Share

Bab 5

Author: Atieckha
last update publish date: 2026-04-12 17:57:32

Laura berdiri di dekat meja makan sambil menatap deretan bungkusan yang dibawa Paula dengan hati yang kesal. Usahanya masak di dapur meski rasa sakit di perutnya belum pulih seolah tidak ada artinya sama sekali setelah kedatangan sahabatnya itu.

Laura pun menatap ke arah Paula yang sudah berdiri di seberang meja, "Aku sudah masak sebanyak ini sekarang kau datang membawa makanan lagi, Paula? Kenapa tidak kau tanyakan dulu padaku apa aku sudah menyiapkan makan malam untuk suamiku atau belum, Paula?" tanya Laura sambil menahan kesal karena merasa Paula sengaja melakukan semua ini hanya untuk membuatnya marah agar terlihat buruk di mata William.

"Maafkan aku, Laura. Aku kira kamu masih di rumah sakit. Lagian selama kau di rumah sakit aku yang selalu datang menyiapkan makan malam untuk suamimu. Kalau aku tahu kamu sudah pulang gak mungkin aku beli makanan mahal ini," jawab Paula dengan suara selembut sutera sambil memasang wajah memelas seolah apa yang dia katakan benar adanya.

"Sudah. Gitu aja kamu ributkan, Laura. Tinggal tata saja di meja makan," timpal William meminta istrinya untuk mengalah dengan kedatangan Paula.

"Tapi ini banyak banget, William. Siapa yang mau menghabiskan semua ini?” Laura kembali bertanya, namun suaminya sudah lebih dulu memalingkan wajah dan kini kembali fokus melanjutkan untuk membaca koran.

Sambil menahan kesal, Laura akhirnya melangkah ke dapur untuk mengambil piring tambahan untuk tamu yang tak diundang itu. Di saat itulah, ketika punggung Laura berbalik, tangan Paula bergerak cepat, seringai licik terbit di sudut bibirnya, ia dengan sengaja menaburkan sesuatu ke dalam hidangan Laura yang masih hangat. 

Paula lantas berjalan ke dapur dan berdiri tepat di samping Laura, "Sebaiknya kamu mandi dulu, Laura. Tubuhmu bau sampah, jangan sampai selera makan suamimu hilang karena bau tubuhmu yang menyengat ini," bisik Paula tepat di samping telinga Laura. Kalimat itu sengaja dia katakan hanya untuk membuat Laura merasa insecure dengan keadaannya sekarang.

Laura hanya bisa menghela napas panjang, mencoba untuk tidak membalas ucapan Paula karena kebetulan dia memang habis bersih-bersih dan masih berkeringat. Ia memilih naik ke lantai atas untuk membersihkan diri dan membiarkan Paula mengambil alih pekerjaan yang seharusnya menjadi tugas Laura sebagai istri di rumah ini. 

“Aurora, yang kuat ya, nak. Mama janji akan segera datang ke rumah sakit,” gumamnya pada diri sendiri. Laura merasa menjadi ibu yang gagal, karena tega meninggalkan buah hatinya sendirian di rumah sakit. Tapi dia tak punya pilihan lain, demi biaya pengobatan sang anak, Laura harus patuh pada perintah William.

Tak butuh waktu lama untuk Laura kembali turun ke lantai satu. Tubuhnya sudah segar dan wangi. Namun, pemandangan di meja makan membuat jantungnya berdegup kencang karena emosi. Paula sudah duduk dengan manis di depan William, bahkan dengan sangat lancang wanita itu sibuk menyendokkan nasi serta lauk ke atas piring William.

Wanita itu berhenti setelah menyadari Laura sudah kembali. "Maafkan aku, Laura. Soalnya kami harus rapat jadi kami langsung mulai makan tanpa menunggumu. Kalau begitu ayo kita makan, Laura," ujar Paula sok baik seolah dialah nyonya di rumah tersebut.

Laura mehan diri untuk tidak marah. Ia tidak ingin Paula semakin sok berkuasa jika tiba-tiba William membelanya. Ia pun duduk tepat di samping William dan segera menuangkan air minum untuk pria itu, mencoba menunjukkan bahwa ia masih memegang kendali sebagai istri sah. Laura memilih untuk makan masakannya sendiri daripada masakan restoran mahal yang dibawa oleh Paula.

Dia menatap ke arah suaminya saat menyadari sesuatu yang aneh, "Kenapa masakanku tidak kamu makan, William? Itu kan menu kesukaanmu yang aku sajikan?" tanya Laura saat melihat William sama sekali tidak menyentuh menu buatannya dan lebih memilih makanan yang dibawa Paula.

