Share

Bab 7

Penulis: Darmawangsa
Dengar itu, Johan justru tersenyum.

“Apa kamu tahu seberapa luas wilayah Kota Sowangi dan Kota Horgia?”

Ambil contoh saja Keluarga Hidayat, keluarga yang telah buang dia.

Di Kota Sowangi, mereka memang punya pengaruh besar. Namun di lingkaran Kota Sowangi–Kota Horgia secara keseluruhan, mereka nggak lebih dari sebutir pasir.

Keluarga Nugraha memang tergolong keluarga besar, tetapi tetap nggak berarti banyak di lingkaran Kota Sowangi–Kota Horgia.

Lingkaran Kota Sowangi–Kota Horgia adalah lingkaran tempat yang mampu bersaing dengan Lingkaran Kota Jerija.

Namun pengawal ini dengan enteng katakan bahwa Kirana mampu buat siapa pun di seluruh Kota Sowangi–Kota Horgia nggak berani sentuh dia?

Pengawal itu menggeleng sambil tersenyum lebar.

“Nggak tahu. Dan juga nggak perlu tahu.”

Johan perhatikan saat ucapkan kata-kata itu, punggung pengawal tersebut tanpa sadar menegak.

Itu adalah aura keangkuhan yang lahir secara alami.

Jika seorang pengawal saja memiliki rasa percaya diri setinggi itu, lalu gimana dengan Kirana sendiri?

“Oke.” Johan akhirnya mengangguk.

“Tapi sebelum ikut denganmu, aku masih harus lakukan satu hal lagi.”

“Masih ada urusan lain?”

Pengawal itu terkejut.

“Bukannya kamu sudah selesai putuskan hubungan keluarga?”

Johan nggak jawab.

Ia hanya minta pengawal itu bawa mobil ke sebuah pusat perbelanjaan yang ramai.

“Kita ngapain ke sini?”

Pengawal itu hanya bisa menatap saat Johan melangkah masuk ke sebuah salon rambut.

Begitu masuk, Johan langsung berkata, “Tolong ganti gaya rambutku.”

Penata rambut menatapnya dari atas ke bawah, lalu berkata dengan niat baik, “Tuan, gaya rambutmu sekarang adalah model idol Korea paling tren tahun ini. Jelas hasil tangan stylist papan atas. Nggak perlu diganti.”

“Aku nggak suka, potong saja,” jawab Johan dingin.

Barulah terlihat, betapa keinginan Ayu dan dua nona besar lainnya untuk mengontrol Johan telah capai tingkat yang nyaris gila.

Begitu gilanya, hingga gaya rambut dan pakaian apa pun harus mereka yang tentukan!

Semua penampilan Johan dari ujung rambut hingga ujung kaki ditentukan oleh Ayu, Dewi, dan Fitri.

Dan ia nggak diizinkan untuk ganti sesuka hatinya.

Kalau ketahuan sedikit saja, hukuman menantinya.

Pernah suatu kali Johan pakai jas model khusus, kerahnya mencekik hingga ia nyaris nggak bisa napas. Ia hanya ganti baju itu sebentar saja. Namun yang ia terima adalah amarah menggelegar dari ketiga nona besar itu.

Johan nggak akan pernah lupa tatapan mata mereka saat teriak ke dia. Seolah ingin telan dia hidup-hidup!

Padahal kenyataannya, mereka hanya tirukan gayanya Reza.

Apa yang Johan pakai, bahkan gaya rambutnya, semuanya adalah bayangan Reza.

Johan sudah muak. Uang sudah dibayar. Hubungan sudah diputus.

Sekarang, ia ingin kembali jadi dirinya sendiri!

“Cukur pendek. Model cepak!”

Aura tegas terpancar dari tubuh Johan. Seluruh salon mendadak terdiam.

Para penata rambut terkejut, lalu buru-buru mulai kerja.

Krek! Krek!

Potongan demi potongan, helaian rambut jatuh berhamburan ke lantai.

Namun bersamaan dengan itu, rasa segar yang belum pernah ia rasakan sebelumnya tumbuh di hati Johan.

Apa yang dipotong itu hanya rambut?

Nggak.

Itu adalah belenggu.

Itu adalah kungkungan.

Itu adalah rantai yang selama ini mencekik lehernya!

Nggak lama kemudian, potongan rambut baru sudah selesai.

Johan berdiri di depan cermin.

Dengan rambut cepak, wajahnya tampak tampan dan tegas.

Garis wajahnya tajam, seolah dipahat oleh pisau. Dari dalam ke luar, terpancar aura agresif yang kuat.

Keperkasaan seorang pria menyeruak tanpa bisa disembunyikan.

Model cepak adalah ujian bagi ketampanan seorang pria.

