ホーム / Pendekar / Penguasa Pedang / 3 Jatuh ke Jurang

共有

3 Jatuh ke Jurang

作者: Lembean
last update 公開日: 2026-03-19 12:38:29

Mereka sampai di sebuah dataran kecil di pertengahan gunung. Di satu sisi, tebing batu menjulang tinggi. Di sisi lain, jurang menganga lebar dengan kedalaman yang tidak bisa ditebak oleh mata telanjang. Kabut tipis bergulung di mulut jurang seperti napas makhluk raksasa yang sedang tertidur.

Zhang Bin berhenti dan berbalik menghadap Lin Xuan. Keenam murid lainnya langsung menyebar, menghalangi setiap jalur yang mungkin digunakan untuk melarikan diri. Formasi itu rapi, terlalu rapi untuk sesuatu yang spontan.

"Kau tahu, Lin Xuan," Zhang Bin memulai dengan nada yang anehnya tenang, seperti seseorang yang sedang bercerita santai kepada teman lama, "ada seorang gadis di sekte kita. Kau pasti tahu siapa yang kumaksud."

Lin Xuan tidak menjawab. Dia tahu.

"Gadis itu..." Zhang Bin mengepalkan tinjunya di balik punggungnya. Rahangnya mengeras. Nada bicaranya yang semula tenang mulai bergetar oleh sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kemarahan. "Aku sudah menyukainya sejak pertama kali aku masuk ke sekte ini. Aku sudah berusaha mendekatinya, memberikannya hadiah, menunjukkan kemampuanku. Tapi dia terus saja mengabaikanku. Terus saja bersikap seolah aku tidak ada."

Dia berbalik dan menatap Lin Xuan dengan mata yang menyala oleh kebencian murni.

"Dan kau tahu apa yang paling membuatku gila? Gadis itu justru menaruh perhatian padamu. Padamu! Seorang budak pedang yang bahkan tidak bisa menembus pembuluh darah spiritualnya. Seorang sampah yang bahkan budak pedang lainnya pun merendahkan."

Zhang Bin melangkah maju. Setiap langkahnya menggema di permukaan batu.

"Aku tidak mengerti apa yang dia lihat darimu. Dan sejujurnya, aku tidak peduli. Yang aku tahu adalah, selama kau masih ada, dia tidak akan pernah melihat ke arahku."

Jantung Lin Xuan berdegup kencang. Bulu kuduknya meremang. Dia melihat tangan Zhang Bin bergerak perlahan ke gagang pedang yang tersarung di pinggangnya, dan saat itulah keraguan terakhir di benak Lin Xuan lenyap.

Pemuda ini datang untuk membunuhnya.

Lin Xuan berlari.

Dia tidak berpikir. Tubuhnya bergerak sebelum otaknya sempat memerintahkan. Kakinya menendang tanah berbatu dan dia melesat ke satu-satunya celah yang dilihatnya di antara formasi para murid, celah sempit antara dua orang yang berdiri di sisi kanan.

"Tangkap dia!"

Teriakan Zhang Bin memecah keheningan gunung. Ketujuh murid itu langsung bergerak. Salah satu dari mereka berhasil meraih kerah baju Lin Xuan dan menariknya ke belakang. Lin Xuan tersandung dan jatuh, tapi dia langsung berguling dan bangkit lagi.

Sebuah pukulan mendarat di punggungnya.

Dia jatuh.

Bangkit.

Sebuah tendangan menghantam kakinya.

Jatuh lagi.

Bangkit lagi.

Pukulan bertubi-tubi menghujani tubuhnya dari segala arah. Tujuh lawan satu. Tujuh murid sekte yang masing-masing lebih kuat darinya melawan seorang budak pedang yang bahkan tidak memiliki tenaga spiritual. Hasilnya sudah bisa ditebak sejak awal.

Tapi Lin Xuan terus bangkit.

Setiap kali tubuhnya menghantam tanah, tangannya mencengkeram liontin di dadanya selama sepersekian detik sebelum memaksakan dirinya untuk berdiri lagi. Mulutnya penuh darah. Matanya membengkak. Tulang-tulangnya berteriak kesakitan. Tapi kakinya menolak untuk berhenti bergerak.

Dia terus mundur, terus berlari meskipun setiap langkah adalah perjuangan melawan tubuhnya sendiri yang sudah berada di ambang kehancuran. Tanpa dia sadari, langkah-langkahnya membawanya semakin dekat ke tepi jurang.

