LOGIN"Dengarkan aku baik-baik, Nona Sanjaya," bisik Arka, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lia. Lia bisa merasakan napas hangat Arka di bibirnya. "Kamu bukan penentu cara di sini. Kamu adalah jaminan. Dan jaminan tidak memiliki hak untuk bernegosiasi. Kamu mungkin punya keberanian, dan gaun ini ... gaun ini memang melakukan tugasnya dengan sangat baik. Tapi jangan pernah berpikir sekejap pun bahwa kau memegang kendali atas apa yang akan terjadi di antara kita."
Lia menatap balik ke dalam mata abu-abu Arka yang gelap. Alih-alih merasa takut oleh dominasi fisik itu, ia justru merasakan dorongan adrenalin yang luar biasa. Ia merasakan tantangan di balik kata-kata Arka. Pria ini ingin menghancurkan pertahanannya, ingin melihatnya tunduk. Dan Lia tahu, semakin ia melawan, semakin Arka akan terobsesi padanya.
"Kita lihat saja nanti, Tuan Arka," balas Lia pelan, hampir berupa bisikan. "Terkadang, jaminan yang paling berharga adalah jaminan yang paling sulit untuk dikuasai."
Arka terdiam sejenak, menatap bibir Lia yang diwarnai warna plum gelap. Untuk sesaat, suasana di ruangan itu berubah menjadi sangat panas. Ketegangan seksual di antara mereka begitu nyata hingga seolah-olah udara bisa terbakar hanya dengan satu percikan kecil. Arka melepaskan cengkeramannya pada rahang Lia, namun tangannya tidak langsung turun. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Lia dengan gerakan yang menuntut, menghapus sedikit warna lipstik di sana.
"Gaun ini ...." Arka bergumam sambil menatap gaun hitam Lia lagi. "Siapa yang memilihnya?"
"Saya sendiri," jawab Lia jujur. "Karena saya ingin Anda melihat siapa yang sebenarnya sedang Anda hadapi. Bukan keponakan Surya Sanjaya yang lemah, tapi Lia Sanjaya yang akan memastikan Anda mendapatkan lebih dari yang Anda tawar."
Arka menyeringai, kali ini senyumannya terlihat sedikit lebih asli, namun tetap mengandung bahaya. Ia mundur satu langkah, memberikan Lia ruang untuk bernapas, namun tatapannya tetap mengunci keberadaan gadis itu.
"Kamu punya satu jam untuk mempersiapkan diri secara mental," kata Arka dingin. "Malam ini bukan hanya tentang perkenalan. Malam ini adalah awal dari kepatuhanmu. Dan besok, kamu akan mulai membuktikan apakah kamu memang sepadan dengan semua utang pamanmu itu."
Arka berbalik kembali ke arah jendela, mengisyaratkan bahwa pertemuan singkat ini telah berakhir. Lia tetap berdiri tegak selama beberapa detik, menatap punggung tegap pria itu. Ia tahu ia telah berhasil menarik perhatian Arka. Ia telah melempar umpannya, dan Arka telah menggigitnya, meskipun pria itu mencoba untuk menutupinya dengan kedinginan.
Lia berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja itu. Di koridor, Benyamin masih menunggunya. Lia tidak mengatakan apa-apa, ia terus berjalan menuju kamarnya dengan detak jantung yang masih menggila.
Kembali ke dalam kamarnya, Lia segera mengunci pintu. Ia menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang dingin, mencoba mengatur napasnya. Ia baru saja berhadapan dengan badai, dan ia berhasil tetap berdiri. Ia melihat tangannya yang sedikit gemetar, bukan karena ketakutan, melainkan karena kegembiraan yang berbahaya.
