Share

Bab 5. Hanya Jaminan. 

Author: Ucing Ucay
last update Huling Na-update: 2025-10-28 08:10:21

"Dengarkan aku baik-baik, Nona Sanjaya," bisik Arka, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lia. Lia bisa merasakan napas hangat Arka di bibirnya. "Kamu bukan penentu cara di sini. Kamu adalah jaminan. Dan jaminan tidak memiliki hak untuk bernegosiasi. Kamu mungkin punya keberanian, dan gaun ini ... gaun ini memang melakukan tugasnya dengan sangat baik. Tapi jangan pernah berpikir sekejap pun bahwa kau memegang kendali atas apa yang akan terjadi di antara kita."

Lia menatap balik ke dalam mata abu-abu Arka yang gelap. Alih-alih merasa takut oleh dominasi fisik itu, ia justru merasakan dorongan adrenalin yang luar biasa. Ia merasakan tantangan di balik kata-kata Arka. Pria ini ingin menghancurkan pertahanannya, ingin melihatnya tunduk. Dan Lia tahu, semakin ia melawan, semakin Arka akan terobsesi padanya.

"Kita lihat saja nanti, Tuan Arka," balas Lia pelan, hampir berupa bisikan. "Terkadang, jaminan yang paling berharga adalah jaminan yang paling sulit untuk dikuasai."

Arka terdiam sejenak, menatap bibir Lia yang diwarnai warna plum gelap. Untuk sesaat, suasana di ruangan itu berubah menjadi sangat panas. Ketegangan seksual di antara mereka begitu nyata hingga seolah-olah udara bisa terbakar hanya dengan satu percikan kecil. Arka melepaskan cengkeramannya pada rahang Lia, namun tangannya tidak langsung turun. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Lia dengan gerakan yang menuntut, menghapus sedikit warna lipstik di sana.

"Gaun ini ...." Arka bergumam sambil menatap gaun hitam Lia lagi. "Siapa yang memilihnya?"

"Saya sendiri," jawab Lia jujur. "Karena saya ingin Anda melihat siapa yang sebenarnya sedang Anda hadapi. Bukan keponakan Surya Sanjaya yang lemah, tapi Lia Sanjaya yang akan memastikan Anda mendapatkan lebih dari yang Anda tawar."

Arka menyeringai, kali ini senyumannya terlihat sedikit lebih asli, namun tetap mengandung bahaya. Ia mundur satu langkah, memberikan Lia ruang untuk bernapas, namun tatapannya tetap mengunci keberadaan gadis itu.

"Kamu punya satu jam untuk mempersiapkan diri secara mental," kata Arka dingin. "Malam ini bukan hanya tentang perkenalan. Malam ini adalah awal dari kepatuhanmu. Dan besok, kamu akan mulai membuktikan apakah kamu memang sepadan dengan semua utang pamanmu itu."

Arka berbalik kembali ke arah jendela, mengisyaratkan bahwa pertemuan singkat ini telah berakhir. Lia tetap berdiri tegak selama beberapa detik, menatap punggung tegap pria itu. Ia tahu ia telah berhasil menarik perhatian Arka. Ia telah melempar umpannya, dan Arka telah menggigitnya, meskipun pria itu mencoba untuk menutupinya dengan kedinginan.

Lia berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja itu. Di koridor, Benyamin masih menunggunya. Lia tidak mengatakan apa-apa, ia terus berjalan menuju kamarnya dengan detak jantung yang masih menggila.

Kembali ke dalam kamarnya, Lia segera mengunci pintu. Ia menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang dingin, mencoba mengatur napasnya. Ia baru saja berhadapan dengan badai, dan ia berhasil tetap berdiri. Ia melihat tangannya yang sedikit gemetar, bukan karena ketakutan, melainkan karena kegembiraan yang berbahaya.

Ia mendekati cermin lagi. Riasan bibirnya sedikit berantakan karena usapan ibu jari Arka tadi. Lia menyentuh bibirnya sendiri, merasakan sisa-sisa panas dari kulit Arka. Arka Dirgantara adalah pria yang sangat berbahaya, jauh lebih berbahaya dari yang digambarkan oleh media. Pria itu memiliki aura yang mampu melumpuhkan siapa pun yang berada di dekatnya.

