MasukLaura hampir berlari saat menuju lobi begitu sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh suaminya. Di depan sana, mobil mewah suaminya sudah menunggu dengan mesin yang masih menderu, seolah ingin segera pergi dari tempat itu. Pintu depan terbuka tepat saat Laura berdiri di samping kendaraan itu, seakan menuntutnya untuk segera masuk tanpa bantahan.
“William, aku…” Laura mencoba memulai bicara dengan suara lirih, dia sangat berharap ada sedikit celah untuk negosiasi demi Aurora. “Masuk!” seru William tanpa sudi melirik sedikit pun ke arah istrinya. “Tapi Aurora baru saja selesai dioperasi, William. Aku harus tetap di sana menjaganya karena kondisinya belum benar-benar stabil. Aku janji besok pagi-pagi buta aku sudah ada di rumah untuk menyiapkan sarapan dan semua keperluanmu. Tolong, William, aku mohon sekali ini saja mengertilah,” pinta Laura sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia memohon pada suaminya yang kini terasa seperti bukan orang yang dikenalnya. Namun, jawaban pria itu justru membuatnya harus meninggalkan Aurora sendirian di ruang pemulihan. Pria itu menoleh dengan raut datar, seakan tidak ada lagi kesempatan untuk Laura membantah perintahnya. “Kau harus patuh pada perintahku seperti isi pernyataan yang sudah kau tandatangani tadi siang!” sahut William tanpa perasaan. Laura tidak punya kekuatan untuk membantah lagi. Dengan perasaan hancur, ia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping suaminya. Laura menangis tanpa suara sepanjang jalan dan William tidak peduli meski air mata itu membasahi wajahnya yang tampak pucat. Pria itu merasa dikhianati oleh istri dan mantan sopir pribadinya sendiri, dan itu membuatnya tidak punya belas kasihan lagi terhadap sang istri seperti sebelumnya. Dulu, ia masih bisa diam dan mencoba percaya saat ada kiriman foto serta video dari nomor tak dikenal terkait perselingkuhan Laura dan sopirnya. Tapi ingatan saat memergoki Laura berada di satu ranjang yang sama dengan sopir itu di sebuah kamar hotel sudah benar-benar menghancurkan kepercayaannya pada Laura. Mobil mewah itu pun memasuki halaman rumah besar yang selama ini mereka tempati. Pagar tinggi itu terbuka dengan otomatis tanpa ada satu pun penjaga yang menyambut, dan suasana di sana terasa sangat sepi, bahkan belum satu pun lampu dinyalakan. “Ke mana semua pelayan di rumah ini? Kenapa belum ada yang menyalakan lampu?” tanya Laura. Biasanya jam empat sore saja semua lampu sudah menyala, tapi sekarang matahari sudah terbenam Tak ada satupun lampu di rumah mereka yang menyala. “Semua pekerja di rumah ini sudah kupecat, termasuk penjaga rumah. Aku tidak mau kau punya kesempatan untuk mengajak penjaga rumah kita selingkuh lagi,” jawab William ketus lalu berjalan masuk menuju pintu utama, meninggalkan Laura yang masih mematung di tempatnya. Hati Laura terasa sakit mendengar hinaan itu. Rasanya Laura terlihat begitu rendah di hadapan lelaki yang masih ia cintai ini. Meski dadanya terasa sakit seperti diremas tangan tak kasat mata dan luka bekas melahirkannya masih sering berdenyut, Laura bersumpah tidak akan menyerah pada fitnah yang telah menghancurkan kebahagiaannya. Demi Aurora yang sedang berjuang di rumah sakit, ia bertekad akan membuat suaminya itu menyesali semua tuduhannya. “Aku akan buktikan kalau aku tak pernah selingkuh, William,” Laura membatin. Laura pun segera masuk ke dalam rumah menuju kamar utama. Ia mulai membersihkan kamar mandi dan mengisi bak mandi dengan air hangat untuk suaminya berendam. Saat William masuk untuk membersihkan diri tanpa mengucap sepatah kata pun, Laura beralih merapikan kamar dan menyiapkan baju ganti suaminya. Ia terus bekerja sendirian membersihkan seisi rumah selama hampir satu jam penuh, melakukan semua tugas yang biasanya dikerjakan oleh pelayannya. Saat hendak beranjak menuju dapur untuk mulai memasak, rasa nyeri