แชร์

8. Pembagian Warisan

ผู้เขียน: Yully Kawasa
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-15 19:46:57

Lintang hanya dapat menarik nafas panjang, ketika semua anggota group justru setuju mengeluarkannya. Dia tidak menyangka selama ini telah bergaul dengan orang-orang yang hanya melihat seseorang berdasarkan status.

Dia tidak dapat membaca kelanjutan obrolan group, karena dia telah dikeluarkan.

Lintang tidak tahu apa lagi yang mereka obrolkan, tapi satu hal yang pasti. Dia sadar sedang menjadi selebriti dadakan di group yang diusulkan untuk dibentuknya dulu.

“Itulah kehidupan, Lintang. Disaat kamu memiliki segalanya, kamu akan disanjung dan dieluk-elukkan. Diantara dua puluh teman, syukur-syukur kalau kamu mendapatkan satu teman yang bisa menerima kondisimu saat dalam kesulitan,” kata Aurelia.

Lintang tidak menjawab, dia diam membeku.

“Sekarang apa yang akan kamu lakukan?” tanya Aurelia menatap sang suami.

“Waktu tidak akan berhenti hanya karena aku mengalami masalah. Apapun yang mereka katakan, to tidak ada yang dapat mengubahnya. Aku memang terlahir dari orangtua yang serba kekurangan tapi aku tidak menyesal,” kata Lintang menatap Aurelia.

“Sebaiknya kita tinggal di kontrakan untuk menghindari kesalahpaham. Jangan biarkan orangtua yang selama ini telah membesarkanmu berpikiran negatif. Satu-satunya jalan adalah pergi dari rumah,” kata Aurelia menatap sang suami.

Lintang menatap Aurelia, ragu-ragu. Apakah pergi dari rumah adalah cara yang tepat untuk menghindari kesalahpahaman?

“Kita pulang,” kata Lintang, langsung berdiri dan melangkah dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

“Biarkan aku yang mengemudikan mobil, barikan kuncinya padaku,” kata Aurelia menengadahkan telapak tangan kearah Lintang.

Lintang tidak menjawab, dia langsung saja memberikan kunci mobil pada Aurelia.

Mobil meluncur dengan kecepatan sedang meninggalkan lokasi pekuburan, menuju rumah keluarga Wang.

Begitu sampai di dalam kamar, Aurelia bingung ketika melihat Lintang mulai mengemasi pakaiannya.

“Kamu mau ke mana?” tanya Aurel penasaran.

“Ke kontrakan. Aku rasa saranmu adalah Solusi yang tepat. Kemasi pakaianmu dan kita tinggalkan rumah ini,” perintah Lintang.

Aurelia tidak menjawab, tapi langsung saja mengemasi pakaian miliknya ke dalam koper.

“Aku akan meninggalkan surat kepada ayah dan ibu,” kata Lintang.

Aurelia hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.

Lintang mengambil bolpoin dan secarik kertas, kemudian mulai menulis.

`Tidak ada yang dapat Lintang berikan kepada ayah dan ibu, selain ucapan terima kasih. Terima kasih selama ini telah membesarkan Lintang dengan penuh kasih sayang. Terima kasih masih menerima Lintang di rumah ini, walaupun orangtua kandung Lintang telah menukarku dengan brayen secara sengaja. Lintang sayang ayah dan ibu.`

“Kita pergi sekarang,” kata Lintang menatap sekeliling kamarnya.

Setelah memastikan tidak ada orang, keduanya melangkah menuju pintu utama.

Namun keduanya terkejut ketika membuka pintu.

“Ayah, Ibu.”

Brayen menatap Lintang. Akhirnya kamu sadar diri juga, pergilah dan jangan pernah kembali! Aku tidak pernah sudi berbagi warisan dengan lelaki yang telah mengambil apa yang harusnya menjadi milikku selama ini!

“Kamu mau ke mana, Nak?” Melia menatap Lintang, khawatir.

“Lintang mau tinggal di kontrakan, Bu,” jawab Lintang menundukkan kepalanya.

