Masuk"Harusnya Bapak tidak perlu membuang uang sebanyak itu untuk anak yang jelas-jelas hasil perselingkuhan, Bapak terlalu baik sampai mau menanggung biaya pengobatannya. Kalau saya jadi Bapak, sudah saya biarkan saja anak itu mati," ucap Paula sambil menata surat pernyataan yang baru saja ditandatangani oleh Laura. Ia terus berusaha meracuni pikiran William tepat setelah Laura meninggalkan ruangan suaminya dengan selembar cek bernilai dua miliar di tangannya.
William tidak sedikit pun menoleh untuk menanggapi ocehan itu. Ia justru memberikan instruksi yang membuat rahang Paula mengeras. "Datang ke rumah sakit itu sekarang dan pindahkan seluruh tagihan anak itu ke rekening pribadiku," perintah William tak bisa dibantah. Demi apa pun, Paula merasa darahnya mendidih mendengar keputusan itu. Ia sangat tidak setuju William masih bersikap lunak pada Laura, namun membantah perintah bosnya hanya akan membuat posisinya terancam. Ia terpaksa menelan kekesalannya dalam hati. "Baik Pak, kalau begitu saya pamit keluar sekarang," sahut Paula dengan sisa kesabaran yang tipis. "Hmm," balas William tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan berkas di depannya. Agenda besar yang seharusnya tuntas hari ini jadi berantakan hanya karena kedatangan Laura. Sebelum menuju rumah sakit, Paula menyempatkan diri mendatangi meja resepsionis di lobi. Tatapannya penuh amarah. "Bukankah aku sudah memberi perintah untuk tidak mengizinkan siapa pun menemui Pak William, kenapa kalian melanggarnya? Pak William marah besar sekarang, dan kalau sekali lagi kalian melakukan kecerobohan seperti ini, aku pastikan kalian semua angkat kaki dari kantor ini!" seru Paula dengan urat leher yang menonjol karena marah. "Maaf Bu, kami sudah berusaha menghalangi tapi Ibu Laura menerobos masuk begitu saja tanpa bisa kami cegah," jawab petugas itu berusaha membela diri. Mereka nggak mau dipecat dari kantor ini. Paula tidak sudi mendengar alasan lebih lanjut. Ia langsung masuk ke dalam mobil, memacu kendaraannya menuju tempat bayi itu dirawat. Sepanjang perjalanan, mulutnya tak henti mengumpat karena William masih mau berbesar hati membantu wanita yang sudah mengkhianatinya. Setibanya di rumah sakit, Paula langsung menyelesaikan urusan administrasi. Selain uang dua miliar yang sudah disetorkan Laura, sisa biaya pengobatan lainnya ia alihkan ke rekening pribadi William tanpa sepengetahuan Laura. Setelah semua beres, ia melangkah menuju ruang ICU untuk menemui sahabatnya. "Paula, kamu datang ke sini?" sapa Laura saat menyadari kehadiran sosok wanita itu di dekatnya. "Iya, karena jadwal meeting di kantor batal, aku sengaja mampir untuk melihat keadaan anakmu. Jam berapa operasinya dimulai?" tanya Paula sambil berpura-pura menunjukkan simpati. "Dua jam lagi," jawab Laura tanpa sudi menatap wajah lawan bicaranya. Paula merasakan ada yang berbeda dari sikap Laura yang mendadak dingin. "Apa kamu mau aku belikan makanan?" tanya Paula lagi berusaha mencairkan suasana. Laura menggeleng, matanya menatap lurus ke depan. "Kamu tidak perlu repot membelikanku apa pun karena aku bisa mengurus diriku sendiri. Kalau kamu memang sahabat yang baik dan tahu cara berterima kasih, sebaiknya bantu aku mencari tahu siapa orang yang sudah menjebakku di kamar hotel bersama sopir itu. Cari tahu juga siapa dalang di balik foto dan video yang dikirimkan kepada William sampai dia salah paham," sahut Laura dengan kalimat penuh sindiran. Paula terperangah, ia menatap Laura dengan dahi berkerut. "Maksudmu apa bicara seperti itu?" tanya Paula balik. "Kamu pasti paham betul apa yang kumaksud. Aku bersumpah akan membuktikan pada William kalau bayi itu adalah darah dagingnya sendiri. Aku juga akan menyeret orang yang dengan sengaja ingin menghancurkan rumah tanggaku!" seru Laura lagi. Paula mengernyit heran, "Bicara apa kamu ini Laura, apa sekarang kau sedang menuduhku? Kalau memang