Home / Pendekar / Penguasa Pedang / 4 Liontin Bereaksi

Share

4 Liontin Bereaksi

Author: Lembean
last update publish date: 2026-03-19 12:38:58

Liontin di dadanya bergetar.

Bukan getaran biasa. Bukan getaran yang disebabkan oleh angin atau gerakan tubuhnya yang jatuh. Getaran ini berasal dari dalam liontin itu sendiri, seolah sesuatu yang selama ini tertidur di dalamnya tiba-tiba terbangun oleh teriakan Lin Xuan.

Cahaya putih keperakan menyembur dari liontin itu, begitu terang hingga menembus kabut di sekitarnya. Lin Xuan memandang dengan mata terbelalak saat liontin itu perlahan kehilangan bentuk padatnya, melebur menjadi cahaya murni yang kemudian meresap masuk ke dalam dadanya.

Liontin itu menghilang.

Cahaya keperakan itu menyebar ke seluruh tubuhnya, memenuhi setiap pembuluh darahnya, setiap sel tubuhnya, setiap sudut keberadaannya. Rasa panas dari Buah Dewa yang masih mengalir di dalam tubuhnya bertemu dengan cahaya keperakan dari liontin, dan keduanya berpadu, saling memperkuat, menciptakan energi yang belum pernah dirasakan oleh Lin Xuan seumur hidupnya.

Dan energi itu membentuk perisai.

Saat tubuhnya akhirnya menghantam dasar jurang, benturan yang seharusnya meremukkan setiap tulang di tubuhnya ternyata ditahan oleh lapisan cahaya keperakan yang menyelubunginya. Rasa sakit tetap ada, menyebar dari punggungnya ke seluruh tubuhnya seperti gelombang yang menghantam pantai. Tapi tulang-tulangnya tidak patah. Organ-organnya tidak hancur. Dia masih hidup.

Lin Xuan terbaring di dasar jurang, menatap cahaya redup yang menerobos kabut jauh di atas sana. Tubuhnya sakit. Seluruh tubuhnya terasa seperti habis digilas oleh batu raksasa. Tapi dia bernapas. Jantungnya berdetak. Dia masih hidup.

Butuh beberapa menit sebelum dia bisa menggerakkan tubuhnya. Perlahan, dengan gerakan yang menyakitkan, dia memaksakan dirinya duduk. Tangannya langsung meraba dadanya, mencari liontin yang selama ini selalu ada di sana.

Jari-jarinya hanya menemukan kulit dan kain.

Liontin itu benar-benar sudah menghilang.

Tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang baru. Sensasi aneh di dalam dadanya, seperti denyutan kedua di samping detak jantungnya. Hangat dan berdenyut dengan ritme yang stabil.

Lin Xuan memejamkan matanya dan mengarahkan kesadarannya ke dalam tubuhnya sendiri, menggunakan teknik introspeksi dasar yang dipelajarinya bertahun-tahun lalu tapi tidak pernah menghasilkan apapun.

Kali ini, hasilnya berbeda.

Di dalam ruang kesadarannya, dia melihat sesuatu.

Pembuluh darah spiritualnya, yang selama ini selalu tertutup rapat seperti pintu gerbang besi yang tidak bisa ditembus, kini berdenyut dengan cahaya samar. Dan di tengah-tengah jalur pembuluh darah utamanya, dia melihat sesuatu yang membuatnya menahan napas.

Sebuah teratai hitam.

Teratai itu melayang di pusat pembuluh darah spiritualnya, kelopak-kelopaknya yang gelap segelap malam tanpa bintang terbuka sempurna, dan dari setiap kelopaknya mengalir energi gelap yang menyumbat seluruh jalur spiritual di tubuhnya. Itulah penyebab dari semua penderitaannya selama ini. Bukan karena dia tidak memiliki bakat. Bukan karena tubuhnya cacat. Tapi karena teratai hitam ini telah menghalangi jalur spiritualnya sejak entah kapan, membuatnya tidak bisa menyerap tenaga spiritual apapun dari dunia luar.

'Jadi ini... ini yang selama ini menghalangiku?'

