MasukSinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui dinding kaca setinggi plafon di kantor pusat Sanjaya Property tidak mampu mengusir rasa jenuh yang mulai menggerogoti benak Lia. Ia duduk di balik meja kerjanya yang luas, dikelilingi oleh tumpukan laporan analisis pasar, draf amandemen kontrak, dan jadwal pertemuan yang tampak seperti barisan semut tanpa akhir. Meskipun kemenangan besar kemarin masih menyisakan kehangatan di dadanya, rutinitas administratif pagi ini terasa seperti belenggu yang membosankan. Lia menyandarkan punggungnya pada kursi kulit ergonomisnya, memutar pulpen emas di jemarinya dengan gerakan ritmis yang mencerminkan ketidaksabaran. Ia menatap layar tabletnya yang berkedip menampilkan grafik pertumbuhan saham, namun pikirannya justru melayang kembali ke jejak lipstik merah yang ia tinggalkan di meja Arka kemarin sore.Ada dorongan liar yang tiba-tiba muncul di benak Lia, sebuah keinginan untuk merusak ketenangan profesional yang selalu dijaga ketat oleh Arka Dirg
Langkah kaki Lia yang mengenakan hak tinggi berdentum pelan namun pasti di atas lantai marmer, menciptakan irama yang kontras dengan keheningan sisa-sisa badai emosi yang baru saja mereda di dalam ruangan itu. Ia berhenti sejenak di dekat ambang pintu, menoleh ke arah meja kerja Arka yang besar, sebuah monumen kekuasaan yang baru saja menjadi saksi bisu dari penyatuan mereka yang paling liar. Cahaya lampu ruangan yang terpantul pada permukaan kayu ebony yang gelap seolah masih menyimpan panas dari gesekan tubuh mereka. Arka masih berdiri di sana, membelakangi meja sambil merapikan simpul dasinya di depan dinding kaca yang menampilkan kerlip lampu kota Jakarta yang mulai menyala di bawah langit senja. Bahu pria itu tampak tegap, namun ada sedikit getaran sisa adrenalin yang masih terlihat dari cara jemarinya yang panjang bergerak lincah menata kerah kemeja putihnya yang tadi sempat ditarik paksa oleh tangan Lia.Lia tidak segera keluar. Ia merasakan semacam dorongan nakal yang muncul
Udara di dalam ruang rapat yang luas itu perlahan mendingin seiring dengan detak jantung Arka dan Lia yang mulai kembali ke ritme normal, namun aroma gairah yang pekat masih tertinggal, terjebak di antara panel kayu jati dan langit-langit kristal yang tinggi. Arka berdiri di samping meja eksekutif, jemarinya yang panjang bergerak dengan ketangkasan yang kontras dengan kekacauan yang baru saja ia ciptakan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur oksigen yang masuk ke paru-parunya setelah sesi quickie yang menguras seluruh tenaganya. Di depannya, Lia masih duduk di tepi meja dengan napas yang sesekali masih tersendak, membiarkan kakinya menjuntai lemas seolah tulang-tulangnya baru saja mencair di bawah dominasi Arka.Lia meraih blus sutranya yang tersampir secara sembarangan di sandaran kursi, lalu mulai memasukkan lengannya dengan gerakan yang masih sedikit gemetar. Ia melirik tumpukan dokumen kontrak di bawahnya yang kini sudah tidak lagi memiliki bentuk yang rapi; kertas-ker
Sisa napas yang masih tersengal dari perayaan liar sebelumnya belum sepenuhnya kembali normal, namun detak jam di dinding ruangan seolah menjadi pengingat yang kejam bahwa waktu satu jam yang diperintahkan Arka kepada Benyamin terus menyusut. Arka masih berada di atas tubuh Lia, menumpu berat badannya pada kedua siku agar tidak sepenuhnya menindih wanita itu di atas meja yang kini berantakan. Namun, alih-alih mereda, hawa panas di antara mereka justru kembali memercik saat mata mereka bertemu. Ada semacam kegilaan yang belum tuntas, sebuah residu adrenalin dari kemenangan bisnis dan penyatuan fisik yang menuntut babak tambahan yang lebih cepat, lebih mendesak, dan lebih menuntut.Arka melirik jam tangannya yang tergeletak di atas tumpukan dokumen yang sudah tidak berbentuk lagi di sudut meja. Waktu mereka hanya tinggal lima belas menit sebelum pintu itu secara resmi harus dibuka dan mereka harus kembali menjadi sosok CEO dan Komisaris yang dingin. Namun, melihat bibir Lia yang bengk
