Share

Bab 4

Author: Atieckha
last update publish date: 2026-04-11 12:48:16

Laura hampir berlari saat menuju lobi begitu sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh suaminya. Di depan sana, mobil mewah suaminya sudah menunggu dengan mesin yang masih menderu, seolah ingin segera pergi dari tempat itu. Pintu depan terbuka tepat saat Laura berdiri di samping kendaraan itu, seakan menuntutnya untuk segera masuk tanpa bantahan.

“William, aku…” Laura mencoba memulai bicara dengan suara lirih, dia sangat berharap ada sedikit celah untuk negosiasi demi Aurora.

“Masuk!” seru William tanpa sudi melirik sedikit pun ke arah istrinya.

“Tapi Aurora baru saja selesai dioperasi, William. Aku harus tetap di sana menjaganya karena kondisinya belum benar-benar stabil. Aku janji besok pagi-pagi buta aku sudah ada di rumah untuk menyiapkan sarapan dan semua keperluanmu. Tolong, William, aku mohon sekali ini saja mengertilah,” pinta Laura sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada.

Matanya sudah berkaca-kaca. Ia memohon pada suaminya yang kini terasa seperti bukan orang yang dikenalnya. Namun, jawaban pria itu justru membuatnya harus meninggalkan Aurora sendirian di ruang pemulihan.

Pria itu menoleh dengan raut datar, seakan tidak ada lagi kesempatan untuk Laura membantah perintahnya. “Kau harus patuh pada perintahku seperti isi pernyataan yang sudah kau tandatangani tadi siang!” sahut William tanpa perasaan.

Laura tidak punya kekuatan untuk membantah lagi. Dengan perasaan hancur, ia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping suaminya. Laura menangis tanpa suara sepanjang jalan dan William tidak peduli meski air mata itu membasahi wajahnya yang tampak pucat.

Pria itu merasa dikhianati oleh istri dan mantan sopir pribadinya sendiri, dan itu membuatnya tidak punya belas kasihan lagi terhadap sang istri seperti sebelumnya. Dulu, ia masih bisa diam dan mencoba percaya saat ada kiriman foto serta video dari nomor tak dikenal terkait perselingkuhan Laura dan sopirnya. Tapi ingatan saat memergoki Laura berada di satu ranjang yang sama dengan sopir itu di sebuah kamar hotel sudah benar-benar menghancurkan kepercayaannya pada Laura.

Mobil mewah itu pun memasuki halaman rumah besar yang selama ini mereka tempati. Pagar tinggi itu terbuka dengan otomatis tanpa ada satu pun penjaga yang menyambut, dan suasana di sana terasa sangat sepi, bahkan belum satu pun lampu dinyalakan.

“Ke mana semua pelayan di rumah ini? Kenapa belum ada yang menyalakan lampu?” tanya Laura. Biasanya jam empat sore saja semua lampu sudah menyala, tapi sekarang matahari sudah terbenam Tak ada satupun lampu di rumah mereka yang menyala.

“Semua pekerja di rumah ini sudah kupecat, termasuk penjaga rumah. Aku tidak mau kau punya kesempatan untuk mengajak penjaga rumah kita selingkuh lagi,” jawab William ketus lalu berjalan masuk menuju pintu utama, meninggalkan Laura yang masih mematung di tempatnya.

Hati Laura terasa sakit mendengar hinaan itu. Rasanya Laura terlihat begitu rendah di hadapan lelaki yang masih ia cintai ini. Meski dadanya terasa sakit seperti diremas tangan tak kasat mata dan luka bekas melahirkannya masih sering berdenyut, Laura bersumpah tidak akan menyerah pada fitnah yang telah menghancurkan kebahagiaannya. Demi Aurora yang sedang berjuang di rumah sakit, ia bertekad akan membuat suaminya itu menyesali semua tuduhannya.

“Aku akan buktikan kalau aku tak pernah selingkuh, William,” Laura membatin.

Laura pun segera masuk ke dalam rumah menuju kamar utama. Ia mulai membersihkan kamar mandi dan mengisi bak mandi dengan air hangat untuk suaminya berendam. Saat William masuk untuk membersihkan diri tanpa mengucap sepatah kata pun, Laura beralih merapikan kamar dan menyiapkan baju ganti suaminya. Ia terus bekerja sendirian membersihkan seisi rumah selama hampir satu jam penuh, melakukan semua tugas yang biasanya dikerjakan oleh pelayannya. Saat hendak beranjak menuju dapur untuk mulai memasak, rasa nyeri yang tiba-tiba kembali terasa di perutnya.