Namun, Lia juga melihat sesuatu yang lain di mata Arka tadi. Sebuah rasa lapar yang sudah lama ditekan. Arka mungkin berpikir bahwa ia adalah penguasa di sini, tapi Lia baru saja menyadari bahwa dalam permainan ini, keindahan dan kecerdasan bisa menjadi rantai yang jauh lebih kuat daripada uang dan kekuasaan.

Lia menghapus noda lipstik di bibirnya dengan ujung jarinya, lalu memperbaikinya kembali dengan presisi yang sempurna. Ia tidak akan membiarkan dirinya terlihat lemah, bahkan untuk sedetik pun. Malam ini adalah awal dari "perang" yang ia pilih sendiri. Ia akan menggunakan setiap inci dari kecantikannya, setiap sel dari otaknya, untuk memastikan bahwa pada akhirnya, Arka Dirgantara-lah yang akan memohon kepadanya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 100. Topeng Dingin Arka. 

    Arka tetap tenang, ketenangannya justru terasa lebih menyakitkan daripada jika ia berteriak balik. "Uang adalah bahasa yang paling jujur di dunia ini, Lia. Dengan uang ini, aku memastikan kamu tidak butuh siapa pun selain aku. Aku membelikanmu keamanan, kenyamanan, dan eksklusivitas. Jika kamu merasa ini sebagai penghinaan, itu karena kamu masih melihat dunia dengan cara yang naif. Di duniaku, segalanya memiliki harga. Dan kamu ... kamu adalah sesuatu yang aku bayar sangat mahal agar tetap murni dan tidak tersentuh."​Lia tertawa getir, air mata mulai menggenang di sudut matanya, namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh. "Jadi itu alasannya? Kamu ingin mengingatkanku kembali bahwa aku adalah barang milikmu? Kamu mendorongku menjauh dengan tumpukan uang ini karena kamu takut, kan? Kamu takut karena semalam kamu hampir kehilangan kendali atas emosimu sendiri."​Rahang Arka mengeras mendengar kata "takut", namun ia tidak membiarkan topeng dinginnya retak. "Aku tidak pernah takut, Lia.

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 99. Formalitas yang Menyakitkan. 

    ​Langkah kaki Lia Sanjaya yang biasanya ringan kini terdengar berat dan ragu saat ia melintasi koridor panjang menuju ruang kerja utama Arka Dirgantara. Karpet tebal yang membentang di bawah kakinya seolah-olah menyedot seluruh energinya, meninggalkannya dalam kondisi emosional yang kosong. Di belakangnya, Yudha berjalan dengan jarak konstan yang menjengkelkan—tiga langkah tepat di belakang bahu kirinya—menjadi pengingat fisik bahwa kebebasannya bukan lagi miliknya. Lia bisa merasakan tatapan pria itu di punggungnya, sebuah pengawasan yang terasa seperti serangga yang merayap di kulitnya.​Ketika pintu jati ganda yang megah itu terbuka, Lia disambut oleh suhu udara yang beberapa derajat lebih dingin daripada koridor di luar. Ruang kerja Arka tampak seperti kuil kekuasaan yang sunyi. Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kaca raksasa tidak memberikan kesan hangat, melainkan menciptakan kontras yang tajam antara cahaya dan bayangan di sudut-sudut ruangan. Arka duduk di balik me

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 98. ketakutan Sang Alpha.

    ​Kesunyian di dalam ruang kerja utama Arka Dirgantara bukanlah jenis kesunyian yang membawa ketenangan, melainkan jenis kesunyian yang berat, pekat, dan tajam, seolah-olah setiap partikel udara di ruangan itu telah membeku menjadi kristal es yang siap melukai siapa pun yang berani menarik napas terlalu dalam. Di balik meja jati kuno yang luas dan gelap, Arka duduk mematung. Tubuhnya yang tegap masih terbungkus sempurna oleh setelan jas tiga lapis yang kaku, namun di balik topeng profesionalisme yang tanpa cela itu, sebuah badai sedang berkecamuk di dalam rongga dadanya. Cahaya matahari yang masuk melalui dinding kaca transparan di sampingnya kini terasa terlalu terang, terlalu jujur, memperlihatkan gurat-gurat kelelahan dan ketegangan yang biasanya ia sembunyikan dengan sangat rapi dari dunia luar.​Arka mengalihkan pandangannya ke arah monitor pengawas yang menampilkan sudut ruang makan kecil di sebelah. Di sana, ia bisa melihat Lia Sanjaya yang sedang duduk dengan bahu tegang, menus

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   bab 97. Dinding Transparan. 

