Se connecterBab 341Isak tangis yang teredam di balik pintu kamar tamu terdengar semakin memilukan, membelah keheningan malam yang menyelimuti lantai atas kediaman Ashford. Calvin mengerutkan keningnya dalam-dalam. Sebagai seorang ayah angkat yang telah mengarungi bertumpuk-tumpuk badai bersama anak-anaknya, dia tahu betul kapan sebuah tangisan lahir dari rasa lelah biasa dan kapan tangisan itu menyembunyikan luka yang jauh lebih dalam.Ketenangan malam kembali terusik oleh ketukan pelan pada pintu kayu bercat putih itu.“Revaline...?” panggil Calvin sekali lagi dengan suara baritonnya yang lembut namun berwibawa. “Kamu belum tidur, Sayang? Ada apa? Buka pintunya sebentar.”Di dalam kamar, Revaline yang sedang meringkuk di atas tempat tidur dengan selimut menutupi separuh tubuhnya seketika terperanjat kaget. Dia tergesa-gesa mengusap sisa-sisa air mata dari pipinya menggunakan punggung tangan. Sambil menarik napas dalam-dalam untuk menata suaranya, dia bergegas bangkit dan perlahan membuka pintu.
Bab 340Layar ponsel di tangan Revaline berkedip-kedip, menampilkan deretan angka dan huruf yang begitu menyiksa ingatannya. Inisial “B” itu seolah memancarkan teror tak kasat mata di tengah keheningan kamar utama kediaman Ashford.Selama lima tahun penuh, nomor itu telah terkubur di dalam daftar blokirnya, terkunci rapat bersama kenangan masa lalu yang sengaja dia benamkan dalam-dalam.Daven menyipitkan matanya, menatap layar ponsel sepupunya yang masih menyala terang.“Siapa yang menelepon larut malam begini, Revaline? Kenapa wajahmu mendadak pucat begitu?” tanya Daven dengan suara pelan, berhati-hati agar tidak membangunkan Joye yang sedang tertidur lelap di tempat tidur.Revaline menelan ludah, tenggorokannya terasa pahit. Dia mengedipkan matanya beberapa kali untuk menguasai diri sebelum, dengan gerakan cepat dan mantap, menekan tombol merah dengan ibu jarinya dan langsung memblokir nomor itu dari ponselnya.“Bukan siapa-siapa,” jawab Revaline, suaranya sedikit gemetar meski dia
Bab 339“Hajar dia!” teriak pria berbekas luka itu dengan suara melengking.Dua anak buahnya yang berbadan tegap langsung melesat maju secara bersamaan. Pipa besi di tangan salah satu penjahat itu terayun liar mengincar bagian samping kepala Daven.Daven melompat ke belakang pada detik-detik terakhir, menghindari pukulan mematikan itu dengan gesit.“Keparat!” umpat Daven tajam, lalu mendaratkan pukulan keras tepat di rahang penjahat pertama hingga pria itu terpental ke belakang dan menghantam tumpukan peti kayu kosong.Penjahat kedua tidak tinggal diam. Dia mengayunkan pisaunya secara brutal ke arah perut Daven.“Daven, awas!” jerit Joye histeris dari dalam ruangan kecil, air matanya mengalir makin deras.Daven berhasil mencengkeram pergelangan tangan penjahat itu sebelum ujung pisau sempat merobek jaketnya. Menggunakan seluruh tenaga dan amarah yang membakar dadanya, Daven memutar lengan lawannya ke belakang tubuh hingga bunyi gemertak halus terdengar, disusul jeritan kesakitan yang
Bab 338"Jangan putuskan sambungan ini, Daven!" suara Calvin membahana penuh wibawa melalui earpiece nirkabel yang terpasang di telinga kiri Daven."Tidak akan, Papi!" jawab Daven terengah-engah, matanya tak pernah lepas dari jalanan bebas hambatan Kota New York yang padat di hadapannya."Dengar instruksi Papa," lanjut Calvin dari markas besar dengan nada tegas dan tak terbantahkan. "Tim unit taktis Lancaster sudah bergerak menuju sektor pelabuhan utara melalui tiga rute berbeda. Kami berada sepuluh menit di belakanganmu.""Sepuluh menit terlalu lama, Papi! Mereka mengancam akan menyakiti Joye kalau aku terlambat!" teriak Daven, mencengkeram roda kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih."Tetap tenang dan kendalikan emosimu, Daven!" tegur Calvin tajam dari ujung telepon. "Jangan bertindak bodoh atau nekat seorang diri. Biarkan tim kita melakukan penyergapan dari titik buta.""Aku tidak peduli! Kalau mereka menyentuh Joye seujung jari pun, akan kuhancurkan tulang-tulang mere
