LOGINTok, tok.
"Permisi, Pak," ucap Paula sambil mengetuk pintu ruang kerja William. "Masuk," sahut William dari dalam. Paula segera melangkah masuk. Ia duduk di kursi depan meja kerja William dan mengeluarkan tumpukan berkas yang harus segera mereka selesaikan. Fokus William sempat teralihkan sejenak. "Sudah kau telepon pihak rumah sakit untuk menyediakan satu suster buat menjaga anaknya Laura selama Laura tidak ada di rumah sakit?" tanya William tanpa menatap wajah sekretarisnya itu. Sebelumnya, William memang sudah meminta Paula mencari perawat khusus buat Aurora agar ada yang menjaga bayi itu selama Laura tidak berada di rumah sakit. Tentu saja semua yang ia lakukan ini termasuk biaya pengobatan Aurora yang dialihkan ke rekening pribadinya tanpa sepengetahuan Laura. "Sudah, Pak. Tadi sebelum saya pulang, saya langsung hubungi pihak rumah sakit untuk urusan itu," jawab Paula tanpa keraguan sedikitpun karena dia sudah melaksanakan perintah atasannya. William tidak lagi bertanya soal itu. Mereka langsung tenggelam dalam pembicaraan serius mengenai kondisi perusahaan. Saham Harrington Group sedang menurun beberapa hari terakhir, membuat William harus memutar otak mencari jalan keluar agar harga saham kembali naik. Selain meeting penting dengan para dewan direksi di kantornya, dia juga selalu meeting bersama sekretarisnya di luar jam kantor. Pertemuan itu baru selesai dilaksanakan saat jam dinding menunjukkan angka sembilan malam. Paula segera merapikan berkas-berkas di hadapannya sebelum pamit pada William. "Kalau begitu saya permisi pulang, Pak," pamit Paula. William hanya mengangguk. Paula keluar dari ruang kerja itu dengan perasaan bahagia, setidaknya sebagian besar waktunya sudah ia habiskan bersama William, pria yang sebentar lagi akan menjadi miliknya. Saat ia melewati ruang tamu, suasana sudah sepi. Tidak ada sosok Laura di sana. Ia melirik sekilas ke arah dapur, namun tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan Laura. “Rasanya aku sudah gak sabar menunggu hari itu tiba. Menjadi istri kedua pewaris tunggal kerajaan bisnis Harrington Group. Keluargaku pasti bangga di kampung jika aku berhasil meluluhkan hati pria kaya raya ini,” Paula membatin, membayangkan sesuatu yang ia harapkan akan segera terwujud. “Kalau keluarga Harrington sampai tahu soal perselingkuhan Laura, aku yakin mereka akan memaksa William untuk menceraikan Laura,” batinnya semakin bahagia menanti aib sahabatnya diketahui oleh keluarga besar Harrington. Di sisi lain, William baru saja masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat Laura sudah memakai jaket tebal dan penampilannya sangat rapi. William mengernyit heran, “mau kemana kau malam-malam begini?” “William, tolong izinkan aku ke rumah sakit sekarang. Aku harus menjaga Aurora. Bahkan dia belum siuman setelah menjalani operasi saat aku pulang tadi. Besok, aku akan pulang pagi-pagi buta untuk membuatkanmu sarapan,” pintanya penuh permohonan. “Gak boleh! Jangan membantah perintahku. Kamu boleh pergi ke rumah sakit jika aku sedang bekerja. Tapi kalau aku ada di rumah, kau tak boleh kemana-mana,” sahut William. “Tapi, William, Aurora itu masih bayi. Apa kau tak punya rasa iba sedikitpun padanya? Andai dia boleh memilih, mungkin dia tidak akan mau dilahirkan dari rahimku dalam keadaan sakit parah seperti sekarang. Bahkan dia belum sempat minum ASI. Aku juga belum pernah menggendongnya sejak ia lahir. Kumohon, William, jangan seperti ini. Kau boleh membenciku tapi jangan jauhkan aku dari Aurora,” pinta Laura sambil berderai air mata berharap sang suami terketuk hatinya dan mengizinkan Laura ke rumah sakit. “Aku bilang gak boleh! Ini karma buat wanita yang doyan selingkuh!” Hina William. Pria itu tak berkata apa-apa lagi. Dia segera mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur, lalu merangkak naik ke atas ranjang. William benar-benar tidak peduli