Angin dingin yang bertiup dari bawah menerpa punggungnya. Dia berhenti. Di belakangnya, kekosongan. Di depannya, Zhang Bin sudah menghunus pedangnya. Bilah baja itu berkilat memantulkan sinar matahari pagi, dan senyum di wajah Zhang Bin adalah senyum terdingin yang pernah Lin Xuan lihat.

"Mau lari ke mana lagi, Lin Xuan?" Zhang Bin melangkah maju dengan pedang teracung. "Akhir jalanmu sudah sampai."

Lin Xuan menatap pedang itu. Kemudian dia menoleh ke belakang, ke jurang yang menganga di bawahnya. Kabut bergulung-gulung di kedalaman yang tidak terlihat dasarnya, seperti mulut raksasa yang siap menelannya utuh.

Dua pilihan. Mati di ujung pedang Zhang Bin, atau melompat ke dalam jurang.

Lin Xuan tersenyum pahit. Senyum yang membuat Zhang Bin mengernyitkan dahi karena tidak mengharapkannya.

'Kalau memang aku harus mati hari ini, setidaknya biarkan aku yang memilih caranya.'

Lin Xuan menjatuhkan tubuhnya ke belakang.

Zhang Bin terlambat bereaksi. Tangannya menggapai udara kosong saat tubuh Lin Xuan sudah melewati tepi jurang dan jatuh ke dalam kegelapan. Ketujuh murid itu bergegas ke tepi jurang dan memandang ke bawah, tapi kabut tebal langsung menelan sosok Lin Xuan dalam hitungan detik.

"Sudahlah," ucap Zhang Bin setelah beberapa saat, suaranya kembali tenang. Dia menyarungkan pedangnya. "Tidak ada yang bisa bertahan dari jatuh ke jurang sedalam itu. Dia sudah mati."

Para murid mengangguk dan satu per satu berbalik pergi, meninggalkan jurang yang sunyi.

Tapi Zhang Bin salah.

Di dalam jurang, Lin Xuan jatuh menembus kabut tebal dengan kecepatan yang membuatnya hampir kehilangan kesadaran. Angin menampar wajahnya dari segala arah. Matanya berair dan pandangannya kabur. Tapi tangannya bergerak liar, mencengkeram apa saja yang bisa dijangkaunya.

Akar pohon yang mencuat dari dinding tebing. Tangannya menggapainya tapi akar itu patah dan dia kembali jatuh.

Semak berduri yang tumbuh di celah batu. Jari-jarinya mencengkeram batangnya dan duri-duri tajam merobek telapak tangannya, tapi semak itu tercabut dari akarnya dan dia kembali jatuh.

Sebuah tonjolan batu. Tubuhnya menghantam tonjolan itu, memperlambat kecepatannya sesaat sebelum dia terpental dan kembali jatuh.

Dan di antara semua gapainya yang putus asa, tangannya menemukan sesuatu.

Sebuah buah.

Buah itu tumbuh di sebuah tanaman merambat yang menempel di ceruk kecil di dinding tebing, tersembunyi dari dunia oleh kabut dan ketinggian yang tidak bisa dijangkau oleh manusia biasa. Ukurannya tidak lebih besar dari kepalan tangan, tapi cahaya keemasan samar yang memancar dari permukaannya langsung mengirimkan getaran aneh ke seluruh tubuh Lin Xuan saat jari-jarinya menyentuhnya.

Matanya melebar.

'Buah Dewa!'

Meskipun dia hanya seorang budak pedang yang terjebak di alam pemurnian tubuh tahap ketiga, pengetahuan Lin Xuan tentang dunia kultivasi jauh melampaui statusnya. Dia pernah membaca tentang Buah Dewa di naskah-naskah kuno perpustakaan sekte, buah langka yang konon hanya tumbuh sekali dalam seribu tahun di tempat-tempat yang dipenuhi energi spiritual murni. Buah ini mengandung konsentrasi tenaga spiritual yang luar biasa, cukup untuk membantu seorang kultivator menembus beberapa tingkat sekaligus.

Dan sekarang buah itu ada di tangannya. Di saat tubuhnya sedang jatuh menuju kematian.

Lin Xuan tidak berpikir dua kali. Jika tubuhnya akan remuk di dasar jurang beberapa detik lagi, maka tidak ada gunanya menyimpan buah ini. Dia memasukkan buah itu ke mulutnya dan menggigitnya.