Tapi pemandangan itu belum selesai. Karena saat dia memandang teratai hitam itu dengan campuran kemarahan dan keputusasaan, sebuah kilatan cahaya keperakan muncul di hadapan teratai itu.

Sebilah pedang kecil.

Pedang itu bersinar dengan cahaya yang sama persis dengan cahaya liontin yang tadi meresap ke dalam tubuhnya. Ukurannya tidak lebih dari sejengkal, tapi aura yang memancar darinya begitu tajam, begitu murni, hingga teratai hitam itu bergetar ketakutan saat pedang kecil itu mendekat.

Lin Xuan memahami segalanya dalam sekejap.

'Liontin ayah... bukan liontin biasa. Ini adalah pedang kecil ini. Selama ini, pedang ini tersembunyi di dalam liontin itu, menunggu saat yang tepat.'

Pedang kecil itu bergerak. Tanpa suara, tanpa keraguan, bilah mungilnya melesat menembus pusat teratai hitam. Teratai itu mengejang, kelopak-kelopaknya mengerut, dan energi gelap yang selama ini menyumbat pembuluh darah spiritual Lin Xuan terpecah seperti kaca yang dihantam palu.

Pedang kecil itu membelah teratai hitam menjadi dua.

Dan saat teratai itu hancur, sesuatu yang selama ini terkunci di dalam tubuh Lin Xuan akhirnya terbebas. Pembuluh darah spiritualnya terbuka. Tenaga spiritual dari dunia luar langsung mengalir masuk seperti air yang menerobos bendungan yang pecah, membanjiri setiap jalur yang selama ini kering dan kosong.

Lin Xuan membuka matanya.

Dunia terlihat berbeda. Bukan secara visual, matahari masih sama, kabut masih sama, batu-batu di sekitarnya masih sama. Tapi dia bisa merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Energi. Tenaga spiritual yang mengalir di udara, di tanah, di setiap tetes embun yang menempel di lumut. Dunia ini penuh dengan energi spiritual, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lin Xuan bisa merasakannya.

Dia sudah menembus ke alam kondensasi roh.

Dari alam pemurnian tubuh yang tidak memiliki tenaga spiritual sama sekali, langsung ke alam kondensasi roh. Lompatan yang seharusnya membutuhkan waktu bertahun-tahun terjadi dalam hitungan menit.

Tawa kecil lolos dari bibir Lin Xuan. Pelan pada awalnya, lalu semakin keras hingga menggema di dasar jurang. Bukan tawa gila. Bukan tawa seorang yang kehilangan akalnya. Tapi tawa lega seorang pemuda yang selama bertahun-tahun terjebak dalam kegelapan dan akhirnya melihat setitik cahaya.

"Aku berhasil," bisiknya, dan suaranya bergetar. "Akhirnya... aku berhasil."

Air matanya jatuh tanpa dia sadari. Dia tidak peduli. Tidak ada siapapun di dasar jurang ini untuk melihatnya menangis. Untuk pertama kalinya, kesendirian itu terasa seperti berkah.

Setelah air matanya mengering, Lin Xuan bangkit dan mulai berlatih. Dia mengambil sebatang ranting yang cukup kokoh dan mulai mengayunkannya seperti pedang. Gerakan-gerakan yang selama ini hanya berupa gerakan kosong tanpa tenaga kini terasa berbeda. Setiap ayunan diperkuat oleh tenaga spiritual yang mengalir melalui lengannya, mempercepat gerakannya, mempertajam kontrolnya.

Ilmu pedang yang selama ini dia kuasai hanya dalam bentuk pengetahuan kini menjadi hidup di tangannya. Setiap teknik yang pernah dia lihat dan dia pahami kini bisa dia jalankan dengan tenaga spiritual yang sesungguhnya. Dan dengan kemampuan pemahamannya yang luar biasa, dia menguasai setiap teknik dengan kecepatan yang menakjubkan.

Satu hari berlalu. Lin Xuan hampir tidak berhenti berlatih kecuali untuk menarik napas dan membiarkan tenaga spiritualnya memulihkan diri. Dan di penghujung hari itu, saat cahaya merah senja meresap ke dasar jurang melalui celah-celah kabut di atas, dia merasakan hambatan yang familiar.