“Jangan berpikir untuk pergi sebelum aku memeriksa seluruh ruangan. Aku tidak mau kamu membawa sesuatu yang merupakan milikku, apalagi surat-surat berharga!” geram Shan Yue dan langsung mendorong Lintang, kemudian dengan cepat memasuki ruangan.

Lintang berusaha keras menahan airmata yang hendak keluar. Sehina itukah aku di matamu, Yah?

Lintang ingin teriak, tapi mulutnya terkunci rapat, dia hanya bisa diam.

Melia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sebagai seorang istri, dia hanya bisa mengikuti ucapan sang suami.

Brayen tersenyum sinis. Ternyata mengusirmu dari sini bukanlah hal yang sulit.

Namun dugaan Lintang salah, karena Shan Yue justru berbalik dan memeluk Lintang erat-erat. Bukan hanya Brayen dan Melia yang terkejut, Lintang juga.

“Maaf kalau selama ini telah menyakitimu, Lintang. Jangan tinggalkan rumah ini, ayah dan ibu tidak akan pernah sanggup kehilangan kamu lagi. Meskipun kamu bukan anak kandung kami, tapi kami lah yang telah membesarkanmu dengan penuh kasih sayang,” kata Shan Yue tanpa melepaskan pelukannya.

Lintang diam membisu, dia berpikir pelukan itu hanya khayalan semata.

Seandinya ini adalah kenyataan, aku adalah orang yang paling bahagia. Disaat-saat seperti ini aku merindukan pelukan ayah dan ibu. Tapi kapan akan terulang? Sekarang satu-satunya yang menerimaku hanyalah Aurelia.

Lamunan Lintang buyar, ketika ayahnya menepuk pelan kedua pipinya dengan penuh kasih sayang.

"Maaf karena ayah telah mengatakan hal yang melukai hatimu. Dalam hal ini, kamu tidak bersalah jadi wajar kalau kamu masih membutuhkan waktu,” kata Shan Yue kembali memeluk Lintang.

Ya! Shan Yue berubah pikiran ketika dia menemukan surat yang ditinggalkan Lintang. Di sana bukan hanya surat saja, tapi lengkap dengan buku rekening, kartu ATM, kunci mobil, bahkan pakaian yang bernilai fantastis masih terata rapi di dalam lemari. Intinya tidak ada satu barang pun yang dibawa Lintang selain pakaian sederhana miliknya.

Satu-satunya benda mahal yang dibawa Lintang hanyalah cincin pernikahannya.

Melihat semua itu, membuat Shan Yue teringat masa kecil Lintang sampai dia dewasa. Bagaimana dia tertekan ketika menemukan kenyataan kalau Lintang justru di vonis menderita gagal hati stadium akhir.

“Apa aku sedang bermimpi?” tanya Lintang hampir tidak terdengar.

“Kamu tidak bermimpi, ini ayah,” kata Shan Yu menatap Lintang.

Melia langsung saja mengambil koper mini dari tangan Lintang dan Aurelia, kemudian membawanya masuk.

'Sial! Kenapa jadi begini? Harusnya Lintang diusir seperti sampah, bukannya diperlakukan seperti pangeran!’ guman Brayen kesal.

Namun bukan Brayen namanya kalau tidak bisa menyembunyikan kekesalan itu dengan sempurna.

“Aurelia, tolong bawa Lintang masuk. Ayah akan membawa Brayen,” kata Shan Yue.

Shan Yue langsung mengambil alih kursi roda yang diduduki Brayen dan mendorongnya berlahan memasuki ruangan. Sedangkan Lintang dituntun Melia dan Aurelia mengekor dibelakang Shan Yue.

Shan Yue sengaja membawa mereka semua ke ruang keluarga dan memberitahukan hal penting, dan itu ada hubungannya dengan pembagian harta gono gini.

‘Sial! Aku anak kandung yang telah lama terpisah, aku hidup dalam kesulitan. Kenapa pembagian warisannya harus seperti ini? Tidak! Ini jelas-jelas tidak adil bagiku. Kenapa Lintang harus menerima tiga puluh lima persen sedangkan aku enam puluh lima persen? Harusnya Lintang tidak diberikan apa-apa!’ geram Brayen benar-benar marah.