yang tiba-tiba kembali terasa di perutnya. “Sakit sekali perutku,” rintih Laura sambil mencengkeram perutnya yang terasa melilit. Keringat dingin mulai keluar di keningnya, namun ia tahu William tidak akan peduli jika ia mengeluh tentang rasa sakitnya. Tiba-tiba William sudah menuruni anak tangga lalu mendekat ke arah Laura dan berkata, “Siapkan makan malam sekarang juga. Paula akan ikut makan bersama kita di sini,” perintah William. Laura mendengus kesal. “Apa dia tidak bisa beli makanan sendiri sampai aku harus repot menyiapkan makan malam untuk sekretarismu itu, William? Aku baru saja pulang dari rumah sakit dan fisikku belum benar-benar kuat untuk melayani orang lain,” protes Laura. Entah kenapa dia sulit melenyapkan rasa cemburu di hatinya setiap kali melihat William dekat dengan Paula. Padahal dia sendiri yang memohon-mohon pada suaminya untuk menerima sahabat baiknya itu sebagai gantinya di perusahaan Harrington Group. “Kami harus rapat,” balas William ketus. “Kenapa tidak kau selesaikan saja semua pekerjaanmu di kantor? Kenapa harus dibawa ke rumah dan menyuruhku melayani kalian berdua di meja makan?” cecar Laura lagi dengan sisa tenaganya. William tidak menyahut sama sekali. Pria itu justru melangkah menuju ruang tamu dan duduk santai membaca koran bisnis yang belum sempat ia baca tadi pagi. Dengan perasaan dongkol, Laura akhirnya mulai menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga. Tepat saat masakan matang dan sudah tersaji di atas meja, suara Paula terdengar dari ambang pintu utama. “Selamat malam, Pak William. Kebetulan barusan saya lewat di restoran langganan kita, dan saya membelikan makanan favorit Anda, Pak. Biar saya sajikan dulu ya, Pak,” ucap Paula, terdengar manis namun berhasil membuat hati Laura semakin panas.Laura menatap nanar layar ponsel yang masih menyala di tangannya. Di sana, terpampang jelas foto kiriman Paula. Perempuan itu tampak sengaja memamerkan momen saat dirinya dan William sedang berpelukan di pinggir jalan. Dada Laura seketika terasa sakit seperti diremas tangan tak kasat mata, panas menjalar hingga ke ubun-ubun. Tanpa membalas sepatah kata pun, ia langsung memblokir nomor Paula. Ia tidak ingin memberikan kepuasan pada perempuan ular itu dengan melihatnya marah atau memohon.“Aku gak akan pernah membiarkanmu melukaiku dengan cara rendahan seperti ini, Paula. Tunggu sampai anakku pulih, akan kubuktikan kau dalang dari fitnah itu,” gumam Laura dalam hati. Ternyata orang yang dianggap sebagai sahabat terbaiknya, kini berubah menjadi virus mematikan dalam hidupnya.Jam sudah menunjukkan angka sebelas malam saat pintu kamar utama terbuka. William melangkah masuk dengan sisa wangi parfum yang wanita melekat di bajunya. Sebenarnya, William sempat cemas kalau-kalau Laura nekat k
Tok, tok. "Permisi, Pak," ucap Paula sambil mengetuk pintu ruang kerja William. "Masuk," sahut William dari dalam. Paula segera melangkah masuk. Ia duduk di kursi depan meja kerja William dan mengeluarkan tumpukan berkas yang harus segera mereka selesaikan. Fokus William sempat teralihkan sejenak. "Sudah kau telepon pihak rumah sakit untuk menyediakan satu suster buat menjaga anaknya Laura selama Laura tidak ada di rumah sakit?" tanya William tanpa menatap wajah sekretarisnya itu. Sebelumnya, William memang sudah meminta Paula mencari perawat khusus buat Aurora agar ada yang menjaga bayi itu selama Laura tidak berada di rumah sakit. Tentu saja semua yang ia lakukan ini termasuk biaya pengobatan Aurora yang dialihkan ke rekening pribadinya tanpa sepengetahuan Laura. "Sudah, Pak. Tadi sebelum saya pulang, saya langsung hubungi pihak rumah sakit untuk urusan itu," jawab Paula tanpa keraguan sedikitpun karena dia sudah melaksanakan perintah atasannya. William tidak lagi bertanya so
