Home / Pendekar / Penguasa Pedang / 5 Kembali ke Sekte

Share

5 Kembali ke Sekte

Author: Lembean
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-19 12:39:28

Lin Xuan menarik tubuhnya melewati bibir jurang dengan tarikan terakhir yang menguras sisa tenaganya. Jari-jarinya yang berdarah mencengkeram akar pohon tua yang mencuat dari tepi tebing, dan dengan satu hentakan, dia melemparkan tubuhnya ke atas permukaan tanah yang rata.

Dia berbaring telentang di atas rumput kering, menatap langit sore yang mulai berubah jingga. Napasnya memburu. Setiap otot di tubuhnya berteriak protes setelah memanjat dinding tebing selama berjam-jam. Tapi bibir Lin Xuan membentuk senyum tipis yang tidak bisa dia tahan.

Dia hidup. Dan bukan hanya hidup, dia telah terlahir kembali.

Lin Xuan duduk dan menatap kedua telapak tangannya. Telapak tangan yang penuh luka dan kapalan itu kini dialiri tenaga spiritual yang mengalir stabil di sepanjang pembuluh darahnya. Sensasi itu masih terasa asing baginya, seperti mengenakan pakaian baru yang belum sepenuhnya pas di tubuh. Tapi di balik keanehan itu ada kenyamanan yang mendalam, kenyamanan seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya.

Pikirannya kembali ke detik-detik kejatuhan di jurang tadi. Urutan kejadiannya kini semakin jelas di benaknya. Buah Dewa yang dia makan di tengah kejatuhannya telah membanjiri tubuhnya dengan tenaga spiritual murni dalam konsentrasi yang luar biasa. Tenaga itu membutuhkan jalur untuk mengalir, tapi pembuluh darah spiritualnya tersumbat oleh teratai hitam misterius yang selama ini menjadi sumber penderitaannya. Maka tenaga itu menumpuk, menciptakan tekanan yang luar biasa di dalam tubuhnya.

Dan teriakannya, teriakan putus asa yang dia pikir akan menjadi suara terakhirnya, ternyata menjadi pemicu yang membangunkan pedang kecil di dalam liontin peninggalan ayahnya. Pedang itu merespons teriakan jiwanya, terbangun dari tidur panjangnya, dan menyatu dengan tubuhnya. 

Dengan tenaga dari Buah Dewa sebagai katalisator, pedang kecil itu mendapatkan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan teratai hitam yang selama ini menyumbat jalur spiritualnya.

Kebetulan yang sempurna. Atau mungkin bukan kebetulan sama sekali.

'Kalau aku tidak jatuh ke jurang itu, aku tidak akan menemukan Buah Dewa. Kalau aku tidak memakan Buah Dewa, pedang kecil di dalam liontin tidak akan memiliki katalisator untuk menyatu dengan tubuhku. Dan kalau aku tidak berteriak dengan seluruh jiwa ragaku, pedang itu mungkin tidak akan terbangun.'

Lin Xuan menoleh ke belakang, menatap mulut jurang yang menganga gelap di belakangnya.

'Dan aku jatuh ke jurang itu karena Zhang Bin mengejarku untuk membunuhku.'

Ironi itu begitu tajam hingga hampir terasa lucu. Orang yang ingin menghancurkannya justru tanpa sengaja memberikannya keberuntungan terbesar dalam hidupnya. Tanpa kebencian Zhang Bin, tanpa pengejaran di Gunung Cangming, tanpa lompatan putus asa ke dalam jurang itu, Lin Xuan mungkin akan tetap menjadi budak pedang yang terjebak di alam pemurnian tubuh tahap ketiga selamanya.

Kemarahan yang selama ini membara di dadanya terhadap Zhang Bin perlahan mereda. Bukan hilang sepenuhnya, karena pukulan, tendangan, dan hinaan selama bertahun-tahun bukan sesuatu yang bisa dilupakan begitu saja. Tapi ujung-ujungnya tumpul. Api itu masih menyala, tapi tidak lagi berkobar liar seperti sebelumnya.

