Share

Bab 6. Makan Malam. 

Author: Ucing Ucay
last update Huling Na-update: 2026-01-14 04:25:47

Satu jam kemudian, Benyamin kembali mengetuk pintunya.

Lia bangkit dari tempat tidur, merapikan gaun hitamnya yang tidak kusut sedikit pun, dan mengenakan kembali sepatunya. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang lebih mantap dari sebelumnya. Saat ia melangkah keluar, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai Lia Sanjaya sang guru TK. Ia adalah sebuah entitas baru. Seorang wanita yang lahir dari pengkhianatan dan ditempa oleh ambisi.

Ia dibawa menuju ruang makan yang sangat mewah, di mana sebuah meja panjang yang bisa menampung tiga puluh orang telah disiapkan hanya untuk mereka berdua. Arka sudah duduk di ujung meja, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan otot lengannya yang kuat dan jam tangan mahal yang melingkari pergelangan tangannya.

Cahaya lilin di atas meja memberikan nuansa yang sangat intim sekaligus mencekam. Arka menengadah saat Lia masuk, matanya kembali menelusuri penampilannya dengan intensitas yang sama.

"Duduklah, Nona Sanjaya," perintah Arka, menunjuk ke arah kursi yang berada tepat di sampingnya, bukan di ujung meja yang jauh.

Lia duduk, merasakan kedekatan fisik mereka lagi. Ia bisa mencium aroma Arka dengan sangat jelas sekarang. Sebuah aroma yang memabukkan sekaligus memperingatkan akan bahaya.

"Kita akan mulai dengan beberapa aturan dasar," kata Arka sambil menuangkan wine ke dalam gelas Lia. "Di rumah ini, kamu adalah milikku. Kamu tidak diizinkan berkomunikasi dengan siapa pun tanpa izinku, terutama dengan keluargamu yang korup itu. Kamu akan mengikuti jadwalku, dan kamu akan berada di mana pun aku menginginkanmu berada."

Lia mengambil gelas wine-nya, menyesapnya sedikit, lalu menatap Arka dengan tenang. "Dan apa yang saya dapatkan sebagai imbalannya? Selain keamanan makam orang tua saya?"

Arka menyeringai, mendekatkan wajahnya ke arah Lia. "Kamu mendapatkan perlindunganku. Dan percayalah, Lia ... perlindungan dari Arka Dirgantara adalah hal yang paling berharga yang bisa dimiliki oleh seseorang di kota ini. Tapi itu tidak gratis. Kamu harus membuktikan bahwa kamu sepadan dengan biaya perlindungan itu."

Lia memutar gelas wine di tangannya, memperhatikan cairan merah yang bergerak di dalamnya. "Saya rasa gaun ini sudah memberikan Anda sedikit gambaran tentang nilai saya, bukan?"

Arka menatap ke arah belahan dada Lia yang rendah, lalu kembali ke matanya. "Gaun ini hanyalah sampul, Lia. Aku lebih tertarik pada apa yang ada di baliknya. Dan aku tidak bicara soal tubuhmu. Aku bicara soal otakmu yang cerdas itu. Aku ingin tahu seberapa jauh kau berani melangkah untuk menghancurkan pamanmu."

Lia merasakan getaran aneh di hatinya. Arka tahu. Arka tahu bahwa tujuannya bukan hanya untuk menyelamatkan makam orang tuanya, tapi untuk balas dendam. Pria ini sangat intuitif.

"Saya berani melangkah sejauh yang diperlukan, Tuan Arka," jawab Lia tegas. "Bahkan jika itu berarti saya harus membakar seluruh dunia, termasuk diri saya sendiri."

Arka mengangguk perlahan, tampak puas dengan jawaban itu. "Bagus. Karena aku tidak suka hal-hal yang setengah-setengah. Mulai besok, permainan yang sesungguhnya akan dimulai. Tapi malam ini ...." Arka menjeda, tangannya bergerak menyentuh tengkuk Lia yang terbuka, jemarinya yang hangat membuat Lia merinding. "... Malam ini, aku hanya ingin menikmati persembahanku."

Lia tidak bergerak menjauh. Ia justru sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Arka, membiarkan bibir mereka hanya berjarak beberapa inci. Umpan telah dimakan sepenuhnya. Sekarang, ia hanya perlu memastikan bahwa ia tidak ikut tenggelam bersama Sang Alpha.