    ​Suasana di dalam mansion Dirgantara pagi itu terasa sangat berbeda, seolah-olah seluruh oksigen telah dihisap keluar dan digantikan oleh gas nitrogen yang membekukan segalanya. Setelah badai emosi yang meledak di hotel—antara gairah yang menghancurkan dan tirani yang membinasakan—Lia Sanjaya terbangun di kamar barunya dengan perasaan seolah ia baru saja dipindahkan ke dimensi lain. Kamar ini bukan lagi sekadar kamar tamu yang mewah; ini adalah mahakarya arsitektur yang dirancang khusus oleh Arka untuk menjadi suaka sekaligus sel isolasi paling mutakhir. Dinding-dindingnya dilapisi kain sutra abu-abu muda yang elegan, namun di balik kelembutan itu, Lia bisa merasakan kehadiran teknologi pengawasan yang tertanam di setiap sudut.​Lia duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah pintu besar yang kini dijaga oleh dua pria berseragam hitam di luar sana. Ia menunggu Arka. Ia terbiasa dengan rutinitas Arka yang posesif, yang akan masuk tanpa mengetuk, menariknya ke dalam pelukan yang

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 96. Sangkar Emas yang Menguat. 

    ​Matahari sudah menggantung tinggi di atas langit Jakarta, namun bagi Lia Sanjaya, cahaya itu tidak membawa kehangatan, melainkan ketajaman yang menelanjangi realitas baru dalam hidupnya. Di dalam suite yang masih menyisakan aroma parfum Arka dan jejak badai semalam, Lia berdiri terpaku saat pintu ganda ruangan itu terbuka lebar. Ia mengira Arka akan masuk sendirian untuk membawanya pergi, namun yang muncul di balik daun pintu kayu jati itu adalah sebuah pemandangan yang seketika membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.​Arka berdiri di tengah, namun di belakangnya, berdiri barisan pria bersetelan jas hitam dengan postur tegap dan wajah tanpa ekspresi yang menyerupai robot. Mereka bukan lagi sekadar staf keamanan gedung atau supir yang biasa ia lihat. Mereka memiliki aura yang jauh lebih berbahaya—dingin, sigap, dan memiliki tatapan yang tidak pernah lepas dari objek tugas mereka. Ada enam orang baru, dan Lia tahu, kehadiran mereka bukan untuk menjaga hotel, melainkan untuk menjag

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 95. Jawaban Arka.

    ​Lia menelan ludah, menatap Arka dengan tatapan yang tajam sekaligus memohon. "Jika kamu bisa melakukan hal sekejam ini pada orang lain hanya karena masalah sepele ... jika kamu bisa menghancurkan hidup Adrian tanpa penyesalan hanya karena dia membuatmu kesal ... lalu bagaimana denganku?" Lia menarik napas panjang, suaranya merendah menjadi bisikan yang menghantui. "Apakah kamu akan melakukan hal yang sama padaku jika suatu hari nanti aku mengecewakanmu? Jika aku melakukan kesalahan, atau jika aku ingin pergi, apakah kamu juga akan mengaktifkan mesin penghancurmu untuk melumatku sampai tidak ada yang tersisa?"​Pertanyaan itu menggantung di udara seperti sebilah pedang yang siap jatuh. Ruangan itu seketika menjadi begitu hening hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti dentuman palu hakim. Lia menatap Arka, mencari secercah jaminan, sebuah kata-kata manis yang biasanya diberikan oleh pria yang mencintai wanitanya—janji bahwa ia tidak akan pernah menyakiti Lia, janji bahwa Li

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status