Share

Bab 3

Author: Atieckha
last update publish date: 2026-04-10 16:49:33

"Harusnya Bapak tidak perlu membuang uang sebanyak itu untuk anak yang jelas-jelas hasil  perselingkuhan, Bapak terlalu baik sampai mau menanggung biaya pengobatannya. Kalau saya jadi Bapak, sudah saya biarkan saja anak itu mati," ucap Paula sambil menata surat pernyataan yang baru saja ditandatangani oleh Laura. Ia terus berusaha meracuni pikiran William tepat setelah Laura meninggalkan ruangan suaminya dengan selembar cek bernilai dua miliar di tangannya.

William tidak sedikit pun menoleh untuk menanggapi ocehan itu. Ia justru memberikan instruksi yang membuat rahang Paula mengeras. "Datang ke rumah sakit itu sekarang dan pindahkan seluruh tagihan anak itu ke rekening pribadiku," perintah William tak bisa dibantah.

Demi apa pun, Paula merasa darahnya mendidih mendengar keputusan itu. Ia sangat tidak setuju William masih bersikap lunak pada Laura, namun membantah perintah bosnya hanya akan membuat posisinya terancam. Ia terpaksa menelan kekesalannya dalam hati.

"Baik Pak, kalau begitu saya pamit keluar sekarang," sahut Paula dengan sisa kesabaran yang tipis.

"Hmm," balas William tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan berkas di depannya. Agenda besar yang seharusnya tuntas hari ini jadi berantakan hanya karena kedatangan Laura.

Sebelum menuju rumah sakit, Paula menyempatkan diri mendatangi meja resepsionis di lobi. Tatapannya  penuh amarah. 

"Bukankah aku sudah memberi perintah untuk tidak mengizinkan siapa pun menemui Pak William, kenapa kalian melanggarnya? Pak William marah besar sekarang, dan kalau sekali lagi kalian melakukan kecerobohan seperti ini, aku pastikan kalian semua angkat kaki dari kantor ini!" seru Paula dengan urat leher yang menonjol karena marah.

"Maaf Bu, kami sudah berusaha menghalangi tapi Ibu Laura menerobos masuk begitu saja tanpa bisa kami cegah," jawab petugas itu berusaha membela diri. Mereka nggak mau  dipecat dari kantor ini. 

Paula tidak sudi mendengar alasan lebih lanjut. Ia langsung masuk ke dalam mobil, memacu kendaraannya menuju tempat bayi itu dirawat. Sepanjang perjalanan, mulutnya tak henti mengumpat karena William masih mau berbesar hati membantu wanita yang sudah mengkhianatinya.

Setibanya di rumah sakit, Paula langsung menyelesaikan urusan administrasi. Selain uang dua miliar yang sudah disetorkan Laura, sisa biaya pengobatan lainnya ia alihkan ke rekening pribadi William tanpa sepengetahuan Laura. Setelah semua beres, ia melangkah menuju ruang ICU untuk menemui sahabatnya.

"Paula, kamu datang ke sini?" sapa Laura saat menyadari kehadiran sosok wanita itu di dekatnya.

"Iya, karena jadwal meeting di kantor batal, aku sengaja mampir untuk melihat keadaan anakmu. Jam berapa operasinya dimulai?" tanya Paula sambil berpura-pura menunjukkan simpati.

"Dua jam lagi," jawab Laura tanpa sudi menatap wajah lawan bicaranya.

Paula merasakan ada yang berbeda dari sikap Laura yang mendadak dingin. "Apa kamu mau aku belikan makanan?" tanya Paula lagi berusaha mencairkan suasana.

Laura menggeleng, matanya menatap lurus ke depan. "Kamu tidak perlu repot membelikanku apa pun karena aku bisa mengurus diriku sendiri. Kalau kamu memang sahabat yang baik dan tahu cara berterima kasih, sebaiknya bantu aku mencari tahu siapa orang yang sudah menjebakku di kamar hotel bersama sopir itu. Cari tahu juga siapa dalang di balik foto dan video yang dikirimkan kepada William sampai dia salah paham," sahut Laura dengan kalimat penuh sindiran.

Paula terperangah, ia menatap Laura dengan dahi berkerut. "Maksudmu apa bicara seperti itu?" tanya Paula balik.

"Kamu pasti paham betul apa yang kumaksud. Aku bersumpah akan membuktikan pada William kalau bayi itu adalah darah dagingnya sendiri. Aku juga akan menyeret orang yang dengan sengaja ingin menghancurkan rumah tanggaku!" seru Laura lagi.

Paula mengernyit heran, "Bicara apa kamu ini Laura, apa sekarang kau sedang menuduhku? Kalau memang kau tidak bermain gila di belakang suamimu, mana mungkin hasil tes DNA itu menyatakan sebaliknya?" protes Paula.