Suara detak jam dinding di ruang rapat yang luas itu seolah tenggelam oleh deru napas Arka yang semakin berat dan memburu. Di bawah temaram lampu kristal yang sengaja diredupkan, pemandangan di atas meja eksekutif kayu ebony itu tampak seperti sebuah lukisan gairah yang profan. Arka tidak lagi memberikan ruang bagi Lia untuk sekadar menghirup udara dengan tenang. Ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Lia, menekannya ke atas permukaan meja yang dingin, menciptakan kontras yang menyakitkan sekaligus nikmat dengan panas tubuhnya yang merangsek maju. Di bawah punggung Lia, tumpukan dokumen kontrak pembangunan pelabuhan nasional yang bernilai triliunan rupiah bergemisik, teremas dan teracak-acak oleh gerakan tubuh mereka yang tidak sabar. Kertas-kertas yang tadinya melambangkan kekuasaan korporat kini hanya menjadi alas bagi sebuah penaklukan yang jauh lebih primitif."Kamu ingin perayaan, Lia? Ini adalah perayaan yang pantas untuk wanita yang baru saja mengguncang bursa saham," bisik
Gema suara langkah kaki para investor dan pejabat kementerian perlahan memudar di sepanjang lorong koridor eksekutif, menyisakan keheningan yang justru terasa lebih berisik di dalam ruang rapat utama Dirgantara Group. Arka Dirgantara masih berdiri di dekat pintu besar yang terbuat dari kayu jati berlapis perunggu, tangannya mencengkeram gagang pintu dengan sisa ketegangan yang belum tuntas. Ia menekan tombol interkom kecil yang tersembunyi di balik panel kayu dinding dengan gerakan yang tegas. Matanya tidak lepas dari sosok Lia yang masih duduk di salah satu kursi kulit, tampak tenang namun memiliki kilatan provokatif yang sangat jelas di matanya."Benyamin," suara Arka terdengar sangat rendah, hampir seperti geraman yang ditekan. "Pastikan radius sepuluh meter dari ruangan ini steril. Jangan biarkan siapa pun mendekat, apa pun alasannya. Batalkan semua agenda untuk satu jam ke depan. Jika ada telepon masuk, biarkan berdering sampai mesin penjawab mengambil alih. Apakah kamu mengert
Matahari sudah menggantung tinggi di atas langit Jakarta, namun bagi Lia Sanjaya, cahaya itu tidak membawa kehangatan, melainkan ketajaman yang menelanjangi realitas baru dalam hidupnya. Di dalam suite yang masih menyisakan aroma parfum Arka dan jejak badai semalam, Lia berdiri terpaku saat pintu
Lia menelan ludah, menatap Arka dengan tatapan yang tajam sekaligus memohon. "Jika kamu bisa melakukan hal sekejam ini pada orang lain hanya karena masalah sepele ... jika kamu bisa menghancurkan hidup Adrian tanpa penyesalan hanya karena dia membuatmu kesal ... lalu bagaimana denganku?" Lia menar
Keheningan yang menyusul pernyataan Arka tentang perlindungan mutlak itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada suara ledakan berita di televisi tadi. Di dalam kamar mewah yang menjadi saksi bisu penaklukan semalam, Lia Sanjaya merasa seolah-olah dinding-dinding marmer di sekelilingnya perlahan me
Lia berjalan ke arah meja rias, menatap produk-produk perawatan kulit mahal yang telah disiapkan Arka untuknya. Semuanya bermerek Dirgantara atau mitra eksklusifnya. Tidak ada satu pun hal di hidupnya sekarang yang tidak memiliki sidik jari Arka di dalamnya. Ia meraih sebuah botol parfum, menghiru







