Compartilhar

Bab 6

Autor: Atieckha
last update Data de publicação: 2026-04-12 22:44:42

Tok, tok.

"Permisi, Pak," ucap Paula sambil mengetuk pintu ruang kerja William.

"Masuk," sahut William dari dalam.

Paula segera melangkah masuk. Ia duduk di kursi depan meja kerja William dan mengeluarkan tumpukan berkas yang harus segera mereka selesaikan. Fokus William sempat teralihkan sejenak.

"Sudah kau telepon pihak rumah sakit untuk menyediakan satu suster buat menjaga anaknya Laura selama Laura tidak ada di rumah sakit?" tanya William tanpa menatap wajah sekretarisnya itu.

Sebelumnya, William memang sudah meminta Paula mencari perawat khusus buat Aurora agar ada yang menjaga bayi itu selama Laura tidak berada di rumah sakit. Tentu saja semua yang ia lakukan ini termasuk biaya pengobatan Aurora yang dialihkan ke rekening pribadinya tanpa sepengetahuan Laura.

"Sudah, Pak. Tadi sebelum saya pulang, saya langsung hubungi pihak rumah sakit untuk urusan itu," jawab Paula tanpa keraguan sedikitpun karena dia sudah melaksanakan perintah atasannya.

William tidak lagi bertanya soal itu. Mereka langsung tenggelam dalam pembicaraan serius mengenai kondisi perusahaan. Saham Harrington Group sedang menurun beberapa hari terakhir, membuat William harus memutar otak mencari jalan keluar agar harga saham kembali naik. Selain meeting penting dengan para dewan direksi di kantornya, dia juga selalu meeting bersama sekretarisnya di luar jam kantor.

Pertemuan itu baru selesai dilaksanakan saat jam dinding menunjukkan angka sembilan malam. Paula segera merapikan berkas-berkas di hadapannya sebelum pamit pada William.

"Kalau begitu saya permisi pulang, Pak," pamit Paula.

William hanya mengangguk. Paula keluar dari ruang kerja itu dengan perasaan bahagia, setidaknya sebagian besar waktunya sudah ia habiskan bersama William, pria yang sebentar lagi akan menjadi miliknya. Saat ia melewati ruang tamu, suasana sudah sepi. Tidak ada sosok Laura di sana. Ia melirik sekilas ke arah dapur, namun tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan Laura.

“Rasanya aku sudah gak sabar menunggu hari itu tiba. Menjadi istri kedua pewaris tunggal kerajaan bisnis Harrington Group. Keluargaku pasti bangga di kampung jika aku berhasil meluluhkan hati pria kaya raya ini,” Paula membatin, membayangkan sesuatu yang ia harapkan akan segera terwujud. “Kalau keluarga Harrington sampai tahu soal perselingkuhan Laura, aku yakin mereka akan memaksa William untuk menceraikan Laura,” batinnya semakin bahagia menanti aib sahabatnya diketahui oleh keluarga besar Harrington.

Di sisi lain, William baru saja masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat Laura sudah memakai jaket tebal dan penampilannya sangat rapi. William mengernyit heran, “mau kemana kau malam-malam begini?”

“William, tolong izinkan aku ke rumah sakit sekarang. Aku harus menjaga Aurora. Bahkan dia belum siuman setelah menjalani operasi saat aku pulang tadi. Besok, aku akan pulang pagi-pagi buta untuk membuatkanmu sarapan,” pintanya penuh permohonan.

“Gak boleh! Jangan membantah perintahku. Kamu boleh pergi ke rumah sakit jika aku sedang bekerja. Tapi kalau aku ada di rumah, kau tak boleh kemana-mana,” sahut William.

“Tapi, William, Aurora itu masih bayi. Apa kau tak punya rasa iba sedikitpun padanya? Andai dia boleh memilih, mungkin dia tidak akan mau dilahirkan dari rahimku dalam keadaan sakit parah seperti sekarang. Bahkan dia belum sempat minum ASI. Aku juga belum pernah menggendongnya sejak ia lahir. Kumohon, William, jangan seperti ini. Kau boleh membenciku tapi jangan jauhkan aku dari Aurora,” pinta Laura sambil berderai air mata berharap sang suami terketuk hatinya dan mengizinkan Laura ke rumah sakit.

“Aku bilang gak boleh! Ini karma buat wanita yang doyan selingkuh!” Hina William.

Pria itu tak berkata apa-apa lagi. Dia segera mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur, lalu merangkak naik ke atas ranjang. William benar-benar tidak peduli meski Laura menangis tersedu-sedu.

