LOGINLaura berdiri di dekat meja makan sambil menatap deretan bungkusan yang dibawa Paula dengan hati yang kesal. Usahanya masak di dapur meski rasa sakit di perutnya belum pulih seolah tidak ada artinya sama sekali setelah kedatangan sahabatnya itu.
Laura pun menatap ke arah Paula yang sudah berdiri di seberang meja, "Aku sudah masak sebanyak ini sekarang kau datang membawa makanan lagi, Paula? Kenapa tidak kau tanyakan dulu padaku apa aku sudah menyiapkan makan malam untuk suamiku atau belum, Paula?" tanya Laura sambil menahan kesal karena merasa Paula sengaja melakukan semua ini hanya untuk membuatnya marah agar terlihat buruk di mata William. "Maafkan aku, Laura. Aku kira kamu masih di rumah sakit. Lagian selama kau di rumah sakit aku yang selalu datang menyiapkan makan malam untuk suamimu. Kalau aku tahu kamu sudah pulang gak mungkin aku beli makanan mahal ini," jawab Paula dengan suara selembut sutera sambil memasang wajah memelas seolah apa yang dia katakan benar adanya. "Sudah. Gitu aja kamu ributkan, Laura. Tinggal tata saja di meja makan," timpal William meminta istrinya untuk mengalah dengan kedatangan Paula. "Tapi ini banyak banget, William. Siapa yang mau menghabiskan semua ini?” Laura kembali bertanya, namun suaminya sudah lebih dulu memalingkan wajah dan kini kembali fokus melanjutkan untuk membaca koran. Sambil menahan kesal, Laura akhirnya melangkah ke dapur untuk mengambil piring tambahan untuk tamu yang tak diundang itu. Di saat itulah, ketika punggung Laura berbalik, tangan Paula bergerak cepat, seringai licik terbit di sudut bibirnya, ia dengan sengaja menaburkan sesuatu ke dalam hidangan Laura yang masih hangat. Paula lantas berjalan ke dapur dan berdiri tepat di samping Laura, "Sebaiknya kamu mandi dulu, Laura. Tubuhmu bau sampah, jangan sampai selera makan suamimu hilang karena bau tubuhmu yang menyengat ini," bisik Paula tepat di samping telinga Laura. Kalimat itu sengaja dia katakan hanya untuk membuat Laura merasa insecure dengan keadaannya sekarang. Laura hanya bisa menghela napas panjang, mencoba untuk tidak membalas ucapan Paula karena kebetulan dia memang habis bersih-bersih dan masih berkeringat. Ia memilih naik ke lantai atas untuk membersihkan diri dan membiarkan Paula mengambil alih pekerjaan yang seharusnya menjadi tugas Laura sebagai istri di rumah ini. “Aurora, yang kuat ya, nak. Mama janji akan segera datang ke rumah sakit,” gumamnya pada diri sendiri. Laura merasa menjadi ibu yang gagal, karena tega meninggalkan buah hatinya sendirian di rumah sakit. Tapi dia tak punya pilihan lain, demi biaya pengobatan sang anak, Laura harus patuh pada perintah William. Tak butuh waktu lama untuk Laura kembali turun ke lantai satu. Tubuhnya sudah segar dan wangi. Namun, pemandangan di meja makan membuat jantungnya berdegup kencang karena emosi. Paula sudah duduk dengan manis di depan William, bahkan dengan sangat lancang wanita itu sibuk menyendokkan nasi serta lauk ke atas piring William. Wanita itu berhenti setelah menyadari Laura sudah kembali. "Maafkan aku, Laura. Soalnya kami harus rapat jadi kami langsung mulai makan tanpa menunggumu. Kalau begitu ayo kita makan, Laura," ujar Paula sok baik seolah dialah nyonya di rumah tersebut. Laura mehan diri untuk tidak marah. Ia tidak ingin Paula semakin sok berkuasa jika tiba-tiba William membelanya. Ia pun duduk tepat di samping William dan segera menuangkan air minum untuk pria itu, mencoba menunjukkan bahwa ia masih memegang kendali sebagai istri sah. Laura memilih untuk makan masakannya sendiri daripada masakan restoran mahal yang dibawa oleh Paula. Dia menatap ke arah suaminya saat menyadari sesuatu yang aneh, "Kenapa masakanku tidak kamu makan, William? Itu kan menu kesukaanmu yang aku sajikan?" tanya Laura saat melihat William sama sekali tidak menyentuh menu buatannya dan lebih memilih makanan yang dibawa Paula. "Kau mau bikin aku mati karena darah tinggi dengan masakanmu yang serba asin itu?" sahut William ketus. Laura terkejut. Ia