MasukENAM TAHUN KEMUDIAN...
“Mommy, apa kita akan tinggal di sini sekarang?” Di bandara Man City, seorang wanita berpakaian setelan profesional feminin berwarna biru tua turun dari pesawat. Tidak hanya memiliki wajah cantik yang memukau, tapi ia juga memancarkan aura kuat, yang memberi kesan bahwa ia bukan tipe orang yang bisa diremehkan. Wanita itu memancarkan keanggunan dan kelembutan, kepercayaan diri terpancar di setiap langkahnya saat sepatu hak tingginya yang runcing berdenting di lantai. Di satu tangan, ia memegang tas desainer dan tangan lainnya menggenggam tangan seorang anak. Seorang gadis kecil yang sangat mirip dengannya berjalan di sampingnya, memandang sekeliling dengan rasa ingin tahu dan kegembiraan yang bersinar di mata hazel hijaunya yang besar. Pipi merahnya dan senyum manisnya menerangi sekitarnya. Ibu dan anak yang cantik itu menarik perhatian orang-orang saat mereka berjalan di bandara, memikat pandangan para pejalan kaki. Wanita itu menatap putrinya dan tersenyum manis. Ia berkata dengan nada penuh kasih sayang, “Tidak, Sayang. Ada urusan yang harus Mommy selesaikan di sini. Kita akan pergi begitu urusan Mommy selesai. Disini bukan rumah kita!” Wanita ini tak lain adalah Keisha Elara Daphne dan putrinya, Mayra Shania Daphne. Keisha akhirnya kembali ke Man City. Kota yang menyimpan kenangan paling menyakitkan baginya. Setelah Daffa Satya Wicaksana menghancurkan dunianya enam tahun lalu, Keisha bertemu ibunya. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba, tetapi ia bersyukur karena kini ia memiliki fokus dan tujuan baru. Untuk menghancurkan Wicaksana. Apa yang ia temukan sungguh mengejutkan. Namun setelah pengalamannya ditinggal Daffa seperti sampah, ia hanya tertawa sinis mendengar berita itu, ‘Sepertinya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya!’ Ternyata Henry Wicaksana, ayah Daffa, bertanggung jawab atas penjeblosan ayah Keisha, Jason Daphne, di penjara. Sejak saat itu, Keisha memutuskan untuk kuliah di fakultas hukum. Dan menjadi pengacara yang sangat berkuasa. Keisha dikenal sebagai pengacara yang mampu menangani kasus-kasus paling sulit, bahkan melibatkan pejabat korup yang ingin melarikan diri dari hukuman. Semua ini dilakukan Keisha sebagai persiapan balas dendamnya. Ia akan kembali ke Man City dan menghancurkan keluarga Wicaksana. “Apakah kita akan bertarung dengan seseorang, Mommy?” Sebuah suara lembut dan manis menyadarkan Keisha dari pikiran gelapnya. Sebuah senyum tersungging di bibir tipis Keisha saat ia menatap putrinya yang baru berusia lima tahun. Keisha mengulurkan tangan dan membelai rambut Mayra, sambil berkata, “Tidak, sayang... Mommy ingin bekerja. Mommy mau membela orang-orang tak bersalah di pengadilan dan memastikan para penjahat di tahan di penjara!” Jelasnya. Mayra tersenyum lebar, mata hijau kemirinya yang besar berbinar gembira. “Kalau May besar nanti, May ingin jadi pengacara hebat seperti Mommy!” Ucapnya. Ia lalu mengerutkan kening dan menambahkan, “Meskipun May ingin tahu apa pekerjaan Ayahku agar May bisa memilih pekerjaan nantinya.” Jantung Keisha berdebar kencang. Ia berdeham sebelum terkekeh canggung. Ia menjawab, “Momny sudah bercerita tentang Ayahmu, Sayang. Dia—” “May tau, Mom. Ayah di atas sana...” Mayra menunjuk ke atas dan menghela napas sebelum cemberut. “May berharap Mommy mau menikah dan mencarikan May seorang Ayah di kota ini.” Ucapnya lagi. Keisha terdiam sejenak, “Mommy akan memikirkannya, sayang...” Jawabnya cepat untuk mengganti topik. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu itu tidak akan pernah terjadi. Hatinya sudah dingin dan ia telah menutup diri dari apa pun yang berhubungan dengan cinta. ‘Membiarkan satu pria menyakiti dan memanfaatkanku sudah cukup. Aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi!!’ Keisha bersumpah dalam hatinya. °° Sementara itu, sebuah jet pribadi baru saja mendarat. Daffa Satya Wicaksana sedang meninggalkan bandara melalui bagian VIP ketika ia melihat punggung seorang wanita. Ia berhenti sejenak, sosok wanita itu tampak familiar baginya. Ia menyipitkan mata untuk mengamati lebih jelas. Rambut hitam legamnya yang panjang, bergelombang, dan tergerai menari-nari tertiup angin sepoi-sepoi, membingkai wajah wanita itu. Sebelum Daffa bisa melihat dengan lebih jelas, sebuah taksi berhenti di depan wanita itu dan bergegas masuk bersama gadis kecil yang bersamanya. “Pak, apa ada yang dibutuhkan?” Daffa tersadar dari lamunannya ketika suara asistennya terdengar. Ia mengerutkan kening, menggelengkan kepala, dan bertanya. “Jam berapa rapat departemen hukum?” Tanyanya. Aaron melirik jam tangannya dan menjawab, “Tiga puluh menit lagi, Pak.” Jawabnya. Mereka berjalan menuju konvoi mobil hitam yang elegan dan Daffa masuk ke kursi belakang mobil di tengah. Aaron mengikutinya tetapi duduk di kursi penumpang. “Siapa Direktur Hukum yang baru? Apa kamu sudah tahu??” Tanya Daffa saat mobil mulai berjalan dan meninggalkan bandara. Aaron tersenyum puas saat menjawab, “Pengacara Zenith berhasil mendapatkan wanita yang luar biasa. Salah satu pengacara paling berpengaruh di negara ini. Dia terkenal karena caranya menangani dan memenangkan kasus, Pak.” Jelasnya semangat. Daffa mengerutkan kening, tetapi tidak menjawab. Meskipun ia menghindari bekerja sama dengan perempuan dengan segala cara, tapi ia membutuhkan seseorang untuk memperbaiki kekacauan yang ditimbulkan oleh Direktur Hukum sebelumnya pada Perusahaan. “Apakah ada kabar tentang Keisha?” Tanya Daffa. “Sayangnya, kami masih belum punya petunjuk, Pak.” Jawab lAaron. Ia merasa kasihan pada CEO yang duduk di kursi belakang. Meskipun ia ahli dalam pekerjaannya dan bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan orang lain, ia tetap tidak bisa menemukan orang yang telah Daffa cari selama enam tahun. Tiga puluh menit kemudian, Daffa dan timnya tiba di perusahaan dan langsung menuju ruang konferensi tempat ia mengadakan rapat dengan tim hukum. Mereka harus memperkenalkan Direktur hukum yang baru sebelum ia mulai bekerja. Namun, ketika Daffa mendorong pintu besar dan masuk ke ruang konferensi, ia tertegun ketika melihat wanita yang sedang menatapnya dengan senyum sopan namun dingin. “Senang bertemu Anda, Tuan Daffa. Saya Keisha Elara Daphne, Direktur Hukum Anda yang baru!” Wanita itu memperkenalkan dirinya dengan tenang.Sementara itu, di Man City, seorang pria pulang kerumahnya, namun tiba-tiba seorang wanita paruh baya berteriak padanya, “Apa saja yang kamu lakukan selama ini, hah?! Kenapa Daffa masih hidup padahal seharusnya dia sudah mati?!!”“Aku sedang berusaha, Mam. Aku tidak menyangka dia akan selamat dari kecelakaan itu,” jawab pria itu sambil menarik dasinya dengan kesal.“Berapa lama lagi kamu akan berusaha? Apa kamu akan sadar ketika kamu kehilangan segalanya?!” tanya wanita paruh baya itu lagi.“Aku tidak akan kehilangan apa pun, Mam!! Yang membuatku marah adalah aku tidak tahu dia akan menikahi Keisha! Sepertinya dia ingin mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku!!” desis pria itu dan mengepalkan tangannya dengan kuat.Pria ini tak lain adalah Skylar Howard, direktur pelaksana dan pewaris Howard Group saat ini. Wanita paruh baya yang ia ajak bicara adalah ibunya, Eliza Howard.Eliza menyipitkan matanya ke arah Skylar dengan curiga dan bertanya, “Jangan bilang kamu benar-benar jatu
Keisha belum pernah ke Maladewa sebelumnya, tetapi itu adalah salah satu tempat impiannya untuk berlibur. Maladewa adalah sebuah kepulauan tropis yang terkenal dengan pantai pasir putih yang indah, air jernih, dan resor mewah, juga bisa melihat matahari terbenam yang memukau.Daffa meraih tangan Keisha dan menggenggamnya. Ia mengangguk dan menjawab dengan lembut, “Ya, dan kita akan membuat kenangan berharga di sini.”“Terima kasih sudah membawaku ke sini, sayang,” Ucap Keisha sambil menatap Daffa.Seorang sopir yang telah di pesan Daffa sebelumnya menjemput mereka dan membawa mereka ke resor. Salah satu staf kemudian mengantar mereka ke vila di atas air tempat mereka akan menginap selama seminggu.Vila itu berupa pondok di atas pantai dengan pemandangan laut jernih, dengan kolam renang pribadi, teras berjemur, dan bak mandi air panas luar ruangan. Vila itu menawarkan pemandangan laut, pegunungan.“Kami menawarkan layanan tur jika Anda ingin menjelajah sekarang,” tawar staf wanita itu