Rasa manis yang luar biasa memenuhi rongga mulutnya, diikuti oleh sensasi panas yang menjalar dari tenggorokannya ke dadanya, ke perutnya, ke setiap ujung sarafnya. Seolah-olah seseorang menyalakan api di pusat tubuhnya dan api itu menyebar ke segala penjuru dengan kecepatan yang tidak bisa dibendung.

Tapi dia masih jatuh.

Tangannya kembali menggapai apa saja yang ada di sekitarnya. Batu. Akar. Apa saja. Tapi tidak ada yang bisa menghentikan kejatuhannya.

Lin Xuan membuka mulutnya dan berteriak.

Teriakan itu lahir dari kedalaman jiwanya, bukan teriakan ketakutan semata, tapi teriakan seorang pemuda yang sudah menyerah pada nasibnya. Teriakan yang dia pikir akan menjadi suara terakhir yang keluar dari mulutnya sebelum kegelapan abadi menelannya. Teriakan yang mengandung semua rasa sakit, semua kekecewaan, semua penderitaan yang selama ini dia tanggung dalam diam.

Dan di saat teriakan itu menggema di dinding-dinding jurang, sesuatu terjadi.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Penguasa Pedang   16 Jalan Sanbao

    Gelombang panas ini, seperti bendungan yang jebol, dengan cepat mengaduk energi spiritual di dalam tubuh Lin Xuan. Ditambah dengan pengulangan Teknik Panjang Umur yang dilakukan Lin Xuan, energi spiritual biru di dalam tubuhnya menjadi semakin kuat.Dipandu oleh Mantra Panjang Umur, energi spiritual biru dengan cepat menembus meridian spiritual keempat, membentuk siklus keempat di dalam tubuh Lin Xuan.Merasakan lonjakan kekuatan spiritual, bibir Lin Xuan sedikit melengkung. Hambatan yang semula membutuhkan empat atau lima hari untuk diatasi, ternyata berhasil diatasi langsung berkat rangsangan dari anggur spiritual."Kekuatanku saat ini setidaknya dua kali lipat dari tahap ketiga Kondensasi Qi. Tak heran mereka mengatakan bahwa kultivasi seni bela diri itu seperti menaiki tangga, setiap langkah menghancurkan langkah berikutnya." Lin Xuan melayangkan pukulan, menciptakan kawah besar di dinding gunung, dengan retakan yang menyebar seperti jaring laba-laba."Seperti yang diduga, aku mas

  • Penguasa Pedang   15 Jangan Minum Terlalu Banyak

    Pegunungan Taihang yang tak terbatas dipenuhi dengan suasana primitif, dengan berbagai pohon tinggi dan puncak-puncak aneh yang tersebar di seluruh wilayahnya.Harimau mengaum dan monyet melolong; burung-burung dan binatang buas yang ganas muncul satu demi satu.Namun, di pegunungan dan hutan yang berbahaya ini, sering muncul sosok yang tampak lemah, memburu banyak binatang buas."Sial, sungguh sial!" Sosok itu menusuk babi hutan bertanduk dua dengan pedang, lalu mendarat dengan mantap di tanah. "Binatang buas ini memakan setengah dari buah berbentuk ular yang masih bagus!"Sosok itu adalah Lin Xuan. Dengan marah, dia memotong sepasang tanduk putih itu dan memasukkannya ke dalam ranselnya.Dia telah berada di pegunungan selama beberapa hari terakhir mencari buah berbentuk ular dan bunga violet. Setelah beberapa hari berusaha, dia menemukan tiga buah berbentuk ular dan empat tanaman violet. Setelah dia memiliki lima dari masing-masing, dia bisa meminta ahli anggur untuk membuat anggur

  • Penguasa Pedang   14 Teknik yang Sulit Dipelajari

    "Kakak Chen, saya sudah memutuskan. Saya ingin menukarnya dengan Teknik Pedang Petir ini." Lin Xuan mengembalikan buku itu."Apa! Kau ingin menukarnya dengan Teknik Pedang Petir!" seru Chen Dazheng dengan terkejut.Mendengar itu, beberapa murid di dekatnya menatap Lin Xuan dengan ekspresi aneh.“Adikku, kau belum lama berada di sini dan belum banyak tahu tentang Teknik Pedang Petir,” jelas Chen Dazheng. “Teknik pedang ini bukan hanya belum sempurna, tetapi juga sulit dipelajari. Orang-orang telah mencoba mempelajarinya sebelumnya, tetapi tidak ada yang berhasil. Seiring waktu, tidak ada lagi yang memilihnya.”“Jadi, adikku, sebaiknya kau pilih yang lain. Lagipula, 120 poin kontribusi bukanlah jumlah yang sedikit,” saran Chen Dazheng."Belum ada yang menguasainya? Aneh sekali!" Lin Xuan mengusap dagunya, senyum muncul di bibirnya. "Meskipun Guru Jiu mengatakan ini adalah versi yang disederhanakan, pasti sangat ampuh.""Jangan khawatir, kakak senior, kita akan menukarnya dengan Teknik P