"Apa pun bisa dimanipulasi dengan uang, dan sekarang aku memang belum punya buktinya, tapi aku bersumpah tidak akan tinggal diam sampai kebenaran terungkap," balas Laura penuh keyakinan.

Mendengar itu, Paula hanya mengibaskan tangan seolah meremehkan ucapan sahabatnya, lalu berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.

Beberapa jam berikutnya operasi pertama Aurora berhasil dilakukan. Laura benar-benar sendirian di sana, tapi dia sangat bersyukur mendengar kabar baik itu. 

“Bu, silahkan masuk. Tapi bayi anda masih belum siuman. Kami izinkan ibu melihatnya hanya lima menit saja,” ucap perawat yang menjaga Aurora.

“Terima kasih, suster.”

Laura pun masuk dibimbing oleh suster. Dia memakai pakaian steril sebelum benar-benar diizinkan melihat bayinya yang masih belum sadarkan diri tapi kondisinya sudah dinyatakan stabil oleh dokter. 

“Aurora, sayang. Ini Mama, nak. Terima kasih sudah berjuang untuk Mama. Mama janji akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu, nak.” Tangis Laura tak terbendung lagi melihat bayi malang yang ia lahirkan seminggu lalu itu. Bahkan Aurora belum merasakan pelukan hangatnya, belum merasakan nikmatnya ASI sang mama. 

Dalam tangisnya, Laura bersumpah akan membuktikan pada William kalau semua tuduhan dan bukti itu salah. Setelah hampir lima menit dia di dalam, suster pun meminta Laura untuk keluar dari ruangan itu. 

Baru saja Laura duduk, ponselnya berdering nyaring dan nama William tertera di layar ponselnya.

“Ha–halo,” sapa Laura terbata.

“Aku sudah di lobi. Cepat keluar!”

“Tapi, William…”

Tuuuuuut

Sambungan telepon diputus sepihak oleh William. Dengan sangat terpaksa Laura menuju ke lobi rumah sakit.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Suami Posesif   Happy Ending

    Sekitar jam sebelas siang dua stroller bayi yang seharga dengan mobil sudah berjajar di ruang keluarga. William dan keluarganya sudah berpenampilan rapi siap menyambut kedatangan Selena dan calon suaminya. Sebetulnya Soraya sudah tahu siapa yang akan melamar anak angkatnya, hanya saja ia enggan memberitahu William karena kata Selena ia akan memberi kejutan buat adiknya itu. “Selamat siang semua,” suara nyempreng Selena mulai terdengar dan masuk ke dalam rumah. Disusul oleh Aldo. William mengerti heran karena asisten kesayangannya ini tiba-tiba datang ke rumah padahal dirinya tidak ada memberi tugas apapun di saat weekend. “Duduk, Al,” ucap William. “Terima kasih, Tuan.”Selena mulai menyapa keluarganya dan mencium pipinya termasuk kedua keponakannya. Tapi saat ia akan mencium William, pria itu selalu menolaknya katanya merasa geli dicium oleh Kakak angkatnya itu. Karena tak berhasil menghargai William, Selena pun akhirnya duduk di samping Aldo dan menggenggam tangan Aldo membuat ma

  • Penyesalan Suami Posesif   Seperti Bayi

    William dan Laura duduk berdampingan di meja makan yang luas tanpa sekat pembatas, langsung menghadap ke arah taman dalam rumah mereka yang megah. Keduanya begitu lahap menikmati hidangan roti tangkup isi daging dan telur dadar gulung buatan Soraya. Masakan sang mama memang selalu menjadi hidangan kesukaan mereka berdua sejak dulu. Seketika itu juga, seluruh sudut rumah terasa begitu hangat, seolah dialiri oleh getaran kasih sayang yang teramat melimpah. Canda tawa yang renyah terus saja terlontar dari mulut keduanya, susul-menyusul tanpa henti. Mereka saling melemparkan pujian satu sama lain dengan pandangan mata yang berkaca-kaca karena bahagia, persis seperti sepasang kekasih yang baru saja melangsungkan pernikahan dan tengah hanyut menikmati masa-masa indah kebersamaan berdua. Di sela-sela obrolan yang kian mendalam, mereka saling menautkan jemari, mengikat janji suci di dalam hati masing-masing untuk tidak akan pernah lagi mengulang lembaran kelam yang penuh kesalahan di masa