Laura berdiri di dekat meja makan sambil menatap deretan bungkusan yang dibawa Paula dengan hati yang kesal. Usahanya masak di dapur meski rasa sakit di perutnya belum pulih seolah tidak ada artinya sama sekali setelah kedatangan sahabatnya itu.Laura pun menatap ke arah Paula yang sudah berdiri di seberang meja, "Aku sudah masak sebanyak ini sekarang kau datang membawa makanan lagi, Paula? Kenapa tidak kau tanyakan dulu padaku apa aku sudah menyiapkan makan malam untuk suamiku atau belum, Paula?" tanya Laura sambil menahan kesal karena merasa Paula sengaja melakukan semua ini hanya untuk membuatnya marah agar terlihat buruk di mata William."Maafkan aku, Laura. Aku kira kamu masih di rumah sakit. Lagian selama kau di rumah sakit aku yang selalu datang menyiapkan makan malam untuk suamimu. Kalau aku tahu kamu sudah pulang gak mungkin aku beli makanan mahal ini," jawab Paula dengan suara selembut sutera sambil memasang wajah memelas seolah apa yang dia katakan benar adanya."Sudah. Git
Laura hampir berlari saat menuju lobi begitu sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh suaminya. Di depan sana, mobil mewah suaminya sudah menunggu dengan mesin yang masih menderu, seolah ingin segera pergi dari tempat itu. Pintu depan terbuka tepat saat Laura berdiri di samping kendaraan itu, seakan menuntutnya untuk segera masuk tanpa bantahan. “William, aku…” Laura mencoba memulai bicara dengan suara lirih, dia sangat berharap ada sedikit celah untuk negosiasi demi Aurora. “Masuk!” seru William tanpa sudi melirik sedikit pun ke arah istrinya. “Tapi Aurora baru saja selesai dioperasi, William. Aku harus tetap di sana menjaganya karena kondisinya belum benar-benar stabil. Aku janji besok pagi-pagi buta aku sudah ada di rumah untuk menyiapkan sarapan dan semua keperluanmu. Tolong, William, aku mohon sekali ini saja mengertilah,” pinta Laura sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia memohon pada suaminya yang kini terasa sepert
"Harusnya Bapak tidak perlu membuang uang sebanyak itu untuk anak yang jelas-jelas hasil perselingkuhan, Bapak terlalu baik sampai mau menanggung biaya pengobatannya. Kalau saya jadi Bapak, sudah saya biarkan saja anak itu mati," ucap Paula sambil menata surat pernyataan yang baru saja ditandatangani oleh Laura. Ia terus berusaha meracuni pikiran William tepat setelah Laura meninggalkan ruangan suaminya dengan selembar cek bernilai dua miliar di tangannya.William tidak sedikit pun menoleh untuk menanggapi ocehan itu. Ia justru memberikan instruksi yang membuat rahang Paula mengeras. "Datang ke rumah sakit itu sekarang dan pindahkan seluruh tagihan anak itu ke rekening pribadiku," perintah William tak bisa dibantah.Demi apa pun, Paula merasa darahnya mendidih mendengar keputusan itu. Ia sangat tidak setuju William masih bersikap lunak pada Laura, namun membantah perintah bosnya hanya akan membuat posisinya terancam. Ia terpaksa menelan kekesalannya dalam hati."Baik Pak, kalau begit
"Operasi baru akan dilaksanakan jika administrasinya sudah dipenuhi." Kalimat itu terus terngiang dalam benak Laura. Di mana ia bisa mencari uang dengan nominal sebesar itu dalam waktu sekejap? Namun, ia tidak mungkin berpangku tangan melihat nyawa putrinya berada di ujung tanduk. Satu-satunya jalan yang tersisa adalah meminta bantuan kepada William.Sambil terus mengusap air mata yang mengalir membasahi wajahnya yang pucat, Laura masuk ke dalam taksi yang akan membawanya menuju kantor Harrington Group di pusat kota. Hanya butuh waktu sepuluh menit Laura sudah tiba di depan gedung pencakar langit tersebut. Penampilannya benar-benar kacau. Matanya sembab dengan wajah tanpa polesan kosmetik sedikit pun. Petugas keamanan di depan pintu bahkan hampir tidak mengenalinya.Langkah Laura terhenti saat petugas resepsionis menyapanya dengan tatapan penuh rasa iba. "Ibu Laura, ada yang bisa kami bantu, Bu?" tanya wanita itu menyambut kedatangan Laura. "Aku ingin bertemu dengan suamiku," jawabn