kau tidak bermain gila di belakang suamimu, mana mungkin hasil tes DNA itu menyatakan sebaliknya?" protes Paula. "Apa pun bisa dimanipulasi dengan uang, dan sekarang aku memang belum punya buktinya, tapi aku bersumpah tidak akan tinggal diam sampai kebenaran terungkap," balas Laura penuh keyakinan. Mendengar itu, Paula hanya mengibaskan tangan seolah meremehkan ucapan sahabatnya, lalu berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Beberapa jam berikutnya operasi pertama Aurora berhasil dilakukan. Laura benar-benar sendirian di sana, tapi dia sangat bersyukur mendengar kabar baik itu. “Bu, silahkan masuk. Tapi bayi anda masih belum siuman. Kami izinkan ibu melihatnya hanya lima menit saja,” ucap perawat yang menjaga Aurora. “Terima kasih, suster.” Laura pun masuk dibimbing oleh suster. Dia memakai pakaian steril sebelum benar-benar diizinkan melihat bayinya yang masih belum sadarkan diri tapi kondisinya sudah dinyatakan stabil oleh dokter. “Aurora, sayang. Ini Mama, nak. Terima kasih sudah berjuang untuk Mama. Mama janji akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu, nak.” Tangis Laura tak terbendung lagi melihat bayi malang yang ia lahirkan seminggu lalu itu. Bahkan Aurora belum merasakan pelukan hangatnya, belum merasakan nikmatnya ASI sang mama. Dalam tangisnya, Laura bersumpah akan membuktikan pada William kalau semua tuduhan dan bukti itu salah. Setelah hampir lima menit dia di dalam, suster pun meminta Laura untuk keluar dari ruangan itu. Baru saja Laura duduk, ponselnya berdering nyaring dan nama William tertera di layar ponselnya. “Ha–halo,” sapa Laura terbata. “Aku sudah di lobi. Cepat keluar!” “Tapi, William…” Tuuuuuut Sambungan telepon diputus sepihak oleh William. Dengan sangat terpaksa Laura menuju ke lobi rumah sakit.Laura berdiri dengan kaki yang masih lemas saat melihat sosok dokter Antonio keluar dari balik pintu ICU. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab karena kurang tidur dan tekanan batin yang tiada habis-habisnya."Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Laura dengan suara lirih, seolah seluruh tenaganya sudah habis terkuras hanya karena mengkhawatirkan buah hatinya."Anak Ibu sudah kami pindahkan ke ruang perawatan. Sudah ada suster yang menjaganya di sana. Ibu tinggal jalan lurus saja, lalu belok kanan. Di sana ada ruangan bayi, Aurora dirawat di ruangan itu," ucap dokter dengan senyum tipis yang sedikit menenangkan hati Laura. Jujur Laura bahagia karena sang anak sudah keluar dari ruang ICU."Terima kasih, Dok. Tapi kondisinya baik-baik saja, kan, dok? Dia tidak mengalami komplikasi apapun pasca operasi, kan?" Laura kembali bertanya dengan penuh kekhawatiran. Dadanya sakit sekali seperti diremas tangan tak kasat mata dengan begitu keras, rasa berdosa karena telah membiarkan bayinya
Laura menatap nanar layar ponsel yang masih menyala di tangannya. Di sana, terpampang jelas foto kiriman Paula. Perempuan itu tampak sengaja memamerkan momen saat dirinya dan William sedang berpelukan di pinggir jalan. Dada Laura seketika terasa sakit seperti diremas tangan tak kasat mata, panas menjalar hingga ke ubun-ubun. Tanpa membalas sepatah kata pun, ia langsung memblokir nomor Paula. Ia tidak ingin memberikan kepuasan pada perempuan ular itu dengan melihatnya marah atau memohon.“Aku gak akan pernah membiarkanmu melukaiku dengan cara rendahan seperti ini, Paula. Tunggu sampai anakku pulih, akan kubuktikan kau dalang dari fitnah itu,” gumam Laura dalam hati. Ternyata orang yang dianggap sebagai sahabat terbaiknya, kini berubah menjadi virus mematikan dalam hidupnya.Jam sudah menunjukkan angka sebelas malam saat pintu kamar utama terbuka. William melangkah masuk dengan sisa wangi parfum yang wanita melekat di bajunya. Sebenarnya, William sempat cemas kalau-kalau Laura nekat k
