Share

Bab 4

Author: Darmawangsa
Saat ini, Johan berada di dalam sebuah ruang putih yang nggak berujung.

Baru saja, seorang lelaki tua misterius telah wariskan seluruh ajaran dan peninggalannya ke dia.

Informasi yang luar biasa besar itu mengalir deras, bagaikan air terjun, menghantam kesadaran Johan.

Pada akhirnya, semua itu menyatu jadi empat huruf besar yang meliuk bagai naga dan phoenix, [Ilmu Misterius Sembilan Lapis]!

Ilmu Misterius Sembilan Lapis ini mencakup segalanya, ilmu mistis, bela diri, pengobatan, hingga formasi mistik, semua termasuk di dalamnya.

Bahkan hanya dengan jalankan sedikit saja, Johan sudah rasakan tubuhnya yang lemah perlahan terisi kembali oleh tenaga.

“Ini benar-benar berguna.”

Johan diliputi rasa bahagia yang nggak terlukiskan.

Ia rasakan di bagian perut bawahnya muncul aliran energi halus, berkelok seperti naga yang hidup.

Bahkan panca indra dan Indera keenamnya pun jadi jauh lebih tajam!

Itu karena liontin giok itu!!

Liontin giok yang Ayu buang begitu saja seperti sampah, justru kasih Johan kesempatan emas yang nggak ternilai!

Langit benar-benar belum berniat biarkan dia mati!

Entah berapa lama berlalu, hingga akhirnya Johan perlahan buka matanya.

Begitu buka mata, yang ia lihat adalah seorang wanita berwajah sangat cantik, menatapnya tanpa berkedip!

Johan langsung duduk tergagap.

“Ini ... di mana?”

“Kamu sudah sadar? Ini rumah sakit. Tadi mobilku melaju terlalu cepat dan nggak sengaja tabrak kamu. Maafkan aku.”

Kirana menatap Johan yang terbangun dengan wajah penuh rasa bersalah.

Barulah Johan ingat kejadian sebelumnya. Setelah benar-benar kecewa pada tiga wanita itu, ia putuskan pergi untuk donor darah ke seratus kalinya dan setelah itu, ia ditabrak mobil.

Kirana mengedipkan mata indahnya sambil menatapnya.

“Tapi, kamu benar-benar beruntung. Dengan kecepatan seperti itu, seluruh tubuhmu cuma lecet sedikit. Kalau aku nggak lihat sendiri, aku pasti kira penglihatanku bermasalah.”

Baru saat itu Johan rasakan sedikit luka di dahinya, lalu usap itu pelan-pelan.

Dalam hati ia berpikir, ‘Ini bukan karena aku beruntung, melainkan karena aku dapatkan berkah dari musibah ini.’

“Ssttt.”

Tiba-tiba, rasa sakit yang tajam menyerang. Johan refleks menghirup napas dingin.

Efek samping dari terlalu sering diambil darahnya masih belum hilang, tubuhnya tetap sangat lemah!

“Kenapa? Perlu aku panggilkan dokter?”

Lihat Johan nahan sakit, Kirana tanya dengan khawatir.

“Aku nggak apa-apa kok.”

Johan paksakan diri untuk senyum.

Meski telah terima warisan ilmu, tubuhnya saat ini masih rapuh. Sebelum benar-benar pulih, ia harus hati-hati.

“Di mana keluargamu? Pacarmu? Kau sudah anemia separah ini, tapi masih dibiarkan jalan sendirian di jalan, itu benar-benar bahaya.”

Jika bukan karena keberuntungannya, ia pasti sudah mati tertabrak.

Johan terdiam.

Pacarnya ... mungkin sekarang sedang temani pria lain.

“Aku nggak punya keluarga. Juga nggak punya pacar.”

Kirana tertegun, nggak tahu harus berkata apa.

“Nona ….”

Saat itu, salah satu pengawal berbisik sesuatu di telinganya.

Wajah Kirana langsung berubah pucat, kesedihan mendalam selimuti dirinya.

