Share

Bab 2

Author: Liam
Tangan besarnya yang memiliki buku jari tegas itu terasa kasar dan dingin, seketika menekan bagian sensitifku.

Angin dingin menyelinap masuk dari balik kerah baju, menyapu seluruh tubuhku.

Napasku tersentak, tetapi aku tak rela untuk mendorongnya menjauh.

Melihat reaksiku, Johan menyipitkan mata. Tangannya mulai mengelus kulit tubuhku maju-mundur, bahkan dengan sengaja mempermainkan kedua pucuk dadaku dengan sedikit kasar.

Hingga perlahan, telapak tangannya terasa memanas.

Ini adalah pertama kalinya tubuh sensitifku bersentuhan dengan pria, membuatku tak kuasa menahan sensasi yang menjalar.

Seluruh tubuhku gemetar hebat, dari pangkal tenggorokanku keluar rintihan halus, "Aku ... aku ... emm ... itu benaran."

Melihat aku tidak melawan melainkan malah tampak sangat bergairah, Johan seolah semakin bersemangat.

Dia berputar ke belakangku, sementara tangan kanannya justru memutar dengan keras di area dadaku.

Stimulasi itu membuatku menjerit kecil, tetapi dia sama sekali tidak berniat menarik tangannya.

Johan berkata sambil meniupkan napas hangat di telingaku, "Jangan takut, aku sedang mengajarimu."

Perut bagian bawahku terasa panas, hatiku bergejolak, tetapi tubuhku tak henti gemetar.

Aku hanya bisa mengangguk pelan sambil mengerang, "Uh!"

Lalu, aku merasakan tangan Johan yang lain menyelinap ke pinggangku. Sama-sama kasar, sama-sama dingin, dan dengan kekuatan remasan yang sama.

Aku mau tak mau membuka bibir, napasku kian memburu.

"Kamu menulis 'Setelah sebulan nggak bertemu, pemeran pria memeluk pemeran wanita dengan penuh gairah, dan wanita itu menatap matanya'. Sekarang, apa kamu bisa melihat mataku?"

Tangannya yang panas, kini membungkus bokongku. Lalu meremas bagian bulat itu dengan kuat seolah memberiku hukuman.

"Uh ... ng-nggak bisa."

Sikap mendominasinya yang tiba-tiba ini membuatku bergetar hebat. Kedua tanganku refleks mencoba menutupi dadaku.

"Jadi, bagaimana seharusnya adegan itu ditulis?"

"Dia ... emm ... memelukku ... dengan penuh gairah. Telapak tangannya yang lebar ... uh ... tanpa sadar meremas bokongku dengan kencang. Lengannya yang kuat ... yang kuat ... haah, sebentar."

"Lanjutkan."

Suara perintah yang tak boleh dibantah terdengar di telingaku, sementara tangan panasnya tidak mengendur sedikit pun, tetap mencengkeram tubuhku erat.

"Lengan yang ... yang kuat ... emm ... mengunci seluruh tubuhku. Haah ... seolah ingin ... eh ... melahapku bulat-bulat."

Begitu kata-kata itu keluar, dia tersenyum puas dan sedikit melonggarkan kunciannya.

"Belajarmu cepat juga, sepertinya kamu memang berbakat."

Begitu cengkeraman Johan terlepas, kekuatanku seolah menguap. Tubuhku langsung lunglai dan nyaris ambruk ke tanah.

Pria kekar itu dengan sigap menangkapku. Lengannya menyelinap di antara kedua tungkaiku yang jenjang, lalu mengangkatku seketika.

Stimulasi yang luar biasa kuat itu, menekan tepat di titik yang sejak tadi terasa gatal di perut bawahku.

Aku sudah tidak bisa berpikir lagi.

"Ah! Sebentar, haah ... jangan, di sana ...."

Johan mendengus pelan dan berkata, "Tapi ini masih jauh dari cukup. Bagian yang paling membuatku kesal adalah bagian setelah ini."

"Tunggu, Pak Johan ...."

Suara itu terdengar sangat manis dan manja, keluar begitu saja dari mulutku.

Jakunnya bergerak naik-turun, tatapannya menjadi gelap dan sulit diartikan.