Dinding pembatas antara alam kondensasi roh tingkat pertama dan tingkat kedua.

Tapi kali ini, tidak ada teratai hitam yang menghalanginya. Tidak ada penghalang misterius. Hanya dinding tipis yang butuh sedikit dorongan untuk ditembus.

Lin Xuan menutup matanya, mengumpulkan tenaga spiritualnya, dan mendorongnya menembus dinding itu.

Alam kondensasi roh tingkat kedua.

Dia membuka matanya dan merasakan tenaga spiritual di tubuhnya berlipat ganda. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Kemudian senyum itu perlahan menghilang, digantikan oleh ekspresi yang lebih serius. Lebih keras. Lebih penuh tekad.

'Rumah.'

Pikiran itu muncul tiba-tiba, seperti kilat yang menyambar di langit cerah. Rumahnya. Tempat dia dibuang dan diusir karena dianggap terlalu lemah. Karena dia tidak bisa menembus alam spiritual. Karena dia adalah aib yang memalukan bagi keluarganya.

Tapi sekarang dia bisa.

'Aku ingin kembali ke sana. Tapi untuk kembali, aku harus lebih kuat dari ini. Jauh lebih kuat.'

Dia memandang ke atas, ke dinding tebing yang menjulang tinggi menuju mulut jurang di mana beberapa jam lalu dia melompat ke bawah dengan niat menyerah pada kematian. Sekarang dia harus naik kembali. Dan bukan hanya itu, dia harus kembali ke Sekte Xuantian.

Tapi bukan sebagai budak pedang.

'Beberapa hari lagi ada ujian penerimaan murid sekte luar,' pikirnya, mengingat pengumuman yang ditempelkan di papan informasi sekte minggu lalu. 'Kalau aku bisa lulus ujian itu, aku akan menjadi murid sekte luar. Dan dari sana... kalau perlu, aku akan naik menjadi murid sekte dalam.'

Matanya menyipit dengan tekad yang belum pernah ada di sana sebelumnya.

'Zhang Bin, kau pikir kau sudah membunuhku hari ini. Biarkan kau terus berpikir seperti itu. Tapi suatu hari nanti, aku akan berdiri di hadapanmu. Dan saat itu tiba, kau akan menyesal karena tidak memastikan sendiri mayatku di dasar jurang ini.'

Lin Xuan mengambil napas dalam-dalam, membiarkan tenaga spiritual mengalir ke seluruh tubuhnya, dan mulai memanjat dinding tebing menuju dunia di atas sana. Menuju Sekte Xuantian. Menuju ujian yang akan mengubah segalanya.

Menuju kehidupan baru.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mulai menarik
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Penguasa Pedang   892: Sang Iblis Memasuki Tubuh!

    Mendengar itu, Bingling dan yang lainnya terkejut. Awalnya mereka mengira tengkorak kristal di tangan Lin Xuan adalah harta karun langka, tetapi mereka tidak pernah menyangka harta karun sebenarnya adalah kuali hitam raksasa itu. (Sui Meng)Lin Xuan juga mengerutkan kening, ekspresinya tampak serius.Dia tidak menyangka harta karun luar biasa itu berupa kuali hitam raksasa. Namun, tengkorak kristal di tangannya juga bukan benda biasa. Jika tengkorak kristal itu tidak diaktifkan, kuali hitam raksasa itu tidak akan mengalami perubahan seperti itu.Namun, aura kuali hitam ini terlalu menakutkan; dia sama sekali tidak bisa mendekat, apalagi mempertimbangkan untuk menyerangnya.Sambil menggelengkan kepala, Lin Xuan memutuskan untuk tidak menerima uang itu. Sebaliknya, dia berkata dengan suara berat, "Mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk pergi. Jika tidak, kita akan mendapat masalah begitu Kota Blackwater menyadari apa yang terjadi."Kami akan membuat rencana selanjutnya setelah situas

  • Penguasa Pedang   891 Ruang Hancur Berkeping-keping!