Namun ia berusaha tahan emosi, menyeka air mata di wajahnya.

“Johan, aku ada urusan mendesak dan harus pergi dulu. Kamu istirahat dengan tenang dulu di sini. Semua biaya akan aku tanggung. Oh ya, namaku Kirana Gunawan.”

Johan ingat nama itu.

Namun saat Kirana hendak pergi, ekspresi Johan berubah, seolah ia sadar sesuatu.

“Nona Kirana, tunggu sebentar!”

Kirana menoleh dengan tatapan bingung.

Johan ragu sejenak, lalu dengan agak canggung berkata, “Nona Kirana, maaf lancang. Boleh nggak aku lihat tanganmu?”

Begitu kata-kata itu keluar, semua orang membeku.

“Kamu mau lihat tanganku untuk apa?”

Kirana refleks mundur dua langkah.

“Nona, apa masih perlu tanya? Jelas karena dia pikir kamu cantik!”

Dua pengawal itu langsung waspada.

“Bukan, aku ….”

Johan hendak jelaskan, namun akhirnya menahan diri.

Kirana menatap Johan lurus-lurus, lalu berkata tiba-tiba, “Kamu lihat sesuatu, kan?”

Ia sadar kalau tatapan Johan ke dia sama sekali nggak penuh nafsu, melainkan serius dan terkejut.

Terkejut dengan kecerdasan Kirana, Johan ragu sejenak lalu mengangguk.

“Ini, silakan.”

Kirana langsung ulurkan pergelangan tangannya yang putih bersih, dengan sikap terbuka dan tenang.

“Apa?! Nona, kamu?!”

Dua pengawal itu benar-benar terpana.

Mereka nggak nyangka nona mereka benar-benar ulurkan tangannya!

“Tapi karena kamu pegang tanganku, kamu harus kasih tahu apa yang kamu lihat. Kalau nggak, aku akan marah.”

Lihat tangan bak giok yang begitu dekat, Johan menggertakkan gigi dan mengangguk.

“Jika yang aku katakan itu salah, silakan hukum aku.”

Ia pun genggam tangan Kirana.

“Hishhh!”

Begitu bersentuhan, Johan langsung hirup napas dingin.

‘Dingin! Sangat dingin!’

Namun ini bukan dingin secara fisik. Melainkan dingin yang tembus jiwa, menusuk hingga ke roh!

Seolah-olah ia jatuh ke dalam air es bersuhu di bawah nol, hawa dingin menyapu seluruh tubuhnya.

Ini justru buktikan bahwa persepsinya nggak salah!

Racun dingin telah menggerogoti tubuhnya, jantung dan paru-parunya perlahan mati!

Namun Kirana sendiri nggak rasakan dingin itu sama sekali.

Setelah terima warisan ilmu, Johan dengar dengan jelas percakapan di ruangan itu sebelumnya.

Termasuk fakta kalau Kirana nggak akan hidup lewati tahun ini.

Setelah pastikan, kenyataannya bahkan lebih buruk dari dugaan. Bukan hanya nggak bisa lewati tahun ini, melainkan hanya tersisa setengah tahun untuk hidup!

Sama persis dengan batas waktu Reza!

“Kamu mau pegang sampai kapan?”

Melihat Johan nggak kunjung lepaskan tangannya, wajah Kirana jadi dingin.

Johan tersadar, buru-buru lepaskan itu.

“Maaf, aku tadi melamun.”

“Malamun apanya? Kamu jelas ingin ambil untung!”

Dua pengawal hendak bertindak, namun Kirana kembali hentikan mereka.

“Sekarang, bisa nggak kamu jelaskan?”

Ia menatap Johan, tunggu jawabannya.

“Kalau berani bicara sembarangan, kami potong tanganmu!”

Dua pengawal mengancam.

“Nona Kirana, sepertinya umurmu nggak panjang.”

Begitu Johan buka mulut, ucapannya langsung menggelegar.

Kalimat itu buat udara di ruang rawat inap membeku seketika!

Dua pengawal terperangah.