'Aku tidak akan mencarinya untuk balas dendam,' pikir Lin Xuan sambil bangkit berdiri dan membersihkan debu dari pakaiannya yang compang-camping. 'Apa yang terjadi di jurang itu justru mengubah hidupku. Tapi kalau dia masih memaksakan diri untuk menargetkanku, kalau dia masih datang padaku dengan niat membunuh, maka aku tidak akan diam.'

Dia menegakkan punggungnya dan mulai berjalan menuju arah timur, ke arah kompleks Sekte Xuantian yang berjarak beberapa jam perjalanan kaki dari Gunung Cangming. Langkahnya lebih ringan dari sebelumnya. Bukan hanya karena tenaga spiritual yang kini mengalir di tubuhnya, tapi karena beban yang selama ini menindih pundaknya telah terangkat sebagian.

Matahari sudah tenggelam sepenuhnya saat Lin Xuan memasuki gerbang selatan kompleks sekte. Lentera-lentera minyak yang digantung di sepanjang jalan setapak menerangi jalannya dengan cahaya kekuningan yang bergoyang tertiup angin malam. Kompleks sekte terasa lebih sepi dari biasanya di jam ini, kebanyakan murid sudah kembali ke asrama masing-masing dan para budak pedang sedang menyelesaikan tugas-tugas malam mereka.

Lin Xuan berjalan melewati gudang senjata, melewati aula latihan yang gelap, melewati dapur umum yang masih mengeluarkan asap tipis dari cerobongnya, hingga dia sampai di pondok budak pedang yang reyot di ujung kompleks.

Dia baru saja meletakkan tangannya di kusen pintu saat dia merasakan tatapan-tatapan itu.

Dari balik jendela-jendela kecil pondok, beberapa pasang mata memandangnya. Dalam keremangan cahaya lentera yang masuk dari luar, Lin Xuan bisa melihat wajah-wajah para budak pedang lainnya. Ada yang terkejut, ada yang tidak percaya, dan ada yang kaget.

Tapi ekspresi yang paling dominan di wajah mereka semua adalah satu, kewaspadaan. Kewaspadaan seperti sekelompok tikus yang melihat kucing memasuki sarang mereka.

Lin Xuan masuk ke dalam pondok tanpa berkata apa-apa. Dia berjalan ke sudut tempatnya biasa tidur dan duduk di atas tikar jeraminya. Para budak pedang lain langsung menyingkir dari jalannya, menepi ke sisi-sisi pondok seperti air yang terbelah oleh batu.

Tidak ada yang menyapanya. Tidak ada yang bertanya bagaimana dia bisa selamat dari jatuh ke jurang. Tapi bisikan-bisikan kecil langsung berdengung di seluruh ruangan seperti serangga malam yang bersembunyi di balik dinding kayu.

"Dia masih hidup..."

"Bukankah Zhang Bin bilang dia sudah mati?"

"Bagaimana mungkin seseorang selamat dari jurang Gunung Cangming?"

Lin Xuan menutup matanya dan mengabaikan bisikan-bisikan itu. Dia tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Para budak pedang ini, sebagian besar dari mereka, bertahan hidup dengan menjadi mata dan telinga bagi para murid yang berkuasa. Informasi tentang kepulangannya akan sampai ke telinga Zhang Bin sebelum matahari terbit. Itu bukan dugaan. Itu kepastian.

Dan benar saja.

Lin Xuan bahkan belum sempat memejamkan matanya selama satu jam penuh saat suara langkah kaki terdengar dari luar pondok. Bukan langkah satu orang, tapi langkah beberapa orang yang berjalan cepat dengan arah yang jelas.

Pintu pondok terbuka dengan hentakan keras. Para budak pedang yang sedang tidur langsung terlonjak bangun, mata mereka lebar ketakutan. Tapi begitu mereka melihat siapa yang berdiri di ambang pintu, mereka langsung menepi dan menundukkan kepala.

Sosok yang berdiri di sana bukan Zhang Bin.

Pemuda itu bertubuh jangkung dengan bahu lebar dan lengan yang tebal berotot. Wajahnya kasar dengan rahang menonjol dan hidung yang pernah patah lalu sembuh miring. Jubah abu-abu murid sekte luar yang dikenakannya tampak ketat di bagian dada dan lengan, seolah tubuhnya terlalu besar untuk pakaian itu. Matanya yang kecil dan tajam langsung menemukan Lin Xuan di sudut ruangan.