meski Laura menangis tersedu-sedu. Namun, saat ia hendak memejamkan mata, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. William berdecak dan segera meraih ponselnya di atas meja nakas. Nama Paula tertera di layar ponselnya. “Halo, Paula.” Laura mendengar dengan jelas suaminya menyebut nama wanita sialan itu. Wanita yang akhir-akhir ini Laura curigai sebagai dalang dibalik kehancuran hubungannya dengan William. “Oke, aku kesana sekarang.” Entah apa yang dikatakan perempuan itu sampai William tiba-tiba mau pergi menemui Paula. Pria itu segera berganti pakaian dan menyambar kunci mobil yang ia taruh di dekat meja TV di kamarnya. “Kau mau kemana, William?” tanya Laura. “Mau menjemput Paula. Mobilnya mogok di jalan,” jawab William. Pria itu keluar dari kamar dan Laura mengekor di belakangnya. “Kenapa dia gak naik ojek online saja? Kenapa kamu harus repot-repot menjemputnya, William?” Pria itu tak menjawab. “Aku yakin ini hanya akal-akalan dia saja, William. Kamu jangan mau diperintah seperti ini dong!” Tapi nyatanya William tidak peduli dengan ucapan istrinya. Dia terus keluar menuju ke garasi mobilnya, sementara Laura masih mengekor di belakangnya dan masih mencoba menghalangi suaminya agar tidak terjebak dengan tipu daya perempuan itu. Tapi semuanya sia-sia, mobil William sudah meluncur menjauhi rumah mereka. Hati Laura sangat perih. Tapi ia sadar untuk saat ini apapun yang dia katakan tidak akan ada gunanya. William terlalu yakin kalau dieinya beneran selingkuh. “Aku gak akan membiarkanmu menang, Paula. Dan aku menyesal telah memaksa suamiku untuk menerimamu sebagai sekretaris penggantiku,” Laura membatin penuh penyesalan. Ting Satu kiriman foto masuk ke ponselnya melalui pesan singkat membuat jantung Laura berdetak kencang.Sekitar jam sebelas siang dua stroller bayi yang seharga dengan mobil sudah berjajar di ruang keluarga. William dan keluarganya sudah berpenampilan rapi siap menyambut kedatangan Selena dan calon suaminya. Sebetulnya Soraya sudah tahu siapa yang akan melamar anak angkatnya, hanya saja ia enggan memberitahu William karena kata Selena ia akan memberi kejutan buat adiknya itu. “Selamat siang semua,” suara nyempreng Selena mulai terdengar dan masuk ke dalam rumah. Disusul oleh Aldo. William mengerti heran karena asisten kesayangannya ini tiba-tiba datang ke rumah padahal dirinya tidak ada memberi tugas apapun di saat weekend. “Duduk, Al,” ucap William. “Terima kasih, Tuan.”Selena mulai menyapa keluarganya dan mencium pipinya termasuk kedua keponakannya. Tapi saat ia akan mencium William, pria itu selalu menolaknya katanya merasa geli dicium oleh Kakak angkatnya itu. Karena tak berhasil menghargai William, Selena pun akhirnya duduk di samping Aldo dan menggenggam tangan Aldo membuat ma
William dan Laura duduk berdampingan di meja makan yang luas tanpa sekat pembatas, langsung menghadap ke arah taman dalam rumah mereka yang megah. Keduanya begitu lahap menikmati hidangan roti tangkup isi daging dan telur dadar gulung buatan Soraya. Masakan sang mama memang selalu menjadi hidangan kesukaan mereka berdua sejak dulu. Seketika itu juga, seluruh sudut rumah terasa begitu hangat, seolah dialiri oleh getaran kasih sayang yang teramat melimpah. Canda tawa yang renyah terus saja terlontar dari mulut keduanya, susul-menyusul tanpa henti. Mereka saling melemparkan pujian satu sama lain dengan pandangan mata yang berkaca-kaca karena bahagia, persis seperti sepasang kekasih yang baru saja melangsungkan pernikahan dan tengah hanyut menikmati masa-masa indah kebersamaan berdua. Di sela-sela obrolan yang kian mendalam, mereka saling menautkan jemari, mengikat janji suci di dalam hati masing-masing untuk tidak akan pernah lagi mengulang lembaran kelam yang penuh kesalahan di masa
