Share

Bab 6

Auteur: Darmawangsa
Pak Joko berdiri di samping, dengarkan perdebatan antara Krisna dan Diah dalam diam.

Tiba-tiba, sudut matanya menangkap sosok di kejauhan.

Ia terkejut dan spontan berseru, “Johan?!”

“Jo … Johan?!”

Seruan itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong.

Krisna dan Diah berbalik hampir bersamaan, wajah mereka pucat seperti lihat hantu.

Mata mereka membelalak saat menatap Johan.

“Kamu … kamu sudah kembali?”

“Ayah angkat, ibu angkat.”

Johan melangkah maju dengan senyum tipis di wajahnya.

Namun justru senyum itulah yang buat wajah Diah semakin kaku dan nggak alami.

“Kamu dengar kata-kata kami yang barusan?”

Johan menggeleng pelan.

“Nggak penting lagi. Karena aku memang datang untuk pamitan.”

“Pamitan?!”

Satu kata itu buat jantung Krisna dan Diah bergetar hebat. Firasat buruk langsung selimuti hati mereka.

Diah masih berusaha tersenyum, paksakan ketenangan.

“Anak bodoh, kamu bilang apa sih? Ibu tahu kamu telah disakiti. Ibu akan bela kamu. Ibu janji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.”

“Nggak perlu.”

Johan potong dengan lembut namun tegas.

“Ayah angkat, ibu angkat. Ini adalah terakhir kali aku panggil kalian seperti itu. Setelah ini, kita nggak punya hubungan apa pun lagi.”

Ia keluarkan selembar kertas dan sebuah kartu hitam, lalu serahkan ke mereka.

Begitu Diah melihatnya, lima kata besar di atas kertas itu menusuk matanya dengan tajam.

[SURAT PERNYATAAN PUTUS HUBUNGAN KELUARGA]

“Surat putus hubungan keluarga?”

Tangan Krisna yang memegang kertas itu bergetar hebat.

Ia berusaha tertawa, meski wajahnya pucat.

“Johan, kenapa harus sejauh ini? Kita ini kan keluarga. Apa pun bisa dibicarakan.”

“Di dalam kartu itu ada dua triliun. Itu untuk lunasi uang penyelamat nyawa yang dulu kalian keluarkan. Setelah ini, aku nggak lagi ada hubungannya dengan Keluarga Nugraha.” Suara Johan tetap tenang, seolah nggak dengar bujukan itu.

“Johan, kamu ini kenapa? Kalau ada apa-apa, mari kita bicara di dalam rumah.”

Krisna melangkah maju, hendak ajak dia masuk.

Namun ... DUK!

Dengan suara berat, Johan berlutut di hadapan mereka.

Kejadian itu buat ketiganya sangat terkejut.

Dengan mata memerah, Johan berkata lirih namun tegas, “Ayah angkat, ibu angkat, kalian punya tiga budi besar ke aku.”

“Sujud pertama ini untuk tiga tahun lalu, saat kalian pungut aku dari tumpukan sampah dan selamatkan nyawaku.”

DUK!

Kening Johan menghantam tanah dengan keras. Bahkan lantai pun keluarkan suara berat.

Krisna dan Diah benar-benar terpaku.

“Sujud kedua ini untuk jasa kalian didik aku! Kalian nggak pernah ungkit masa laluku dan beri aku kesempatan demi kesempatan untuk buktikan diri!”

DUK! Ia bersujud untuk kedua kalinya.

Darah mengalir dari dahinya, merembes ke tanah.

Pak Joko menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak, hatinya terguncang hebat.

Apa yang sedang ia saksikan?

‘Johan, benar-benar hendak memutus hubungan dengan Keluarga Nugraha?’

“Sujud ketiga, terakhir ini untuk janji kalian yang dulu jodohkan aku dengan Ayu, setidaknya telah wujudkan satu mimpiku.”

DUK! Sujud ketiga.

Tatapan Johan kini dingin dan datar. Saat ia menatap Krisna dan Diah, rasanya seperti lihat orang asing.

Wajah Krisna dipenuhi emosi yang rumit. Beberapa kali ia ingin bicara, namun akhirnya hanya terdiam.

Ia tahu Johan telah ambil keputusan yang nggak akan ia tarik kembali.

Putrinya telah lukai pria ini terlalu dalam.

Mungkin semua ini sudah ditakdirkan sejak tiga tahun lalu, saat Ayu bawa pulang Johan yang penuh luka.

Krisna juga tahu, selama ini Johan hanya tahan segalanya dalam diam.

Ia menderita. Ia tersiksa.

Mungkin, putrinya memang nggak pantas untuknya.

Mungkin, sudah waktunya ia diberi kebebasan.

Krisna menarik napas panjang.