segera mencicipi masakannya sendiri dan matanya langsung membelalak. Rasanya benar-benar asin, seolah ada satu genggam garam yang tumpah ke dalamnya, padahal ia ingat betul sudah membumbuinya sesuai takaran. "Besok-besok kalau masak yang benar. Jangan buang-buang bahan masakan kayak begini, semua ini dibeli pakai uang!" hardik William seolah istrinya tidak pernah becus melakukan sesuatu di rumah ini. Laura bisa melihat dengan jelas ujung bibir Paula terangkat membentuk senyum penuh kemenangan. Ia sadar sekarang, ini pasti ulah Paula yang ingin membuatnya terlihat buruk di depan William, persis seperti saat ia hamil besar dulu ketika Paula sengaja menggantikan posisinya untuk melayani semua kebutuhan William. Tanpa berkata apa-apa lagi, Laura langsung berdiri dan meraih piring-piring berisi masakannya. "Mau ke mana kamu?" tanya William dengan kesal saat melihat tingkah istrinya yang dianggap kekanak-kanakan. Laura mengabaikan pertanyaan itu. Ia tetap melangkah menuju dapur dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu membuang semua masakan yang telah ia buat ke tempat sampah. Hatinya benar-benar kesal melihat suaminya makan dengan santai bersama Paula. Begitu selesai makan, William langsung naik menuju ruang kerjanya di rumah itu tepatnya di lantai dua. Sementara Paula tidak langsung menyusul, ia justru menghampiri Laura yang masih berdiri mematung di dapur. "Makanlah, Laura. Masih ada sisa makanan di atas meja. Kamu harus selalu sehat agar bisa menjaga anakmu. Soal William, aku sebagai sahabatmu bisa gantikan posisimu sementara waktu. Aku naik dulu ya, kami harus meeting membahas urusan penting," ucap Paula yang dengan sengaja membuat perasaan Laura semakin terluka. “Kamu tidak akan pernah bisa menggantikan posisiku di rumah ini, Paula. Aku pastikan hanya aku satu-satunya nyonya di rumah ini,” desis Laura memberi peringatan tegas pada sahabatnya. “Kita lihat saja nanti,” sahut Paula dan memilih pergi dari dapur menuju lantai dua menyusul William.Sekitar jam sebelas siang dua stroller bayi yang seharga dengan mobil sudah berjajar di ruang keluarga. William dan keluarganya sudah berpenampilan rapi siap menyambut kedatangan Selena dan calon suaminya. Sebetulnya Soraya sudah tahu siapa yang akan melamar anak angkatnya, hanya saja ia enggan memberitahu William karena kata Selena ia akan memberi kejutan buat adiknya itu. “Selamat siang semua,” suara nyempreng Selena mulai terdengar dan masuk ke dalam rumah. Disusul oleh Aldo. William mengerti heran karena asisten kesayangannya ini tiba-tiba datang ke rumah padahal dirinya tidak ada memberi tugas apapun di saat weekend. “Duduk, Al,” ucap William. “Terima kasih, Tuan.”Selena mulai menyapa keluarganya dan mencium pipinya termasuk kedua keponakannya. Tapi saat ia akan mencium William, pria itu selalu menolaknya katanya merasa geli dicium oleh Kakak angkatnya itu. Karena tak berhasil menghargai William, Selena pun akhirnya duduk di samping Aldo dan menggenggam tangan Aldo membuat ma
William dan Laura duduk berdampingan di meja makan yang luas tanpa sekat pembatas, langsung menghadap ke arah taman dalam rumah mereka yang megah. Keduanya begitu lahap menikmati hidangan roti tangkup isi daging dan telur dadar gulung buatan Soraya. Masakan sang mama memang selalu menjadi hidangan kesukaan mereka berdua sejak dulu. Seketika itu juga, seluruh sudut rumah terasa begitu hangat, seolah dialiri oleh getaran kasih sayang yang teramat melimpah. Canda tawa yang renyah terus saja terlontar dari mulut keduanya, susul-menyusul tanpa henti. Mereka saling melemparkan pujian satu sama lain dengan pandangan mata yang berkaca-kaca karena bahagia, persis seperti sepasang kekasih yang baru saja melangsungkan pernikahan dan tengah hanyut menikmati masa-masa indah kebersamaan berdua. Di sela-sela obrolan yang kian mendalam, mereka saling menautkan jemari, mengikat janji suci di dalam hati masing-masing untuk tidak akan pernah lagi mengulang lembaran kelam yang penuh kesalahan di masa