Tok, tok. "Permisi, Pak," ucap Paula sambil mengetuk pintu ruang kerja William. "Masuk," sahut William dari dalam. Paula segera melangkah masuk. Ia duduk di kursi depan meja kerja William dan mengeluarkan tumpukan berkas yang harus segera mereka selesaikan. Fokus William sempat teralihkan sejenak. "Sudah kau telepon pihak rumah sakit untuk menyediakan satu suster buat menjaga anaknya Laura selama Laura tidak ada di rumah sakit?" tanya William tanpa menatap wajah sekretarisnya itu. Sebelumnya, William memang sudah meminta Paula mencari perawat khusus buat Aurora agar ada yang menjaga bayi itu selama Laura tidak berada di rumah sakit. Tentu saja semua yang ia lakukan ini termasuk biaya pengobatan Aurora yang dialihkan ke rekening pribadinya tanpa sepengetahuan Laura. "Sudah, Pak. Tadi sebelum saya pulang, saya langsung hubungi pihak rumah sakit untuk urusan itu," jawab Paula tanpa keraguan sedikitpun karena dia sudah melaksanakan perintah atasannya. William tidak lagi bertanya so
Laura berdiri di dekat meja makan sambil menatap deretan bungkusan yang dibawa Paula dengan hati yang kesal. Usahanya masak di dapur meski rasa sakit di perutnya belum pulih seolah tidak ada artinya sama sekali setelah kedatangan sahabatnya itu.Laura pun menatap ke arah Paula yang sudah berdiri di seberang meja, "Aku sudah masak sebanyak ini sekarang kau datang membawa makanan lagi, Paula? Kenapa tidak kau tanyakan dulu padaku apa aku sudah menyiapkan makan malam untuk suamiku atau belum, Paula?" tanya Laura sambil menahan kesal karena merasa Paula sengaja melakukan semua ini hanya untuk membuatnya marah agar terlihat buruk di mata William."Maafkan aku, Laura. Aku kira kamu masih di rumah sakit. Lagian selama kau di rumah sakit aku yang selalu datang menyiapkan makan malam untuk suamimu. Kalau aku tahu kamu sudah pulang gak mungkin aku beli makanan mahal ini," jawab Paula dengan suara selembut sutera sambil memasang wajah memelas seolah apa yang dia katakan benar adanya."Sudah. Git
Laura hampir berlari saat menuju lobi begitu sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh suaminya. Di depan sana, mobil mewah suaminya sudah menunggu dengan mesin yang masih menderu, seolah ingin segera pergi dari tempat itu. Pintu depan terbuka tepat saat Laura berdiri di samping kendaraan itu, seakan menuntutnya untuk segera masuk tanpa bantahan. “William, aku…” Laura mencoba memulai bicara dengan suara lirih, dia sangat berharap ada sedikit celah untuk negosiasi demi Aurora. “Masuk!” seru William tanpa sudi melirik sedikit pun ke arah istrinya. “Tapi Aurora baru saja selesai dioperasi, William. Aku harus tetap di sana menjaganya karena kondisinya belum benar-benar stabil. Aku janji besok pagi-pagi buta aku sudah ada di rumah untuk menyiapkan sarapan dan semua keperluanmu. Tolong, William, aku mohon sekali ini saja mengertilah,” pinta Laura sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia memohon pada suaminya yang kini terasa sepert
"Harusnya Bapak tidak perlu membuang uang sebanyak itu untuk anak yang jelas-jelas hasil perselingkuhan, Bapak terlalu baik sampai mau menanggung biaya pengobatannya. Kalau saya jadi Bapak, sudah saya biarkan saja anak itu mati," ucap Paula sambil menata surat pernyataan yang baru saja ditandatangani oleh Laura. Ia terus berusaha meracuni pikiran William tepat setelah Laura meninggalkan ruangan suaminya dengan selembar cek bernilai dua miliar di tangannya.William tidak sedikit pun menoleh untuk menanggapi ocehan itu. Ia justru memberikan instruksi yang membuat rahang Paula mengeras. "Datang ke rumah sakit itu sekarang dan pindahkan seluruh tagihan anak itu ke rekening pribadiku," perintah William tak bisa dibantah.Demi apa pun, Paula merasa darahnya mendidih mendengar keputusan itu. Ia sangat tidak setuju William masih bersikap lunak pada Laura, namun membantah perintah bosnya hanya akan membuat posisinya terancam. Ia terpaksa menelan kekesalannya dalam hati."Baik Pak, kalau begit







