LOGINIa tahu pria itu ingin melakukan hal yang sama seperti dulu.Tatapan Saga dipenuhi hasrat yang kelam. Sejak bertemu dengannya lagi, ia terus menahan diri. Memeluk tubuh selembut ini membuatnya tak lagi bisa berpura-pura menjadi pria yang waras.“Bodoh,” desisnya. “Apa kamu pikir dua tahun lalu itu cukup bagiku?”Air mata Yeni jatuh. Ia terus memaksa dirinya untuk kuat, tetapi di hadapan kekerasan dan tekanan seperti ini, apa yang bisa ia lakukan?Ia bahkan tidak bisa melawan.“Saga, lepaskan aku…!”“Tidak mungkin.” Suaranya dingin tanpa belas kasihan.“Kalau aku melepaskanmu, siapa yang akan membebaskanku?”Nada bicaranya hanya berisi kekejaman.“Kembalikan aku ke desa pegunungan itu,” isak Yeni. “Aku tidak bisa hidup di kota ini. Aku hanya beban. Aku tidak mengingat masa lalu, aku tidak menginginkan apa pun. Tidak bisakah kamu memberiku ketenangan? Kumohon… lepaskan aku.”“Sayangnya,” jawab Saga dingin, “kamu tidak bisa pergi ke mana pun kecuali di sisiku.”Ciuman itu kembali jatuh,
Saga membersihkan tubuh Yeni dengan sangat teliti. Sebenarnya, dia juga sedang memeriksa tubuhnya.Kulitnya sangat putih. Tinggal di desa pegunungan kecil seperti itu tidak membuat kulitnya menjadi kasar sama sekali, masih seputih batu giok, halus seperti porselen.Tidak ada bekas luka. Tidak satu pun.Saga menyeka tubuh Yeni dengan serius sambil berkata pelan,“… Bagaimana kamu menjalani hidupmu selama beberapa tahun ini? Matamu tidak bisa melihat. Siapa yang menjagamu?”Yeni bisa merasakan setiap sentuhan. Dia tidak bisa mengabaikan tangan besar yang bergerak di tubuhnya. Dia hanya bisa gemetar, menggigit bibirnya, dan menahan air mata agar tidak jatuh. Dia tidak ingin menjawab pertanyaannya.Dia sangat pendiam.Bahkan di permukaan, dia tampak patuh, tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun.Saga menatap wajahnya dan mengernyit sedikit.“… Dua tahun tidak bertemu. Kita seharusnya punya banyak hal untuk dibicarakan. Kamu tahu, bahkan kalau kamu tidak bicara, aku tetap bisa mencari t
Penduduk desa ini hidup sederhana. Pakaian mereka umumnya dari kain linen kasar. Kain selembut yang baru saja disentuhnya jelas bukan milik siapapun di desa pegunungan ini.Belakangan ini memang banyak orang asing datang dan pergi. Sekolah dibangun, jalan diperbaiki seadanya, bantuan kebutuhan hidup dibagikan, ditambah donasi sosial.Orang asing memang semakin banyak.Saga menatap orang di hadapannya. Aura yang ia rasakan dari tubuh itu… tidak berubah sedikit pun.Selama dua tahun, wajah itu nyaris tak berubah. Masih muda seperti dulu.Masih seperti gadis kecil.Padahal usianya sudah dua puluh tahun, tetapi belum memancarkan kedewasaan seorang wanita.Tenggorokan Saga menegang. Ia menatap mata Yeni yang kosong, lalu berkata pelan,“Kamu…”Jantung Yeni berdegup kencang. Seluruh tubuhnya gemetar, seperti jatuh ke dalam jurang es. Wajahnya yang memang pucat kini benar-benar kehilangan warna darah. Ia mundur beberapa langkah dengan panik.Gerakannya terlalu besar. Kakinya tersandung akar
Desa pegunungan itu benar-benar terpencil. Saga harus naik pesawat selama tiga jam, lalu melanjutkan perjalanan darat selama sepuluh jam. Setelah itu, mereka tiba di jalan setapak yang bahkan tidak bisa dilalui mobil.Hanya bagal yang bisa digunakan.Namun Saga merasa bagal itu terlalu lambat, jadi dia memilih berjalan sendiri.Leo mengikutinya sambil menghela napas.Demi seorang wanita, pria seperti Saga bisa sebegitu gilanya.Saga berjalan hampir lima jam dengan berjalan kaki dan menunggang bagal bergantian. Langkahnya cepat dan penuh tekad, seolah ada sesuatu di depan sana yang menarik seluruh hidupnya.Leo sudah terbiasa berlatih fisik sejak kecil, namun jalan pegunungan yang terjal dan licin, baru saja diguyur hujan deras membuat perjalanan terasa sangat berat. Lumpur menempel di mana-mana.Saga, yang sangat menjaga kebersihan, sama sekali tidak peduli. Celana dan pakaiannya penuh noda lumpur dan air hujan.Bahkan Leo yang terbiasa berolahraga mulai kelelahan, tetapi Saga tidak m
Sepupu: Tentu saja. Rara itu unik. Kalau tidak, bagaimana mungkin kamu bisa mendapatkan kasih sayang tanpa syarat dari Saga?Hati Rara dipenuhi kebanggaan. Semua orang bisa melihat betapa Saga begitu menyayanginya.Baik di industri hiburan, di antara rekan-rekannya, maupun di perusahaan, siapapun yang melihatnya pasti segan. Kemanapun dia pergi, sikapnya selalu seperti seorang ratu.Bahkan saat syuting, jika dia lelah, dia bisa berhenti. Jika suasana hatinya buruk, dia tidak perlu melanjutkan. Semua terserah padanya. Dia tidak perlu mengkhawatirkan apapun, karena Saga akan membereskan segalanya untuknya.Saga…Rara memejamkan mata dan membayangkan wajah Saga. Pria itu benar-benar tampan, memiliki status dan kekayaan yang tak tertandingi. Selama dua tahun menjadi kekasih Saga, setiap hari hidupnya terasa mewah dan sempurna.Saga tidak seperti pria kaya dan berkuasa lainnya yang dikelilingi banyak wanita dan sering bermain ambigu. Di sisinya, hanya ada dia.Pria yang begitu setia, penuh
Dua tahun berlalu begitu cepat. Selama itu, Saga tidak pernah jatuh sakit secara fisik.Namun kepribadiannya berubah drastis.Dia mulai datang ke perusahaan tepat waktu. Dia mengesampingkan semua urusan di luar negeri.Dia menetap di Kota B dan mengakar di perusahaan K milik keluarga An.Perubahan Saga bukan hanya itu.Yang paling mengejutkan, dia mulai tersenyum.Meski jarang, sesekali wajahnya akan memperlihatkan senyum samar. Kata-katanya bertambah, dan dia mulai berkomunikasi dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari.Sebagai dokter pribadi sekaligus sahabatnya, Zhoni seharusnya merasa lega.Namun ini justru sebaliknya.Dia merasa tertekan dan tidak berdaya.Dia juga merasa takut dan semakin khawatir. Di permukaan, Saga tampak baik-baik saja. Bahkan jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Namun justru Saga yang seperti itulah yang membuat Zhoni yakin, jika Saga semakin sakit. Sangat parah!Dulu, penyakitnya parah tapi bisa dideteksi. Ada gejala, ada emosi yang bisa diluapkan.