“Nona, gimana dia bisa tahu?”

Di mata Kirana pun terpancar rasa terkejut. Hanya dengan pegang tangannya, pria itu bisa tahu kalau hidupnya nggak lama lagi? Namun itu belum cukup buktikan segalanya!

“Lalu?”

“Nona Kirana, kamu terkena racun dingin yang masuk ke tubuh. Fungsi organ-organmu sudah alami kegagalan, sisa hidupmu hanya setengah tahun.”

Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, Kirana dan dua pengawal membeku total!

Semua tepat!

Tahu kalau umurnya pendek mungkin kebetulan, namun mampu sebutkan kondisi penyakitnya tanpa meleset satu kata pun, itu bukan kemampuan biasa!

“Kalau gitu, bisa nggak kamu sembuhkan aku?”

Tanpa tunggu jawaban, Kirana lanjutkan, “Kalau kamu hentikan aku dan minta lihat tanganku, berarti kamu pasti punya cara sembuhkan aku!”

Saat itu, ia teringat kata-kata kakeknya, "Titik balik hidupmu ada di Kota Sowangi, di tahun terakhir hidupmu."

Mereka memang datang ke Kota Sowangi. Namun baru tiba, kakeknya diserang dan koma, sementara ia sendiri malah nabrak seseorang.

Ia sudah hampir putus asa.

Nggak nyangka, orang yang ia tabrak mungkin justru adalah “titik balik” itu!

“Ini ….”

Johan tampak ragu.

Kirana hanya tebak setengah benar. Johan memang punya cara untuk sembuhkan dia. Namun ia baru saja terima warisan ilmu itu, belum terlalu mahir.

Ditambah tubuhnya yang masih lemah, ia benar-benar nggak yakin.

“Johan, asal kamu buat aku hidup lewati tahun ini, apa pun yang kamu inginkan akan aku kasih! Uang, kekuasaan, status, semua bisa!”

Kirana berjanji dengan sungguh-sungguh.

“Ini nggak ada hubungannya dengan itu. Aku nggak inginkan semua itu.”

Kirana nggak nyerah.

Detik berikutnya, wajah cantiknya memerah, lalu dengan berani berkata, “Tadi aku dengar kamu bilang nggak punya pacar. Jika kamu mau selamatkan aku, aku bersedia nikah denganmu!”

“PUH!”

Dua pengawal hampir saja semburkan darah.

Apa yang baru saja nona mereka katakan?!

Tawarkan dirinya sendiri ke pria nggak dikenal demi minta diselamatkan?!

Jika ini tersebar, seluruh kalangan elit pasti gempar!

Namun mereka juga paham kegilaan nona-nya.

Siapa pun yang lihat harapan hidup, pasti akan pertaruhkan segalanya.

Apa artinya kebahagiaan pernikahan dibanding hidup?

Johan pun kaget. Ia buru-buru jelaskan, “Nona Kirana, kamu salah paham. Bukannya aku nggak mau nolong, tapi aku benar-benar nggak yakin. Ini pertama kalinya aku obati orang. Kalau gagal, atau aku buat kesalahan ....”

“Nggak apa-apa, aku nggak akan nyalahin kamu!” Kirana berkata dengan emosi bergetar.

“Aku memang sudah ada di ambang kematian. Datang ke Kota Sowangi juga hanya untuk coba peruntungan. Kamu yang kasih aku harapan hidup, aku malah harusnya berterima kasih!”

Menatap mata Kirana yang memerah, dan mungkin karena nggak ingin lihat wanita secantik itu mati di usia terbaiknya, Johan akhirnya mengangguk.

“Oke. Tapi upah untuk sembuhkan kamu cukup mahal. Aku mau dua triliun.”

“Dua triliun?”

Kirana tertegun.

“Ya. Aku butuh uang itu untuk melakukan sesuatu yang sangat penting.”

Lihat sorot mata Johan yang dingin dan tegas, Kirana seolah lihat banyak hal di dalamnya, ketidakpedulian, ketegasan, luka yang mengoyak hati, dan penderitaan dalam.

