Share

Bab 10

Author: Atieckha
last update publish date: 2026-04-16 02:42:35

Braaaaak!

Laura sengaja menutup pintu mobil suaminya dengan sekuat tenaga. Dia tahu betul tindakannya itu akan memancing amarah suaminya, tapi hatinya sudah telanjur panas. Mereka baru saja menginjakkan kaki di halaman rumah setelah perjalanan yang terasa begitu membakar hatinya.

“Laura!” bentak pria itu sambil bergegas turun dari balik kemudi.

Alih-alih ciut, api cemburu yang membakar hati Laura sejak wanita penggoda itu dengan tidak tahu dirinya malah memilih duduk di samping William. Dia mem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 11

    Selesai makan malam bersama, William dan sang Papa bergegas naik menuju ruang kerja di lantai dua. Hal tersebut sudah menjadi pemandangan biasa bagi mereka berdua untuk mengunci diri dan mengupas tuntas urusan bisnis keluarga tanpa gangguan siapapun. Laura juga yakin kedatangan Papa mertuanya pasti karena di kantor terjadi sesuatu. Sudah menjadi kebiasaan sang Papa mertua akan datang ketika harga saham Harrington Group menurun.Sementara itu, sang Mama mertua dan kakak ipar Laura memilih untuk bersantai di ruang keluarga, ditemani oleh Paula yang tampak sangat akrab dengan mereka. Paula memang sengaja banget menyingkirkan posisi Laura di hati keluarga William. Dia selalu ada di setiap acara yang berkaitan dengan keluarga besar Harrington.“Dulu kupikir dia baik karena aku sahabatnya, sehingga dia mau akrab dengan keluarganya William. Tapi ternyata niat busuknya mau nyingkirin aku, dan mengambil alih posisiku,” Laura membatin.Laura lanjut sibuk mengurus sisa-sisa di meja makan. Sambil

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 10

    Braaaaak!Laura sengaja menutup pintu mobil suaminya dengan sekuat tenaga. Dia tahu betul tindakannya itu akan memancing amarah suaminya, tapi hatinya sudah telanjur panas. Mereka baru saja menginjakkan kaki di halaman rumah setelah perjalanan yang terasa begitu membakar hatinya.“Laura!” bentak pria itu sambil bergegas turun dari balik kemudi.Alih-alih ciut, api cemburu yang membakar hati Laura sejak wanita penggoda itu dengan tidak tahu dirinya malah memilih duduk di samping William. Dia memutar tubuh dan membalas tatapan William seolah menantang pria itu tanpa rasa takut.“Apa?” sahut Laura sengit, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.“Tas kerjaku dan barang-barang belanjaan itu bawa masuk!” teriak William. Padahal jarak di antara mereka tidak sampai dua meter, namun emosi yang dirasakan membuat William kehilangan kendali atas suaranya sendiri. Sebelumnya, mereka sempat berhenti di restoran untuk mengambil pesanan jamuan makan malam buat orang tua William dan saudara angkatn

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 9

    Laura memaku pandangannya pada sosok wanita yang melangkah masuk dengan gaya angkuh itu. Dadanya bergemuruh hebat, menahan amarah yang nyaris tak bisa ditahan lagi. Wanita di depannya ini adalah orang yang dulu paling ia percaya, orang yang ia panggil sahabat, namun ternyata justru menjadi dalang di balik kehancuran hidupnya."Ngapain kamu blok nomor aku? Takut ya kalau aku mengirimkan foto-foto kemesraan suamimu denganku? Kamu tahu tidak sih, suami kamu itu adalah laki-laki idamanku. Selain dia kaya raya, dia juga sangat tampan dan baik hati. Tadi malam sebetulnya mobilku baik-baik saja, tapi aku sengaja memintanya datang untuk menjemputku. Dan kau lihat sendiri kan, suamimu selalu mengabulkan semua permintaanku," ucap Paula sambil tersenyum penuh kemenangan. Wanita berpenampilan glamor itu sempat melirik sinis ke arah boks bayi, tempat Aurora terbaring lemah.Sementara Laura sudah menduga bahwa tadi malam Paula pasti hanya pura-pura mobilnya maupun.Laura menarik napas panjang, men

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 8

    Laura berdiri dengan kaki yang masih lemas saat melihat sosok dokter Antonio keluar dari balik pintu ICU. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab karena kurang tidur dan tekanan batin yang tiada habis-habisnya."Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Laura dengan suara lirih, seolah seluruh tenaganya sudah habis terkuras hanya karena mengkhawatirkan buah hatinya."Anak Ibu sudah kami pindahkan ke ruang perawatan. Sudah ada suster yang menjaganya di sana. Ibu tinggal jalan lurus saja, lalu belok kanan. Di sana ada ruangan bayi, Aurora dirawat di ruangan itu," ucap dokter dengan senyum tipis yang sedikit menenangkan hati Laura. Jujur Laura bahagia karena sang anak sudah keluar dari ruang ICU."Terima kasih, Dok. Tapi kondisinya baik-baik saja, kan, dok? Dia tidak mengalami komplikasi apapun pasca operasi, kan?" Laura kembali bertanya dengan penuh kekhawatiran. Dadanya sakit sekali seperti diremas tangan tak kasat mata dengan begitu keras, rasa berdosa karena telah membiarkan bayinya

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 7

    Laura menatap nanar layar ponsel yang masih menyala di tangannya. Di sana, terpampang jelas foto kiriman Paula. Perempuan itu tampak sengaja memamerkan momen saat dirinya dan William sedang berpelukan di pinggir jalan. Dada Laura seketika terasa sakit seperti diremas tangan tak kasat mata, panas menjalar hingga ke ubun-ubun. Tanpa membalas sepatah kata pun, ia langsung memblokir nomor Paula. Ia tidak ingin memberikan kepuasan pada perempuan ular itu dengan melihatnya marah atau memohon.“Aku gak akan pernah membiarkanmu melukaiku dengan cara rendahan seperti ini, Paula. Tunggu sampai anakku pulih, akan kubuktikan kau dalang dari fitnah itu,” gumam Laura dalam hati. Ternyata orang yang dianggap sebagai sahabat terbaiknya, kini berubah menjadi virus mematikan dalam hidupnya.Jam sudah menunjukkan angka sebelas malam saat pintu kamar utama terbuka. William melangkah masuk dengan sisa wangi parfum yang wanita melekat di bajunya. Sebenarnya, William sempat cemas kalau-kalau Laura nekat k

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 6

    Tok, tok. "Permisi, Pak," ucap Paula sambil mengetuk pintu ruang kerja William. "Masuk," sahut William dari dalam. Paula segera melangkah masuk. Ia duduk di kursi depan meja kerja William dan mengeluarkan tumpukan berkas yang harus segera mereka selesaikan. Fokus William sempat teralihkan sejenak. "Sudah kau telepon pihak rumah sakit untuk menyediakan satu suster buat menjaga anaknya Laura selama Laura tidak ada di rumah sakit?" tanya William tanpa menatap wajah sekretarisnya itu. Sebelumnya, William memang sudah meminta Paula mencari perawat khusus buat Aurora agar ada yang menjaga bayi itu selama Laura tidak berada di rumah sakit. Tentu saja semua yang ia lakukan ini termasuk biaya pengobatan Aurora yang dialihkan ke rekening pribadinya tanpa sepengetahuan Laura. "Sudah, Pak. Tadi sebelum saya pulang, saya langsung hubungi pihak rumah sakit untuk urusan itu," jawab Paula tanpa keraguan sedikitpun karena dia sudah melaksanakan perintah atasannya. William tidak lagi bertanya so

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status