LOGIN“Bagaimana keadaan putra kami?” tanya Shan Yu ketika dokter keluar ruang perawatan.
“Untungnya pasien jatuh dengan posisi yang tepat, kalau tidak dia akan mengalami luka parah bahkan lebih dari itu, dia bisa saja kehilangan nyawa,” kata sang dokter. “Tapi dia tidak apa-apa, kan, dokter?” tanya Melia khawatir. “Tidak apa-apa. Silahkan menjenguk, pasien sudah sadar,” kata dokter tersenyum. Shan Yu dan Melia tidak lagi bersuara, tapi mereka langsung saja berlari masuk. Sedangkan langkah Lintang dan Aurelia berhenti dibalik tirai. “Brayen, apa Lintang sengaja mendorongmu?” tanya Shan Yu tanpa basa basi. “Jangan salahkan Lintang, Yah. Mungkin dia masih shock karena mengira aku akan mengambil kasih sayang ayah dan ibuku,” kata Brayen. Lintang segera menarik pergelangan tangan Aurelia dan meninggalkan ruangan itu. Aurelia terkejut ketika Lintang justru menuntunnya ke tempat parkir. “Kita pergi dari sini.” “Terus bagaimana dengan brayen?” Lintang tidak menjawab, dia sibuk mengeluarkan mobil dari parkiran rumah sakit. Mobil Lintang melaju meninggalkan rumah sakit, tapi tidak dengan rasa sakit yang dia rasakan. Ternyata tadi siang kamu berubah menjadi baik, karena kamu melihat ayah dan ibu? Kamu benar-benar licik, brayen! Namun kemarahan Lintang langsung berubah ketika mengingat perlakuan orangtua kandungnya pada brayen. Apakah brayen takut kalau sifat orangtua kandungku menurun padaku? Apa karena itu, dia melakukan ini padaku? Kalau saja orangtua kandungku membesarkan brayen dengan penuh kasih sayang, mungkin dia akan tumbuh menjadi lelaki yang baik dan tidak pendendam. Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan di benak Lintang. Dia merasa bersalah atas perlakukan yang diterima brayen dari orangtua kandungnya. “Kita mau ke mana?” tanya Aurelia ketika melihat mobil sang suami justru melaju kearah yang berlawanan. Lintang tidak menjawab, dia terus mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Aurelia sudah terbiasa dengan sikap dingin Lintang. Diantara lima belas pertanyaan, beruntung jika tiga pertanyaan yang akan dijawab Lintang. Selebihnya hanya sikap dingin sang suami yang diterimanya. Mobil berhenti tepat di tanah pekuburan umum. Lintang turun dari mobil, dan berlahan melangkah diantara makam. Langkah Lintang terhenti tepat disalah satu makam dengan dua nama yang tertera disana. Cu Yan Lei Meilan Sahrani Lintang terduduk disamping makan orangtua kandungnya. “Brayen bisa melihat wajah orangtua kandungnya. Sedangkan aku? Kalian pergi tanpa menemuiku terlebih dahulu,” kata Lintang hampir tak terdengar. Ya! Nama orangtua kandungnya dan Alamat makam itu diberikan Melia saat Lintang bersikeras memintanya. Lintang mengambil ponsel dari saku jasnya dan menelepon, meminta orang itu menemuinya. Tidak butuh waktu lama, orang yang ditunggu Lintang akhirnya datang juga. “Kenapa kamu justru memintaku ke sini? Jangan katakan kalau kamu mau mengambil alih daerah ini. Ini tempat makam umum, Lintang. Kamu jangan gila,” sungut lelaki itu kesal sendiri. “Aku tidak akan mengambil alih tempat ini.” “Terus?” “Aku memintamu ke sini, kaena aku butuh bantuanmu. Tolong bantu aku memperbaiki makam orangtua kandungku. Bukankah kamu seorang desain hebat? Bantu aku mendesain makam orangtuaku agar lebih layak,” kata Lintang. “Apa operasi justru membuat otakmu menjadi tidak beres? Woy … orangtuamu masih hidup, brengsek!” protes lelaki itu kesal, dia tidak terima ketika Lintang mengatakan kalau orangtuanya sudah meninggal. “Aku masih waras, ini memang makam orangtuaku. Aku hanyalah anak yang tertukar saat dilahirkan dan ini adalah tempat peristirahatan terakhir mereka,” kata Lintang menunjuk makam yang sudah tua dan sama sekali tidak terawat. “Apa kamu tidak salah informasi?” tanya lelaki itu terkejut. Lintang menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. “Kamu memberitahukan hal sepenting ini padaku? Kenapa?” tanya lelaki itu terkejut. “Karena kamu adalah sahabatku,” jawab Lintang apa adanya. “Apa? Sahabat? Material yang digunakan pada badan makam ini saja bahan murahan, mana belum selesai lagi. Ini lebih dari cukup untuk menjelaskan kalau orangtuamu hanyalah orang miskin. Mungkin juga hanya pengangkut sampah, bahkan lebih dari itu pengangguran!” ketus lelaki itu. “Satu hal yang harus kamu tahu, aku paling anti sama orang miskin! Bagiku orang miskin itu hanyalah beban, dan aku tidak mau kamu menjadi bebanku. Jadi jangan pernah bermimpi aku akan membantumu!” lanjut pria itu. “Walaupun kamu tetap tinggal di rumah keluarga Wang, tapi bagiku garis keturunan juga penting. Yang pasti orang miskin sepertimu, bukan levelku!” ejek lelaki itu menatap Lintang sinis. Setiap kalimat yang