Se connecterLintang hanya dapat menarik nafas panjang, ketika semua anggota group justru setuju mengeluarkannya. Dia tidak menyangka selama ini telah bergaul dengan orang-orang yang hanya melihat seseorang berdasarkan status.
Dia tidak dapat membaca kelanjutan obrolan group, karena dia telah dikeluarkan. Lintang tidak tahu apa lagi yang mereka obrolkan, tapi satu hal yang pasti. Dia sadar sedang menjadi selebriti dadakan di group yang diusulkan untuk dibentuknya dulu. “Itulah kehidupan, Lintang. Disaat kamu memiliki segalanya, kamu akan disanjung dan dieluk-elukkan. Diantara dua puluh teman, syukur-syukur kalau kamu mendapatkan satu teman yang bisa menerima kondisimu saat dalam kesulitan,” kata Aurelia. Lintang tidak menjawab, dia diam membeku. “Sekarang apa yang akan kamu lakukan?” tanya Aurelia menatap sang suami. “Waktu tidak akan berhenti hanya karena aku mengalami masalah. Apapun yang mereka katakan, to tidak ada yang dapat mengubahnya. Aku memang terlahir dari orangtua yang serba kekurangan tapi aku tidak menyesal,” kata Lintang menatap Aurelia. “Sebaiknya kita tinggal di kontrakan untuk menghindari kesalahpaham. Jangan biarkan orangtua yang selama ini telah membesarkanmu berpikiran negatif. Satu-satunya jalan adalah pergi dari rumah,” kata Aurelia menatap sang suami. Lintang menatap Aurelia, ragu-ragu. Apakah pergi dari rumah adalah cara yang tepat untuk menghindari kesalahpahaman? “Kita pulang,” kata Lintang, langsung berdiri dan melangkah dengan sisa tenaga yang dimilikinya. “Biarkan aku yang mengemudikan mobil, barikan kuncinya padaku,” kata Aurelia menengadahkan telapak tangan kearah Lintang. Lintang tidak menjawab, dia langsung saja memberikan kunci mobil pada Aurelia. Mobil meluncur dengan kecepatan sedang meninggalkan lokasi pekuburan, menuju rumah keluarga Wang. Begitu sampai di dalam kamar, Aurelia bingung ketika melihat Lintang mulai mengemasi pakaiannya. “Kamu mau ke mana?” tanya Aurel penasaran. “Ke kontrakan. Aku rasa saranmu adalah Solusi yang tepat. Kemasi pakaianmu dan kita tinggalkan rumah ini,” perintah Lintang. Aurelia tidak menjawab, tapi langsung saja mengemasi pakaian miliknya ke dalam koper. “Aku akan meninggalkan surat kepada ayah dan ibu,” kata Lintang. Aurelia hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Lintang mengambil bolpoin dan secarik kertas, kemudian mulai menulis. `Tidak ada yang dapat Lintang berikan kepada ayah dan ibu, selain ucapan terima kasih. Terima kasih selama ini telah membesarkan Lintang dengan penuh kasih sayang. Terima kasih masih menerima Lintang di rumah ini, walaupun orangtua kandung Lintang telah menukarku dengan brayen secara sengaja. Lintang sayang ayah dan ibu.` “Kita pergi sekarang,” kata Lintang menatap sekeliling kamarnya. Setelah memastikan tidak ada orang, keduanya melangkah menuju pintu utama. Namun keduanya terkejut ketika membuka pintu. “Ayah, Ibu.” Brayen menatap Lintang. Akhirnya kamu sadar diri juga, pergilah dan jangan pernah kembali! Aku tidak pernah sudi berbagi warisan dengan lelaki yang telah mengambil apa yang harusnya menjadi milikku selama ini! “Kamu mau ke mana, Nak?” Melia menatap Lintang, khawatir. “Lintang mau tinggal di kontrakan, Bu,” jawab