"Gunakan waktu Anda dengan baik, Tuan Arka," bisik Lia penuh tantangan. "Karena jaminan ini memiliki harga yang sangat mahal."

Di bawah cahaya lilin yang temaram, di dalam mansion yang sunyi, tarian antara Sang Alpha dan persembahannya memasuki tahap yang lebih dalam. Lia Sanjaya telah berhasil menggunakan kecantikannya sebagai senjata pembuka, dan sekarang, ia siap untuk menggunakan seluruh keberadaannya untuk memenangkan perang yang baru saja ia deklarasikan. Gaun hitam itu bukan lagi sekadar pakaian; itu adalah bendera perang yang berkibar di tengah wilayah musuh. Dan pertempuran ini, ia tahu, akan mengubah hidupnya selamanya.

Arka Dirgantara menatap wanita di depannya dengan rasa penasaran yang semakin besar. Ia telah menghadapi banyak musuh, banyak wanita yang mencoba menjeratnya, namun belum pernah ada yang seperti Lia. Keberaniannya, ketenangannya di bawah tekanan, dan kecerdasannya yang terpancar dari matanya membuat Arka merasa tertantang dengan cara yang baru. Baginya, Lia bukan lagi sekadar cara untuk menagih utang dari Surya Sanjaya. Lia adalah sebuah anomali yang harus ia pecahkan, sebuah teka-teki indah yang ia inginkan untuk dirinya sendiri.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 100. Topeng Dingin Arka. 

    Arka tetap tenang, ketenangannya justru terasa lebih menyakitkan daripada jika ia berteriak balik. "Uang adalah bahasa yang paling jujur di dunia ini, Lia. Dengan uang ini, aku memastikan kamu tidak butuh siapa pun selain aku. Aku membelikanmu keamanan, kenyamanan, dan eksklusivitas. Jika kamu merasa ini sebagai penghinaan, itu karena kamu masih melihat dunia dengan cara yang naif. Di duniaku, segalanya memiliki harga. Dan kamu ... kamu adalah sesuatu yang aku bayar sangat mahal agar tetap murni dan tidak tersentuh."​Lia tertawa getir, air mata mulai menggenang di sudut matanya, namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh. "Jadi itu alasannya? Kamu ingin mengingatkanku kembali bahwa aku adalah barang milikmu? Kamu mendorongku menjauh dengan tumpukan uang ini karena kamu takut, kan? Kamu takut karena semalam kamu hampir kehilangan kendali atas emosimu sendiri."​Rahang Arka mengeras mendengar kata "takut", namun ia tidak membiarkan topeng dinginnya retak. "Aku tidak pernah takut, Lia.

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 99. Formalitas yang Menyakitkan. 

    ​Langkah kaki Lia Sanjaya yang biasanya ringan kini terdengar berat dan ragu saat ia melintasi koridor panjang menuju ruang kerja utama Arka Dirgantara. Karpet tebal yang membentang di bawah kakinya seolah-olah menyedot seluruh energinya, meninggalkannya dalam kondisi emosional yang kosong. Di belakangnya, Yudha berjalan dengan jarak konstan yang menjengkelkan—tiga langkah tepat di belakang bahu kirinya—menjadi pengingat fisik bahwa kebebasannya bukan lagi miliknya. Lia bisa merasakan tatapan pria itu di punggungnya, sebuah pengawasan yang terasa seperti serangga yang merayap di kulitnya.​Ketika pintu jati ganda yang megah itu terbuka, Lia disambut oleh suhu udara yang beberapa derajat lebih dingin daripada koridor di luar. Ruang kerja Arka tampak seperti kuil kekuasaan yang sunyi. Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kaca raksasa tidak memberikan kesan hangat, melainkan menciptakan kontras yang tajam antara cahaya dan bayangan di sudut-sudut ruangan. Arka duduk di balik me

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 98. ketakutan Sang Alpha.