Dulu, dengan gaya idol Korea, Johan memang tampan, namun kurang satu hal, kurang wibawa seorang pria yang menekan.

Sekarang, ia punya itu. Sorot matanya tajam seperti obor, menyala terang.

Pengawal Kirana yang saksikan semuanya terpaku.

Sulit dipercaya, hanya dengan ganti gaya rambut, seseorang bisa berubah sedrastis ini.

Setelah keluar dari salon, Johan masuk ke sebuah toko pakaian pria.

Ia lepas jas pesanan khusus yang bernilai jutaan, yang dipilih dengan teliti oleh ketiga nona besar.

Lalu Johan pakai pakaian kasual sederhana.

Sebenarnya, ia sangat nggak suka pakai jas. Rasa terikatnya buat dia sulit bernapas.

Pakaian longgar jauh lebih cocok untuknya.

Perubahan-perubahan ini menandakan satu hal, “Johan Nugraha” yang dulu telah mati.

Sekarang, yang ada hanyalah Johan.

“Barang-barang ini mau diapakan?”

Pengawal itu menunjuk cincin, gelang, dan kalung yang dilepaskan Johan.

Semuanya adalah barang lelang dari acara amal Bulgari.

“Ambil saja,” kata Johan santai.

“Hah?”

Saat Johan satu per satu lepaskan “belenggu” yang dipaksakan Ayu dan yang lain padanya, di sisi lain, Ayu, Dewi, dan Fitri baru saja kasih hadiah ke Reza.

Sebuah jas baru.

“Jas ini kami bertiga yang rancang,” kata Ayu lembut.

“Aku yang buat desainnya, Dewi yang cari bahan terbaik, dan Fitri yang sewa penjahit jas terbaik di dunia. Hanya ada satu di dunia.”

“Kamu suka?” Tatapan Ayu penuh kasih sayang.

Reza mengangguk kuat. “Suka.”

Saat ia pakai jas itu, mata Dewi dan Fitri langsung berbinar.

Mereka hampir ingin memeluknya.

“Ganteng banget! Jas itu memang harus dipakai Reza!”

“Tentu saja! Sebenarnya Johan juga kelihatan pantas, tapi dibandingkan Reza, jauh sekali!”

Lihat Reza dalam balutan jas itu, mereka tanpa sadar teringat dengan Johan.

Dengan perasaan samar, mereka pikir jas yang sama, jika dipakai Johan, nggak akan pernah bisa menandingi Reza.

Lagian, Johan cuma pengganti.

Ia dipaksa pakai jas dengan gayanya Reza hanya untuk cari bayangan pria itu.

Ketiga nona besar itu nggak pernah sadar, keputusan yang mereka ambil tiga tahun lalu, karena rindu yang terlampau dalam, yang tampak seperti menyusun mimpi indah, untuk Johan sebenarnya adalah jaring raksasa.

Jaring yang mengikatnya erat, perlahan mengencang, hingga akhirnya lukai dia sampai berdarah-darah.

Mereka bertiga lihat ekspresi Reza berubah, dari senang, jadi muram.

Akhirnya, ia lepas jas itu dengan perlahan.

“Jas ini lebih baik disimpan untuk Kak Johan saja. Waktuku nggak banyak lagi,” ucapnya seolah pasrah.

Kata-kata itu buat wajah Ayu dan yang lain langsung berubah.

“Reza, jangan bicara sembarangan!”

Fitri berkata dengan emosional. “Kami tunggu kamu selama ini, terus cari kamu! Sekarang setelah kami temuin kamu, kami nggak akan biarkan kamu mati!”

“Benar,” sambung Dewi.

“Selain Johan, pendonor dengan golongan darah yang sama sudah mulai muncul. Begitu kami temukan dia, kamu nggak perlu takut lagi!”

Kilatan kejam melintas di mata Reza. Namun ia tetap berpura-pura sedih.

“Pendonor darah anonim itu belum ditemukan? Aku nggak ingin lihat Kak Johan terus-terusan menderita demi donorkan darah untukku.”

Begitu pendonor itu ditemukan, peran Johan akan berakhir.

Bahkan jika ia mati, Ayu dan yang lain nggak akan peduli.

Sesaat, niat membunuh melintas di wajahnya. Namun Dewi menggeleng.

“Belum. Tapi aku yakin segera. Lagian, entah pendonor itu ditemukan atau nggak, Johan selalu siap donorkan darah untukmu.”

Dengar itu, Reza menatap jauh ke depan. Tatapannya dingin dan menakutkan.

‘Johan, kamu pasti hidup dengan sangat menderita, kan? Tapi tenang saja. Begitu pendonor itu ditemukan, kamu bisa benar-benar bebas.’

Tap! Tap! Tap!

Tiba-tiba, langkah kaki cepat dan kacau terdengar di luar lorong rumah sakit.

