LOGINLampu neon di koridor lantai khusus VIP Rumah Sakit Medika Utama berpendar putih pucat, memantul pada lantai granit yang mengkilap dan menciptakan suasana steril yang mencekam. Keheningan di tempat ini berbeda dengan keheningan di kantor Dirgantara Group; di sini, sunyi terasa seperti sebuah ancaman, sebuah pengingat bahwa hidup dan mati hanya dibatasi oleh sekat-sekat kaca dan suara ritmis mesin pemantau jantung. Arka berdiri mematung di depan pintu kayu jati kokoh yang memisahkan dirinya dengan Lia. Ia masih mengenakan kemeja biru navy dari kantor tadi, namun kini kain mahal itu tampak menyedihkan—kusut, basah oleh keringat, dan beberapa kancing teratasnya terbuka seolah-olah Arka sedang mencoba merampas oksigen lebih banyak untuk paru-parunya yang terasa menyempit.Arka mulai melangkah. Satu, dua, tiga langkah ke kanan, lalu berbalik. Satu, dua, tiga langkah ke kiri. Gerakannya persis seperti predator yang terkurung dalam kandang besi, gelisah dan berbahaya. Setiap kali ia melewa
Dunia seolah berhenti berputar di dalam ruang rapat utama Dirgantara Group, namun bagi Arka, segalanya justru bergerak dalam kecepatan yang mengerikan. Gema ancamannya terhadap Surya masih bergetar di udara, namun ia tidak menunggu jawaban atau reaksi apa pun dari para direksi yang membatu. Arka mendekap tubuh Lia dengan kekuatan yang menghancurkan, seolah-olah dekapan lengannya bisa menjadi perisai yang menahan nyawa wanita itu agar tidak menguap keluar. Kepala Lia terkulai di lekuk leher Arka, helai rambutnya yang berantakan menutupi wajah pucat pasi yang kini terasa membara seperti bara api saat bersentuhan dengan kulit Arka. Panas tubuh Lia merambat menembus kemeja Arka, mengirimkan sinyal bahaya yang langsung memicu insting purba di dalam dadanya—insting untuk melindungi, insting untuk menyelamatkan, dan rasa takut yang belum pernah ia rasakan bahkan saat perusahaan ini berada di ambang kebangkrutan bertahun-tahun silam.Arka melangkah keluar dari ruang rapat dengan sentakan ka
Langkah kaki Lia Sanjaya yang terbalut sepatu hak tinggi berwarna senada dengan blazernya terdengar mantap di koridor menuju ruang rapat utama Dirgantara Group, meski setiap ketukannya memantul di dalam kepalanya seperti dentuman palu yang bertalu-talu. Lorong yang biasanya terasa megah dan luas itu kini seolah-olah menyempit, dinding-dindingnya yang dilapisi panel kayu ek mahal tampak bergerak-gerak di pinggiran penglihatannya. Lia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya dengan oksigen yang terasa semakin tipis, berusaha keras mengabaikan rasa dingin yang mulai merayap di ujung-ujung jarinya. Ia tahu suhu tubuhnya sedang tidak normal; ada rasa panas yang membakar di balik kulit lehernya, namun keringat yang keluar justru terasa sedingin es.Di belakangnya, Arka melangkah dengan kewibawaan yang menyesakkan. Pria itu tidak melepaskan pandangannya dari punggung Lia. Arka bisa melihat bagaimana otot bahu Lia menegang, bagaimana cara wanita itu menggenggam map dokumen de
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kamar utama mansion Dirgantara terasa seperti sembilu yang menyayat kelopak mata Lia Sanjaya. Ketika ia perlahan membuka mata, hal pertama yang ia rasakan bukanlah kehangatan sisa pelukan Arka semalam, melainkan sebuah denyutan hebat di pangkal tengkoraknya yang seolah-olah sedang dipukul oleh palu godam secara ritmis. Ruangan itu sudah sepi; sisi ranjang di sebelahnya telah mendingin, menandakan bahwa sang penguasa Dirgantara Group sudah bangun jauh lebih awal untuk kembali menjadi mesin bisnis yang tak kenal lelah. Namun, aroma maskulin yang bercampur dengan sisa gairah semalam masih tertinggal di bantal sutra itu, menjadi pengingat bisu tentang bagaimana ego Arka akhirnya runtuh dalam pengakuan-pengakuan parau yang hampir menyerupai cinta.Lia mencoba bangkit, namun dunianya tiba-tiba berputar. Rasa mual naik ke tenggorokannya, memaksa ia untuk kembali membenamkan wajahnya di bantal selama beberapa detik. Tubuhnya terasa sangat berat
Hening yang menyelimuti kamar utama mansion Dirgantara terasa begitu tebal, seolah-olah waktu telah berhenti berdetak tepat setelah badai gairah dan air mata itu mereda. Cahaya rembulan yang masuk melalui celah gorden perak memberikan siluet dramatis pada dua tubuh yang masih terjalin erat di atas ranjang yang kini berantakan. Seprai sutra yang tadinya rapi kini melilit tubuh mereka, saksi bisu dari pergulatan emosi yang baru saja menghancurkan tembok-tembok ego yang selama ini dibangun dengan begitu angkuh. Arka masih mendekap Lia, membiarkan kulit mereka yang masih lembap oleh peluh saling bersentuhan, merasakan detak jantung satu sama lain yang perlahan mulai kembali ke ritme normalnya.Arka tidak bergerak sedikit pun. Tangannya yang kokoh melingkar di pinggang Lia, sementara wajahnya terbenam di antara helaian rambut Lia yang tersebar di bantal. Ia menghirup dalam-dalam aroma vanila yang bercampur dengan aroma tubuhnya sendiri, sebuah kombinasi yang kini telah menjadi candu yang
Sisa-sisa napas yang memburu masih menggantung di udara kamar yang pengap oleh aroma gairah, keringat, dan sisa kejujuran yang brutal. Arka Dirgantara masih menindih tubuh Lia, jantungnya berdegup kencang menghantam dada wanita itu, seolah-olah detak jantung mereka sedang mencoba beradu dalam satu irama yang sama. Namun, ada yang berbeda setelah ledakan puncak tadi. Tidak ada penarikan diri yang kasar, tidak ada langkah kaki yang terburu-buru menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan kembali mengenakan topeng kedinginan. Arka tetap di sana, membenamkan wajahnya di ceruk leher Lia, membiarkan peluh mereka menyatu di atas seprai sutra yang kini berantakan.Lia merasakan kehangatan yang tidak biasa menjalar dari tubuh Arka. Pria ini, yang biasanya berdiri tegak laksana menara gading yang tak tersentuh, kini terasa begitu berat dan pasrah di atasnya. Saat Arka perlahan mengangkat kepalanya, Lia tertegun. Mata elang yang biasanya berkilat tajam itu kini meredup, dilapisi selapis air