"Kenapa raut wajahmu berubah, Brayen? Apa kamu tidak setuju dengan pembagian warisan ini?” tanya Shan Yue menatap putra kandungnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Penguasa Yang Tak Terduga   90. Bab Terakhir - TAMAT

    Pengacara sambung almarhumah ibu Diana Ludwig berdiri dan meraih microphone yang ada di atas meja."Selamat datang semuanya, tentunya Pak James Lee sudah memberitahukan kepada kalian tujuan diadakannya pertemuan ini. Jujur saja saya tidak tahu tentang hal ini, tapi ketika para pemegang saham secara bulat menyetujui penandatanganan berkas pengalihan saham kepada cucu kandung almarhum ibu Diana Ludwig harus melibatkan wartawan dan lainnya, maka saya menghormati keputusan bersama ini," kata sang pengacara yang kemudian mengeluarkan sejumlah berkas.Namun, ketika Lintang hendak menantangi berkas itu tiba-tiba terdengar suara tegas, "Tunggu!""A-a-ayah? Ka-ka-kamu masih hidup? Apakah aku sedang bermimpi?" tanya James pura-pura terkejut. Dia berdiri dari tempat duduknya, menatap haru sang ayah, airmata mengalir dari pelupuk mata pria munafik itu.Para pemegang saham terkejut, "Pak James masih hidup? Terus siapa yang dikuburkan waktu itu?""Saya hilang ingatan karena dia," tegas Stiven sambi

  • Penguasa Yang Tak Terduga   89. Rencana dibalik penandatanganan berkas

    "Kamu benar.""Sekarang waktunya kita memikirkan cara agar bisa mengendalikan pihak kepolisian seperti dulu," kata James."Untuk mengendalikan pihak kepolisian seperti dulu, hanya ada satu cara. Aku harus bisa menduduki posisi tertinggi di Kenangga Group yaitu CEO dan membuktikan si Brengsek itulah yang membuatku kecelakaan hingga lupa ingatan dan menjadikan James sebagai batu loncatan untuk menduduki posisi CEO Kenangga Group," kata Stiven Lee tersenyum.James langsung bertepuk tangan, "Waw ... ayah benar-benar hebat. Ibu pasti senang mendengar itu, dengan kejadian itu para pemegang saham akan berhati-hati dan meminta ayah untuk menunjuk aku sebagai penerus CEO Kenangga Group," kata James."Benar dibandingkan kakak dan adikmu, kamu satu-satunya yang memenuhi syarat untuk memegang perusahaan sebesar Kenangga Group. Ayah yakin para pemegang saham akan menentang keras keputusan ku untuk menyerahkan warisan kepada putra Chu Yan, karena itu hanya akan membuka peluang bagi penipu untuk men

  • Penguasa Yang Tak Terduga   88. Ketika Lintang bertindak

    "Bagus, mana buktinya?" tanya Lintang."Ambilkan buktinya, Fandy."Tidak butuh waktu lama kini Fandy telah kembali membawa berkas ditangannya. "Ini, Yah."Pria paruh baya itu langsung menyerahkan bukti itu ke tangan Lintang.Lintang membaca bukti-bukti itu dengan geram. Bukti itu lebih dari cukup untuk menjebloskan Stiven Lee dan istrinya ke penjara. "Benar-benar pasangan yang kejam!" geram Lintang."Ya, mereka kejam. Tapi semua orang berpengaruh di pihak kepolisian berada dalam kendali Stiven, jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kami juga masih menjalankan amanat almarhumah ibu Diana untuk menjaga Perusahaan NN dan memastikan semua warisan jatuh ke tangan yang tepat."Lintang hanya dapat menarik nafas panjang, kemudian mengambil ponsel dari saku jasnya dan menelepon."Halo, Pak Lintang," terdengar suara dari seberang."Apakah kamu telah menyelidikinya?" tanya Lintang."Sudah, Pak Lintang. Hampir semua polisi berada dalam kendali Stiven.""Apa kamu tahu yang harus dilakukan?