Bukan satu-dua orang.

“Berisik sekali.”

Fitri mengerutkan kening.

Ayu melirik ke arah luar kamar, tapi nggak keluar.

“Mungkin ada banyak pasien hari ini.”

Namun, benarkah hanya pasien?

Di lantai bawah rumah sakit, Johan menatap keramaian dengan ekspresi kosong.

Selain tenaga medis, ada pula pasukan khusus bersenjata lengkap!

Suara langkah tadi berasal dari mereka.

Lihat keterkejutan Johan, pengawal di sampingnya tersenyum.

“Mereka datang jenguk Tuan Besar.”

“Tuan Besar?”

Johan langsung ngerti, maksudnya Tuan Besar itu kakeknya Kirana.

Siapa sebenarnya Kirana ini?

Nggak hanya berani berkata bahwa nggak ada seorang pun di Kota Sowangi–Kota Horgia berani sentuh dia, bahkan mampu tarik kehadiran pasukan khusus sebanyak ini?

“Kirana, sampai kapan kita harus tungguin? Kakekmu sudah meninggal!”

Ruang UGD dipenuhi orang. Seorang pria tua berteriak kesal. Ia adalah paman Kirana, Faris Gunawan.

Yang lain terdiam, semua menatap lelaki tua di atas ranjang operasi.

Wajahnya tenang, seolah hanya tertidur.

Beberapa menit lalu, kakek Kirana, Raja Naga Selatan yang disegani segala penjuru, telah hembuskan napas terakhir.

Sesuai aturan, jasad tokoh sebesar itu seharusnya segera dibawa oleh militer untuk pemakaman kenegaraan.

Namun Kirana mati-matian menahannya. Air mata membekas di wajahnya, namun sorot matanya tegas tanpa ragu.

“Tunggu sebentar lagi! Dia akan segera datang. Dia bisa selamatkan kakek!”
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 50

    “Johan, ini adalah Token Napas Naga milik Pasukan Napas Naga kami!”“Johan, ini Token Harimau Putih dari Pasukan Harimau Putih!”“Johan, ini Token Taring Serigala dari Pasukan Taring Serigala!”Johan berada dalam dilema, diterima salah, ditolak pun nggak enak.“Terima saja. Nanti, ke depannya kamu akan butuh itu.”Lanny tersenyum sambil berkata demikian.Barulah Johan terima semuanya.“Kalau gitu, terima kasih kepada para kapten.”Makna dari keempat token itu terlalu besar!Itu adalah simbol kekuatan pasukan khusus yang mengguncang setengah dunia militer!Cukup untuk buat sebuah negara merasa gentar!Ke depannya, siapa lagi yang berani sentuh Johan? Dan itu bahkan belum termasuk tiga pasukan khusus lainnya!Ia telah selamatkan Bagas, artinya ia adalah Penolong Besar Tujuh Pasukan Khusus!Nggak heran semua orang ingin kasih yang terbaik.Masalah pun terselesaikan dengan sempurna.Dalam perjalanan pulang, Kirana terus menatap Lanny dengan sorot mata aneh.“Bibi, kamu suka Kak Johan, yah?

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 49

    Mana bisa ini disebut isyarat halus?Itu jelas sudah terang-terangan sekali!Namun Johan pura-pura nggak lihat apa pun.Sejak awal, ia memang nggak pernah akui kalau Nabila punya “utang budi”, hanya Nabila saja yang terus-terusan ungkit itu.Sebaliknya, Nabila justru mulai gelisah. Ia sudah kasih isyarat sejelas itu, namun Johan tetap nggak ada reaksi sama sekali?“Kamu itu kenapa sih, kok dari tadi kedip-kedip mata begitu?”Terry yang ada di sampingnya lihat perubahan ekspresi Nabila dan nggak tahan untuk tanya.“Ah? Nggak apa-apa kok ….”Nabila buru-buru tarik kembali pandangannya dan tundukkan kepala.Johan telah nolak dia.Rasa frustrasi datang bercampur dengan kekesalan.Gimanapun juga, ia adalah wanita terkenal dalam militer. Wajah cantik, tubuh proporsional, semuanya ada. Kenapa Johan nggak tertarik sama sekali?Walaupun sudah ada Kirana, masa sampai abaikan dia seperti ini?Nabila merenung sejenak, lalu merasa masalahnya ada pada kesan pertama, saat pertama kali ketemu Johan, i

