Share

Penulis Skenario Penggoda
Penulis Skenario Penggoda
Author: Liam

Bab 1

Author: Liam
Namaku Emelie, seorang penulis novel romansa dewasa.

Alasanku menulis genre ini karena inilah satu-satunya pelampiasan bagi gairahku yang meledak-ledak.

Orang tuaku adalah guru, sehingga aku dibesarkan dengan didikan yang sangat ketat.

Di kampus, aku dikenal sebagai primadona jurusan sastra yang anggun dan dingin.

Namaku selalu disebut-sebut di mading kampus, dan fotoku sering diambil secara diam-diam oleh para pengagum di perpustakaan.

Aku harus berpura-pura polos dan menjaga jarak demi menjaga martabat orang tuaku.

Namun, di balik citra itu, aku tidak hanya memiliki lekuk tubuh yang menggoda, tetapi juga kecanduan seks yang melampaui orang normal.

Sejak masa remaja, aku tidak hanya berfantasi tentang pria dan bermasturbasi berkali-kali setiap hari. Bahkan terkadang saat gairah itu muncul di tengah pelajaran, aku akan merapatkan kedua tungkaiku dengan tegang demi mengecap kenikmatan secara sembunyi-sembunyi.

Dalam setiap novelku, sosok pemeran pria selalu kuambil dari bayangan teman sekelasku yang kutaksir. Muda, atletis, berperut penuh otot, dan tampan.

Saat dia memeras keringat di lapangan basket, aku membayangkan dia tengah memacu gairah di atas tubuhku dengan liar.

Setiap kali aku menuangkan fantasi itu ke dalam tulisan, tubuhku seolah ikut bereaksi seiring alur cerita yang mengalir. Seakan-akan akulah gadis yang ditindih dan dihunjam oleh sang pria. Setiap sentuhannya terasa nyata di kulitku, dan setiap hantaman itu menghancurkan akal sehatku.

Setiap kali selesai menulis, aku akan terkulai lemas di depan komputer. Sementara area di sela paha yang terus bergesekan, sudah basah kuyup.

Musim panas ini, aku mendapat kesempatan pertama untuk lepas dari pengawasan orang tua.

Novelku secara tak terduga dibeli oleh sebuah tim produksi film kecil.

Mereka memintaku ikut ke lokasi syuting sebagai penulis skenario.

Orang tuaku pun mengizinkan aku pergi untuk mencari pengalaman.

Sebelum berangkat, aku sempat menyatakan perasaan pada teman sekelasku, dan dia menerimaku.

Hari itu aku sangat bahagia. Di dalam kamar, aku bertelanjang bulat hanya dengan sehelai syal transparan, tenggelam dalam mimpi erotis yang datang bertubi-tubi.

Saat terbangun, aku menatap langit-langit kamar yang gelap, mencoba membelai tubuhku sendiri dengan jari.

Meski setiap sentuhan memberikan kenikmatan, aku tetap merasa ada sesuatu yang kurang.

Namun, aku tak punya waktu untuk merenungkan kekosongan itu. Setelah bergabung dengan tim produksi, aku mulai sangat sibuk.

Karena naskah aslinya terlalu vulgar, aku harus merevisi skenario sambil terus menjalani syuting.

Sebagai penulis asli, akulah yang memikul tanggung jawab berat itu.

Namun, sutradara film ini terus-menerus merasa tidak puas dengan adegan saat pemeran utama pria dan wanita pertama kali bercumbu mesra.

Pukul dua dini hari, grup koordinasi mengumumkan bahwa syuting hari itu selesai.

Demi menyelesaikan draf terakhir hari ini, aku bahkan tidak sempat mengenakan pakaian dalam. Aku hanya mengenakan jaket panjang dan segera mengajak sutradara keluar.

Di pinggiran hutan yang sepi, aku bertanya dengan suara gemetar, "Pak Johan ... apa versi yang ini sudah oke?"

Sutradara itu bernama Johan Ronald. Usianya tiga puluh tahunan, tetapi energinya seolah tak ada habisnya. Dia terus merokok sambil mempelajari naskahku dengan saksama.

Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas, kulitnya berwarna perunggu sehat. Jaket yang dia kenakan tidak mampu menyembunyikan otot-ototnya yang menonjol. Ditambah lagi, tingginya mencapai 190 cm.

Aku sudah punya pacar, seharusnya aku tidak mendambakan pria sepertinya.

Namun di tengah keheningan malam, gairahku bagaikan kelinci liar yang sulit dikendalikan.

Jika tangan itu yang membelai, tekanannya pasti akan sangat kuat. Aku mau tak mau mulai berandai-andai. Jika pria setinggi ini menindihku, dia pasti akan menyungkup seluruh tubuhku. Tangan yang kasar serta kuat itu, pasti akan meninggalkan jejak yang dalam di kulitku.