  • Penguasa Yang Tak Terduga   87. Kotak berisi bukti

    "Aku tahu tempat ini rahasia, jadi di mana aku bisa mengajak Fandy bertemu kalian?" tanya Widya."Di perusahaan yang baru Lintang beli. Bagaimana?" Aurelia memberi saran.Setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya semua setuju mengadakan pertemuan di perusahaan milik Aurelia.***"Widya ada apa? Kenapa kamu mengajakku bertemu secara mendadak dan meminta ku menunda jadwalku? Bukan hanya itu saja, kamu bahkan meminta ayahku ikut serta begitu pun dengan pengacara sambung ibu Diana Ludwig?" tanya Anggara setelah tiba di perusahaan Aurelia."Apa terjadi sesuatu dengan Lintang? Apa James merencanakan sesuatu yang membahayakan nyawa penerus Kenangga Group?" tanya ayah Fandy, jelas sekali sinar matanya menunjukkan kekhawatiran."Ada yang ingin bertemu dengan bapak," kata Widya menunduk hormat kepada pria paruh baya yang berdiri disamping Fandy."Siapa?" Tiba-tiba Selin memasuki ruangan dan berkata tegas, "Saya."Pria paruh baya itu berbalik menatap asal suara, dia menatap wanita itu se

  • Penguasa Yang Tak Terduga   86. Anggara Darma adalah Fandy Alfandy

    Laptop di atas meja langsung digunakan Selin untuk memutar isi flashdisk itu.Semua yang berada dalam ruangan itu terkejut menyaksikan isi video itu. Di layar terpampang jelas bagaimana Stiven Lee bersama seorang wanita membakar sebuah rumah mewah yang di dalamnya berisi satu keluarga besar keluarga Ludwig.Di sana juga terlihat dua orang wanita keluar dari kepulan asap tebal, salah satunya memegang pergelangan tangan seorang remaja berusia enam belas tahun. Bak pahlawan kesiangan Stiven Lee langsung berlari dan mengambil alih tangan sang anak kemudian bertanya dengan panik, "Sayang di mana yang lainnya? Kau tidak apa-apa, kan, Nak? Aku baru pulang, tiba-tiba dari jauh aku melihat rumah kebakaran. Aku menambah kecepatan mobil ku. Aku baru saja mau berlari masuk ketika melihat kalian keluar."Wanita itu tidak menjawab, hanya airmata yang mengalir dari wajah cantiknya.Pemadam dan polisi datang hampir bersamaan, tapi terlambat. Semua telah menjadi abu, hanya tiga orang yang selamat."M

  • Penguasa Yang Tak Terduga   85. Widya adalah anak Selin

    "Aku akan tahu apa kamu berkata jujur atau tidak," kata Lintang dan meminta Aurelia untuk membawa Selin turun.Aurelia menuju lantai dua, menemui Selin Widyawati."Kenapa kamu kembali? Bukankah sudah ku katakan, aku sama sekali tidak kenal dengan Stiven Lee, apalagi keluarga Ludwig," kata Selin datar."Maaf, Bu. Saya hanya ingin membawamu menemui seseorang," kata Aurelia.Cukup lama Aurelia membujuk Selin, akhirnya wanita itu mengikuti Aurelia keluar kamar menuruni anak tangga menuju lantai satu.Begitu sampai di lantai satu Selin menatap wanita yang terikat di kursi dalam diam. Namun, detik berikutnya dia terkejut melihat kalung yang dikenakan gadis itu.Dengan cepat dia berlari mendekat dan menarik krah kemeja wanita itu, airmata mengalir dari wajah kusamnya ketika melihat tanda lahir berbentuk bulat di pundak gadis itu.Selin berlutut dan memohon kepada Lintang, "Saya mohon lepaskan anakku, aku akan menjawab semua yang ku tahu tentang Stiven Lee, juga keluarga Ludwing.""Apa? Anak?

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status