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 48

    Lihat pemandangan itu, Nabila dan Xavier langsung murka.“Hei, Harvey! Terry! Kalian berdua masih punya muka, nggak?! Kita datang ke sini untuk lindungi keselamatannya Johan! Tapi kalian malah jadikan ini ajang cari muka?!”Mereka bahkan belum sempat buka mulut, dua orang yang datang belakangan ini justru sudah lebih dulu bicara tanpa sungkan!“Bukannya Johan berdiri di sini dengan sangat aman?”Terry dan Harvey masih genggam tangannya Johan, seperti genggam harta karun, nggak mau lepaskan.“Dengan kemampuan Johan yang setinggi ini, kalau berada di luar sungguh sia-siakan bakatmu. Kamu tertarik nggak untuk bergabung dengan Pasukan Taring Serigala? Seluruh saudara kami anggap kamu sebagai penyelamat. Mereka semua ingin ketemu dengan kamu! Ada banyak posisi di Pasukan Taring Serigala, kamu mau lakukan apa pun, silakan.”Harvey lontarkan undangan dengan sangat alami.Terry ikut menimpali, “Kalau nggak tertarik ke Pasukan Taring Serigala juga nggak masalah. Pasukan Harimau Putih kami juga

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 47

    Bum!Krak!Krak!Dalam sekejap mata, tiga pria berbaju hitam roboh bersamaan, leher mereka terpelintir patah.Cepat. Bersih. Mengerikan.Hanya tersisa satu orang, pemimpin mereka yang masih berdiri.“Hissh!”Pria itu tersadar, seluruh bulu kuduknya berdiri.Ia tarik napas dalam-dalam, dingin menjalar hingga ke tulang.Bahkan Nabila dan Xavier yang berada nggak jauh dari sana pun membeku di tempat.Apa yang baru saja mereka lihat?!Johan, orang yang seharusnya mereka lindungi dengan nyawa baru saja patahkan leher tiga pembunuh kelas atas dengan begitu mudah?!Terry dan Harvey yang baru pertama kali lihat Johan benar-benar terguncang!Bukannya katanya Johan perlu perlindungan?Bukannya kata mereka, dia “kelinci putih” yang nggak berdaya?Lalu apa ini?!Dia bunuh pembunuh kelas elit dalam hitungan detik?!Apa kalian bercanda?!Namun, Xavier dan Nabila pun sama terdiamnya.Ini … ini ….Bahkan Kirana dan Lanny menatap dengan mata terbelalak, nggak percaya.Sementara itu, Johan yang belum sa

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 46

    Mereka melaju secepat mungkin menuju vila pinggiran kota milik Lanny.Begitu lihat begitu banyak orang datang bersamaan, Lanny langsung terkejut.“Kenapa ini? Kalian mau apa?”“Bibi, di mana Kak Johan?”Kirana tanya dengan wajah penuh kecemasan.“Adik kecil itu? Dia sudah pergi dari tadi.”Lanny tertegun sejenak, lalu jawab dengan nada heran.“Apa?! Sudah pergi?!”Begitu dengar itu, raut wajah semua orang langsung berubah drastis.Kirana bahkan hampir nangis.“Kak Nabila, gimana ini? Kak Johan sudah lama perginya, sekarang nggak ada yang tahu dia di mana. Jangan-jangan dia sudah ….”Kalimat itu terputus di tenggorokan. Air matanya jatuh deras, seperti mutiara yang talinya putus.Wajah Nabila pucat pasi, sementara keringat dingin mengalir di pelipis Xavier.“Kenapa sebenarnya? Apa yang terjadi?”Lihat situasi semakin nggak wajar, Lanny nggak bisa nahan diri untuk tanya.Nabila terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Ada orang yang ingin bunuh Johan .…”“Apa?!”Boom!Kepala Lanny seketika

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 45

    Harvey tiba-tiba ubah nada bicaranya, menatap Bagas dan yang lainnya.Mata Nabila dan Xavier langsung berubah.Sial! Mereka diam-diam mengumpat dalam hati.Mereka sempat kira Harvey dan Terry hanya datang untuk jenguk, nggak nyangka justru singgung soal Johan!Xavier nyaris menggeram. Licik!Jelas-jelas mereka sengaja.Mereka pasti sudah lama tahu informasi tentang Johan.Selama ini, Pasukan Napas Naga dan Pasukan Kopa Cara saja sudah saling bersitegang, kalau dua orang ini ikut terlibat, situasinya bisa makin kacau!Pikirkan hal itu, raut wajah Nabila dan Xavier pun segera mengeras. Namun Bagas sama sekali nggak pikirkan urusan itu.Ia justru senang bisa ceritakan kembali pengalaman dirinya yang nyaris masuk ke gerbang kematian.“Kalian bicara soal Johan? Kalian pasti sudah dengar kabarnya, nyawa tua ini sebenarnya sudah hampir masuk ke alam baka. Tapi Johan dengan paksa tarik aku kembali dari gerbang neraka! Kalian bilang, ini ajaib atau nggak? Hahaha!”Begitu dengar kisah itu, mata

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status