Lintang menundukkan kepalanya. “Jangan berpikir untuk pergi sebelum aku memeriksa seluruh ruangan. Aku tidak mau kamu membawa sesuatu yang merupakan milikku, apalagi surat-surat berharga!” geram Shan Yue dan langsung mendorong Lintang, kemudian dengan cepat memasuki ruangan. Lintang berusaha keras menahan airmata yang hendak keluar. Sehina itukah aku di matamu, Yah? Lintang ingin teriak, tapi mulutnya terkunci rapat, dia hanya bisa diam. Melia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sebagai seorang istri, dia hanya bisa mengikuti ucapan sang suami. Brayen tersenyum sinis. Ternyata mengusirmu dari sini bukanlah hal yang sulit. Namun dugaan Lintang salah, karena Shan Yue justru berbalik dan memeluk Lintang erat-erat. Bukan hanya Brayen dan Melia yang terkejut, Lintang juga. “Maaf kalau selama ini telah menyakitimu, Lintang. Jangan tinggalkan rumah ini, ayah dan ibu tidak akan pernah sanggup kehilangan kamu lagi. Meskipun kamu bukan anak kandung kami, tapi kami lah yang telah membesarkanmu dengan penuh kasih sayang,” kata Shan Yue tanpa melepaskan pelukannya. Lintang diam membisu, dia berpikir pelukan itu hanya khayalan semata. Seandinya ini adalah kenyataan, aku adalah orang yang paling bahagia. Disaat-saat seperti ini aku merindukan pelukan ayah dan ibu. Tapi kapan akan terulang? Sekarang satu-satunya yang menerimaku hanyalah Aurelia. Lamunan Lintang buyar, ketika ayahnya menepuk pelan kedua pipinya dengan penuh kasih sayang. "Maaf karena ayah telah mengatakan hal yang melukai hatimu. Dalam hal ini, kamu tidak bersalah jadi wajar kalau kamu masih membutuhkan waktu,” kata Shan Yue kembali memeluk Lintang. Ya! Shan Yue berubah pikiran ketika dia menemukan surat yang ditinggalkan Lintang. Di sana bukan hanya surat saja, tapi lengkap dengan buku rekening, kartu ATM, kunci mobil, bahkan pakaian yang bernilai fantastis masih terata rapi di dalam lemari. Intinya tidak ada satu barang pun yang dibawa Lintang selain pakaian sederhana miliknya. Satu-satunya benda mahal yang dibawa Lintang hanyalah cincin pernikahannya. Melihat semua itu, membuat Shan Yue teringat masa kecil Lintang sampai dia dewasa. Bagaimana dia tertekan ketika menemukan kenyataan kalau Lintang justru di vonis menderita gagal hati stadium akhir. “Apa aku sedang bermimpi?” tanya Lintang hampir tidak terdengar. “Kamu tidak bermimpi, ini ayah,” kata Shan Yu menatap Lintang. Melia langsung saja mengambil koper mini dari tangan Lintang dan Aurelia, kemudian membawanya masuk. 'Sial! Kenapa jadi begini? Harusnya Lintang diusir seperti sampah, bukannya diperlakukan seperti pangeran!’ guman Brayen kesal. Namun bukan Brayen namanya kalau tidak bisa menyembunyikan kekesalan itu dengan sempurna. “Aurelia, tolong bawa Lintang masuk. Ayah akan membawa Brayen,” kata Shan Yue. Shan Yue langsung mengambil alih kursi roda yang diduduki Brayen dan mendorongnya berlahan memasuki ruangan. Sedangkan Lintang dituntun Melia dan Aurelia mengekor dibelakang Shan Yue. Shan Yue sengaja membawa mereka semua ke ruang keluarga dan memberitahukan hal penting, dan itu ada hubungannya dengan pembagian harta gono gini. ‘Sial! Aku anak kandung yang telah lama terpisah, aku hidup dalam kesulitan. Kenapa