  • Penguasa Pedang   13 Teknik Pedang Petir

    Lin Xuan merasa pusing, dan ketika ia sadar kembali, ia mendapati dirinya kembali di gubuk itu.Dia bergumam beberapa kutukan pelan, lalu mengeluarkan tiga Rumput Yin Xing yang telah dipetiknya. Dia menghancurkan salah satunya dengan kekuatan spiritualnya, mengekstrak cairan darinya, lalu mengeluarkan harta karun tingkat manusia yang rusak itu.Lin Xuan meneteskan cairan dari Rumput Yin Xing ke harta karun tingkat manusia, dan menggunakan darahnya untuk menciptakan rune yang aneh.Seketika itu, zat berwarna cokelat tersebut meleleh dan menetes ke tanah, membakar lubang-lubang kecil di tanah.Akhirnya, setelah tidak ada lagi kontaminan pada harta karun tingkat manusia itu, Lin Xuan menggambar tiga rune pada pedang tersebut, menarik energi spiritual dari udara untuk membersihkan bilah pedang."Hmm, tekniknya tidak buruk, tapi masih agak kurang matang." Suara Guru Jiu bergema di benak Lin Xuan."Kau tahu cara mengembangkan senjata?" Lin Xuan mencibir."Benar sekali. Dulu, saya dikenal se

  • Penguasa Pedang   12 Lebih Baik Membunuh daripada Dibunuh

    Lin Xuan tidak merasa ragu. Jika dia tidak membunuh, dia akan dibunuh. Terlebih lagi, fenomena aneh berupa kemampuannya menyerap esensi dan darah orang lain telah muncul padanya. Jika kabar ini tersebar, dia pasti akan diburu oleh semua orang.Awoo!Lolongan serigala bergema dari segala penjuru. Pertarungan itu telah menarik perhatian banyak sekali makhluk iblis, dan sekarang darah berceceran di mana-mana, hal itu hanya semakin membangkitkan amarah makhluk-makhluk buas ini.Lin Xuan tidak dalam kondisi fisik yang baik. Dia segera mundur, berpikir bahwa tubuh Zhang Bin mungkin akan dimakan, sehingga sulit untuk mengetahui siapa pembunuhnya.Dia melesat beberapa langkah lalu menghilang ke dalam pegunungan dan hutan.Tidak lama setelah Lin Xuan pergi, serigala-serigala lapar menerkam mayat Zhang Bin dan yang lainnya...Saat Lin Xuan kembali ke sekte, hari sudah senja. Matahari terbenam memancarkan sinar terakhirnya ke seluruh negeri.Ia menyeret tubuhnya yang kelelahan kembali ke kamarny

  • Penguasa Pedang   11 Satu Serangan

    "Nak, kau akan mati!" teriak murid berwajah persegi itu dengan panik.Di kejauhan, beberapa sosok mendekat dengan cepat, tubuh mereka berkilauan dengan cahaya, menunjukkan kekuatan yang tak kalah hebat dari Lin Xuan.Meskipun Lin Xuan tidak takut masalah, dia tidak cukup bodoh untuk menghadapi seluruh Kelompok Kekuatan Ilahi sendirian. Siapa yang tahu berapa banyak orang mereka yang berada di pegunungan? Tidak bijaksana untuk menghadapi mereka secara langsung sekarang.Dia terhuyung dan hendak berlari menjauh.tertawa!Kilatan dingin menghalangi jalannya. Ternyata itu adalah murid berwajah persegi yang mati-matian berusaha menghentikannya. Melihat temannya tiba, dia tentu saja tidak akan membiarkan Lin Xuan pergi."Pergi sana!" Pedang Lin Xuan melesat, melesat seperti pelangi. Murid berwajah persegi itu menjerit dan terlempar ke belakang.Namun, keterlambatan ini memberi banyak waktu kepada orang-orang dari Kelompok Kekuatan Ilahi di kejauhan. Tiga sosok tiba lebih dulu dan menghalang

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status