LOGIN
Johan memberiku libur selama satu minggu. Setelah seminggu berlalu, masih tersisa satu adegan terakhir dalam skenario. Johan bilang, dia akan mengajariku secara langsung.Aku mengenakan kemeja ketat dan rok pendek seperti dalam ceritaku, lalu membawa naskah ke lokasi syuting untuk menemuinya. Selama seminggu ini, aku merindukannya setiap malam. Akhirnya, aku akan benar-benar bersamanya.Saat aku duduk menunggu Johan menyelesaikan syuting, seorang pria kurus berbau keringat berjongkok di sampingku sambil memainkan ponsel. Tiba-tiba dia bertanya, "Hai, berapa tarifmu sekali main?"Dia adalah kru yang melihatku di hutan waktu itu. Aku merasa mual dan jijik. Aku segera berdiri dan memindahkan laptopku untuk menjauh. Namun, dia terus membuntutiku. "Ayo, sebutkan harganya, kita bisa negosiasi ...."Tiba-tiba Johan membentak dari belakangku, "Nggak punya pekerjaan? Berani-beraninya mengganggu penulis skenario?" "Wanita gatal ini pernah main di hutan dengan pria lain, dia bukan wanita
Malam hari, Bobby sudah pergi. Tubuhku penuh luka. Aku bahkan tidak berani mengenakan pakaian. Namun, naskah hari ini belum selesai direvisi, padahal besok harus diserahkan.Pada saat itu, tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Aku tidak memakai apa pun selain sehelai kain kasa transparan yang menutupi tubuh. Melalui lubang intip pintu, aku melihat Johan.Seharusnya aku tidak ingin berhubungan lagi dengannya, karena dialah awal dari semua kekacauan ini. Namun saat melihatnya, raga dan jiwaku yang hancur justru kembali bergejolak. Bagian bawah tubuhku terasa mulai memanas. Pengalaman seksual terbaikku memang berasal darinya."Emelie, apa kamu di dalam?"Mendengar suaranya, gairahku seolah kembali membanjir. Bobby telah meninggalkanku. Aku butuh dekapan, dan hanya Johan yang bisa menyembuhkanku. Aku tidak ingin lari lagi. Gairah dan perasaan menginginkan itu tidak mengenal status sosial!Aku membuka pintu dan membiarkan Johan masuk. Saat melihat luka-luka di tubuhku, dia sama sekali
Aku membawa Bobby kembali ke hotel. Begitu pintu tertutup, sebuah tamparan mendarat di pipiku. Dia menyudutkanku di area foyer.Dia lalu mengimpitku ke dinding dan bertanya dengan nada menghina, "Bagaimana biasanya kamu melayani pria lain? Lakukan hal yang sama padaku sekarang, biar aku juga menikmatinya."Aku memegang pipiku yang terasa panas. Sadar bahwa aku telah mengkhianatinya, aku pun tidak melawan. Aku menuruti permintaannya.Aku menarik tangannya, menuntunnya masuk ke balik gaunku, melingkari pinggangku, hingga naik ke dadaku yang penuh. Jemari Bobby tidak kasar ataupun dingin. Sentuhannya justru terasa panas dan lembut, memberikan sensasi asing yang berbeda. Namun, aku tidak menyukainya.Meski begitu, Bobby tampak sangat bergairah. Tubuhnya gemetar hebat hingga dia tak mampu berkata-kata. Aku menggenggam tangannya dari balik pakaian, memandu gerakannya untuk meremas bagian sensitifku sambil mengerang pelan.Aku bisa melihat dengan jelas bahwa dia sudah terangsang sepenuh
Pacarku menempelkan wajahnya di jendela plastik transparan itu dan menyaksikan adegan tersebut. Aku tersentak kaget dan tidak mampu melanjutkannya lagi. "Bobby!" Bobby menatapku dengan tatapan terkejut sekaligus kecewa. Dia pun melempar bunga di tangannya ke tanah, lalu berbalik pergi. Aku segera mendorong Johan. Aku segera memungut gaunku di lantai, memakainya dengan semrawut sambil menangis tersedu-sedu.Semua ini karena kecanduan seks yang memalukan ini! Aku benar-benar telah jatuh ke dalam dosa! Johan melihatku yang sedang kalut dan bertanya dengan nada dingin, "Kamu masih mau mengejarnya?"Aku tidak bisa terus berada di sini bersamanya. Aku pun mengambil ponselku dan lari mengejar Bobby. Aku berlari hingga ke ujung pagar lokasi syuting dan akhirnya berhasil menyusulnya. Aku memeluknya dari belakang. "Bobby! Maafkan aku."Dia adalah pria yang menjadi mimpiku dan yang kucintai selama tiga tahun. Cinta pertamaku yang suci. Saat ini, wajahku sudah banjir air mata. Namun,
Kali ini, aku sempat melangkah mundur. Namun, dia tetap berhasil menyelinap ke balik gaunku dan mencengkeram pinggangku yang ramping. Telapak tangannya mengusap pinggangku maju-mundur, memberikan stimulasi yang membuatku gemetar dan membangkitkan gairah yang membara.Awalnya aku ingin menghindari permainannya, tetapi aku sungguh tidak rela mendorongnya menjauh. Rasanya benar-benar ... sangat nikmat."Revisinya bagus. Apa ada pengalaman khusus saat menulisnya?" Suaranya yang berat dan menggema terdengar menggoda.Tangannya seperti ular yang dingin. Perlahan merayap dari pinggang menuju dadaku, lalu meremas bagian lembut itu seolah ingin melahapnya. Aku tidak bisa menahan diri dan mendesah halus. Aku memejamkan mata, menikmati sensasi ini, dan membiarkan diriku tenggelam dalam kesesatan dengan sadar."Telapak tangan yang kasar membuatnya bertekuk lutut. Godaan di alam terbuka membuatnya jatuh ke lubang gairah, dan dia menjadi semakin haus ...."Dia mendengus puas sebagai jawaban. Ja
Keesokan paginya, aku mengenakan gaun putih salju yang membalut lekuk tubuhku dengan sempurna. Rambut panjangku dibiarkan terurai, lengkap dengan riasan wajah tipis yang dipulas dengan saksama. Aku pun menuju lokasi syuting sambil membawa naskah baru.Aku tahu, semakin aku terlihat seperti gadis suci yang anggun dan dingin, semakin besar pula gairah para pria untuk menodai diriku. Aku ingin membuat Johan bertekuk lutut dan tergila-gila padaku.Begitu memasuki studio dan melihat Johan duduk di depan monitor, jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Pesan suara yang kukirimkan padanya dalam keadaan mabuk kepayang semalam, belum juga dibalas. Padahal, dia adalah pria dengan stamina luar biasa yang selalu tenggelam dalam pekerjaan. Dia hampir tidak pernah mengabaikan pesan.Jika dia sudah duduk di studio sepagi ini, dia pasti sudah melihat pesan itu. Namun, dia sengaja mendiamkanku.Aku mulai menyesali kecerobohan dan sikapku yang memalukan semalam. Harga diri dan gengsi yang selama ini