pembagian warisannya harus seperti ini? Tidak! Ini jelas-jelas tidak adil bagiku. Kenapa Lintang harus menerima tiga puluh lima persen sedangkan aku enam puluh lima persen? Harusnya Lintang tidak diberikan apa-apa!’ geram Brayen benar-benar marah. "Kenapa raut wajahmu berubah, Brayen? Apa kamu tidak setuju dengan pembagian warisan ini?” tanya Shan Yue menatap putra kandungnya.Lintang terdiam, dia bingung harus menjawab apa, karena dia sendiri bingung dengan identitas aslinya.Aurelia menarik krah kemeja Lintang.“Jawab aku! Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu bisa memegang kartu hitam ekslusif, ha? Kenapa kamu bisa masuk ke Nusakambangan begitu mudahnya? Bahkan kamu disambut selayaknya orang besar!” suara Aurelia meninggi.“Maafkan aku, Aurel. Secara tidak langsung aku membawamu ke dalam bahaya,” kata Lintang hampir tidak terdengar.“Bukan jawaban itu yang ingin ku dengar! Aku mau kepastian, siapa kamu sebenarnya?” tegas Aurel.“Aku sendiri tidak tahu identitas asliku.”“Jangan bercanda, Brengsek! Aku bukan orang bodoh!” bentak Aurel kesal.“Itulah kenyataannya, aku sendiri tidak tahu siapa aku sebenarnya!” jawab Lintang lemas.Melihat kesungguhan di wajah sang suami, membuat Aurelia yakin kalau suaminya sedang berbicara serius.“Kamu terlibat ke dalam masalah serius, jadi sebagai istri tidak menutup kemungkinan aku juga akan ditemukan. Sebelum semuanya tah
“Temanilah keponakanmu, dia pasti terkejut meyaksikan ini. Apalagi kejadian tadi tepat didepan matanya. Kalau dia seorang polwan, maka itu bukan hal baru baginya. Masalahnya dia hanya warga sipil biasa. Jadikan ini Pelajaran, lain kali jangan membawa warga sipil untuk menginap di dalam sini, tempat ini menyeramkan bagi mereka. Walaupun itu keluarga kita sendiri. Paham?”“Baik, Pak. Setelah keponakanku tenang, aku akan membawanya keluar dari sini.”“Pastikan dia merasa aman, baru antar dia pulang. Jangan biarkan dia trauma akan kejadian tadi.”“Bai, Pak,” jawab paman Aurelia tegas.Polisi yang memiliki jabatan lebih tinggi dari paman Auelia itu, langsung saja meninggalkan mereka dan menuju tahanan lainnya yang juga ketakutan.Polisi itu mengambil ponsel dan mengirim pesan.[Semua berjalan sesuai rencana, Bos. Selin Widyawati sudah tewas tertembak. Jadi masa lalu keluarga Lee juga akan terkubur bersamanya. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.]***“Apa? Tidak, Aurel! Paman tidak aka
“Sel pria semua sudah keluar, bagaimana dengan sel wanita?” teriak paman Aurel kepada rekan kerjanya.“Semua sudah,” terdengar suara teriakan balasan.Semua polisi langsung saja keluar dan menuju tempat terbuka, sedangkan bagian teknisi memeriksa apakah ada kerusakan Listrik di tempat lain, setelah dapur dinyatakan aman.Walau dalam keadaan darurat, tapi pihak kepolisian tidak mau kecolongan. Mereka tetap waspada. Mereka tidak ingin sampai terjadi kebakaran dan masih ada tahanan yang berada di dalam sel.“Gawat, ada satu tahanan yang tidak ada,” teriak salah satu polisi, panik.“Apa? Siapa?”“Selin Widyawati, wanita bisu.”Tanpa menunggu, paman Aurelia langsung saja berlari masuk ke dalam. Sang paman tidak dapat melarang keponakannya untuk ikut, dia tahu sekarang bukan waktunya berdebat. Itu karena dia tahu persis watak sang keponakan yang keras kepala.“Paman, apa dia meninggal?” tanya Aurel panik ketika melihat Selin tergeletak di lantai.Ya! Polisi memang telah membuka sel tahanan