keluar dari mulut lelaki itu seperti petir yang menyambar di sekujur tubuh Lintang. Dia sama sekali tak menyangka kalau kata-kata itu justru keluar dari mulut sahabat karibnya sendiri. Lintang tidak sanggup menjawab, dia merasa hidupnya benar-benar hancur. Sekarang aku telah kehilangan dua hal. Pertama aku kehilangan kepercayaan orangtua yang selama ini membesarkanku. Kedua aku kehilangan sahabat karibku, hanya karena garis keturunan. Apa lagi yang harus aku ikhlaskan? Apa salah kalau aku terlahir dari keluarga miskin? Bukankah aku tidak bisa memilih terlahir dari rahim siapa? Bukankah orangtuaku juga tidak meminta kehidupan seperti itu? Lintang ingin berteriak, tapi mulutnya terkunci. Dia ingin memukul, tapi dia kehabisan tenaga. Tenaga dan pikirannya benar-benar terkuras dengan semua masalah yang menimpahnya. Kini dia baru menyadari satu hal. Kalau nyawa tidak dapat dibeli dengan uang, tapi berbeda dengan persahabatan. Seseorang bisa membeli persahabatan dari status sosialnya. Lintang tersadar dari lamunannya ketika ponselnya tidak berhenti berbunyi, ada pesan masuk dari groupnya. [Apa kalian sudah tahu, Lintang ternyata bukan anak kandung Pak Shan Yu dan Ibu Melia.] [Maksudnya?] [Dia tertukar saat dilahirkan.] [Terus … terus … siapa orangtua kandungnya? Apakah lebih kaya dari keluarga Wang atau sebaliknya?] [Lintang hanyalah anak orang miskin, jelas terlihat dari kondisi makam orangtuanya.] [Berarti dia tidak pantas untuk bergabung di group ini. Bukankah group ini khusus anak konglomerat?] [Benar. Keluarkan Lintang dari group ini. Dia tidak pantas bergabung dengan anak-anak keluarga kaya.] [Siapa yang setuju mengeluarkan Lintang dari group?]Pengacara sambung almarhumah ibu Diana Ludwig berdiri dan meraih microphone yang ada di atas meja."Selamat datang semuanya, tentunya Pak James Lee sudah memberitahukan kepada kalian tujuan diadakannya pertemuan ini. Jujur saja saya tidak tahu tentang hal ini, tapi ketika para pemegang saham secara bulat menyetujui penandatanganan berkas pengalihan saham kepada cucu kandung almarhum ibu Diana Ludwig harus melibatkan wartawan dan lainnya, maka saya menghormati keputusan bersama ini," kata sang pengacara yang kemudian mengeluarkan sejumlah berkas.Namun, ketika Lintang hendak menantangi berkas itu tiba-tiba terdengar suara tegas, "Tunggu!""A-a-ayah? Ka-ka-kamu masih hidup? Apakah aku sedang bermimpi?" tanya James pura-pura terkejut. Dia berdiri dari tempat duduknya, menatap haru sang ayah, airmata mengalir dari pelupuk mata pria munafik itu.Para pemegang saham terkejut, "Pak James masih hidup? Terus siapa yang dikuburkan waktu itu?""Saya hilang ingatan karena dia," tegas Stiven sambi
"Kamu benar.""Sekarang waktunya kita memikirkan cara agar bisa mengendalikan pihak kepolisian seperti dulu," kata James."Untuk mengendalikan pihak kepolisian seperti dulu, hanya ada satu cara. Aku harus bisa menduduki posisi tertinggi di Kenangga Group yaitu CEO dan membuktikan si Brengsek itulah yang membuatku kecelakaan hingga lupa ingatan dan menjadikan James sebagai batu loncatan untuk menduduki posisi CEO Kenangga Group," kata Stiven Lee tersenyum.James langsung bertepuk tangan, "Waw ... ayah benar-benar hebat. Ibu pasti senang mendengar itu, dengan kejadian itu para pemegang saham akan berhati-hati dan meminta ayah untuk menunjuk aku sebagai penerus CEO Kenangga Group," kata James."Benar dibandingkan kakak dan adikmu, kamu satu-satunya yang memenuhi syarat untuk memegang perusahaan sebesar Kenangga Group. Ayah yakin para pemegang saham akan menentang keras keputusan ku untuk menyerahkan warisan kepada putra Chu Yan, karena itu hanya akan membuka peluang bagi penipu untuk men
"Bagus, mana buktinya?" tanya Lintang."Ambilkan buktinya, Fandy."Tidak butuh waktu lama kini Fandy telah kembali membawa berkas ditangannya. "Ini, Yah."Pria paruh baya itu langsung menyerahkan bukti itu ke tangan Lintang.Lintang membaca bukti-bukti itu dengan geram. Bukti itu lebih dari cukup untuk menjebloskan Stiven Lee dan istrinya ke penjara. "Benar-benar pasangan yang kejam!" geram Lintang."Ya, mereka kejam. Tapi semua orang berpengaruh di pihak kepolisian berada dalam kendali Stiven, jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kami juga masih menjalankan amanat almarhumah ibu Diana untuk menjaga Perusahaan NN dan memastikan semua warisan jatuh ke tangan yang tepat."Lintang hanya dapat menarik nafas panjang, kemudian mengambil ponsel dari saku jasnya dan menelepon."Halo, Pak Lintang," terdengar suara dari seberang."Apakah kamu telah menyelidikinya?" tanya Lintang."Sudah, Pak Lintang. Hampir semua polisi berada dalam kendali Stiven.""Apa kamu tahu yang harus dilakukan?