Bab 337Jantung Joye berdebar kencang saat ia menatap layar ponselnya sekali lagi. Ancaman terselubung itu berhasil menghancurkan ketenangan pikiran yang baru saja didapatkannya kembali."Kenapa pesan seperti ini harus datang sekarang?" gumam Joye pelan, jari-jemarinya bergetar di atas layar datar itu.Ia berjalan bolak-balik di kamar tidurnya, menggigit kuku jempolnya seraya berjuang mengatasi dilema besar."Haruskah aku membalasnya, atau abaikan saja?" tanyanya pada diri sendiri dengan suara panik.Di satu sisi, ia ingin mengabaikannya dan menunggu kedatangan Daven pada pukul empat sore. Namun di sisi lain, bayangan kedekatan Daven dan Revaline di dapur beberapa hari lalu kembali mencuat, menyulut rasa ingin tahu yang membakar di dadanya."Bagaimana kalau memang ada sesuatu yang disembunyikan dariku?" bisik Joye cemas.Tanpa berpikir lebih jauh, rasa cemburu dan takut kehilangan pria itu mengalahkan logikanya. Joye menyambar tas selempang kecilnya, mengenakan mantel krem favoritnya,
Bab 336Langkah kakinya terasa berat saat menaiki anak tangga menuju lantai tiga bangunan apartemen Joye. Di tangan kanannya, Daven membawa sebuket bunga mawar putih ukuran sedang dan sekotak strawberry cheesecake yang baru saja dibelinya dari toko kue favorit gadis itu.Pemuda yang mengenakan jaket bomber hitam itu mengembuskan napas panjang dan mengusap bagian belakang lehernya yang kaku. Rasa jengkel yang sempat bergejolak di kepalanya kemarin kini telah mereda, berganti dengan rasa bersalah karena membiarkan kekasihnya tertidur dalam tangis dan amarah.Tok... tok... tok...Daven mengetuk pelan pintu kayu berwarna cokelat muda itu. Tidak ada jawaban dari dalam. Ia mengetuk sekali lagi seraya merapikan kerah kemejanya."Joye? Ini aku, Daven. Buka pintunya sebentar, Sayang."Beberapa detik kemudian, suara kunci diputar terdengar dari dalam. Pintu perlahan terbuka, memperlihatkan Joye yang berdiri lesu dengan mata sedikit sembap dan tubuh terbalut kaus rumah yang longgar. Gadis itu me
Bab 5Dua bulan berlalu tanpa kabar apa pun dari Camelia.Calvin masih duduk di kursi kerjanya, menatap layar ponsel yang gelap. Tidak ada panggilan tak terjawab. Tidak ada pesan. Tidak ada satu pun tanda bahwa Camelia berniat kembali.“Dia benar-benar akan meninggalkanku?,” gumamnya dengan nada ke
Bab 4Pintu rumah tertutup pelan setelah Samantha pergi. Suara langkah kakinya menghilang, menyisakan keheningan yang terasa aneh di ruang tamu.Calvin masih duduk di sofa. Tubuhnya bersandar, satu lengannya terkulai di sisi sofa. Lampu ruang tamu belum dimatikan, tetapi suasana terasa dingin. Ia m
Bab 3Setelah menunggu, akhirnya ada telepon masuk dari Ronal dan Calvin segera menjawab telepon tersebut.“Bagaimana?” tanyanya tajam begitu panggilan tersambung. “Sudah kau temukan dimana keberadaannya?”Di seberang, Ronal menarik napas lebih dulu. “Maaf, Tuan. Tidak ada jejak sama sekali. Bandar
Bab 2Calvin menarik Camelia ke dalam pelukannya dan menutup jarak di antara mereka dengan kasar. Bibirnya menekan bibir Camelia tanpa ragu, penuh tuntutan, seolah seluruh kendali yang selama ini ia tahan runtuh dalam satu detik.“Calvin—” napas Camelia terputus.Ciuman itu semakin dalam, membuat C