    Banyak sekali peristiwa yang membuktikan bahwa pilihan Lin Xuan benar. Kali ini, mereka sama sekali tidak ragu, segera mengikuti Lin Xuan dari belakang, bersiap untuk pergi."Ingin pergi? Tidak semudah itu!"Melihat Lin Xuan dan yang lainnya hendak pergi, Xiao Li mendengus dingin dan mengulurkan tangannya, mencoba menangkap mereka.Kekosongan itu bergelombang, dan telapak tangan hitam menutupi langit, menjangkau untuk meraih Lin Xuan dan yang lainnya. Lima jarinya seperti lima naga, meraung ganas, dengan momentum yang menakutkan.Namun, sesaat kemudian, kekuatan yang lebih mengerikan muncul, dan energi spiritual di sekitarnya dengan cepat mengembun, membentuk badai hitam yang menyapu langit.Momentum itu berkali-kali lebih menakutkan daripada telapak tangan Xiao Li!Dalam sekejap, tangan naga hitam yang dibentuk Xiao Li hancur menjadi debu di tengah kekacauan hitam."Kekuatan macam apa ini? Ini menakutkan!"Ketika Xiao Li melihat serangannya hancur, pupil matanya menyempit tajam, dan

  • Penguasa Pedang   890 Xiao Li yang Perkasa

    Pupil mata Lin Xuan menyempit tajam, dan dia dengan cepat memanggil Jiwa Bela Diri Teratai Es untuk melindungi dirinya. (Sui Meng)Teratai biru itu berputar, membentuk sembilan pedang es biru yang dengan cepat menebas ke depan.Dor dor dor!Tinju itu sangat menakutkan; tinju itu menghancurkan sembilan pedang es biru, lalu menghantam roh bela diri biru, membuatnya terpental.engah!Lin Xuan juga mengerang dan memuntahkan seteguk darah lagi.Yang Mulia Keempat memang sangat kuat; dengan kekuatannya saat ini, dia sama sekali bukan tandingan baginya.Kecuali jika dia melepaskan Jiwa Pedang Naga Agung dan bertarung mati-matian."Nak, serahkan barang-barang itu, dan aku akan memberimu mayat utuh!" Suara Xiao Li terdengar dingin saat dia berjalan selangkah demi selangkah menembus kehampaan.Tatapan Lin Xuan menjadi gelap saat dia menyimpan Jiwa Bela Diri Teratai Es miliknya dan bersiap untuk melepaskan Jiwa Pedang Naga Agung.Namun, tak satu pun dari mereka menyadari bahwa setetes darah dari

  • Penguasa Pedang   889: Pertempuran Pertama Melawan Venerable Tingkat Keempat!

    Sesaat kemudian, dia menghunus Pedang Bayangan Anginnya dan dengan cepat menebas udara, melepaskan serangkaian aura yang menyeramkan. Energi spiritual di sekitarnya melonjak dan menyatu menjadi gelombang, menyerbu ke arahnya."Oh tidak! Teknik pamungkas macam apa yang akan dilepaskan anak ini? Semuanya, hentikan dia!"Merasakan aura yang menakutkan itu, wajah Nenek Yin menjadi gelap, dan dia segera meraung marah.Ketiganya mengeluarkan bendera naga dan mengibarkannya dengan cepat di udara.Awan gelap menyelimuti kota, dan aura yang menakutkan dan mencekam muncul, seperti awan iblis yang mengancam akan menelan Lin Xuan.Lin Xuan mengacungkan pedang panjangnya, menggambar lintasan misterius di kehampaan.Sebuah kekuatan yang menakutkan dan dahsyat menyebar, seketika memenuhi seluruh langit."Pedang cepat yang mengejar kilat, tiga pedang yang bahkan mengejutkan hantu dan dewa."Ekspresi Lin Xuan dingin, dan suaranya yang dalam terdengar perlahan. Tiba-tiba dia menghunus pedang panjangnya