Ia mendekati cermin lagi. Riasan bibirnya sedikit berantakan karena usapan ibu jari Arka tadi. Lia menyentuh bibirnya sendiri, merasakan sisa-sisa panas dari kulit Arka. Arka Dirgantara adalah pria yang sangat berbahaya, jauh lebih berbahaya dari yang digambarkan oleh media. Pria itu memiliki aura yang mampu melumpuhkan siapa pun yang berada di dekatnya.
Namun, Lia juga melihat sesuatu yang lain di mata Arka tadi. Sebuah rasa lapar yang sudah lama ditekan. Arka mungkin berpikir bahwa ia adalah penguasa di sini, tapi Lia baru saja menyadari bahwa dalam permainan ini, keindahan dan kecerdasan bisa menjadi rantai yang jauh lebih kuat daripada uang dan kekuasaan.
Lia menghapus noda lipstik di bibirnya dengan ujung jarinya, lalu memperbaikinya kembali dengan presisi yang sempurna. Ia tidak akan membiarkan dirinya terlihat lemah, bahkan untuk sedetik pun. Malam ini adalah awal dari "perang" yang ia pilih sendiri. Ia akan menggunakan setiap inci dari kecantikannya, setiap sel dari otaknya, untuk memastikan bahwa pada akhirnya, Arka Dirgantara-lah yang akan memohon kepadanya.
Lia menarik napas tajam. "Dia bilang aku aman untuk malam ini.""Di rumah ini, keamanan adalah apa yang Tuan Arka definisikan pada detik itu juga, Nona," jawab Benyamin datar sembari memberikan isyarat ke arah tangga melingkar yang menuju ke lantai atas, sayap paling privat dari mansion tersebut.Lia tidak membantah. Ia tahu bahwa dalam permainan ini, keraguan adalah kelemahan. Ia mengikuti Benyamin melewati koridor yang lebih gelap, di mana dindingnya dilapisi panel kayu ek tua yang memancarkan aroma sejarah dan kekuasaan. Detak jantung Lia berdentum di telinganya, seirama dengan langkah sepatunya di atas karpet Persia yang tebal. Ketika mereka sampai di depan pintu kayu jati ganda yang menjulang tinggi, Benyamin berhenti dan membukanya tanpa ketukan."Masuklah," perintah pria tua itu pelan.Lia melangkah masuk, dan pintu di belakangnya tertutup dengan bunyi klik yang final. Ruang kerja itu sangat luas, dengan langit-langit setinggi dua lantai dan dinding yang sepenuhnya tertutup ole
"Makanlah," kata Arka, suaranya kini sedikit lebih lembut namun tetap memiliki nada perintah yang tak terbantahkan. "Kamu akan butuh energi untuk apa yang akan terjadi selanjutnya."Lia tersenyum misterius dan mulai menikmati hidangan mewah di depannya. Di setiap suapannya, ia merasakan kekuasaan yang mulai bergeser. Ia bukan lagi tawanan. Ia adalah tamu yang berbahaya. Dan ia akan memastikan bahwa Arka Dirgantara tidak akan pernah bisa melupakan malam di mana Lia Sanjaya masuk ke dalam hidupnya dengan mengenakan gaun pemancing yang mematikan itu.Sepanjang makan malam, percakapan mereka adalah rangkaian serangan dan pertahanan verbal yang cerdik. Arka mencoba menggali masa lalu Lia, mencoba mencari titik lemahnya, namun Lia selalu berhasil membelokkan pertanyaan itu kembali kepada Arka atau menjawabnya dengan kejujuran yang justru semakin membuat Arka terpesona. Mereka bicara tentang kekuasaan, tentang pengkhianatan, dan tentang bagaimana dunia ini hanya milik mereka yang berani meng