Sementara itu...Arif Wilson terus menghela napas sepanjang resepsi pernikahan Daffa dan Keisha.Ia dan istrinya, Margaret Wilson, duduk di meja yang sama dengan Henry Wicaksana, sahabatnya, dan Isabella Jane Wicaksana, sahabat istrinya.Melihat Daffa dan istri barunya, Arif merasa sedikit sedih.Kehidupan putri satu-satunya telah hancur karena ia jatuh cinta pada pria yang salah. Namun, pria itu dengan bahagia menikah dengan wanita yang dicintainya.Arif tidak membenci Daffa, tetapi ia merasa kasihan pada putrinya. Arif juga menyalahkan dirinya sendiri karena telah mendorong putrinya untuk mengejar Daffa Satya Wicaksana.Enam tahun yang lalu, sejak Keisha pergi meninggalkan Daffa, Arif berpikir itu adalah kesempatan bagus baginya dan sahabatnya untuk menjadi besanan. Tetapi siapa yang tahu bahwa cinta Daffa pada Keisha begitu kuat sehingga Daffa menolak putrinya tanpa ampun?Arif masih ingat raut wajah putrinya ketika ia menemukan Sophia di kamar hotel setelah tanpa sengaja tidur den
Setelah dansa pertama pengantin baru selesai, pembawa acara kembali mengumumkan bahwa dansa dibuka dan mengundang para tamu untuk bergabung dengan pasangan tersebut di lantai dansa.Quinn, yang sedang menjaga Mayra, tetap sendirian di meja ketika Mayra dipanggil untuk berdansa dengan Daffa dan Keisha.“Butuh pasangan untuk berdansa?”Suara seorang pria terdengar di telinga Quinn saat ia memperhatikan bagaimana semua orang berdansa di lantai dansa.Sambil menoleh ke arah suara itu, mata Quinn sedikit melebar ketika ia melihat salah satu sahabat Daffa, Satria Wira Yudha.Sambil menggelengkan kepalanya, Quinn menjawab, “Tidak, terima kasih. Saya lebih suka mengamati daripada berdansa. Saya lebih suka melihat orang bersenang-senang.”Satria mengangkat alisnya. Ia menarik kursi dan duduk di sebelah Quinn, “Aku bertanya-tanya mengapa kamu terlihat begitu familiar. Tapi kemudian aku mengirimkan beberapa foto pada ibuku karena ia sedang bepergian dan tidak bisa menghadiri pernikahan. Dan dial
“Selamat datang di keluarga Wicaksana, Keisha sayang...” Ucap Isabella sambil memeluk menantunya.“Terima kasih, Tante Isabella—”“Aku bukan Tantemu, Keisha!! Kamu sudah jadi menantuku, jadi panggil aku Mama!!” Potong Isabella, kesal.“Terima kasih, Ma...” Keisha mengoreksi dirinya sendiri, pipinya memerah.Saat itu sudah malam dan waktunya resepsi pernikahan. Untuk akad tadi, Keisha mengenakan gaun putri duyung satin hijau zamrud yang sangat indah. Gaun itu memiliki satu bahu terbuka dengan bagian atas yang dihiasi batu permata hijau.Gaun itu memiliki ekor yang dapat dilepas di sisi kanan dan belahan setinggi paha di sisi kiri. Keisha telah mengubah gaya rambutnya dan membiarkan rambut hitamnya terurai di bahunya dengan sisi kiri disematkan ke belakang dengan jepit rambut berlian.Sementara Daffa mengenakan setelan jas hitam yang dibuat khusus dengan rambut ditata sedikit jambul. Ia terlihat sangat tampan dan setiap langkahnya yang megah memancarkan dominasi dan kekuasaan.“Mama pun
Jantung Keisha berdebar kencang. Apa ia sedang bermimpi?Keisha mencoba mencubit pahanya, tapi ternyata rasanya sakit, itu artinya ia tidak sedang bermimpi.Perasaan gugup seketika melanda hatinya saat menyadari bahwa ia baru saja memasuki pernikahannya sendiri!Sekarang ia mengerti mengapa gaun pengantin yang di pakainya itu tampak familiar. Ini adalah gaun yang ia pilih ketika Daffa meminta pendapatnya.Keisha menatap ke sekeliling ballroom itu, semuanya, mulai dari aksesori yang dikenakannya hingga tema pernikahan, sama persis dengan yang ia pilih di majalah.Matanya berkaca-kaca ketika matanya bertemu pandang dengan mata Daffa. Daffa sudah menunggunya di panggung dengan jas putih dan celana putih, mata Daffa juga tak pernah lepas menatap dirinya.Lorong itu dihiasi dengan lengkungan bunga dan karpet berwarna merah yang terbentang untuknya, persis seperti yang ia bayangkan.Sebuah lagu yang begitu romantis mulai diputar dan Mayra meraih tangan Keisha. Ia menatap Ibunya, “Mommy, Dad







