Beranda / Urban / Penguasa Yang Tak Terduga / 7. Orang miskin seperti mu, bukan levelku!

Share

7. Orang miskin seperti mu, bukan levelku!

Penulis: Yully Kawasa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-14 22:07:26

“Bagaimana keadaan putra kami?” tanya Shan Yu ketika dokter keluar ruang perawatan.

“Untungnya pasien jatuh dengan posisi yang tepat, kalau tidak dia akan mengalami luka parah bahkan lebih dari itu, dia bisa saja kehilangan nyawa,” kata sang dokter.

“Tapi dia tidak apa-apa, kan, dokter?” tanya Melia khawatir.

“Tidak apa-apa. Silahkan menjenguk, pasien sudah sadar,” kata dokter tersenyum.

Shan Yu dan Melia tidak lagi bersuara, tapi mereka langsung saja berlari masuk.

Sedangkan langkah Lintang dan Aurelia berhenti dibalik tirai.

“Brayen, apa Lintang sengaja mendorongmu?” tanya Shan Yu tanpa basa basi.

“Jangan salahkan Lintang, Yah. Mungkin dia masih shock karena mengira aku akan mengambil kasih sayang ayah dan ibuku,” kata Brayen.

Lintang segera menarik pergelangan tangan Aurelia dan meninggalkan ruangan itu.

Aurelia terkejut ketika Lintang justru menuntunnya ke tempat parkir. “Kita pergi dari sini.”

“Terus bagaimana dengan brayen?”

Lintang tidak menjawab, dia sibuk mengeluarkan mobil dari parkiran rumah sakit.

Mobil Lintang melaju meninggalkan rumah sakit, tapi tidak dengan rasa sakit yang dia rasakan.

Ternyata tadi siang kamu berubah menjadi baik, karena kamu melihat ayah dan ibu? Kamu benar-benar licik, brayen!

Namun kemarahan Lintang langsung berubah ketika mengingat perlakuan orangtua kandungnya pada brayen.

Apakah brayen takut kalau sifat orangtua kandungku menurun padaku? Apa karena itu, dia melakukan ini padaku? Kalau saja orangtua kandungku membesarkan brayen dengan penuh kasih sayang, mungkin dia akan tumbuh menjadi lelaki yang baik dan tidak pendendam.

Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan di benak Lintang. Dia merasa bersalah atas perlakukan yang diterima brayen dari orangtua kandungnya.

“Kita mau ke mana?” tanya Aurelia ketika melihat mobil sang suami justru melaju kearah yang berlawanan.

Lintang tidak menjawab, dia terus mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.

Aurelia sudah terbiasa dengan sikap dingin Lintang.

Diantara lima belas pertanyaan, beruntung jika tiga pertanyaan yang akan dijawab Lintang. Selebihnya hanya sikap dingin sang suami yang diterimanya.

Mobil berhenti tepat di tanah pekuburan umum. Lintang turun dari mobil, dan berlahan melangkah diantara makam.

Langkah Lintang terhenti tepat disalah satu makam dengan dua nama yang tertera disana.

Cu Yan Lei

Meilan Sahrani

Lintang terduduk disamping makan orangtua kandungnya.

“Brayen bisa melihat wajah orangtua kandungnya. Sedangkan aku? Kalian pergi tanpa menemuiku terlebih dahulu,” kata Lintang hampir tak terdengar.

Ya! Nama orangtua kandungnya dan Alamat makam itu diberikan Melia saat Lintang bersikeras memintanya.

Lintang mengambil ponsel dari saku jasnya dan menelepon, meminta orang itu menemuinya.

Tidak butuh waktu lama, orang yang ditunggu Lintang akhirnya datang juga.

“Kenapa kamu justru memintaku ke sini? Jangan katakan kalau kamu mau mengambil alih daerah ini. Ini tempat makam umum, Lintang. Kamu jangan gila,” sungut lelaki itu kesal sendiri.

“Aku tidak akan mengambil alih tempat ini.”

“Terus?”

