanya kenapa.” Rian melepaskan genggaman tangannya, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruang kantornya.Melihat punggungnya yang menjauh, sebuah spekulasi berani mendadak terlintas di benakku.Dia menyuruhku menjauhi Felly bukan karena takut diriku akan mencelakainya.Namun, karena takut Felly akan mencelakaiku.Kesadaran itu bagaikan sebutir batu yang dilempar ke dalam hatiku, menimbulkan riak ombak.Mungkin dia bukan tak punya perasaan sama sekali padaku.Aku pun mulai mencoba untuk mengambil kendali.Aku tak lagi pasif menunggu ‘panggilan’ darinya, melainkan mulai aktif bergerak.Aku mulai membawakannya bekal makan siang masakanku sendiri. Saat dia sedang operasi, aku akan menyiapkan air hangat dan handuk bersih untuknya lebih dulu.Aku bahkan mulai belajar meniru gaya Felly, bersikap manja dan agak

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 10

    Renda hitam itu membalut tubuhku yang proposional dengan sempurna. Roknya sangat pendek, nyaris tak mampu menutup bokongku, sementara kakiku yang jenjang memantulkan kilau lembut di bawah cahaya lampu.Napas Rian terdengar jelas jadi lebih berat.“Silvia, kamu sudah gila?”“Iya, aku sudah gila.” Aku melangkah ke hadapannya, lalu duduk mengangkang di atas pangkuannya sambil melingkarkan kedua lenganku di lehernya, melanjutkan, “Aku sudah gila karena dirimu.”Aku menunduk, inisiatif mencium bibirnya lebih dulu.Dia tak mendorongku.Tangannya seolah bergerak dengan sendirinya, mulai meraba punggungku yang mulus, lalu terus meluncur turun dan menyusup ke balik renda hitam yang misterius.“Dasar genit,” bisiknya sambil menggigit daun telingaku dengan suara yang sangat serak.“Sudah begitu merindukanku?”“Iya,” jawabku sambil menempelkan tubuh ke dadanya, merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang.“Rindu sampai mau mati rasanya.”“Rian, jangan buang aku.”Ada nada memohon yang terseli

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 9

    “Sini,” perintahnya.Aku tak bergerak sedikitpun.“Kenapa? Sudah merasa hebat?” ujarnya sambil mengerutkan kening.“Rian.” Aku menatap matanya langsung, untuk pertama kali memanggil namanya langsung. “Kamu mencintainya?”Dia sempat terdiam sejenak, kemudian terkekeh sinis, “Emangnya ada hubungannya denganmu?”“Kamu hanya perlu ingat satu hal, dirimu itu hanya pasienku.”“Pasien?” Aku menertawakan diriku sendiri, “Iya, aku hanya pasienmu. Pasien yang bisa dipermainkan sesuka hati dan bisa dibuang kapan saja kalau sudah bosan!”Rasa sesak dan amarah yang sudah terpendam sekian lama akhirnya meledak di detik ini.“Lalu bagaimana dengan Felly? Dia juga pasienmu? Kamu juga bakal melakukan hal-hal yang sama padanya?!” tanyaku dengan histeris, menuntut jawabannya.“Plak!”Satu tamparan keras mendarat di wajahku.Pipiku terasa sangat panas, aku bisa merasakan bau amis darah di sudut bibir.Aku sampai terbengong.Ini pertama kalinya dia main tangan denganku.“Silvia, tahu diri dan sadar posisi

  • Pengobatan Rahasia Si Perawat   Bab 8

    Aku benar-benar hancur total.Bagaikan seekor hewan lunak yang seluruh tulangnya telah dicabut, lalu perlahan melorot menyusuri dinding hingga terduduk di lantai.Aku menyerah.Di bawah kekuasaan mutlak dan hasrat mesumnya, aku sama sekali tak punya peluang untuk menang.Dengan tubuh gemetaran, aku menjulurkan ujung lidahku, lalu menjilat pelan jari yang berlumuran aroma tubuhku sendiri.Rasa asin dan sedikit manis yang khas langsung menyebar di dalam rongga mulutku.Itu rasa dari penghinaan.Rian tampak sangat puas melihat kepatuhanku.Dia menyimpan kembali ponselnya, lalu menatapku dari atas, seolah-olah sedang mengagumi sebuah karya seni yang telah berhasil dia jinakkan sepenuhnya.“Silvia, ingat baik-baik rasa ini.”“Mulai hari ini, kamu itu milikku.”….Sejak malam itu, aku resmi menjadi ‘pasien’ pribadi Rian.Dia memang tak pernah lagi menggunakan alat medis yang mengerikan itu padaku, tapi cara ‘pengobatan’ yang dia berikan terus berganti cara untuk menyiksaku.Di sela-sela wakt

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status