Namun, saat ia hendak memejamkan mata, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. William berdecak dan segera meraih ponselnya di atas meja nakas. Nama Paula tertera di layar ponselnya.

“Halo, Paula.”

Laura mendengar dengan jelas suaminya menyebut nama wanita sialan itu. Wanita yang akhir-akhir ini Laura curigai sebagai dalang dibalik kehancuran hubungannya dengan William.

“Oke, aku kesana sekarang.”

Entah apa yang dikatakan perempuan itu sampai William tiba-tiba mau pergi menemui Paula. Pria itu segera berganti pakaian dan menyambar kunci mobil yang ia taruh di dekat meja TV di kamarnya.

“Kau mau kemana, William?” tanya Laura.

“Mau menjemput Paula. Mobilnya mogok di jalan,” jawab William. Pria itu keluar dari kamar dan Laura mengekor di belakangnya.

“Kenapa dia gak naik ojek online saja? Kenapa kamu harus repot-repot menjemputnya, William?”

Pria itu tak menjawab.

“Aku yakin ini hanya akal-akalan dia saja, William. Kamu jangan mau diperintah seperti ini dong!”

Tapi nyatanya William tidak peduli dengan ucapan istrinya. Dia terus keluar menuju ke garasi mobilnya, sementara Laura masih mengekor di belakangnya dan masih mencoba menghalangi suaminya agar tidak terjebak dengan tipu daya perempuan itu. Tapi semuanya sia-sia, mobil William sudah meluncur menjauhi rumah mereka.

Hati Laura sangat perih. Tapi ia sadar untuk saat ini apapun yang dia katakan tidak akan ada gunanya. William terlalu yakin kalau dieinya beneran selingkuh.

“Aku gak akan membiarkanmu menang, Paula. Dan aku menyesal telah memaksa suamiku untuk menerimamu sebagai sekretaris penggantiku,” Laura membatin penuh penyesalan.

Ting

Satu kiriman foto masuk ke ponselnya melalui pesan singkat membuat jantung Laura berdetak kencang.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 7

    Laura menatap nanar layar ponsel yang masih menyala di tangannya. Di sana, terpampang jelas foto kiriman Paula. Perempuan itu tampak sengaja memamerkan momen saat dirinya dan William sedang berpelukan di pinggir jalan. Dada Laura seketika terasa sakit seperti diremas tangan tak kasat mata, panas menjalar hingga ke ubun-ubun. Tanpa membalas sepatah kata pun, ia langsung memblokir nomor Paula. Ia tidak ingin memberikan kepuasan pada perempuan ular itu dengan melihatnya marah atau memohon.“Aku gak akan pernah membiarkanmu melukaiku dengan cara rendahan seperti ini, Paula. Tunggu sampai anakku pulih, akan kubuktikan kau dalang dari fitnah itu,” gumam Laura dalam hati. Ternyata orang yang dianggap sebagai sahabat terbaiknya, kini berubah menjadi virus mematikan dalam hidupnya.Jam sudah menunjukkan angka sebelas malam saat pintu kamar utama terbuka. William melangkah masuk dengan sisa wangi parfum yang wanita melekat di bajunya. Sebenarnya, William sempat cemas kalau-kalau Laura nekat k

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 6

    Tok, tok. "Permisi, Pak," ucap Paula sambil mengetuk pintu ruang kerja William. "Masuk," sahut William dari dalam. Paula segera melangkah masuk. Ia duduk di kursi depan meja kerja William dan mengeluarkan tumpukan berkas yang harus segera mereka selesaikan. Fokus William sempat teralihkan sejenak. "Sudah kau telepon pihak rumah sakit untuk menyediakan satu suster buat menjaga anaknya Laura selama Laura tidak ada di rumah sakit?" tanya William tanpa menatap wajah sekretarisnya itu. Sebelumnya, William memang sudah meminta Paula mencari perawat khusus buat Aurora agar ada yang menjaga bayi itu selama Laura tidak berada di rumah sakit. Tentu saja semua yang ia lakukan ini termasuk biaya pengobatan Aurora yang dialihkan ke rekening pribadinya tanpa sepengetahuan Laura. "Sudah, Pak. Tadi sebelum saya pulang, saya langsung hubungi pihak rumah sakit untuk urusan itu," jawab Paula tanpa keraguan sedikitpun karena dia sudah melaksanakan perintah atasannya. William tidak lagi bertanya so