    ​Kesunyian di dalam ruang kerja utama Arka Dirgantara bukanlah jenis kesunyian yang membawa ketenangan, melainkan jenis kesunyian yang berat, pekat, dan tajam, seolah-olah setiap partikel udara di ruangan itu telah membeku menjadi kristal es yang siap melukai siapa pun yang berani menarik napas terlalu dalam. Di balik meja jati kuno yang luas dan gelap, Arka duduk mematung. Tubuhnya yang tegap masih terbungkus sempurna oleh setelan jas tiga lapis yang kaku, namun di balik topeng profesionalisme yang tanpa cela itu, sebuah badai sedang berkecamuk di dalam rongga dadanya. Cahaya matahari yang masuk melalui dinding kaca transparan di sampingnya kini terasa terlalu terang, terlalu jujur, memperlihatkan gurat-gurat kelelahan dan ketegangan yang biasanya ia sembunyikan dengan sangat rapi dari dunia luar.​Arka mengalihkan pandangannya ke arah monitor pengawas yang menampilkan sudut ruang makan kecil di sebelah. Di sana, ia bisa melihat Lia Sanjaya yang sedang duduk dengan bahu tegang, menus

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   bab 97. Dinding Transparan. 

    ​Suasana di dalam mansion Dirgantara pagi itu terasa sangat berbeda, seolah-olah seluruh oksigen telah dihisap keluar dan digantikan oleh gas nitrogen yang membekukan segalanya. Setelah badai emosi yang meledak di hotel—antara gairah yang menghancurkan dan tirani yang membinasakan—Lia Sanjaya terbangun di kamar barunya dengan perasaan seolah ia baru saja dipindahkan ke dimensi lain. Kamar ini bukan lagi sekadar kamar tamu yang mewah; ini adalah mahakarya arsitektur yang dirancang khusus oleh Arka untuk menjadi suaka sekaligus sel isolasi paling mutakhir. Dinding-dindingnya dilapisi kain sutra abu-abu muda yang elegan, namun di balik kelembutan itu, Lia bisa merasakan kehadiran teknologi pengawasan yang tertanam di setiap sudut.​Lia duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah pintu besar yang kini dijaga oleh dua pria berseragam hitam di luar sana. Ia menunggu Arka. Ia terbiasa dengan rutinitas Arka yang posesif, yang akan masuk tanpa mengetuk, menariknya ke dalam pelukan yang

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 96. Sangkar Emas yang Menguat. 

    ​Matahari sudah menggantung tinggi di atas langit Jakarta, namun bagi Lia Sanjaya, cahaya itu tidak membawa kehangatan, melainkan ketajaman yang menelanjangi realitas baru dalam hidupnya. Di dalam suite yang masih menyisakan aroma parfum Arka dan jejak badai semalam, Lia berdiri terpaku saat pintu ganda ruangan itu terbuka lebar. Ia mengira Arka akan masuk sendirian untuk membawanya pergi, namun yang muncul di balik daun pintu kayu jati itu adalah sebuah pemandangan yang seketika membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.​Arka berdiri di tengah, namun di belakangnya, berdiri barisan pria bersetelan jas hitam dengan postur tegap dan wajah tanpa ekspresi yang menyerupai robot. Mereka bukan lagi sekadar staf keamanan gedung atau supir yang biasa ia lihat. Mereka memiliki aura yang jauh lebih berbahaya—dingin, sigap, dan memiliki tatapan yang tidak pernah lepas dari objek tugas mereka. Ada enam orang baru, dan Lia tahu, kehadiran mereka bukan untuk menjaga hotel, melainkan untuk menjag

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 95. Jawaban Arka.

    ​Lia menelan ludah, menatap Arka dengan tatapan yang tajam sekaligus memohon. "Jika kamu bisa melakukan hal sekejam ini pada orang lain hanya karena masalah sepele ... jika kamu bisa menghancurkan hidup Adrian tanpa penyesalan hanya karena dia membuatmu kesal ... lalu bagaimana denganku?" Lia menarik napas panjang, suaranya merendah menjadi bisikan yang menghantui. "Apakah kamu akan melakukan hal yang sama padaku jika suatu hari nanti aku mengecewakanmu? Jika aku melakukan kesalahan, atau jika aku ingin pergi, apakah kamu juga akan mengaktifkan mesin penghancurmu untuk melumatku sampai tidak ada yang tersisa?"​Pertanyaan itu menggantung di udara seperti sebilah pedang yang siap jatuh. Ruangan itu seketika menjadi begitu hening hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti dentuman palu hakim. Lia menatap Arka, mencari secercah jaminan, sebuah kata-kata manis yang biasanya diberikan oleh pria yang mencintai wanitanya—janji bahwa ia tidak akan pernah menyakiti Lia, janji bahwa Li

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status