“Sakit sekali perutku,” rintih Laura sambil mencengkeram perutnya yang terasa melilit. Keringat dingin mulai keluar di keningnya, namun ia tahu William tidak akan peduli jika ia mengeluh tentang rasa sakitnya.

Tiba-tiba William sudah menuruni anak tangga lalu mendekat ke arah Laura dan berkata, “Siapkan makan malam sekarang juga. Paula akan ikut makan bersama kita di sini,” perintah William.

Laura mendengus kesal. “Apa dia tidak bisa beli makanan sendiri sampai aku harus repot menyiapkan makan malam untuk sekretarismu itu, William? Aku baru saja pulang dari rumah sakit dan fisikku belum benar-benar kuat untuk melayani orang lain,” protes Laura.

Entah kenapa dia sulit melenyapkan rasa cemburu di hatinya setiap kali melihat William dekat dengan Paula. Padahal dia sendiri yang memohon-mohon pada suaminya untuk menerima sahabat baiknya itu sebagai gantinya di perusahaan Harrington Group.

“Kami harus rapat,” balas William ketus.

“Kenapa tidak kau selesaikan saja semua pekerjaanmu di kantor? Kenapa harus dibawa ke rumah dan menyuruhku melayani kalian berdua di meja makan?” cecar Laura lagi dengan sisa tenaganya.

William tidak menyahut sama sekali. Pria itu justru melangkah menuju ruang tamu dan duduk santai membaca koran bisnis yang belum sempat ia baca tadi pagi.

Dengan perasaan dongkol, Laura akhirnya mulai menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga. Tepat saat masakan matang dan sudah tersaji di atas meja, suara Paula terdengar dari ambang pintu utama.

“Selamat malam, Pak William. Kebetulan barusan saya lewat di restoran langganan kita, dan saya membelikan makanan favorit Anda, Pak. Biar saya sajikan dulu ya, Pak,” ucap Paula, terdengar manis namun berhasil membuat hati Laura semakin panas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Suami Posesif   Happy Ending

    Sekitar jam sebelas siang dua stroller bayi yang seharga dengan mobil sudah berjajar di ruang keluarga. William dan keluarganya sudah berpenampilan rapi siap menyambut kedatangan Selena dan calon suaminya. Sebetulnya Soraya sudah tahu siapa yang akan melamar anak angkatnya, hanya saja ia enggan memberitahu William karena kata Selena ia akan memberi kejutan buat adiknya itu. “Selamat siang semua,” suara nyempreng Selena mulai terdengar dan masuk ke dalam rumah. Disusul oleh Aldo. William mengerti heran karena asisten kesayangannya ini tiba-tiba datang ke rumah padahal dirinya tidak ada memberi tugas apapun di saat weekend. “Duduk, Al,” ucap William. “Terima kasih, Tuan.”Selena mulai menyapa keluarganya dan mencium pipinya termasuk kedua keponakannya. Tapi saat ia akan mencium William, pria itu selalu menolaknya katanya merasa geli dicium oleh Kakak angkatnya itu. Karena tak berhasil menghargai William, Selena pun akhirnya duduk di samping Aldo dan menggenggam tangan Aldo membuat ma

  • Penyesalan Suami Posesif   Seperti Bayi

    William dan Laura duduk berdampingan di meja makan yang luas tanpa sekat pembatas, langsung menghadap ke arah taman dalam rumah mereka yang megah. Keduanya begitu lahap menikmati hidangan roti tangkup isi daging dan telur dadar gulung buatan Soraya. Masakan sang mama memang selalu menjadi hidangan kesukaan mereka berdua sejak dulu. Seketika itu juga, seluruh sudut rumah terasa begitu hangat, seolah dialiri oleh getaran kasih sayang yang teramat melimpah. Canda tawa yang renyah terus saja terlontar dari mulut keduanya, susul-menyusul tanpa henti. Mereka saling melemparkan pujian satu sama lain dengan pandangan mata yang berkaca-kaca karena bahagia, persis seperti sepasang kekasih yang baru saja melangsungkan pernikahan dan tengah hanyut menikmati masa-masa indah kebersamaan berdua. Di sela-sela obrolan yang kian mendalam, mereka saling menautkan jemari, mengikat janji suci di dalam hati masing-masing untuk tidak akan pernah lagi mengulang lembaran kelam yang penuh kesalahan di masa