Huo Lang.

Lin Xuan mengenalnya dengan baik. Terlalu baik. Huo Lang adalah salah satu teman terdekat Zhang Bin dan kultivator di alam kondensasi roh tingkat pertama, yang artinya dia satu tingkat di bawah Lin Xuan saat ini meskipun Huo Lang tidak mengetahui fakta itu. 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Penguasa Pedang   23 Bermaksud Menghancurkan Lin Xuan

    Aula Misi, Kantor Pendaftaran.Chen Dazheng sedang memeriksa informasi misi ketika tiba-tiba seseorang berlari mendekat dan berteriak, "Pria bernama Lin Xuan itu sudah kembali, dan dia saat ini sedang menghadapi Kelompok Kekuatan Ilahi!"Teriakan itu segera membuat semua murid di aula misi waspada, mereka semua menghentikan pekerjaan mereka dan berlari keluar.Meskipun mereka belum pernah bertemu Lin Xuan, mereka telah mendengar tentang reputasinya selama hampir sebulan. Seorang murid luar tanpa latar belakang yang diketahui berani membunuh anggota Kelompok Kekuatan Ilahi, dan korbannya tidak lain adalah adik laki-laki Zhang Qian, seorang ahli murid dalam. Ini tidak diragukan lagi merupakan peristiwa yang paling banyak dibicarakan akhir-akhir ini.Chen Dazheng pernah mendengar tentang hal-hal ini sebelumnya, tetapi dia hanya bisa khawatir tanpa daya. Sekarang setelah mendengar Lin Xuan telah kembali, dia menjadi lebih cemas. Setelah berpikir lama, dia hanya bisa meminta bantuan Tetua

  • Penguasa Pedang   22 Tidak Ada Penangkapan Tanpa Bukti

    Pagi-pagi sekali, di dalam hutan.Cahaya pagi menembus lapisan dedaunan, menerangi hutan.Seorang anak laki-laki compang-camping berjalan menembus hutan, wajahnya kotor, tetapi matanya bersinar seterang bintang."Sudah sebulan, dan akhirnya aku berhasil menguasainya!" Mata bocah itu berbinar-binar penuh kegembiraan. "Saatnya kembali ke sekte."Pemuda ini tak lain adalah Lin Xuan, yang datang untuk menambah pengalaman. Setelah sebulan berlatih keras, ia akhirnya menguasai teknik Pedang Petir tingkat pertama. Bisa dikatakan kekuatannya telah mengalami lompatan kualitatif dibandingkan sebulan yang lalu.Lin Xuan bergerak cepat ke depan. Tak lama kemudian, gerbang gunung Sekte Xuantian yang megah dan mengagumkan pun terlihat."Pulanglah, mandi, ganti baju bersih, lalu makan besar!" Lin Xuan sudah hampir gila selama sebulan terakhir, jadi sekarang setelah kembali, dia tentu saja ingin bersantai."Berhenti! Sekte Xuantian, orang luar tidak diperbolehkan masuk!" teriak murid yang menjaga ger

  • Penguasa Pedang   21 Berlatihlah di Dalam Air

    Chen Dazheng merasa bingung, bertanya-tanya mengapa Tetua Fang datang secara pribadi."Mungkinkah ada sesuatu yang salah dengan harta karun itu?" Chen Dazheng bertanya-tanya. "Seharusnya tidak demikian. Jika memang ada masalah, nadanya tidak akan seperti ini."Dia berlari cepat menuju tempat tinggal para murid di luar, sepertinya hanya dengan menemukan Lin Xuan dia bisa mengetahui apa yang sedang terjadi.Namun, yang lebih mengkhawatirkannya adalah Lin Xuan sama sekali tidak ada di ruangan itu. Chen Dazheng bertanya kepada murid-murid di sekitarnya, tetapi tidak ada yang tahu ke mana Lin Xuan pergi.Karena tak berdaya, dia tidak punya pilihan selain menelan pil pahit dan kembali melapor kepada Tetua Fang.Setelah mendengar itu, Tetua Fang mengelus janggutnya dan berkata, "Saat dia kembali, suruh dia segera menemuiku.""Ya," jawab Chen Dazheng dengan hormat.Setelah Tetua Fang pergi, Chen Dazheng tiba-tiba menepuk dahinya: "Astaga, aku lupa aku masih punya pedang berharga yang baru saj