  • Penguasa Pedang   888 Tengkorak Kristal

    Sesaat kemudian, tim-tim tersebut berpencar dan bergegas maju dengan kecepatan tinggi.Kecepatan itu memang jauh lebih cepat dari sebelumnya.Melihat ini, semua orang di sekitar terkejut. Xu Laoguai dari Sekte Pedang Besi dan keluarga Huangfu juga tampak muram. Tak lama kemudian, mereka memutuskan untuk menggunakan metode yang sama untuk menyerang."Apa yang harus kita lakukan?" tanya Yang Lin.Bingling dan yang lainnya merenung, sementara Lin Xuan perlahan berkata, "Kalau begitu, aku akan pergi menghentikan Xiao Mei dan yang lainnya. Lagipula, mereka memiliki Pil Naga Air, yang bisa saja memainkan peran yang tak terduga. Jika tidak ada yang menghentikan mereka, harta karun itu mungkin akan diambil sebelum kita sampai ke sana."“Tapi itu terlalu berbahaya. Mungkin tidak baik bagimu untuk keluar sendirian.” Bingling menggelengkan kepalanya."Kau masih tidak percaya padaku? Aku tidak akan melakukan hal yang bunuh diri," kata Lin Xuan sambil tersenyum."Baiklah kalau begitu, hati-hati da

  • Penguasa Pedang   887: Perburuan Harta Karun!

    Aura mengerikan menyebar ke depan, menciptakan pemandangan kehancuran. Kerumunan di sekitarnya bergerak cepat, bersiap memasuki Ruang Harta Karun Raja.Angin menderu dan suara-suara melengking di langit dan bumi mereda, dan aura menakutkan itu perlahan memudar.Serangkaian suara, seperti pecahan kaca, terdengar, dan semua orang tahu bahwa itu adalah suara segel yang telah dibuka.Banyak sekali orang yang bersorak gembira, karena tahu bahwa segel yang mengelilingi Harta Karun Raja akhirnya telah berhasil dibuka.Xiao Li menyeringai jahat, sosoknya menjadi kabur, dan dia memimpin penduduk Kota Naga Hitam seperti arus deras, melesat cepat ke langit.Melihat orang-orang dari Kota Blackwater memimpin serangan, Xu Laoguai dari Sekte Pedang Besi dan Qiang yang sudah setengah baya dari keluarga Huangfu juga meraung dan memimpin tim mereka untuk menyerbu maju.Orang-orang di sekitar mereka juga dengan cepat terbang ke udara, bergerak maju dalam kawanan padat seperti belalang."Ayo kita pergi j

  • Penguasa Pedang   65 Medan Perang Percobaan

    Sepuluh tarikan napas kemudian, tak seorang pun tersisa.Kultivasi pada dasarnya adalah menentang surga dan merebut kehidupan, dan karena tidak ada binatang buas iblis sungguhan dalam ujian tersebut, tidak satu pun dari murid-murid ini memilih untuk mundur."Baiklah, ingat pilihanmu!" Tetua Gu ters

  • Penguasa Pedang   64, Tahap Ketiga: Perjalanan Dimulai!

    Lima hari telah berlalu begitu cepat, dan besok adalah babak ketiga kompetisi seleksi sekte internal.Setelah lima hari, Lin Xuan telah menguasai teknik dasar Illusionary Thunder Step. Kecepatannya hampir satu setengah kali lebih cepat daripada saat menggunakan Instant Shadow Step. Bahkan jika ia b

  • Penguasa Pedang   63 Paviliun Seni Bela Diri

    Lantai pertama Paviliun Seni Bela Diri sebagian besar berisi seni bela diri tingkat rendah peringkat Xuan, dengan hanya sebagian kecil yang merupakan seni bela diri tingkat menengah peringkat Xuan. Lin Xuan dengan cepat membolak-balik halaman, mencari teknik berdasarkan kekuatan dan kelemahannya se

  • Penguasa Pedang   61 Benih Niat Pedang

    Matahari bersinar terang di pagi hari.Tiga hari telah berlalu sejak babak kedua kompetisi. Dalam tiga hari ini, Lin Xuan telah pulih dari cedera dan menstabilkan kultivasinya di tingkat keenam tahap Kondensasi Qi.Selama tiga hari itu, banyak orang datang menemuinya, tetapi ia menolak mereka semua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status