“Oke. Aku setuju untuk putus hubungan keluarga.”

Ia ambil bolpoin, bersiap tanda tangani surat itu.

Pak Joko berbisik ragu, “Tuan, masalah sebesar ini, bukannya seharusnya minta persetujuan Nona Ayu?”

Krisna hendak jawab, tapi bunyi KRING!

HP-nya berdering. Panggilan dari Ayu.

Wajah Krisna langsung dipenuhi amarah. Ia angkat telepon dengan tangan gemetar, siap untuk marahin.

Namun suara Ayu lebih dulu terdengar, “Ayah, aku cuma mau kasih tahu beberapa hari ini aku nggak akan pulang. Oh ya, kalau Johan kembali dan tanya ke mana aku pergi, tolong tahan dia. Jangan biarkan dia cari aku.”

“Kamu ....”

Belum sempat Krisna memaki, telepon itu sudah ditutup.

Ingat Johan berdiri di sana, wajah Krisna berubah drastis.

Di sisi lain, senyum pahit muncul di wajah Johan.

‘Masih jaga-jaga terhadap aku? Tenang saja. Mulai sekarang, aku nggak akan pernah ganggu kalian lagi.’

“Kasih aku bolpoin.”

Telepon itu memadamkan sisa harapan terakhir di hati Krisna.

Ia akhirnya sadar, Johan benar-benar nggak bisa ditahan lagi.

Di saat genting seperti ini, putrinya masih saja curahkan seluruh hatinya ke pria bernama Reza itu!

Padahal suaminya sendiri sudah akan putuskan hubungan dengan keluarga!

Dengan wajah kelam, Krisna tanda tangani surat itu.

“Johan!”

Ia teriak dengan suara bergetar.

“Sekalipun kita nggak punya hubungan lagi, di mataku kamu tetap anakku! Anak kandungku!”

Namun Johan hanya tersenyum ringan.

“Aku masih harus repotkan Paman Krisna untuk ikut denganku ke Kantor Catatan Sipil. Hapus namaku dari kartu Keluarga Nugraha. Mulai sekarang aku bukan lagi Johan Nugraha. Aku adalah Johan Hidayat.”

Di perjalanan menuju Kantor Catatan Sipil, Diah menangis tanpa henti.

Pak Joko yang nyetir pun juga gemetar.

Jika Johan benar-benar lepas dari Keluarga Nugraha, gimana ia bisa bertahan hidup?

Jika orang itu tahu Johan nggak berada di bawah perlindungan Keluarga Nugraha lagi

bukannya ia akan celaka?

Saat nama Johan dicoret dari Kartu Keluarga, Johan akhirnya benar-benar merasa lega.

Krisna menatap halaman kosong itu, dadanya merasa perih yang nggak terkatakan.

Diah hanya bisa hapus air mata.

Jika putri mereka lihat kartu keluarga yang baru ini, apa reaksinya?

“Paman Krisna, Bibi Diah, aku pergi dulu.” Johan lambaikan tangan.

“Oh, jangan salah paham. Aku akan kembali sebulan lagi, itu masa jeda untuk perceraian yang dikatakan Ayu. Setelah itu, aku dan dia akan resmi cerai.”

Harapan kecil yang baru tumbuh di hati pasangan itu pun hancur seketika.

Ternyata sebulan lagi hanya untuk cerai.

Setelah itu, Johan kembali ke rumah Keluarga Nugraha untuk berkemas.

Pakaiannya dilipat rapi dan dimasukkan ke koper.

Barang-barang pribadinya dimasukkan ke tong sampah dan dibuang.

Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada sebuah foto di meja samping tempat tidur, foto dirinya bersama Ayu, Dewi, dan Fitri.

Semua tersenyum begitu bahagia. Sayangnya, itu semua hanyalah masa lalu.

Dengan senyum getir, Johan balikkan pigura foto itu.

Ia tinggalkan kunci vila Keluarga Nugraha. Lalu pergi seorang diri.

Saat Krisna dan Diah kembali, lihat kamar kosong itu, Diah langsung menangis tersedu.

Krisna hantam dinding dengan tinjunya.

“Johan pergi, ini salah kita.”

Dengan mata merah, Diah terisak.

“Tanpa kita, gimana dia akan hidup? Ke mana dia akan pergi? Kalau anak buah orang hebat itu temukan dia, nanti dia gimana?”

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.

Wajah Krisna semakin berat.

Tiga tahun lalu, mereka sudah pertaruhkan segalanya untuk lindungi Johan dan itu pun karena dua triliun!

Jika putus hubungan keluarga ini diketahui, Johan benar-benar dalam bahaya!

Kebebasan memang didapatkan, namun sebagai gantinya, nyawanya terancam!

