LOGINSatu jam kemudian, Benyamin kembali mengetuk pintunya.
Lia bangkit dari tempat tidur, merapikan gaun hitamnya yang tidak kusut sedikit pun, dan mengenakan kembali sepatunya. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang lebih mantap dari sebelumnya. Saat ia melangkah keluar, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai Lia Sanjaya sang guru TK. Ia adalah sebuah entitas baru. Seorang wanita yang lahir dari pengkhianatan dan ditempa oleh ambisi.
Ia dibawa menuju ruang makan yang sangat mewah, di mana sebuah meja panjang yang bisa menampung tiga puluh orang telah disiapkan hanya untuk mereka berdua. Arka sudah duduk di ujung meja, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan otot lengannya yang kuat dan jam tangan mahal yang melingkari pergelangan tangannya.
Cahaya lilin di atas meja memberikan nuansa yang sangat intim sekaligus mencekam. Arka menengadah saat Lia masuk, matanya kembali menelusuri penampilannya dengan intensitas yang sama.
"Duduklah, Nona Sanjaya," perintah Arka, menunjuk ke arah kursi yang berada tepat di sampingnya, bukan di ujung meja yang jauh.
Lia duduk, merasakan kedekatan fisik mereka lagi. Ia bisa mencium aroma Arka dengan sangat jelas sekarang. Sebuah aroma yang memabukkan sekaligus memperingatkan akan bahaya.
"Kita akan mulai dengan beberapa aturan dasar," kata Arka sambil menuangkan wine ke dalam gelas Lia. "Di rumah ini, kamu adalah milikku. Kamu tidak diizinkan berkomunikasi dengan siapa pun tanpa izinku, terutama dengan keluargamu yang korup itu. Kamu akan mengikuti jadwalku, dan kamu akan berada di mana pun aku menginginkanmu berada."
Lia mengambil gelas wine-nya, menyesapnya sedikit, lalu menatap Arka dengan tenang. "Dan apa yang saya dapatkan sebagai imbalannya? Selain keamanan makam orang tua saya?"
Arka menyeringai, mendekatkan wajahnya ke arah Lia. "Kamu mendapatkan perlindunganku. Dan percayalah, Lia ... perlindungan dari Arka Dirgantara adalah hal yang paling berharga yang bisa dimiliki oleh seseorang di kota ini. Tapi itu tidak gratis. Kamu harus membuktikan bahwa kamu sepadan dengan biaya perlindungan itu."
Lia memutar gelas wine di tangannya, memperhatikan cairan merah yang bergerak di dalamnya. "Saya rasa gaun ini sudah memberikan Anda sedikit gambaran tentang nilai saya, bukan?"
Arka menatap ke arah belahan dada Lia yang rendah, lalu kembali ke matanya. "Gaun ini hanyalah sampul, Lia. Aku lebih tertarik pada apa yang ada di baliknya. Dan aku tidak bicara soal tubuhmu. Aku bicara soal otakmu yang cerdas itu. Aku ingin tahu seberapa jauh kau berani melangkah untuk menghancurkan pamanmu."
Lia merasakan getaran aneh di hatinya. Arka tahu. Arka tahu bahwa tujuannya bukan hanya untuk menyelamatkan makam orang tuanya, tapi untuk balas dendam. Pria ini sangat intuitif.
"Saya berani melangkah sejauh yang diperlukan, Tuan Arka," jawab Lia tegas. "Bahkan jika itu berarti saya harus membakar seluruh dunia, termasuk diri saya sendiri."
Arka mengangguk perlahan, tampak puas dengan jawaban itu. "Bagus. Karena aku tidak suka hal-hal yang setengah-setengah. Mulai besok, permainan yang sesungguhnya akan dimulai. Tapi malam ini ...." Arka menjeda, tangannya bergerak menyentuh tengkuk Lia yang terbuka, jemarinya yang hangat membuat Lia merinding. "... Malam ini, aku hanya ingin menikmati persembahanku."