Begitu kembali ke tempat semula Aurelia langsung mendekati sang paman. “Paman, aku tadi melihat wanita yang kerjaannya hanya diam saja. Namanya, Se-se-se …” bisik Aurelia seolah-olah sedang berpikir.“Selin Widyawati? Dia narapidana paling lama dan tidak pernah bicara. Kamu lihat, dia saja bertahan dengan kondisinya. Masa kamu kalah sama dia,” kata sang paman balas berbisik.“Belum tentu paman, aku kan tidak mengenalnya. Aku itu wanita normal dan ingin hidup seperti wanita pada umumnya. Hidup bersama orang yang aku cintai dan mempunyai anak, seperti keluarga pada umumnya. Sedangkan wanita itu? Mungkin dia tidak punya tujuan hidup. Siapa tahu dia justru suka di sini, karena mendapatkan makanan gratis, dari pada kesulitan mencari makan diluar, kan? Sedangkan aku tidak pernah merasa kesusahan, sedangkan wanita itu? Belum tentu apa yang aku rasakan dia bisa kuat. Dia saja diam begitu. Bisa jadi otaknya memang bermasalah,” bisik Aurelia.“Kamu bisa memeriksanya sendiri,” bisik sang paman.
Setelah tiba di tempat tujuan, Lintang langsung memakai kacamata hitam dan kumis tipis.Dengan langkah pasti Lintang keluar dari mobil dan melempar kunci mobil kepada anak buahnya.Helikopter membawa Lintang ke Nusakambangan dalam waktu singkat.Kepolisian yang berada di sana langsung menyambut kedatangan Lintang.Ya! Lintang meretas jaringan computer dan cctv penjara nusakambangan, kemudian mendaftarkan namanya sebagai salah satu tamu terpenting yang akan bertugas di sana dalam jangka waktu yang telah ditentukan.Kalau dalam komputer dan CCTV penjara Nusakambangan akan terlihat jelas wajah palsu Lintang, namun berbeda saat berada diluar. Diluar penjara Nusakambangan nama Lintang tidak akan ditemukan oleh pihak kepolisian manapun. Begitupun dengan CCTV, wajah Lintang tidak akan terlihat.“Selamat datang, Tuan,” sambut mereka dengan ramah.“Terima kasih. Terima kasih,” jawab Lintang dengan dialek luar. Sebagai tanda dia bukan orang Indonesia, tapi bisa berbahasa Indonesia dengan fasih.
“Apa Aurel bisa percaya pada perkataan paman? Bukankah selama ini paman tidak pernah berbohong sama Aurel?"“Baiklah, saya akan kirim lokasinya. Tapi ingat kalau sampai ayah dan ibu tahu, paman akan menemukan saya sebagai jenazah,” ancam Aurelia.“Paman janji.”“Awas kalau ingkar.”Tut … Tut … Tut …Dengan santai Aurelia mengirim lokasinya kepada sang paman.‘Lintang akan murka kalau tahu aku nekad melakukan ini, tapi aku sudah memilih jalan ini. Aku hanya akan meninggalkan petunjuk untuknya,’ guman Aurelia.Ya! Aurelia meninggalkan pesan kepada Lintang melalui surat yang hanya dapat dipahami oleh Lintang sendiri. Seperti orang yang mengalami gangguan mental, Aurel mengacak-acak rambutnya, wajahnya lesu dengan pancaran mata yang tidak biasa.Setelah hampir satu jam menunggu tiba-tiba terdengar teriakan panik. “Astaga, Aurel. Apa yang terjadi? Kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa penampilanmu menjadi kacau begini?”Aurelia menatap sang paman dengan pandangan kosong. “Kenapa semua keja