Lamunanku buyar saat mataku bertemu dengan tatapannya.

Dia mengempaskan naskah itu ke dadaku.

Lalu dia membentakku, "Ini terlalu palsu! Apa kamu benar-benar seorang gadis? Apa semua gadis sehaus ini? Apa kamu nggak tahu cara bersikap malu-malu saat pertama kali menghadapi pria?"

"Aku ... aku nggak punya pengalaman itu ...."

Entah mengapa, meskipun Johan memarahiku, bagian bawah tubuhku justru mengeluarkan aliran hangat.

Bahkan napas daku mulai memburu secara diam-diam.

Saat itu, lampu-lampu syuting sudah dipadamkan.

Hanya ada aku dan tubuh kekar pria ini, berdiri berhadapan di tengah alam terbuka yang sunyi.

Terlebih lagi, karena terburu-buru keluar dari asrama tadi, aku tidak memakai apa pun di balik jaket ini.

Saat angin malam berembus, kain jaket itu bergesekan dengan kulit payudaraku yang sensitif.

Api gairahku mulai menyulut lagi.

Johan mendekat, napasnya bahkan terasa menyapu wajahku.

"Nggak punya pengalaman?"

Karena jaraknya yang terlalu dekat, dadaku yang penuh naik-turun dengan cepat, menciptakan getaran yang nyata.

Kancing jaket yang tidak terpasang dengan benar membuat sedikit rona merah di ujung dadaku terlihat dari celah kain.

Tatapan Johan seketika menjadi panas. Dia mengulurkan tangan, mencengkeram jaketku, dan menariknya ke depan.

"Datang mencariku tengah malam dengan pakaian seperti ini, kamu bilang nggak punya pengalaman?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penulis Skenario Penggoda   Bab 9

    Johan memberiku libur selama satu minggu. Setelah seminggu berlalu, masih tersisa satu adegan terakhir dalam skenario. Johan bilang, dia akan mengajariku secara langsung.Aku mengenakan kemeja ketat dan rok pendek seperti dalam ceritaku, lalu membawa naskah ke lokasi syuting untuk menemuinya. Selama seminggu ini, aku merindukannya setiap malam. Akhirnya, aku akan benar-benar bersamanya.Saat aku duduk menunggu Johan menyelesaikan syuting, seorang pria kurus berbau keringat berjongkok di sampingku sambil memainkan ponsel. Tiba-tiba dia bertanya, "Hai, berapa tarifmu sekali main?"Dia adalah kru yang melihatku di hutan waktu itu. Aku merasa mual dan jijik. Aku segera berdiri dan memindahkan laptopku untuk menjauh. Namun, dia terus membuntutiku. "Ayo, sebutkan harganya, kita bisa negosiasi ...."Tiba-tiba Johan membentak dari belakangku, "Nggak punya pekerjaan? Berani-beraninya mengganggu penulis skenario?" "Wanita gatal ini pernah main di hutan dengan pria lain, dia bukan wanita

  • Penulis Skenario Penggoda   Bab 8

    Malam hari, Bobby sudah pergi. Tubuhku penuh luka. Aku bahkan tidak berani mengenakan pakaian. Namun, naskah hari ini belum selesai direvisi, padahal besok harus diserahkan.Pada saat itu, tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Aku tidak memakai apa pun selain sehelai kain kasa transparan yang menutupi tubuh. Melalui lubang intip pintu, aku melihat Johan.Seharusnya aku tidak ingin berhubungan lagi dengannya, karena dialah awal dari semua kekacauan ini. Namun saat melihatnya, raga dan jiwaku yang hancur justru kembali bergejolak. Bagian bawah tubuhku terasa mulai memanas. Pengalaman seksual terbaikku memang berasal darinya."Emelie, apa kamu di dalam?"Mendengar suaranya, gairahku seolah kembali membanjir. Bobby telah meninggalkanku. Aku butuh dekapan, dan hanya Johan yang bisa menyembuhkanku. Aku tidak ingin lari lagi. Gairah dan perasaan menginginkan itu tidak mengenal status sosial!Aku membuka pintu dan membiarkan Johan masuk. Saat melihat luka-luka di tubuhku, dia sama sekali