Lia tidak bergerak menjauh. Ia justru sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Arka, membiarkan bibir mereka hanya berjarak beberapa inci. Umpan telah dimakan sepenuhnya. Sekarang, ia hanya perlu memastikan bahwa ia tidak ikut tenggelam bersama Sang Alpha.
"Gunakan waktu Anda dengan baik, Tuan Arka," bisik Lia penuh tantangan. "Karena jaminan ini memiliki harga yang sangat mahal."
Di bawah cahaya lilin yang temaram, di dalam mansion yang sunyi, tarian antara Sang Alpha dan persembahannya memasuki tahap yang lebih dalam. Lia Sanjaya telah berhasil menggunakan kecantikannya sebagai senjata pembuka, dan sekarang, ia siap untuk menggunakan seluruh keberadaannya untuk memenangkan perang yang baru saja ia deklarasikan. Gaun hitam itu bukan lagi sekadar pakaian; itu adalah bendera perang yang berkibar di tengah wilayah musuh. Dan pertempuran ini, ia tahu, akan mengubah hidupnya selamanya.
Arka Dirgantara menatap wanita di depannya dengan rasa penasaran yang semakin besar. Ia telah menghadapi banyak musuh, banyak wanita yang mencoba menjeratnya, namun belum pernah ada yang seperti Lia. Keberaniannya, ketenangannya di bawah tekanan, dan kecerdasannya yang terpancar dari matanya membuat Arka merasa tertantang dengan cara yang baru. Baginya, Lia bukan lagi sekadar cara untuk menagih utang dari Surya Sanjaya. Lia adalah sebuah anomali yang harus ia pecahkan, sebuah teka-teki indah yang ia inginkan untuk dirinya sendiri.
Lia menarik napas tajam. "Dia bilang aku aman untuk malam ini.""Di rumah ini, keamanan adalah apa yang Tuan Arka definisikan pada detik itu juga, Nona," jawab Benyamin datar sembari memberikan isyarat ke arah tangga melingkar yang menuju ke lantai atas, sayap paling privat dari mansion tersebut.Lia tidak membantah. Ia tahu bahwa dalam permainan ini, keraguan adalah kelemahan. Ia mengikuti Benyamin melewati koridor yang lebih gelap, di mana dindingnya dilapisi panel kayu ek tua yang memancarkan aroma sejarah dan kekuasaan. Detak jantung Lia berdentum di telinganya, seirama dengan langkah sepatunya di atas karpet Persia yang tebal. Ketika mereka sampai di depan pintu kayu jati ganda yang menjulang tinggi, Benyamin berhenti dan membukanya tanpa ketukan."Masuklah," perintah pria tua itu pelan.Lia melangkah masuk, dan pintu di belakangnya tertutup dengan bunyi klik yang final. Ruang kerja itu sangat luas, dengan langit-langit setinggi dua lantai dan dinding yang sepenuhnya tertutup ole
"Makanlah," kata Arka, suaranya kini sedikit lebih lembut namun tetap memiliki nada perintah yang tak terbantahkan. "Kamu akan butuh energi untuk apa yang akan terjadi selanjutnya."Lia tersenyum misterius dan mulai menikmati hidangan mewah di depannya. Di setiap suapannya, ia merasakan kekuasaan yang mulai bergeser. Ia bukan lagi tawanan. Ia adalah tamu yang berbahaya. Dan ia akan memastikan bahwa Arka Dirgantara tidak akan pernah bisa melupakan malam di mana Lia Sanjaya masuk ke dalam hidupnya dengan mengenakan gaun pemancing yang mematikan itu.Sepanjang makan malam, percakapan mereka adalah rangkaian serangan dan pertahanan verbal yang cerdik. Arka mencoba menggali masa lalu Lia, mencoba mencari titik lemahnya, namun Lia selalu berhasil membelokkan pertanyaan itu kembali kepada Arka atau menjawabnya dengan kejujuran yang justru semakin membuat Arka terpesona. Mereka bicara tentang kekuasaan, tentang pengkhianatan, dan tentang bagaimana dunia ini hanya milik mereka yang berani meng