"'Jari terasa kasar dan membuatmu tidak nyaman', ini tulisanmu, ‘kan?"

Aku hampir menangis karena terus dipermainkan. "Ya ...."

Johan sepertinya suka melihatku dalam kondisi tak berdaya. Dia langsung menyentak kasar celana longgarku hingga terlepas.

Rasa dingin menyergap bagian bawahku, membuat otakku seketika buntu.

Dia lalu mengulurkan kelima jarinya dan menggoyangkannya di depan mataku. "Lihat ini."

Sebelum aku sempat bereaksi, dia membuka lebar kedua paha putihku, dan jari-jarinya langsung merangsek masuk ke dalam.

Jari-jari kasar itu tenggelam di dalam lubangku dan menggesek titik sensitif dengan brutal. Kenikmatan yang luar biasa membuatku tak sengaja mendongak, eranganku pecah, dan terdengar begitu menggairahkan.

"Ayo, sekarang katakan padaku, apa yang kamu rasakan?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penulis Skenario Penggoda   Bab 9

    Johan memberiku libur selama satu minggu. Setelah seminggu berlalu, masih tersisa satu adegan terakhir dalam skenario. Johan bilang, dia akan mengajariku secara langsung.Aku mengenakan kemeja ketat dan rok pendek seperti dalam ceritaku, lalu membawa naskah ke lokasi syuting untuk menemuinya. Selama seminggu ini, aku merindukannya setiap malam. Akhirnya, aku akan benar-benar bersamanya.Saat aku duduk menunggu Johan menyelesaikan syuting, seorang pria kurus berbau keringat berjongkok di sampingku sambil memainkan ponsel. Tiba-tiba dia bertanya, "Hai, berapa tarifmu sekali main?"Dia adalah kru yang melihatku di hutan waktu itu. Aku merasa mual dan jijik. Aku segera berdiri dan memindahkan laptopku untuk menjauh. Namun, dia terus membuntutiku. "Ayo, sebutkan harganya, kita bisa negosiasi ...."Tiba-tiba Johan membentak dari belakangku, "Nggak punya pekerjaan? Berani-beraninya mengganggu penulis skenario?" "Wanita gatal ini pernah main di hutan dengan pria lain, dia bukan wanita

  • Penulis Skenario Penggoda   Bab 8

    Malam hari, Bobby sudah pergi. Tubuhku penuh luka. Aku bahkan tidak berani mengenakan pakaian. Namun, naskah hari ini belum selesai direvisi, padahal besok harus diserahkan.Pada saat itu, tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Aku tidak memakai apa pun selain sehelai kain kasa transparan yang menutupi tubuh. Melalui lubang intip pintu, aku melihat Johan.Seharusnya aku tidak ingin berhubungan lagi dengannya, karena dialah awal dari semua kekacauan ini. Namun saat melihatnya, raga dan jiwaku yang hancur justru kembali bergejolak. Bagian bawah tubuhku terasa mulai memanas. Pengalaman seksual terbaikku memang berasal darinya."Emelie, apa kamu di dalam?"Mendengar suaranya, gairahku seolah kembali membanjir. Bobby telah meninggalkanku. Aku butuh dekapan, dan hanya Johan yang bisa menyembuhkanku. Aku tidak ingin lari lagi. Gairah dan perasaan menginginkan itu tidak mengenal status sosial!Aku membuka pintu dan membiarkan Johan masuk. Saat melihat luka-luka di tubuhku, dia sama sekali

  • Penulis Skenario Penggoda   Bab 7

    Aku membawa Bobby kembali ke hotel. Begitu pintu tertutup, sebuah tamparan mendarat di pipiku. Dia menyudutkanku di area foyer.Dia lalu mengimpitku ke dinding dan bertanya dengan nada menghina, "Bagaimana biasanya kamu melayani pria lain? Lakukan hal yang sama padaku sekarang, biar aku juga menikmatinya."Aku memegang pipiku yang terasa panas. Sadar bahwa aku telah mengkhianatinya, aku pun tidak melawan. Aku menuruti permintaannya.Aku menarik tangannya, menuntunnya masuk ke balik gaunku, melingkari pinggangku, hingga naik ke dadaku yang penuh. Jemari Bobby tidak kasar ataupun dingin. Sentuhannya justru terasa panas dan lembut, memberikan sensasi asing yang berbeda. Namun, aku tidak menyukainya.Meski begitu, Bobby tampak sangat bergairah. Tubuhnya gemetar hebat hingga dia tak mampu berkata-kata. Aku menggenggam tangannya dari balik pakaian, memandu gerakannya untuk meremas bagian sensitifku sambil mengerang pelan.Aku bisa melihat dengan jelas bahwa dia sudah terangsang sepenuh