Laura terus mendesah saat sang suami melahap dadanya menghisap ASI milik si kembar. Untung saja ASInya melimpah sehingga sang anak masih punya banyak stok ASI sehingga iya tak perlu khawatir ketika sang suami terus menikmati ASI itu. Sejak kelahiran Aurora memang William sangat doyan sekali menghisap ASI istrinya. Demi apapun rasanya sangat nikmat membuat William ketagihan dan setiap kali melihat bayi-bayinya minum ASI dari sumbernya William seperti ingin berebut bareng 2 buah hatinya.“Sayaaaaaang, aku udah gak tahan,” desah Laura, saat tangan suaminya dengan liar masuk ke bagian intimnya. William langsung melepaskan semua pakaiannya dan segera melakukan penyatuan. Kegiatan panas itu benar-benar berlangsung sampai dua ronde. Dan tepat ronde kedua berakhir tangisan kedua bayinya mulai terdengar sangat merdu di telinga keduanya. William bangkit dari tubuh Laura dan berkata, “biar aku saja, sayang, yang ke kamar Baby Twin's. Kamu tidur aja,” William mengecup bibir sang istri, lalu mem
Kebahagiaan yang dinantikan Laura dan William akhirnya benar-benar nyata, bahkan jauh lebih indah dari yang pernah mereka bayangkan. Rumah besar yang dulunya terasa sepi, sekarang mendadak penuh dengan suara tangis berisik yang justru terdengar seperti melodi paling merdu di telinga mereka. Kini usia si kembar sudah menginjak bulan kedua. Pipi mereka mulai berisi membuat Grandma dan Grandpa-nya memilih menetap di New York karena tak bisa berjauhan dengan si kembar.Menjadi orang tua baru buat Leonardo dan Leonora ternyata membawa corak baru yang luar biasa dalam hidup pasangan ini. Mereka seperti tidak ingin kehilangan satu detik pun untuk melewatkan tumbuh kembang sepasang malaikat kecil yang menggemaskan itu.Walaupun William sudah menyiapkan dua orang pengasuh bayi yang siap sedia setiap saat, Laura sama sekali tidak mau menjadi ibu yang tinggal terima beres. Menurut Laura, pelukan dan aroma tubuh ibu kandung adalah hal yang paling berharga untuk anak-anaknya. Laura tetap memandika
“Aku minta maaf sama kamu, benar-benar minta maaf atas kesalahanku,” ucap Paula lagi dengan suara yang tersendek-sendek di antara napasnya yang terasa berat.Laura mengusap lelehan air mata yang terus-menerus membasahi wajah sahabatnya itu. Padahal, di saat yang bersamaan, air matanya sendiri seolah menolak untuk berhenti mengalir, mengucur deras melintasi pipinya dan membasahi wajah cantiknya yang kini kelihatan begitu pias. Kesedihan yang teramat mendalam begitu jelas tergambar dari sepasang matanya yang sembap.Paula lantas menolehkan kepalanya, mengarahkan pandangan matanya ke ambang pintu. Di sana, William masih berdiri, seolah tidak akan membiarkan istrinya sendirian di sana. Pria itu hanya terus menatap lurus ke arah dua wanita yang kini memilih jalan untuk saling menghapus dendam dan memaafkan satu sama lain.“Pak William, tolong maafkan saya. Saya minta ampun sudah lancang masuk ke dalam rumah tangga Anda dan nyaris menghancurkannya. Saya benar-benar salah,” ujar wanita itu d
“Sayang, aku mau minta izin buat ketemu sama Paula,” ucap Laura meminta izin pada sang suami.William mengurai pelukannya lantas bertanya, “Buat apa sih, sayang, ketemu sama dia lagi? Udah deh, anggap nggak kenal lagi sama dia.”William menatap lekat wajah istrinya, ada gurat kecemasan yang mendalam di matanya. Pria itu hanya takut istrinya kenapa-napa jika nekat untuk tetap bertemu dengan Paula—wanita yang nyaris menghancurkan kehidupan mereka, mengoyak kedamaian yang baru saja mereka bangun kembali, dan hampir merenggut segalanya dari hidup mereka. “Aku kan sahabatnya, sayang. Aku pengen ketemu aja sama dia, pengen ngobrol. Siapa tahu dia bisa bertobat,” ujar Laura dengan suara yang melembut, mencoba mengikis ketegangan yang mendadak menyeruak di antara mereka.Namun, William menggeleng. Amarah dan rasa trauma menguasai dirinya tentang Paula. “Tapi sayang, mungkin saja sekarang dia jauh lebih membenci kamu dari sebelumnya. Aku menjebloskannya ke penjara, sementara hubungan kita sud