“Aku memintamu ke sini, kaena aku butuh bantuanmu. Tolong bantu aku memperbaiki makam orangtua kandungku. Bukankah kamu seorang desain hebat? Bantu aku mendesain makam orangtuaku agar lebih layak,” kata Lintang.

“Apa operasi justru membuat otakmu menjadi tidak beres? Woy … orangtuamu masih hidup, brengsek!” protes lelaki itu kesal, dia tidak terima ketika Lintang mengatakan kalau orangtuanya sudah meninggal.

“Aku masih waras, ini memang makam orangtuaku. Aku hanyalah anak yang tertukar saat dilahirkan dan ini adalah tempat peristirahatan terakhir mereka,” kata Lintang menunjuk makam yang sudah tua dan sama sekali tidak terawat.

“Apa kamu tidak salah informasi?” tanya lelaki itu terkejut.

Lintang menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

“Kamu memberitahukan hal sepenting ini padaku? Kenapa?” tanya lelaki itu terkejut.

“Karena kamu adalah sahabatku,” jawab Lintang apa adanya.

“Apa? Sahabat? Material yang digunakan pada badan makam ini saja bahan murahan, mana belum selesai lagi. Ini lebih dari cukup untuk menjelaskan kalau orangtuamu hanyalah orang miskin. Mungkin juga hanya pengangkut sampah, bahkan lebih dari itu pengangguran!” ketus lelaki itu.

“Satu hal yang harus kamu tahu, aku paling anti sama orang miskin! Bagiku orang miskin itu hanyalah beban, dan aku tidak mau kamu menjadi bebanku. Jadi jangan pernah bermimpi aku akan membantumu!” lanjut pria itu.

“Walaupun kamu tetap tinggal di rumah keluarga Wang, tapi bagiku garis keturunan juga penting. Yang pasti orang miskin sepertimu, bukan levelku!” ejek lelaki itu menatap Lintang sinis.

Setiap kalimat yang keluar dari mulut lelaki itu seperti petir yang menyambar di sekujur tubuh Lintang. Dia sama sekali tak menyangka kalau kata-kata itu justru keluar dari mulut sahabat karibnya sendiri.

Lintang tidak sanggup menjawab, dia merasa hidupnya benar-benar hancur.

Sekarang aku telah kehilangan dua hal. Pertama aku kehilangan kepercayaan orangtua yang selama ini membesarkanku. Kedua aku kehilangan sahabat karibku, hanya karena garis keturunan. Apa lagi yang harus aku ikhlaskan? Apa salah kalau aku terlahir dari keluarga miskin? Bukankah aku tidak bisa memilih terlahir dari rahim siapa? Bukankah orangtuaku juga tidak meminta kehidupan seperti itu?

Lintang ingin berteriak, tapi mulutnya terkunci. Dia ingin memukul, tapi dia kehabisan tenaga. Tenaga dan pikirannya benar-benar terkuras dengan semua masalah yang menimpahnya.

Kini dia baru menyadari satu hal. Kalau nyawa tidak dapat dibeli dengan uang, tapi berbeda dengan persahabatan. Seseorang bisa membeli persahabatan dari status sosialnya.

Lintang tersadar dari lamunannya ketika ponselnya tidak berhenti berbunyi, ada pesan masuk dari groupnya.

[Apa kalian sudah tahu, Lintang ternyata bukan anak kandung Pak Shan Yu dan Ibu Melia.]

[Maksudnya?]

[Dia tertukar saat dilahirkan.]

[Terus … terus … siapa orangtua kandungnya? Apakah lebih kaya dari keluarga Wang atau sebaliknya?]

[Lintang hanyalah anak orang miskin, jelas terlihat dari kondisi makam orangtuanya.]

[Berarti dia tidak pantas untuk bergabung di group ini. Bukankah group ini khusus anak konglomerat?]

[Benar. Keluarkan Lintang dari group ini. Dia tidak pantas bergabung dengan anak-anak keluarga kaya.]