  • Penguasa Pedang   20 Siapa yang Memperbaiki

    Aula Misi Sekte Xuantian.Setelah mendaftarkan informasinya, Chen Dazheng pergi dengan ekspresi gembira, sambil membawa harta karun yang telah diperbaiki oleh Lin Xuan.Para tetua mengeluarkan perintah untuk memperbaiki harta karun tingkat manusia, dan tiga bulan telah berlalu tanpa ada yang mampu memperbaikinya. Sekarang, Lin Xuan benar-benar berhasil memperbaikinya, dan dia juga dapat memperoleh manfaat dari hasilnya.Chen Dazheng bersenandung pelan dan berjalan cepat menuju gunung di belakang. Setengah jam kemudian, ia tiba di sebuah halaman yang tenang dan membungkuk kepada dua murid yang menjaga gerbang."Kakak-kakak senior, saya Chen Dazheng dari Balai Misi. Saya datang untuk menemui Tetua Fang. Mohon beritahukan kehadiran saya kepadanya."Murid penjaga gerbang berkata, "Tetua Fang sedang mengasingkan diri. Kau bisa menyerahkan apa pun kepada kami.""Ini adalah harta karun tingkat manusia milik Tetua Fang. Sudah diperbaiki. Mohon terima atas nama saya, kakak senior." Chen Dazhen

  • Penguasa Pedang   19 Batu Itu Tidak Boleh Rusak

    Menurut Tian Jie, aura Lin Xuan tidak kuat, itulah sebabnya dia berani bersikap begitu arogan.Lengan itu, yang bersinar dengan cahaya kuning samar, terulur untuk meraih Lin Xuan."Hmph, sok jadi guru cuma gara-gara pakai jubah hitam? Kakak Senior Tian Jie itu baru tingkat lima Pengentalan Qi!" Sekelompok pemuda itu mencibir."Berani mencuri barang-barang kami sama saja dengan mencari kematian!"Pemilik kios berwajah pucat itu juga ketakutan, wajahnya memucat. Dia meringkuk ke samping, tak sanggup menyaksikan pemandangan berdarah itu.Lin Xuan sedikit mengerutkan kening. Dia meraih batu cokelat di tangannya dan membalas dengan kepalan tangan kekuningan.Melihat Lin Xuan menggunakan batu cokelat untuk menangkis serangannya, Tian Jie merasa frustrasi, tetapi tidak berani menyerang langsung, karena takut merusak batu cokelat itu. Kemudian dia mengubah tinjunya menjadi cakar dan mencengkeram bahu Lin Xuan.Lin Xuan terus mengayunkan lengannya dengan cepat, menggunakan batu-batu itu untuk

  • Penguasa Pedang   18 Kartu VIP

    Dua botol cairan spiritual untuk tiga ratus buah spiritual berusia tiga ratus tahun, ditambah kesempatan untuk menjalin hubungan dengan sosok misterius tersebut—kesepakatan ini dijamin menguntungkan."Tentu saja." Wanita berbaju merah itu tersenyum cerah. Ia mengeluarkan kartu berwarna ungu keemasan dan berkata sambil tersenyum, "Ini kartu VIP Tianxiangfang. Mulai sekarang, Anda akan mendapatkan perlakuan VIP di semua area Tianxiangfang, dan Anda akan mendapatkan diskon 10% untuk semua pembelian. Jika berupa lelang, biaya penanganan akan dikurangi dari 10% menjadi 5%.""Sepertinya dia salah mengira aku sebagai seorang alkemis." Lin Xuan mengambil kartu berwarna ungu keemasan itu dan mengangguk puas.Di Benua Bela Diri Roh, terdapat berbagai macam profesi, salah satunya adalah alkemis, yang ahli dalam mengekstrak komponen efektif dari tumbuhan spiritual untuk menciptakan obat-obatan spiritual atau ramuan dengan khasiat yang jauh lebih ampuh.Para alkemis terbagi menjadi sembilan tingka

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status