  • Penulis Skenario Penggoda   Bab 6

    Pacarku menempelkan wajahnya di jendela plastik transparan itu dan menyaksikan adegan tersebut. Aku tersentak kaget dan tidak mampu melanjutkannya lagi. "Bobby!" Bobby menatapku dengan tatapan terkejut sekaligus kecewa. Dia pun melempar bunga di tangannya ke tanah, lalu berbalik pergi. Aku segera mendorong Johan. Aku segera memungut gaunku di lantai, memakainya dengan semrawut sambil menangis tersedu-sedu.Semua ini karena kecanduan seks yang memalukan ini! Aku benar-benar telah jatuh ke dalam dosa! Johan melihatku yang sedang kalut dan bertanya dengan nada dingin, "Kamu masih mau mengejarnya?"Aku tidak bisa terus berada di sini bersamanya. Aku pun mengambil ponselku dan lari mengejar Bobby. Aku berlari hingga ke ujung pagar lokasi syuting dan akhirnya berhasil menyusulnya. Aku memeluknya dari belakang. "Bobby! Maafkan aku."Dia adalah pria yang menjadi mimpiku dan yang kucintai selama tiga tahun. Cinta pertamaku yang suci. Saat ini, wajahku sudah banjir air mata. Namun,

  • Penulis Skenario Penggoda   Bab 5

    Kali ini, aku sempat melangkah mundur. Namun, dia tetap berhasil menyelinap ke balik gaunku dan mencengkeram pinggangku yang ramping. Telapak tangannya mengusap pinggangku maju-mundur, memberikan stimulasi yang membuatku gemetar dan membangkitkan gairah yang membara.Awalnya aku ingin menghindari permainannya, tetapi aku sungguh tidak rela mendorongnya menjauh. Rasanya benar-benar ... sangat nikmat."Revisinya bagus. Apa ada pengalaman khusus saat menulisnya?" Suaranya yang berat dan menggema terdengar menggoda.Tangannya seperti ular yang dingin. Perlahan merayap dari pinggang menuju dadaku, lalu meremas bagian lembut itu seolah ingin melahapnya. Aku tidak bisa menahan diri dan mendesah halus. Aku memejamkan mata, menikmati sensasi ini, dan membiarkan diriku tenggelam dalam kesesatan dengan sadar."Telapak tangan yang kasar membuatnya bertekuk lutut. Godaan di alam terbuka membuatnya jatuh ke lubang gairah, dan dia menjadi semakin haus ...."Dia mendengus puas sebagai jawaban. Ja

  • Penulis Skenario Penggoda   Bab 4

    Keesokan paginya, aku mengenakan gaun putih salju yang membalut lekuk tubuhku dengan sempurna. Rambut panjangku dibiarkan terurai, lengkap dengan riasan wajah tipis yang dipulas dengan saksama. Aku pun menuju lokasi syuting sambil membawa naskah baru.Aku tahu, semakin aku terlihat seperti gadis suci yang anggun dan dingin, semakin besar pula gairah para pria untuk menodai diriku. Aku ingin membuat Johan bertekuk lutut dan tergila-gila padaku.Begitu memasuki studio dan melihat Johan duduk di depan monitor, jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Pesan suara yang kukirimkan padanya dalam keadaan mabuk kepayang semalam, belum juga dibalas. Padahal, dia adalah pria dengan stamina luar biasa yang selalu tenggelam dalam pekerjaan. Dia hampir tidak pernah mengabaikan pesan.Jika dia sudah duduk di studio sepagi ini, dia pasti sudah melihat pesan itu. Namun, dia sengaja mendiamkanku.Aku mulai menyesali kecerobohan dan sikapku yang memalukan semalam. Harga diri dan gengsi yang selama ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status