  • Penulis Skenario Penggoda   Bab 7

    Aku membawa Bobby kembali ke hotel. Begitu pintu tertutup, sebuah tamparan mendarat di pipiku. Dia menyudutkanku di area foyer.Dia lalu mengimpitku ke dinding dan bertanya dengan nada menghina, "Bagaimana biasanya kamu melayani pria lain? Lakukan hal yang sama padaku sekarang, biar aku juga menikmatinya."Aku memegang pipiku yang terasa panas. Sadar bahwa aku telah mengkhianatinya, aku pun tidak melawan. Aku menuruti permintaannya.Aku menarik tangannya, menuntunnya masuk ke balik gaunku, melingkari pinggangku, hingga naik ke dadaku yang penuh. Jemari Bobby tidak kasar ataupun dingin. Sentuhannya justru terasa panas dan lembut, memberikan sensasi asing yang berbeda. Namun, aku tidak menyukainya.Meski begitu, Bobby tampak sangat bergairah. Tubuhnya gemetar hebat hingga dia tak mampu berkata-kata. Aku menggenggam tangannya dari balik pakaian, memandu gerakannya untuk meremas bagian sensitifku sambil mengerang pelan.Aku bisa melihat dengan jelas bahwa dia sudah terangsang sepenuh

  • Penulis Skenario Penggoda   Bab 6

    Pacarku menempelkan wajahnya di jendela plastik transparan itu dan menyaksikan adegan tersebut. Aku tersentak kaget dan tidak mampu melanjutkannya lagi. "Bobby!" Bobby menatapku dengan tatapan terkejut sekaligus kecewa. Dia pun melempar bunga di tangannya ke tanah, lalu berbalik pergi. Aku segera mendorong Johan. Aku segera memungut gaunku di lantai, memakainya dengan semrawut sambil menangis tersedu-sedu.Semua ini karena kecanduan seks yang memalukan ini! Aku benar-benar telah jatuh ke dalam dosa! Johan melihatku yang sedang kalut dan bertanya dengan nada dingin, "Kamu masih mau mengejarnya?"Aku tidak bisa terus berada di sini bersamanya. Aku pun mengambil ponselku dan lari mengejar Bobby. Aku berlari hingga ke ujung pagar lokasi syuting dan akhirnya berhasil menyusulnya. Aku memeluknya dari belakang. "Bobby! Maafkan aku."Dia adalah pria yang menjadi mimpiku dan yang kucintai selama tiga tahun. Cinta pertamaku yang suci. Saat ini, wajahku sudah banjir air mata. Namun,

  • Penulis Skenario Penggoda   Bab 5

    Kali ini, aku sempat melangkah mundur. Namun, dia tetap berhasil menyelinap ke balik gaunku dan mencengkeram pinggangku yang ramping. Telapak tangannya mengusap pinggangku maju-mundur, memberikan stimulasi yang membuatku gemetar dan membangkitkan gairah yang membara.Awalnya aku ingin menghindari permainannya, tetapi aku sungguh tidak rela mendorongnya menjauh. Rasanya benar-benar ... sangat nikmat."Revisinya bagus. Apa ada pengalaman khusus saat menulisnya?" Suaranya yang berat dan menggema terdengar menggoda.Tangannya seperti ular yang dingin. Perlahan merayap dari pinggang menuju dadaku, lalu meremas bagian lembut itu seolah ingin melahapnya. Aku tidak bisa menahan diri dan mendesah halus. Aku memejamkan mata, menikmati sensasi ini, dan membiarkan diriku tenggelam dalam kesesatan dengan sadar."Telapak tangan yang kasar membuatnya bertekuk lutut. Godaan di alam terbuka membuatnya jatuh ke lubang gairah, dan dia menjadi semakin haus ...."Dia mendengus puas sebagai jawaban. Ja

  • Penulis Skenario Penggoda   Bab 4

    Keesokan paginya, aku mengenakan gaun putih salju yang membalut lekuk tubuhku dengan sempurna. Rambut panjangku dibiarkan terurai, lengkap dengan riasan wajah tipis yang dipulas dengan saksama. Aku pun menuju lokasi syuting sambil membawa naskah baru.Aku tahu, semakin aku terlihat seperti gadis suci yang anggun dan dingin, semakin besar pula gairah para pria untuk menodai diriku. Aku ingin membuat Johan bertekuk lutut dan tergila-gila padaku.Begitu memasuki studio dan melihat Johan duduk di depan monitor, jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Pesan suara yang kukirimkan padanya dalam keadaan mabuk kepayang semalam, belum juga dibalas. Padahal, dia adalah pria dengan stamina luar biasa yang selalu tenggelam dalam pekerjaan. Dia hampir tidak pernah mengabaikan pesan.Jika dia sudah duduk di studio sepagi ini, dia pasti sudah melihat pesan itu. Namun, dia sengaja mendiamkanku.Aku mulai menyesali kecerobohan dan sikapku yang memalukan semalam. Harga diri dan gengsi yang selama ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status