"Kau mau bikin aku mati karena darah tinggi dengan masakanmu yang serba asin itu?" sahut William ketus.

Laura terkejut. Ia segera mencicipi masakannya sendiri dan matanya langsung membelalak. Rasanya benar-benar asin, seolah ada satu genggam garam yang tumpah ke dalamnya, padahal ia ingat betul sudah membumbuinya sesuai takaran.

"Besok-besok kalau masak yang benar. Jangan buang-buang bahan masakan kayak begini, semua ini dibeli pakai uang!" hardik William  seolah istrinya tidak pernah becus melakukan sesuatu di rumah ini.

 Laura bisa melihat dengan jelas ujung bibir Paula terangkat membentuk senyum penuh kemenangan. Ia sadar sekarang, ini pasti ulah Paula yang ingin membuatnya terlihat buruk di depan William, persis seperti saat ia hamil besar dulu ketika Paula sengaja menggantikan posisinya untuk melayani semua kebutuhan William. 

Tanpa berkata apa-apa lagi, Laura langsung berdiri dan meraih piring-piring berisi masakannya.

"Mau ke mana kamu?" tanya William dengan kesal saat melihat tingkah istrinya yang dianggap kekanak-kanakan.

Laura mengabaikan pertanyaan itu. Ia tetap melangkah menuju dapur dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu membuang semua masakan yang telah ia buat ke tempat sampah. Hatinya benar-benar kesal melihat suaminya makan dengan santai bersama Paula.

Begitu selesai makan, William langsung naik menuju ruang kerjanya di rumah itu tepatnya di lantai dua. Sementara Paula tidak langsung menyusul, ia justru menghampiri Laura yang masih berdiri mematung di dapur.

"Makanlah, Laura. Masih ada sisa makanan di atas meja. Kamu harus selalu sehat agar bisa menjaga anakmu. Soal William, aku sebagai sahabatmu bisa gantikan posisimu sementara waktu. Aku naik dulu ya, kami harus meeting membahas urusan penting," ucap Paula yang dengan sengaja membuat perasaan Laura semakin terluka.

“Kamu tidak akan pernah bisa menggantikan posisiku di rumah ini, Paula. Aku pastikan hanya aku satu-satunya nyonya di rumah ini,” desis Laura memberi peringatan tegas pada sahabatnya. 

“Kita lihat saja nanti,” sahut Paula dan memilih pergi dari dapur menuju lantai dua menyusul William.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 7

    Laura menatap nanar layar ponsel yang masih menyala di tangannya. Di sana, terpampang jelas foto kiriman Paula. Perempuan itu tampak sengaja memamerkan momen saat dirinya dan William sedang berpelukan di pinggir jalan. Dada Laura seketika terasa sakit seperti diremas tangan tak kasat mata, panas menjalar hingga ke ubun-ubun. Tanpa membalas sepatah kata pun, ia langsung memblokir nomor Paula. Ia tidak ingin memberikan kepuasan pada perempuan ular itu dengan melihatnya marah atau memohon.“Aku gak akan pernah membiarkanmu melukaiku dengan cara rendahan seperti ini, Paula. Tunggu sampai anakku pulih, akan kubuktikan kau dalang dari fitnah itu,” gumam Laura dalam hati. Ternyata orang yang dianggap sebagai sahabat terbaiknya, kini berubah menjadi virus mematikan dalam hidupnya.Jam sudah menunjukkan angka sebelas malam saat pintu kamar utama terbuka. William melangkah masuk dengan sisa wangi parfum yang wanita melekat di bajunya. Sebenarnya, William sempat cemas kalau-kalau Laura nekat k

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 6

    Tok, tok. "Permisi, Pak," ucap Paula sambil mengetuk pintu ruang kerja William. "Masuk," sahut William dari dalam. Paula segera melangkah masuk. Ia duduk di kursi depan meja kerja William dan mengeluarkan tumpukan berkas yang harus segera mereka selesaikan. Fokus William sempat teralihkan sejenak. "Sudah kau telepon pihak rumah sakit untuk menyediakan satu suster buat menjaga anaknya Laura selama Laura tidak ada di rumah sakit?" tanya William tanpa menatap wajah sekretarisnya itu. Sebelumnya, William memang sudah meminta Paula mencari perawat khusus buat Aurora agar ada yang menjaga bayi itu selama Laura tidak berada di rumah sakit. Tentu saja semua yang ia lakukan ini termasuk biaya pengobatan Aurora yang dialihkan ke rekening pribadinya tanpa sepengetahuan Laura. "Sudah, Pak. Tadi sebelum saya pulang, saya langsung hubungi pihak rumah sakit untuk urusan itu," jawab Paula tanpa keraguan sedikitpun karena dia sudah melaksanakan perintah atasannya. William tidak lagi bertanya so