"Aku tahu tempat ini rahasia, jadi di mana aku bisa mengajak Fandy bertemu kalian?" tanya Widya."Di perusahaan yang baru Lintang beli. Bagaimana?" Aurelia memberi saran.Setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya semua setuju mengadakan pertemuan di perusahaan milik Aurelia.***"Widya ada apa? Kenapa kamu mengajakku bertemu secara mendadak dan meminta ku menunda jadwalku? Bukan hanya itu saja, kamu bahkan meminta ayahku ikut serta begitu pun dengan pengacara sambung ibu Diana Ludwig?" tanya Anggara setelah tiba di perusahaan Aurelia."Apa terjadi sesuatu dengan Lintang? Apa James merencanakan sesuatu yang membahayakan nyawa penerus Kenangga Group?" tanya ayah Fandy, jelas sekali sinar matanya menunjukkan kekhawatiran."Ada yang ingin bertemu dengan bapak," kata Widya menunduk hormat kepada pria paruh baya yang berdiri disamping Fandy."Siapa?" Tiba-tiba Selin memasuki ruangan dan berkata tegas, "Saya."Pria paruh baya itu berbalik menatap asal suara, dia menatap wanita itu se
Laptop di atas meja langsung digunakan Selin untuk memutar isi flashdisk itu.Semua yang berada dalam ruangan itu terkejut menyaksikan isi video itu. Di layar terpampang jelas bagaimana Stiven Lee bersama seorang wanita membakar sebuah rumah mewah yang di dalamnya berisi satu keluarga besar keluarga Ludwig.Di sana juga terlihat dua orang wanita keluar dari kepulan asap tebal, salah satunya memegang pergelangan tangan seorang remaja berusia enam belas tahun. Bak pahlawan kesiangan Stiven Lee langsung berlari dan mengambil alih tangan sang anak kemudian bertanya dengan panik, "Sayang di mana yang lainnya? Kau tidak apa-apa, kan, Nak? Aku baru pulang, tiba-tiba dari jauh aku melihat rumah kebakaran. Aku menambah kecepatan mobil ku. Aku baru saja mau berlari masuk ketika melihat kalian keluar."Wanita itu tidak menjawab, hanya airmata yang mengalir dari wajah cantiknya.Pemadam dan polisi datang hampir bersamaan, tapi terlambat. Semua telah menjadi abu, hanya tiga orang yang selamat."M
"Aku akan tahu apa kamu berkata jujur atau tidak," kata Lintang dan meminta Aurelia untuk membawa Selin turun.Aurelia menuju lantai dua, menemui Selin Widyawati."Kenapa kamu kembali? Bukankah sudah ku katakan, aku sama sekali tidak kenal dengan Stiven Lee, apalagi keluarga Ludwig," kata Selin datar."Maaf, Bu. Saya hanya ingin membawamu menemui seseorang," kata Aurelia.Cukup lama Aurelia membujuk Selin, akhirnya wanita itu mengikuti Aurelia keluar kamar menuruni anak tangga menuju lantai satu.Begitu sampai di lantai satu Selin menatap wanita yang terikat di kursi dalam diam. Namun, detik berikutnya dia terkejut melihat kalung yang dikenakan gadis itu.Dengan cepat dia berlari mendekat dan menarik krah kemeja wanita itu, airmata mengalir dari wajah kusamnya ketika melihat tanda lahir berbentuk bulat di pundak gadis itu.Selin berlutut dan memohon kepada Lintang, "Saya mohon lepaskan anakku, aku akan menjawab semua yang ku tahu tentang Stiven Lee, juga keluarga Ludwing.""Apa? Anak?