  • Penyesalan Suami Posesif   Suka ASI

    Laura terus mendesah saat sang suami melahap dadanya menghisap ASI milik si kembar. Untung saja ASInya melimpah sehingga sang anak masih punya banyak stok ASI sehingga iya tak perlu khawatir ketika sang suami terus menikmati ASI itu. Sejak kelahiran Aurora memang William sangat doyan sekali menghisap ASI istrinya. Demi apapun rasanya sangat nikmat membuat William ketagihan dan setiap kali melihat bayi-bayinya minum ASI dari sumbernya William seperti ingin berebut bareng 2 buah hatinya.“Sayaaaaaang, aku udah gak tahan,” desah Laura, saat tangan suaminya dengan liar masuk ke bagian intimnya. William langsung melepaskan semua pakaiannya dan segera melakukan penyatuan. Kegiatan panas itu benar-benar berlangsung sampai dua ronde. Dan tepat ronde kedua berakhir tangisan kedua bayinya mulai terdengar sangat merdu di telinga keduanya. William bangkit dari tubuh Laura dan berkata, “biar aku saja, sayang, yang ke kamar Baby Twin's. Kamu tidur aja,” William mengecup bibir sang istri, lalu mem

  • Penyesalan Suami Posesif   Minta Jatah

    Kebahagiaan yang dinantikan Laura dan William akhirnya benar-benar nyata, bahkan jauh lebih indah dari yang pernah mereka bayangkan. Rumah besar yang dulunya terasa sepi, sekarang mendadak penuh dengan suara tangis berisik yang justru terdengar seperti melodi paling merdu di telinga mereka. Kini usia si kembar sudah menginjak bulan kedua. Pipi mereka mulai berisi membuat Grandma dan Grandpa-nya memilih menetap di New York karena tak bisa berjauhan dengan si kembar.Menjadi orang tua baru buat Leonardo dan Leonora ternyata membawa corak baru yang luar biasa dalam hidup pasangan ini. Mereka seperti tidak ingin kehilangan satu detik pun untuk melewatkan tumbuh kembang sepasang malaikat kecil yang menggemaskan itu.Walaupun William sudah menyiapkan dua orang pengasuh bayi yang siap sedia setiap saat, Laura sama sekali tidak mau menjadi ibu yang tinggal terima beres. Menurut Laura, pelukan dan aroma tubuh ibu kandung adalah hal yang paling berharga untuk anak-anaknya. Laura tetap memandika

  • Penyesalan Suami Posesif   Merayu

    “Aku minta maaf sama kamu, benar-benar minta maaf atas kesalahanku,” ucap Paula lagi dengan suara yang tersendek-sendek di antara napasnya yang terasa berat.Laura mengusap lelehan air mata yang terus-menerus membasahi wajah sahabatnya itu. Padahal, di saat yang bersamaan, air matanya sendiri seolah menolak untuk berhenti mengalir, mengucur deras melintasi pipinya dan membasahi wajah cantiknya yang kini kelihatan begitu pias. Kesedihan yang teramat mendalam begitu jelas tergambar dari sepasang matanya yang sembap.Paula lantas menolehkan kepalanya, mengarahkan pandangan matanya ke ambang pintu. Di sana, William masih berdiri, seolah tidak akan membiarkan istrinya sendirian di sana. Pria itu hanya terus menatap lurus ke arah dua wanita yang kini memilih jalan untuk saling menghapus dendam dan memaafkan satu sama lain.“Pak William, tolong maafkan saya. Saya minta ampun sudah lancang masuk ke dalam rumah tangga Anda dan nyaris menghancurkannya. Saya benar-benar salah,” ujar wanita itu d

  • Penyesalan Suami Posesif   Tangisan Penyesalan

    “Sayang, aku mau minta izin buat ketemu sama Paula,” ucap Laura meminta izin pada sang suami.William mengurai pelukannya lantas bertanya, “Buat apa sih, sayang, ketemu sama dia lagi? Udah deh, anggap nggak kenal lagi sama dia.”William menatap lekat wajah istrinya, ada gurat kecemasan yang mendalam di matanya. Pria itu hanya takut istrinya kenapa-napa jika nekat untuk tetap bertemu dengan Paula—wanita yang nyaris menghancurkan kehidupan mereka, mengoyak kedamaian yang baru saja mereka bangun kembali, dan hampir merenggut segalanya dari hidup mereka. “Aku kan sahabatnya, sayang. Aku pengen ketemu aja sama dia, pengen ngobrol. Siapa tahu dia bisa bertobat,” ujar Laura dengan suara yang melembut, mencoba mengikis ketegangan yang mendadak menyeruak di antara mereka.Namun, William menggeleng. Amarah dan rasa trauma menguasai dirinya tentang Paula. “Tapi sayang, mungkin saja sekarang dia jauh lebih membenci kamu dari sebelumnya. Aku menjebloskannya ke penjara, sementara hubungan kita sud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status