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 5

    Laura berdiri di dekat meja makan sambil menatap deretan bungkusan yang dibawa Paula dengan hati yang kesal. Usahanya masak di dapur meski rasa sakit di perutnya belum pulih seolah tidak ada artinya sama sekali setelah kedatangan sahabatnya itu.Laura pun menatap ke arah Paula yang sudah berdiri di seberang meja, "Aku sudah masak sebanyak ini sekarang kau datang membawa makanan lagi, Paula? Kenapa tidak kau tanyakan dulu padaku apa aku sudah menyiapkan makan malam untuk suamiku atau belum, Paula?" tanya Laura sambil menahan kesal karena merasa Paula sengaja melakukan semua ini hanya untuk membuatnya marah agar terlihat buruk di mata William."Maafkan aku, Laura. Aku kira kamu masih di rumah sakit. Lagian selama kau di rumah sakit aku yang selalu datang menyiapkan makan malam untuk suamimu. Kalau aku tahu kamu sudah pulang gak mungkin aku beli makanan mahal ini," jawab Paula dengan suara selembut sutera sambil memasang wajah memelas seolah apa yang dia katakan benar adanya."Sudah. Git

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 4

    Laura hampir berlari saat menuju lobi begitu sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh suaminya. Di depan sana, mobil mewah suaminya sudah menunggu dengan mesin yang masih menderu, seolah ingin segera pergi dari tempat itu. Pintu depan terbuka tepat saat Laura berdiri di samping kendaraan itu, seakan menuntutnya untuk segera masuk tanpa bantahan. “William, aku…” Laura mencoba memulai bicara dengan suara lirih, dia sangat berharap ada sedikit celah untuk negosiasi demi Aurora. “Masuk!” seru William tanpa sudi melirik sedikit pun ke arah istrinya. “Tapi Aurora baru saja selesai dioperasi, William. Aku harus tetap di sana menjaganya karena kondisinya belum benar-benar stabil. Aku janji besok pagi-pagi buta aku sudah ada di rumah untuk menyiapkan sarapan dan semua keperluanmu. Tolong, William, aku mohon sekali ini saja mengertilah,” pinta Laura sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia memohon pada suaminya yang kini terasa sepert

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 3

    "Harusnya Bapak tidak perlu membuang uang sebanyak itu untuk anak yang jelas-jelas hasil perselingkuhan, Bapak terlalu baik sampai mau menanggung biaya pengobatannya. Kalau saya jadi Bapak, sudah saya biarkan saja anak itu mati," ucap Paula sambil menata surat pernyataan yang baru saja ditandatangani oleh Laura. Ia terus berusaha meracuni pikiran William tepat setelah Laura meninggalkan ruangan suaminya dengan selembar cek bernilai dua miliar di tangannya.William tidak sedikit pun menoleh untuk menanggapi ocehan itu. Ia justru memberikan instruksi yang membuat rahang Paula mengeras. "Datang ke rumah sakit itu sekarang dan pindahkan seluruh tagihan anak itu ke rekening pribadiku," perintah William tak bisa dibantah.Demi apa pun, Paula merasa darahnya mendidih mendengar keputusan itu. Ia sangat tidak setuju William masih bersikap lunak pada Laura, namun membantah perintah bosnya hanya akan membuat posisinya terancam. Ia terpaksa menelan kekesalannya dalam hati."Baik Pak, kalau begit

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 2

    "Operasi baru akan dilaksanakan jika administrasinya sudah dipenuhi." Kalimat itu terus terngiang dalam benak Laura. Di mana ia bisa mencari uang dengan nominal sebesar itu dalam waktu sekejap? Namun, ia tidak mungkin berpangku tangan melihat nyawa putrinya berada di ujung tanduk. Satu-satunya jalan yang tersisa adalah meminta bantuan kepada William.Sambil terus mengusap air mata yang mengalir membasahi wajahnya yang pucat, Laura masuk ke dalam taksi yang akan membawanya menuju kantor Harrington Group di pusat kota. Hanya butuh waktu sepuluh menit Laura sudah tiba di depan gedung pencakar langit tersebut. Penampilannya benar-benar kacau. Matanya sembab dengan wajah tanpa polesan kosmetik sedikit pun. Petugas keamanan di depan pintu bahkan hampir tidak mengenalinya.Langkah Laura terhenti saat petugas resepsionis menyapanya dengan tatapan penuh rasa iba. "Ibu Laura, ada yang bisa kami bantu, Bu?" tanya wanita itu menyambut kedatangan Laura. "Aku ingin bertemu dengan suamiku," jawabn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status