Satu jam kemudian, Benyamin kembali mengetuk pintunya.Lia bangkit dari tempat tidur, merapikan gaun hitamnya yang tidak kusut sedikit pun, dan mengenakan kembali sepatunya. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang lebih mantap dari sebelumnya. Saat ia melangkah keluar, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai Lia Sanjaya sang guru TK. Ia adalah sebuah entitas baru. Seorang wanita yang lahir dari pengkhianatan dan ditempa oleh ambisi.Ia dibawa menuju ruang makan yang sangat mewah, di mana sebuah meja panjang yang bisa menampung tiga puluh orang telah disiapkan hanya untuk mereka berdua. Arka sudah duduk di ujung meja, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan otot lengannya yang kuat dan jam tangan mahal yang melingkari pergelangan tangannya.Cahaya lilin di atas meja memberikan nuansa yang sangat intim sekaligus mencekam. Arka menengadah saat Lia masuk, matanya kembali menelusuri penampilannya dengan intensitas yang sama."Duduklah, Nona Sanjaya," per
"Dengarkan aku baik-baik, Nona Sanjaya," bisik Arka, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lia. Lia bisa merasakan napas hangat Arka di bibirnya. "Kamu bukan penentu cara di sini. Kamu adalah jaminan. Dan jaminan tidak memiliki hak untuk bernegosiasi. Kamu mungkin punya keberanian, dan gaun ini ... gaun ini memang melakukan tugasnya dengan sangat baik. Tapi jangan pernah berpikir sekejap pun bahwa kau memegang kendali atas apa yang akan terjadi di antara kita."Lia menatap balik ke dalam mata abu-abu Arka yang gelap. Alih-alih merasa takut oleh dominasi fisik itu, ia justru merasakan dorongan adrenalin yang luar biasa. Ia merasakan tantangan di balik kata-kata Arka. Pria ini ingin menghancurkan pertahanannya, ingin melihatnya tunduk. Dan Lia tahu, semakin ia melawan, semakin Arka akan terobsesi padanya."Kita lihat saja nanti, Tuan Arka," balas Lia pelan, hampir berupa bisikan. "Terkadang, jaminan yang paling berharga adalah jaminan yang paling sulit untuk dikuasai."Arka t
Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda besar yang terbuat dari kayu jati berukir. Benyamin mengetuk perlahan, lalu membukanya."Nona Sanjaya sudah tiba, Tuan," lapor Benyamin.Lia melangkah masuk ke dalam ruangan itu sebelum dipersilakan. Ruang kerja Arka jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan rak buku setinggi langit-langit, sementara di ujung ruangan terdapat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah sana. Arka sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela dengan segelas cairan berwarna amber di tangannya.Ruangan itu dipenuhi dengan aroma maskulin yang kuat—campuran antara tembakau mahal, kulit, dan aroma hutan setelah hujan. Aura kekuasaan di sini begitu pekat hingga Lia merasa seolah-olah ia sedang masuk ke dalam wilayah predator yang paling mematikan."Kamu boleh pergi, Benyamin," suara Arka terdengar rendah, berwibawa, dan dingin.Pintu di belakang Lia tertutup dengan bunyi
"Siapkan mobilnya sekarang," perintah Lia tanpa kompromi. "Aku tidak ingin menghabiskan satu detik pun lagi di rumah yang penuh dengan bau bangkai ini."Rina bergegas keluar untuk memanggil sopir, sementara Lia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang mantap. Ia tidak butuh waktu lama untuk berkemas. Ia hanya membawa beberapa potong pakaian sederhana dan sebuah foto kecil orang tuanya yang ia selipkan di balik saku bajunya.***Saat ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya, Lia menatap bayangannya sendiri. Ia melihat seorang wanita yang baru saja membuat kesepakatan dengan iblis untuk melindungi kehormatan orang-orang yang ia cintai. Pacing hidupnya yang tenang sebagai seorang guru TK telah berakhir dalam semalam. Kini, ia sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang lain."Ayah ... Ibu ... maafkan aku," bisiknya pada bayangan di cermin. "Aku akan menjaga nama kalian, meskipun aku harus kehilangan diriku sendiri di mansion itu."Lia keluar dari kamarnya dan menuruni tangg