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 5

    Laura berdiri di dekat meja makan sambil menatap deretan bungkusan yang dibawa Paula dengan hati yang kesal. Usahanya masak di dapur meski rasa sakit di perutnya belum pulih seolah tidak ada artinya sama sekali setelah kedatangan sahabatnya itu.Laura pun menatap ke arah Paula yang sudah berdiri di seberang meja, "Aku sudah masak sebanyak ini sekarang kau datang membawa makanan lagi, Paula? Kenapa tidak kau tanyakan dulu padaku apa aku sudah menyiapkan makan malam untuk suamiku atau belum, Paula?" tanya Laura sambil menahan kesal karena merasa Paula sengaja melakukan semua ini hanya untuk membuatnya marah agar terlihat buruk di mata William."Maafkan aku, Laura. Aku kira kamu masih di rumah sakit. Lagian selama kau di rumah sakit aku yang selalu datang menyiapkan makan malam untuk suamimu. Kalau aku tahu kamu sudah pulang gak mungkin aku beli makanan mahal ini," jawab Paula dengan suara selembut sutera sambil memasang wajah memelas seolah apa yang dia katakan benar adanya."Sudah. Git

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 4

    Laura hampir berlari saat menuju lobi begitu sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh suaminya. Di depan sana, mobil mewah suaminya sudah menunggu dengan mesin yang masih menderu, seolah ingin segera pergi dari tempat itu. Pintu depan terbuka tepat saat Laura berdiri di samping kendaraan itu, seakan menuntutnya untuk segera masuk tanpa bantahan. “William, aku…” Laura mencoba memulai bicara dengan suara lirih, dia sangat berharap ada sedikit celah untuk negosiasi demi Aurora. “Masuk!” seru William tanpa sudi melirik sedikit pun ke arah istrinya. “Tapi Aurora baru saja selesai dioperasi, William. Aku harus tetap di sana menjaganya karena kondisinya belum benar-benar stabil. Aku janji besok pagi-pagi buta aku sudah ada di rumah untuk menyiapkan sarapan dan semua keperluanmu. Tolong, William, aku mohon sekali ini saja mengertilah,” pinta Laura sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia memohon pada suaminya yang kini terasa sepert

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 3

    "Harusnya Bapak tidak perlu membuang uang sebanyak itu untuk anak yang jelas-jelas hasil perselingkuhan, Bapak terlalu baik sampai mau menanggung biaya pengobatannya. Kalau saya jadi Bapak, sudah saya biarkan saja anak itu mati," ucap Paula sambil menata surat pernyataan yang baru saja ditandatangani oleh Laura. Ia terus berusaha meracuni pikiran William tepat setelah Laura meninggalkan ruangan suaminya dengan selembar cek bernilai dua miliar di tangannya.William tidak sedikit pun menoleh untuk menanggapi ocehan itu. Ia justru memberikan instruksi yang membuat rahang Paula mengeras. "Datang ke rumah sakit itu sekarang dan pindahkan seluruh tagihan anak itu ke rekening pribadiku," perintah William tak bisa dibantah.Demi apa pun, Paula merasa darahnya mendidih mendengar keputusan itu. Ia sangat tidak setuju William masih bersikap lunak pada Laura, namun membantah perintah bosnya hanya akan membuat posisinya terancam. Ia terpaksa menelan kekesalannya dalam hati."Baik Pak, kalau begit

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 2

    "Operasi baru akan dilaksanakan jika administrasinya sudah dipenuhi." Kalimat itu terus terngiang dalam benak Laura. Di mana ia bisa mencari uang dengan nominal sebesar itu dalam waktu sekejap? Namun, ia tidak mungkin berpangku tangan melihat nyawa putrinya berada di ujung tanduk. Satu-satunya jalan yang tersisa adalah meminta bantuan kepada William.Sambil terus mengusap air mata yang mengalir membasahi wajahnya yang pucat, Laura masuk ke dalam taksi yang akan membawanya menuju kantor Harrington Group di pusat kota. Hanya butuh waktu sepuluh menit Laura sudah tiba di depan gedung pencakar langit tersebut. Penampilannya benar-benar kacau. Matanya sembab dengan wajah tanpa polesan kosmetik sedikit pun. Petugas keamanan di depan pintu bahkan hampir tidak mengenalinya.Langkah Laura terhenti saat petugas resepsionis menyapanya dengan tatapan penuh rasa iba. "Ibu Laura, ada yang bisa kami bantu, Bu?" tanya wanita itu menyambut kedatangan Laura. "Aku ingin bertemu dengan suamiku," jawabn

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status