  • Penyesalan Suami Posesif   Suka ASI

    Laura terus mendesah saat sang suami melahap dadanya menghisap ASI milik si kembar. Untung saja ASInya melimpah sehingga sang anak masih punya banyak stok ASI sehingga iya tak perlu khawatir ketika sang suami terus menikmati ASI itu. Sejak kelahiran Aurora memang William sangat doyan sekali menghisap ASI istrinya. Demi apapun rasanya sangat nikmat membuat William ketagihan dan setiap kali melihat bayi-bayinya minum ASI dari sumbernya William seperti ingin berebut bareng 2 buah hatinya.“Sayaaaaaang, aku udah gak tahan,” desah Laura, saat tangan suaminya dengan liar masuk ke bagian intimnya. William langsung melepaskan semua pakaiannya dan segera melakukan penyatuan. Kegiatan panas itu benar-benar berlangsung sampai dua ronde. Dan tepat ronde kedua berakhir tangisan kedua bayinya mulai terdengar sangat merdu di telinga keduanya. William bangkit dari tubuh Laura dan berkata, “biar aku saja, sayang, yang ke kamar Baby Twin's. Kamu tidur aja,” William mengecup bibir sang istri, lalu mem

  • Penyesalan Suami Posesif   Minta Jatah

    Kebahagiaan yang dinantikan Laura dan William akhirnya benar-benar nyata, bahkan jauh lebih indah dari yang pernah mereka bayangkan. Rumah besar yang dulunya terasa sepi, sekarang mendadak penuh dengan suara tangis berisik yang justru terdengar seperti melodi paling merdu di telinga mereka. Kini usia si kembar sudah menginjak bulan kedua. Pipi mereka mulai berisi membuat Grandma dan Grandpa-nya memilih menetap di New York karena tak bisa berjauhan dengan si kembar.Menjadi orang tua baru buat Leonardo dan Leonora ternyata membawa corak baru yang luar biasa dalam hidup pasangan ini. Mereka seperti tidak ingin kehilangan satu detik pun untuk melewatkan tumbuh kembang sepasang malaikat kecil yang menggemaskan itu.Walaupun William sudah menyiapkan dua orang pengasuh bayi yang siap sedia setiap saat, Laura sama sekali tidak mau menjadi ibu yang tinggal terima beres. Menurut Laura, pelukan dan aroma tubuh ibu kandung adalah hal yang paling berharga untuk anak-anaknya. Laura tetap memandika

  • Penyesalan Suami Posesif   Merayu

    “Aku minta maaf sama kamu, benar-benar minta maaf atas kesalahanku,” ucap Paula lagi dengan suara yang tersendek-sendek di antara napasnya yang terasa berat.Laura mengusap lelehan air mata yang terus-menerus membasahi wajah sahabatnya itu. Padahal, di saat yang bersamaan, air matanya sendiri seolah menolak untuk berhenti mengalir, mengucur deras melintasi pipinya dan membasahi wajah cantiknya yang kini kelihatan begitu pias. Kesedihan yang teramat mendalam begitu jelas tergambar dari sepasang matanya yang sembap.Paula lantas menolehkan kepalanya, mengarahkan pandangan matanya ke ambang pintu. Di sana, William masih berdiri, seolah tidak akan membiarkan istrinya sendirian di sana. Pria itu hanya terus menatap lurus ke arah dua wanita yang kini memilih jalan untuk saling menghapus dendam dan memaafkan satu sama lain.“Pak William, tolong maafkan saya. Saya minta ampun sudah lancang masuk ke dalam rumah tangga Anda dan nyaris menghancurkannya. Saya benar-benar salah,” ujar wanita itu d

  • Penyesalan Suami Posesif   Tangisan Penyesalan

    “Sayang, aku mau minta izin buat ketemu sama Paula,” ucap Laura meminta izin pada sang suami.William mengurai pelukannya lantas bertanya, “Buat apa sih, sayang, ketemu sama dia lagi? Udah deh, anggap nggak kenal lagi sama dia.”William menatap lekat wajah istrinya, ada gurat kecemasan yang mendalam di matanya. Pria itu hanya takut istrinya kenapa-napa jika nekat untuk tetap bertemu dengan Paula—wanita yang nyaris menghancurkan kehidupan mereka, mengoyak kedamaian yang baru saja mereka bangun kembali, dan hampir merenggut segalanya dari hidup mereka. “Aku kan sahabatnya, sayang. Aku pengen ketemu aja sama dia, pengen ngobrol. Siapa tahu dia bisa bertobat,” ujar Laura dengan suara yang melembut, mencoba mengikis ketegangan yang mendadak menyeruak di antara mereka.Namun, William menggeleng. Amarah dan rasa trauma menguasai dirinya tentang Paula. “Tapi sayang, mungkin saja sekarang dia jauh lebih membenci kamu dari sebelumnya. Aku menjebloskannya ke penjara, sementara hubungan kita sud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status