Gimana mungkin satu tatapan mengandung begitu banyak emosi?

“Boleh nggak aku tanya, kamu mau pakai uang sebanyak itu untuk apa?”

Ia kira Johan akan menolak untuk jawab. Namun nggak nyangka, Johan berkata dengan sangat lugas, “Untuk putuskan hubungan keluarga!”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 50

    “Johan, ini adalah Token Napas Naga milik Pasukan Napas Naga kami!”“Johan, ini Token Harimau Putih dari Pasukan Harimau Putih!”“Johan, ini Token Taring Serigala dari Pasukan Taring Serigala!”Johan berada dalam dilema, diterima salah, ditolak pun nggak enak.“Terima saja. Nanti, ke depannya kamu akan butuh itu.”Lanny tersenyum sambil berkata demikian.Barulah Johan terima semuanya.“Kalau gitu, terima kasih kepada para kapten.”Makna dari keempat token itu terlalu besar!Itu adalah simbol kekuatan pasukan khusus yang mengguncang setengah dunia militer!Cukup untuk buat sebuah negara merasa gentar!Ke depannya, siapa lagi yang berani sentuh Johan? Dan itu bahkan belum termasuk tiga pasukan khusus lainnya!Ia telah selamatkan Bagas, artinya ia adalah Penolong Besar Tujuh Pasukan Khusus!Nggak heran semua orang ingin kasih yang terbaik.Masalah pun terselesaikan dengan sempurna.Dalam perjalanan pulang, Kirana terus menatap Lanny dengan sorot mata aneh.“Bibi, kamu suka Kak Johan, yah?

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 49

    Mana bisa ini disebut isyarat halus?Itu jelas sudah terang-terangan sekali!Namun Johan pura-pura nggak lihat apa pun.Sejak awal, ia memang nggak pernah akui kalau Nabila punya “utang budi”, hanya Nabila saja yang terus-terusan ungkit itu.Sebaliknya, Nabila justru mulai gelisah. Ia sudah kasih isyarat sejelas itu, namun Johan tetap nggak ada reaksi sama sekali?“Kamu itu kenapa sih, kok dari tadi kedip-kedip mata begitu?”Terry yang ada di sampingnya lihat perubahan ekspresi Nabila dan nggak tahan untuk tanya.“Ah? Nggak apa-apa kok ….”Nabila buru-buru tarik kembali pandangannya dan tundukkan kepala.Johan telah nolak dia.Rasa frustrasi datang bercampur dengan kekesalan.Gimanapun juga, ia adalah wanita terkenal dalam militer. Wajah cantik, tubuh proporsional, semuanya ada. Kenapa Johan nggak tertarik sama sekali?Walaupun sudah ada Kirana, masa sampai abaikan dia seperti ini?Nabila merenung sejenak, lalu merasa masalahnya ada pada kesan pertama, saat pertama kali ketemu Johan, i

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 48

    Lihat pemandangan itu, Nabila dan Xavier langsung murka.“Hei, Harvey! Terry! Kalian berdua masih punya muka, nggak?! Kita datang ke sini untuk lindungi keselamatannya Johan! Tapi kalian malah jadikan ini ajang cari muka?!”Mereka bahkan belum sempat buka mulut, dua orang yang datang belakangan ini justru sudah lebih dulu bicara tanpa sungkan!“Bukannya Johan berdiri di sini dengan sangat aman?”Terry dan Harvey masih genggam tangannya Johan, seperti genggam harta karun, nggak mau lepaskan.“Dengan kemampuan Johan yang setinggi ini, kalau berada di luar sungguh sia-siakan bakatmu. Kamu tertarik nggak untuk bergabung dengan Pasukan Taring Serigala? Seluruh saudara kami anggap kamu sebagai penyelamat. Mereka semua ingin ketemu dengan kamu! Ada banyak posisi di Pasukan Taring Serigala, kamu mau lakukan apa pun, silakan.”Harvey lontarkan undangan dengan sangat alami.Terry ikut menimpali, “Kalau nggak tertarik ke Pasukan Taring Serigala juga nggak masalah. Pasukan Harimau Putih kami juga