“Demi keselamatan Johan, putus hubungan keluarga ini nggak boleh diketahui siapa pun. Termasuk putri kita!” Wajah Krisna dingin dan tegas.

“Bahkan Nona Besar?” Pak Joko terkejut.

“Benar. Anggap saja hal ini nggak pernah terjadi. Selama bisa disembunyikan, sembunyikan saja!”

Itulah satu-satunya cara yang terpikir olehnya untuk lindungi Johan.

Diah mengangguk mantap.

“Benar. Nggak ada seorang pun boleh tahu kalau Johan telah keluar dari Keluarga Nugraha!”

Bagi mereka, meski telah putus hubungan, Johan tetaplah anak mereka.

Pak Joko hanya bisa diam, meski dalam hati bergumam. Kalau pun Nona Besar tahu, mungkin ia nggak akan peduli.

Gimanapun, hatinya sepenuhnya telah tertambat pada cinta lamanya.

Di sisi lain, sebuah mobil Bentley panjang berhenti tepat di hadapan Johan.

Pintu terbuka. Seseorang turun, salah satu pengawal Kirana.

“Kamu?”

Johan terkejut.

“Tuan Johan! Akhirnya kami temukan kamu!”

Pengawal itu melangkah cepat, sama sekali nggak menyisakan keraguan seperti sebelumnya.

“Penyakit Nona Kirana sudah membaik dengan drastis! Kamu benar-benar dokter sakti!”

“Syukurlah.”

Johan tersenyum dan hendak pergi.

Namun pengawal itu halangi jalannya.

“Nona mau undang kamu.”

Ia beri hormat dengan serius.

“Nona bilang, dia masih mau minta tolong satu hal lagi ke kamu. Jika berhasil, nggak hanya uang. Mulai sekarang, Nona akan jadi pelindung terbesarmu. Tempat lain mungkin belum tentu, tapi di seluruh wilayah Kota Sowangi dan Kota Horgia, nggak akan ada satu orang pun yang berani sentuh kamu!”
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 50

    “Johan, ini adalah Token Napas Naga milik Pasukan Napas Naga kami!”“Johan, ini Token Harimau Putih dari Pasukan Harimau Putih!”“Johan, ini Token Taring Serigala dari Pasukan Taring Serigala!”Johan berada dalam dilema, diterima salah, ditolak pun nggak enak.“Terima saja. Nanti, ke depannya kamu akan butuh itu.”Lanny tersenyum sambil berkata demikian.Barulah Johan terima semuanya.“Kalau gitu, terima kasih kepada para kapten.”Makna dari keempat token itu terlalu besar!Itu adalah simbol kekuatan pasukan khusus yang mengguncang setengah dunia militer!Cukup untuk buat sebuah negara merasa gentar!Ke depannya, siapa lagi yang berani sentuh Johan? Dan itu bahkan belum termasuk tiga pasukan khusus lainnya!Ia telah selamatkan Bagas, artinya ia adalah Penolong Besar Tujuh Pasukan Khusus!Nggak heran semua orang ingin kasih yang terbaik.Masalah pun terselesaikan dengan sempurna.Dalam perjalanan pulang, Kirana terus menatap Lanny dengan sorot mata aneh.“Bibi, kamu suka Kak Johan, yah?

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 49

    Mana bisa ini disebut isyarat halus?Itu jelas sudah terang-terangan sekali!Namun Johan pura-pura nggak lihat apa pun.Sejak awal, ia memang nggak pernah akui kalau Nabila punya “utang budi”, hanya Nabila saja yang terus-terusan ungkit itu.Sebaliknya, Nabila justru mulai gelisah. Ia sudah kasih isyarat sejelas itu, namun Johan tetap nggak ada reaksi sama sekali?“Kamu itu kenapa sih, kok dari tadi kedip-kedip mata begitu?”Terry yang ada di sampingnya lihat perubahan ekspresi Nabila dan nggak tahan untuk tanya.“Ah? Nggak apa-apa kok ….”Nabila buru-buru tarik kembali pandangannya dan tundukkan kepala.Johan telah nolak dia.Rasa frustrasi datang bercampur dengan kekesalan.Gimanapun juga, ia adalah wanita terkenal dalam militer. Wajah cantik, tubuh proporsional, semuanya ada. Kenapa Johan nggak tertarik sama sekali?Walaupun sudah ada Kirana, masa sampai abaikan dia seperti ini?Nabila merenung sejenak, lalu merasa masalahnya ada pada kesan pertama, saat pertama kali ketemu Johan, i

