Share

Bab 7

Author: Atieckha
last update publish date: 2026-04-14 23:55:39

Laura menatap nanar layar ponsel yang masih menyala di tangannya. Di sana, terpampang jelas foto kiriman Paula. Perempuan itu tampak sengaja memamerkan momen saat dirinya dan William sedang berpelukan di pinggir jalan. Dada Laura seketika terasa sakit seperti diremas tangan tak kasat mata, panas menjalar hingga ke ubun-ubun.

Tanpa membalas sepatah kata pun, ia langsung memblokir nomor Paula. Ia tidak ingin memberikan kepuasan pada perempuan ular itu dengan melihatnya marah atau memohon.

“Aku
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 8

    Laura berdiri dengan kaki yang masih lemas saat melihat sosok dokter Antonio keluar dari balik pintu ICU. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab karena kurang tidur dan tekanan batin yang tiada habis-habisnya."Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Laura dengan suara lirih, seolah seluruh tenaganya sudah habis terkuras hanya karena mengkhawatirkan buah hatinya."Anak Ibu sudah kami pindahkan ke ruang perawatan. Sudah ada suster yang menjaganya di sana. Ibu tinggal jalan lurus saja, lalu belok kanan. Di sana ada ruangan bayi, Aurora dirawat di ruangan itu," ucap dokter dengan senyum tipis yang sedikit menenangkan hati Laura. Jujur Laura bahagia karena sang anak sudah keluar dari ruang ICU."Terima kasih, Dok. Tapi kondisinya baik-baik saja, kan, dok? Dia tidak mengalami komplikasi apapun pasca operasi, kan?" Laura kembali bertanya dengan penuh kekhawatiran. Dadanya sakit sekali seperti diremas tangan tak kasat mata dengan begitu keras, rasa berdosa karena telah membiarkan bayinya

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 7

    Laura menatap nanar layar ponsel yang masih menyala di tangannya. Di sana, terpampang jelas foto kiriman Paula. Perempuan itu tampak sengaja memamerkan momen saat dirinya dan William sedang berpelukan di pinggir jalan. Dada Laura seketika terasa sakit seperti diremas tangan tak kasat mata, panas menjalar hingga ke ubun-ubun. Tanpa membalas sepatah kata pun, ia langsung memblokir nomor Paula. Ia tidak ingin memberikan kepuasan pada perempuan ular itu dengan melihatnya marah atau memohon.“Aku gak akan pernah membiarkanmu melukaiku dengan cara rendahan seperti ini, Paula. Tunggu sampai anakku pulih, akan kubuktikan kau dalang dari fitnah itu,” gumam Laura dalam hati. Ternyata orang yang dianggap sebagai sahabat terbaiknya, kini berubah menjadi virus mematikan dalam hidupnya.Jam sudah menunjukkan angka sebelas malam saat pintu kamar utama terbuka. William melangkah masuk dengan sisa wangi parfum yang wanita melekat di bajunya. Sebenarnya, William sempat cemas kalau-kalau Laura nekat k

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 6

    Tok, tok. "Permisi, Pak," ucap Paula sambil mengetuk pintu ruang kerja William. "Masuk," sahut William dari dalam. Paula segera melangkah masuk. Ia duduk di kursi depan meja kerja William dan mengeluarkan tumpukan berkas yang harus segera mereka selesaikan. Fokus William sempat teralihkan sejenak. "Sudah kau telepon pihak rumah sakit untuk menyediakan satu suster buat menjaga anaknya Laura selama Laura tidak ada di rumah sakit?" tanya William tanpa menatap wajah sekretarisnya itu. Sebelumnya, William memang sudah meminta Paula mencari perawat khusus buat Aurora agar ada yang menjaga bayi itu selama Laura tidak berada di rumah sakit. Tentu saja semua yang ia lakukan ini termasuk biaya pengobatan Aurora yang dialihkan ke rekening pribadinya tanpa sepengetahuan Laura. "Sudah, Pak. Tadi sebelum saya pulang, saya langsung hubungi pihak rumah sakit untuk urusan itu," jawab Paula tanpa keraguan sedikitpun karena dia sudah melaksanakan perintah atasannya. William tidak lagi bertanya so

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 5

    Laura berdiri di dekat meja makan sambil menatap deretan bungkusan yang dibawa Paula dengan hati yang kesal. Usahanya masak di dapur meski rasa sakit di perutnya belum pulih seolah tidak ada artinya sama sekali setelah kedatangan sahabatnya itu.Laura pun menatap ke arah Paula yang sudah berdiri di seberang meja, "Aku sudah masak sebanyak ini sekarang kau datang membawa makanan lagi, Paula? Kenapa tidak kau tanyakan dulu padaku apa aku sudah menyiapkan makan malam untuk suamiku atau belum, Paula?" tanya Laura sambil menahan kesal karena merasa Paula sengaja melakukan semua ini hanya untuk membuatnya marah agar terlihat buruk di mata William."Maafkan aku, Laura. Aku kira kamu masih di rumah sakit. Lagian selama kau di rumah sakit aku yang selalu datang menyiapkan makan malam untuk suamimu. Kalau aku tahu kamu sudah pulang gak mungkin aku beli makanan mahal ini," jawab Paula dengan suara selembut sutera sambil memasang wajah memelas seolah apa yang dia katakan benar adanya."Sudah. Git

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 4

    Laura hampir berlari saat menuju lobi begitu sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh suaminya. Di depan sana, mobil mewah suaminya sudah menunggu dengan mesin yang masih menderu, seolah ingin segera pergi dari tempat itu. Pintu depan terbuka tepat saat Laura berdiri di samping kendaraan itu, seakan menuntutnya untuk segera masuk tanpa bantahan. “William, aku…” Laura mencoba memulai bicara dengan suara lirih, dia sangat berharap ada sedikit celah untuk negosiasi demi Aurora. “Masuk!” seru William tanpa sudi melirik sedikit pun ke arah istrinya. “Tapi Aurora baru saja selesai dioperasi, William. Aku harus tetap di sana menjaganya karena kondisinya belum benar-benar stabil. Aku janji besok pagi-pagi buta aku sudah ada di rumah untuk menyiapkan sarapan dan semua keperluanmu. Tolong, William, aku mohon sekali ini saja mengertilah,” pinta Laura sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia memohon pada suaminya yang kini terasa sepert

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 3

    "Harusnya Bapak tidak perlu membuang uang sebanyak itu untuk anak yang jelas-jelas hasil perselingkuhan, Bapak terlalu baik sampai mau menanggung biaya pengobatannya. Kalau saya jadi Bapak, sudah saya biarkan saja anak itu mati," ucap Paula sambil menata surat pernyataan yang baru saja ditandatangani oleh Laura. Ia terus berusaha meracuni pikiran William tepat setelah Laura meninggalkan ruangan suaminya dengan selembar cek bernilai dua miliar di tangannya.William tidak sedikit pun menoleh untuk menanggapi ocehan itu. Ia justru memberikan instruksi yang membuat rahang Paula mengeras. "Datang ke rumah sakit itu sekarang dan pindahkan seluruh tagihan anak itu ke rekening pribadiku," perintah William tak bisa dibantah.Demi apa pun, Paula merasa darahnya mendidih mendengar keputusan itu. Ia sangat tidak setuju William masih bersikap lunak pada Laura, namun membantah perintah bosnya hanya akan membuat posisinya terancam. Ia terpaksa menelan kekesalannya dalam hati."Baik Pak, kalau begit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status