[Siapa yang setuju mengeluarkan Lintang dari group?]

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penguasa Yang Tak Terduga   77. Sebuah pesan

    Lintang terdiam, dia bingung harus menjawab apa, karena dia sendiri bingung dengan identitas aslinya.Aurelia menarik krah kemeja Lintang.“Jawab aku! Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu bisa memegang kartu hitam ekslusif, ha? Kenapa kamu bisa masuk ke Nusakambangan begitu mudahnya? Bahkan kamu disambut selayaknya orang besar!” suara Aurelia meninggi.“Maafkan aku, Aurel. Secara tidak langsung aku membawamu ke dalam bahaya,” kata Lintang hampir tidak terdengar.“Bukan jawaban itu yang ingin ku dengar! Aku mau kepastian, siapa kamu sebenarnya?” tegas Aurel.“Aku sendiri tidak tahu identitas asliku.”“Jangan bercanda, Brengsek! Aku bukan orang bodoh!” bentak Aurel kesal.“Itulah kenyataannya, aku sendiri tidak tahu siapa aku sebenarnya!” jawab Lintang lemas.Melihat kesungguhan di wajah sang suami, membuat Aurelia yakin kalau suaminya sedang berbicara serius.“Kamu terlibat ke dalam masalah serius, jadi sebagai istri tidak menutup kemungkinan aku juga akan ditemukan. Sebelum semuanya tah

  • Penguasa Yang Tak Terduga   76. Siapa kamu sebenarnya, Lintang?

    “Temanilah keponakanmu, dia pasti terkejut meyaksikan ini. Apalagi kejadian tadi tepat didepan matanya. Kalau dia seorang polwan, maka itu bukan hal baru baginya. Masalahnya dia hanya warga sipil biasa. Jadikan ini Pelajaran, lain kali jangan membawa warga sipil untuk menginap di dalam sini, tempat ini menyeramkan bagi mereka. Walaupun itu keluarga kita sendiri. Paham?”“Baik, Pak. Setelah keponakanku tenang, aku akan membawanya keluar dari sini.”“Pastikan dia merasa aman, baru antar dia pulang. Jangan biarkan dia trauma akan kejadian tadi.”“Bai, Pak,” jawab paman Aurelia tegas.Polisi yang memiliki jabatan lebih tinggi dari paman Auelia itu, langsung saja meninggalkan mereka dan menuju tahanan lainnya yang juga ketakutan.Polisi itu mengambil ponsel dan mengirim pesan.[Semua berjalan sesuai rencana, Bos. Selin Widyawati sudah tewas tertembak. Jadi masa lalu keluarga Lee juga akan terkubur bersamanya. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.]***“Apa? Tidak, Aurel! Paman tidak aka

  • Penguasa Yang Tak Terduga   75. Tembak menembak

    “Sel pria semua sudah keluar, bagaimana dengan sel wanita?” teriak paman Aurel kepada rekan kerjanya.“Semua sudah,” terdengar suara teriakan balasan.Semua polisi langsung saja keluar dan menuju tempat terbuka, sedangkan bagian teknisi memeriksa apakah ada kerusakan Listrik di tempat lain, setelah dapur dinyatakan aman.Walau dalam keadaan darurat, tapi pihak kepolisian tidak mau kecolongan. Mereka tetap waspada. Mereka tidak ingin sampai terjadi kebakaran dan masih ada tahanan yang berada di dalam sel.“Gawat, ada satu tahanan yang tidak ada,” teriak salah satu polisi, panik.“Apa? Siapa?”“Selin Widyawati, wanita bisu.”Tanpa menunggu, paman Aurelia langsung saja berlari masuk ke dalam. Sang paman tidak dapat melarang keponakannya untuk ikut, dia tahu sekarang bukan waktunya berdebat. Itu karena dia tahu persis watak sang keponakan yang keras kepala.“Paman, apa dia meninggal?” tanya Aurel panik ketika melihat Selin tergeletak di lantai.Ya! Polisi memang telah membuka sel tahanan