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 48

    Lihat pemandangan itu, Nabila dan Xavier langsung murka.“Hei, Harvey! Terry! Kalian berdua masih punya muka, nggak?! Kita datang ke sini untuk lindungi keselamatannya Johan! Tapi kalian malah jadikan ini ajang cari muka?!”Mereka bahkan belum sempat buka mulut, dua orang yang datang belakangan ini justru sudah lebih dulu bicara tanpa sungkan!“Bukannya Johan berdiri di sini dengan sangat aman?”Terry dan Harvey masih genggam tangannya Johan, seperti genggam harta karun, nggak mau lepaskan.“Dengan kemampuan Johan yang setinggi ini, kalau berada di luar sungguh sia-siakan bakatmu. Kamu tertarik nggak untuk bergabung dengan Pasukan Taring Serigala? Seluruh saudara kami anggap kamu sebagai penyelamat. Mereka semua ingin ketemu dengan kamu! Ada banyak posisi di Pasukan Taring Serigala, kamu mau lakukan apa pun, silakan.”Harvey lontarkan undangan dengan sangat alami.Terry ikut menimpali, “Kalau nggak tertarik ke Pasukan Taring Serigala juga nggak masalah. Pasukan Harimau Putih kami juga

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 47

    Bum!Krak!Krak!Dalam sekejap mata, tiga pria berbaju hitam roboh bersamaan, leher mereka terpelintir patah.Cepat. Bersih. Mengerikan.Hanya tersisa satu orang, pemimpin mereka yang masih berdiri.“Hissh!”Pria itu tersadar, seluruh bulu kuduknya berdiri.Ia tarik napas dalam-dalam, dingin menjalar hingga ke tulang.Bahkan Nabila dan Xavier yang berada nggak jauh dari sana pun membeku di tempat.Apa yang baru saja mereka lihat?!Johan, orang yang seharusnya mereka lindungi dengan nyawa baru saja patahkan leher tiga pembunuh kelas atas dengan begitu mudah?!Terry dan Harvey yang baru pertama kali lihat Johan benar-benar terguncang!Bukannya katanya Johan perlu perlindungan?Bukannya kata mereka, dia “kelinci putih” yang nggak berdaya?Lalu apa ini?!Dia bunuh pembunuh kelas elit dalam hitungan detik?!Apa kalian bercanda?!Namun, Xavier dan Nabila pun sama terdiamnya.Ini … ini ….Bahkan Kirana dan Lanny menatap dengan mata terbelalak, nggak percaya.Sementara itu, Johan yang belum sa

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 46

    Mereka melaju secepat mungkin menuju vila pinggiran kota milik Lanny.Begitu lihat begitu banyak orang datang bersamaan, Lanny langsung terkejut.“Kenapa ini? Kalian mau apa?”“Bibi, di mana Kak Johan?”Kirana tanya dengan wajah penuh kecemasan.“Adik kecil itu? Dia sudah pergi dari tadi.”Lanny tertegun sejenak, lalu jawab dengan nada heran.“Apa?! Sudah pergi?!”Begitu dengar itu, raut wajah semua orang langsung berubah drastis.Kirana bahkan hampir nangis.“Kak Nabila, gimana ini? Kak Johan sudah lama perginya, sekarang nggak ada yang tahu dia di mana. Jangan-jangan dia sudah ….”Kalimat itu terputus di tenggorokan. Air matanya jatuh deras, seperti mutiara yang talinya putus.Wajah Nabila pucat pasi, sementara keringat dingin mengalir di pelipis Xavier.“Kenapa sebenarnya? Apa yang terjadi?”Lihat situasi semakin nggak wajar, Lanny nggak bisa nahan diri untuk tanya.Nabila terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Ada orang yang ingin bunuh Johan .…”“Apa?!”Boom!Kepala Lanny seketika

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 45

    Harvey tiba-tiba ubah nada bicaranya, menatap Bagas dan yang lainnya.Mata Nabila dan Xavier langsung berubah.Sial! Mereka diam-diam mengumpat dalam hati.Mereka sempat kira Harvey dan Terry hanya datang untuk jenguk, nggak nyangka justru singgung soal Johan!Xavier nyaris menggeram. Licik!Jelas-jelas mereka sengaja.Mereka pasti sudah lama tahu informasi tentang Johan.Selama ini, Pasukan Napas Naga dan Pasukan Kopa Cara saja sudah saling bersitegang, kalau dua orang ini ikut terlibat, situasinya bisa makin kacau!Pikirkan hal itu, raut wajah Nabila dan Xavier pun segera mengeras. Namun Bagas sama sekali nggak pikirkan urusan itu.Ia justru senang bisa ceritakan kembali pengalaman dirinya yang nyaris masuk ke gerbang kematian.“Kalian bicara soal Johan? Kalian pasti sudah dengar kabarnya, nyawa tua ini sebenarnya sudah hampir masuk ke alam baka. Tapi Johan dengan paksa tarik aku kembali dari gerbang neraka! Kalian bilang, ini ajaib atau nggak? Hahaha!”Begitu dengar kisah itu, mata

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status