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 47

    Bum!Krak!Krak!Dalam sekejap mata, tiga pria berbaju hitam roboh bersamaan, leher mereka terpelintir patah.Cepat. Bersih. Mengerikan.Hanya tersisa satu orang, pemimpin mereka yang masih berdiri.“Hissh!”Pria itu tersadar, seluruh bulu kuduknya berdiri.Ia tarik napas dalam-dalam, dingin menjalar hingga ke tulang.Bahkan Nabila dan Xavier yang berada nggak jauh dari sana pun membeku di tempat.Apa yang baru saja mereka lihat?!Johan, orang yang seharusnya mereka lindungi dengan nyawa baru saja patahkan leher tiga pembunuh kelas atas dengan begitu mudah?!Terry dan Harvey yang baru pertama kali lihat Johan benar-benar terguncang!Bukannya katanya Johan perlu perlindungan?Bukannya kata mereka, dia “kelinci putih” yang nggak berdaya?Lalu apa ini?!Dia bunuh pembunuh kelas elit dalam hitungan detik?!Apa kalian bercanda?!Namun, Xavier dan Nabila pun sama terdiamnya.Ini … ini ….Bahkan Kirana dan Lanny menatap dengan mata terbelalak, nggak percaya.Sementara itu, Johan yang belum sa

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 46

    Mereka melaju secepat mungkin menuju vila pinggiran kota milik Lanny.Begitu lihat begitu banyak orang datang bersamaan, Lanny langsung terkejut.“Kenapa ini? Kalian mau apa?”“Bibi, di mana Kak Johan?”Kirana tanya dengan wajah penuh kecemasan.“Adik kecil itu? Dia sudah pergi dari tadi.”Lanny tertegun sejenak, lalu jawab dengan nada heran.“Apa?! Sudah pergi?!”Begitu dengar itu, raut wajah semua orang langsung berubah drastis.Kirana bahkan hampir nangis.“Kak Nabila, gimana ini? Kak Johan sudah lama perginya, sekarang nggak ada yang tahu dia di mana. Jangan-jangan dia sudah ….”Kalimat itu terputus di tenggorokan. Air matanya jatuh deras, seperti mutiara yang talinya putus.Wajah Nabila pucat pasi, sementara keringat dingin mengalir di pelipis Xavier.“Kenapa sebenarnya? Apa yang terjadi?”Lihat situasi semakin nggak wajar, Lanny nggak bisa nahan diri untuk tanya.Nabila terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Ada orang yang ingin bunuh Johan .…”“Apa?!”Boom!Kepala Lanny seketika

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 45

    Harvey tiba-tiba ubah nada bicaranya, menatap Bagas dan yang lainnya.Mata Nabila dan Xavier langsung berubah.Sial! Mereka diam-diam mengumpat dalam hati.Mereka sempat kira Harvey dan Terry hanya datang untuk jenguk, nggak nyangka justru singgung soal Johan!Xavier nyaris menggeram. Licik!Jelas-jelas mereka sengaja.Mereka pasti sudah lama tahu informasi tentang Johan.Selama ini, Pasukan Napas Naga dan Pasukan Kopa Cara saja sudah saling bersitegang, kalau dua orang ini ikut terlibat, situasinya bisa makin kacau!Pikirkan hal itu, raut wajah Nabila dan Xavier pun segera mengeras. Namun Bagas sama sekali nggak pikirkan urusan itu.Ia justru senang bisa ceritakan kembali pengalaman dirinya yang nyaris masuk ke gerbang kematian.“Kalian bicara soal Johan? Kalian pasti sudah dengar kabarnya, nyawa tua ini sebenarnya sudah hampir masuk ke alam baka. Tapi Johan dengan paksa tarik aku kembali dari gerbang neraka! Kalian bilang, ini ajaib atau nggak? Hahaha!”Begitu dengar kisah itu, mata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status