Satu jam kemudian, Benyamin kembali mengetuk pintunya.Lia bangkit dari tempat tidur, merapikan gaun hitamnya yang tidak kusut sedikit pun, dan mengenakan kembali sepatunya. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang lebih mantap dari sebelumnya. Saat ia melangkah keluar, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai Lia Sanjaya sang guru TK. Ia adalah sebuah entitas baru. Seorang wanita yang lahir dari pengkhianatan dan ditempa oleh ambisi.Ia dibawa menuju ruang makan yang sangat mewah, di mana sebuah meja panjang yang bisa menampung tiga puluh orang telah disiapkan hanya untuk mereka berdua. Arka sudah duduk di ujung meja, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan otot lengannya yang kuat dan jam tangan mahal yang melingkari pergelangan tangannya.Cahaya lilin di atas meja memberikan nuansa yang sangat intim sekaligus mencekam. Arka menengadah saat Lia masuk, matanya kembali menelusuri penampilannya dengan intensitas yang sama."Duduklah, Nona Sanjaya," per
"Dengarkan aku baik-baik, Nona Sanjaya," bisik Arka, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lia. Lia bisa merasakan napas hangat Arka di bibirnya. "Kamu bukan penentu cara di sini. Kamu adalah jaminan. Dan jaminan tidak memiliki hak untuk bernegosiasi. Kamu mungkin punya keberanian, dan gaun ini ... gaun ini memang melakukan tugasnya dengan sangat baik. Tapi jangan pernah berpikir sekejap pun bahwa kau memegang kendali atas apa yang akan terjadi di antara kita."Lia menatap balik ke dalam mata abu-abu Arka yang gelap. Alih-alih merasa takut oleh dominasi fisik itu, ia justru merasakan dorongan adrenalin yang luar biasa. Ia merasakan tantangan di balik kata-kata Arka. Pria ini ingin menghancurkan pertahanannya, ingin melihatnya tunduk. Dan Lia tahu, semakin ia melawan, semakin Arka akan terobsesi padanya."Kita lihat saja nanti, Tuan Arka," balas Lia pelan, hampir berupa bisikan. "Terkadang, jaminan yang paling berharga adalah jaminan yang paling sulit untuk dikuasai."Arka t
Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda besar yang terbuat dari kayu jati berukir. Benyamin mengetuk perlahan, lalu membukanya."Nona Sanjaya sudah tiba, Tuan," lapor Benyamin.Lia melangkah masuk ke dalam ruangan itu sebelum dipersilakan. Ruang kerja Arka jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan rak buku setinggi langit-langit, sementara di ujung ruangan terdapat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah sana. Arka sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela dengan segelas cairan berwarna amber di tangannya.Ruangan itu dipenuhi dengan aroma maskulin yang kuat—campuran antara tembakau mahal, kulit, dan aroma hutan setelah hujan. Aura kekuasaan di sini begitu pekat hingga Lia merasa seolah-olah ia sedang masuk ke dalam wilayah predator yang paling mematikan."Kamu boleh pergi, Benyamin," suara Arka terdengar rendah, berwibawa, dan dingin.Pintu di belakang Lia tertutup dengan bunyi
"Siapkan mobilnya sekarang," perintah Lia tanpa kompromi. "Aku tidak ingin menghabiskan satu detik pun lagi di rumah yang penuh dengan bau bangkai ini."Rina bergegas keluar untuk memanggil sopir, sementara Lia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang mantap. Ia tidak butuh waktu lama untuk berkemas. Ia hanya membawa beberapa potong pakaian sederhana dan sebuah foto kecil orang tuanya yang ia selipkan di balik saku bajunya.***Saat ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya, Lia menatap bayangannya sendiri. Ia melihat seorang wanita yang baru saja membuat kesepakatan dengan iblis untuk melindungi kehormatan orang-orang yang ia cintai. Pacing hidupnya yang tenang sebagai seorang guru TK telah berakhir dalam semalam. Kini, ia sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang lain."Ayah ... Ibu ... maafkan aku," bisiknya pada bayangan di cermin. "Aku akan menjaga nama kalian, meskipun aku harus kehilangan diriku sendiri di mansion itu."Lia keluar dari kamarnya dan menuruni tangg