  • Penguasa Yang Tak Terduga   74. Kekacauan di Nusakambangan

    Begitu kembali ke tempat semula Aurelia langsung mendekati sang paman. “Paman, aku tadi melihat wanita yang kerjaannya hanya diam saja. Namanya, Se-se-se …” bisik Aurelia seolah-olah sedang berpikir.“Selin Widyawati? Dia narapidana paling lama dan tidak pernah bicara. Kamu lihat, dia saja bertahan dengan kondisinya. Masa kamu kalah sama dia,” kata sang paman balas berbisik.“Belum tentu paman, aku kan tidak mengenalnya. Aku itu wanita normal dan ingin hidup seperti wanita pada umumnya. Hidup bersama orang yang aku cintai dan mempunyai anak, seperti keluarga pada umumnya. Sedangkan wanita itu? Mungkin dia tidak punya tujuan hidup. Siapa tahu dia justru suka di sini, karena mendapatkan makanan gratis, dari pada kesulitan mencari makan diluar, kan? Sedangkan aku tidak pernah merasa kesusahan, sedangkan wanita itu? Belum tentu apa yang aku rasakan dia bisa kuat. Dia saja diam begitu. Bisa jadi otaknya memang bermasalah,” bisik Aurelia.“Kamu bisa memeriksanya sendiri,” bisik sang paman.

  • Penguasa Yang Tak Terduga   73. Lintang berhasil masuk Nusakambangan

    Setelah tiba di tempat tujuan, Lintang langsung memakai kacamata hitam dan kumis tipis.Dengan langkah pasti Lintang keluar dari mobil dan melempar kunci mobil kepada anak buahnya.Helikopter membawa Lintang ke Nusakambangan dalam waktu singkat.Kepolisian yang berada di sana langsung menyambut kedatangan Lintang.Ya! Lintang meretas jaringan computer dan cctv penjara nusakambangan, kemudian mendaftarkan namanya sebagai salah satu tamu terpenting yang akan bertugas di sana dalam jangka waktu yang telah ditentukan.Kalau dalam komputer dan CCTV penjara Nusakambangan akan terlihat jelas wajah palsu Lintang, namun berbeda saat berada diluar. Diluar penjara Nusakambangan nama Lintang tidak akan ditemukan oleh pihak kepolisian manapun. Begitupun dengan CCTV, wajah Lintang tidak akan terlihat.“Selamat datang, Tuan,” sambut mereka dengan ramah.“Terima kasih. Terima kasih,” jawab Lintang dengan dialek luar. Sebagai tanda dia bukan orang Indonesia, tapi bisa berbahasa Indonesia dengan fasih.

  • Penguasa Yang Tak Terduga   72. Aurel berhasil ikut sang paman ke Nusakambangan

    “Apa Aurel bisa percaya pada perkataan paman? Bukankah selama ini paman tidak pernah berbohong sama Aurel?"“Baiklah, saya akan kirim lokasinya. Tapi ingat kalau sampai ayah dan ibu tahu, paman akan menemukan saya sebagai jenazah,” ancam Aurelia.“Paman janji.”“Awas kalau ingkar.”Tut … Tut … Tut …Dengan santai Aurelia mengirim lokasinya kepada sang paman.‘Lintang akan murka kalau tahu aku nekad melakukan ini, tapi aku sudah memilih jalan ini. Aku hanya akan meninggalkan petunjuk untuknya,’ guman Aurelia.Ya! Aurelia meninggalkan pesan kepada Lintang melalui surat yang hanya dapat dipahami oleh Lintang sendiri. Seperti orang yang mengalami gangguan mental, Aurel mengacak-acak rambutnya, wajahnya lesu dengan pancaran mata yang tidak biasa.Setelah hampir satu jam menunggu tiba-tiba terdengar teriakan panik. “Astaga, Aurel. Apa yang terjadi? Kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa penampilanmu menjadi kacau begini?”Aurelia menatap sang paman dengan pandangan kosong. “Kenapa semua keja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status