Laura terus mendesah saat sang suami melahap dadanya menghisap ASI milik si kembar. Untung saja ASInya melimpah sehingga sang anak masih punya banyak stok ASI sehingga iya tak perlu khawatir ketika sang suami terus menikmati ASI itu. Sejak kelahiran Aurora memang William sangat doyan sekali menghisap ASI istrinya. Demi apapun rasanya sangat nikmat membuat William ketagihan dan setiap kali melihat bayi-bayinya minum ASI dari sumbernya William seperti ingin berebut bareng 2 buah hatinya.“Sayaaaaaang, aku udah gak tahan,” desah Laura, saat tangan suaminya dengan liar masuk ke bagian intimnya. William langsung melepaskan semua pakaiannya dan segera melakukan penyatuan. Kegiatan panas itu benar-benar berlangsung sampai dua ronde. Dan tepat ronde kedua berakhir tangisan kedua bayinya mulai terdengar sangat merdu di telinga keduanya. William bangkit dari tubuh Laura dan berkata, “biar aku saja, sayang, yang ke kamar Baby Twin's. Kamu tidur aja,” William mengecup bibir sang istri, lalu mem
Kebahagiaan yang dinantikan Laura dan William akhirnya benar-benar nyata, bahkan jauh lebih indah dari yang pernah mereka bayangkan. Rumah besar yang dulunya terasa sepi, sekarang mendadak penuh dengan suara tangis berisik yang justru terdengar seperti melodi paling merdu di telinga mereka. Kini usia si kembar sudah menginjak bulan kedua. Pipi mereka mulai berisi membuat Grandma dan Grandpa-nya memilih menetap di New York karena tak bisa berjauhan dengan si kembar.Menjadi orang tua baru buat Leonardo dan Leonora ternyata membawa corak baru yang luar biasa dalam hidup pasangan ini. Mereka seperti tidak ingin kehilangan satu detik pun untuk melewatkan tumbuh kembang sepasang malaikat kecil yang menggemaskan itu.Walaupun William sudah menyiapkan dua orang pengasuh bayi yang siap sedia setiap saat, Laura sama sekali tidak mau menjadi ibu yang tinggal terima beres. Menurut Laura, pelukan dan aroma tubuh ibu kandung adalah hal yang paling berharga untuk anak-anaknya. Laura tetap memandika
“Aku minta maaf sama kamu, benar-benar minta maaf atas kesalahanku,” ucap Paula lagi dengan suara yang tersendek-sendek di antara napasnya yang terasa berat.Laura mengusap lelehan air mata yang terus-menerus membasahi wajah sahabatnya itu. Padahal, di saat yang bersamaan, air matanya sendiri seolah menolak untuk berhenti mengalir, mengucur deras melintasi pipinya dan membasahi wajah cantiknya yang kini kelihatan begitu pias. Kesedihan yang teramat mendalam begitu jelas tergambar dari sepasang matanya yang sembap.Paula lantas menolehkan kepalanya, mengarahkan pandangan matanya ke ambang pintu. Di sana, William masih berdiri, seolah tidak akan membiarkan istrinya sendirian di sana. Pria itu hanya terus menatap lurus ke arah dua wanita yang kini memilih jalan untuk saling menghapus dendam dan memaafkan satu sama lain.“Pak William, tolong maafkan saya. Saya minta ampun sudah lancang masuk ke dalam rumah tangga Anda dan nyaris menghancurkannya. Saya benar-benar salah,” ujar wanita itu d
“Sayang, aku mau minta izin buat ketemu sama Paula,” ucap Laura meminta izin pada sang suami.William mengurai pelukannya lantas bertanya, “Buat apa sih, sayang, ketemu sama dia lagi? Udah deh, anggap nggak kenal lagi sama dia.”William menatap lekat wajah istrinya, ada gurat kecemasan yang mendalam di matanya. Pria itu hanya takut istrinya kenapa-napa jika nekat untuk tetap bertemu dengan Paula—wanita yang nyaris menghancurkan kehidupan mereka, mengoyak kedamaian yang baru saja mereka bangun kembali, dan hampir merenggut segalanya dari hidup mereka. “Aku kan sahabatnya, sayang. Aku pengen ketemu aja sama dia, pengen ngobrol. Siapa tahu dia bisa bertobat,” ujar Laura dengan suara yang melembut, mencoba mengikis ketegangan yang mendadak menyeruak di antara mereka.Namun, William menggeleng. Amarah dan rasa trauma menguasai dirinya tentang Paula. “Tapi sayang, mungkin saja sekarang dia jauh lebih membenci kamu dari sebelumnya. Aku menjebloskannya ke penjara, sementara hubungan kita sud







