Saat terbangun, Dashiel mendapati dirinya terbaring di atas ranjang. Di ranjang itu juga ada seorang wanita.
Wanita itu berbaring menyamping, sedangkan selimut itu hanya menutupi sedikit di bagian pinggangnya. Kedua lengan di bagian atas tubuh, punggung dan pinggangnya, serta sebagian besar kakinya di bawah, semuanya terekspos di luar selimut. Kulit wanita itu putih mulus bagaikan salju.
Pikiran Dashiel sontak menjadi kosong. Dia bahkan mengira dirinya sedang bermimpi. Kemudian, dia mencubit dirinya sendiri. Sakit. Ternyata bukan mimpi.
Akan tetapi, apa sebenarnya yang terjadi?
Dashiel ingat jelas, teman lamanya yang bernama Vano baru pulang dari Kota Herlos. Vano membawa pacarnya, Zoey, dan seorang teman bernama Yuki, lalu mengajaknya minum.
Reuni dengan teman lama membuat hatinya sangat senang. Sepertinya dia minum terlalu banyak sampai mabuk, dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.
Mabuk sampai putus ingatan masih bisa dimengerti, tapi kenapa ada seorang wanita?
"Siapa wanita ini?"
Dashiel mendekat dengan hati-hati untuk melihat wajah wanita itu. Dalam sekejap, jiwanya seakan melayang keluar dari tubuhnya.
Wanita itu ternyata Yuki.
"Kenapa aku bisa sama Yuki ...."
Dashiel benar-benar tercengang. Dia mencoba mengingat dengan saksama, tapi tidak bisa mengingat apa pun. Namun tanpa perlu ditanya, situasi di depan matanya sudah sangat jelas.
Melihat Yuki masih tertidur, Dashiel diam-diam turun dari ranjang, mengenakan kembali baju dan celananya, lalu perlahan berjalan keluar.
Saat sampai di dekat pintu dan baru saja memegang gagang pintu, suara Yuki terdengar dari belakang, "Kamu mau pergi begitu saja?"
Dashiel langsung mematung di tempat bak tersambar petir.
"Kak Yuki, aku ... aku ...."
Dashiel berbalik ingin menjelaskan, tetapi Yuki sudah duduk. Selimutnya meluncur turun. Mata Dashiel langsung terpaku, lalu dia buru-buru memalingkan wajahnya. Karena berbalik terlalu cepat, kepalanya terbentur pintu dan terdengar bunyi benturan yang keras.
"Hehe ...."
Yuki tertawa.
Dashiel menutup kepalanya dengan tangan. Dia sendiri tidak tahu perasaan apa yang ada di dalam hatinya saat itu.
Reaksi Yuki terasa tidak wajar.
Saat itu, ponsel Dashiel berbunyi. Begitu dilihat, ternyata nomor yang tidak dikenal. Dia masih ragu apakah harus mengangkatnya atau tidak, tetapi deringnya sudah berhenti.
"Itu nomor ponselku," kata Yuki. "Simpan nomornya."
"Iya." Dashiel segera mengangguk.
"Sudah, kamu boleh pergi."
Dashiel merasa seakan-akan mendengar suara malaikat. Dia buru-buru memutar kunci pintu dan keluar. Sampai di luar, dia bahkan menutup pintu dengan hati-hati.
Tempat itu adalah lantai dua rumah Vano. Dia turun ke bawah, tapi di lantai satu tidak ada siapa pun.
Dashiel juga tidak berani memanggil Vano. Dia langsung keluar rumah. Di luar, langit bahkan belum terang.
Sesampainya di rumah, dia mandi. Tubuhnya masih dipenuhi aroma harum. Saat mandi, bayangan Yuki kembali muncul di depan matanya.
'Putih sekali,' pikirnya.
Vano dan kedua temannya sudah pergi pagi-pagi keesokan harinya. Vano tidak sempat memberi tahu Dashiel. Bahkan Yuki juga tidak mengatakan apa pun.
Dashiel sendiri masih linglung dan pikirannya kacau. Dirinya memang mabuk semalam, tapi bagaimana bisa dia tidur dengan Yuki? Selain itu, reaksi Yuki setelah kejadian itu juga terasa aneh.
Sekarang Yuki sudah pergi. Apa yang akan terjadi? Melaporkannya ke polisi? Sepertinya tidak.
Tawa Yuki masih terngiang di telinganya. Jika ingin melapor ke polisi, tidak mungkin reaksinya seperti itu.
"Kenapa dia suruh aku simpan nomor ponselnya? Apa yang ingin dia lakukan? Jangan-jangan ...."
Dashiel tidak berani membayangkan lebih jauh. Itu terlalu gila. Namun, dia juga tidak bisa berhenti memikirkannya.
Beberapa hari berikutnya, hati Dashiel selalu gelisah. Kadang dia membayangkan polisi tiba-tiba datang ke rumah dan memborgolnya. Kadang dia juga membayangkan Yuki meneleponnya.
Namun, tidak terjadi apa-apa.
Waktu pun terus berlalu. Dalam sekejap, beberapa bulan telah lewat.
Bukan hanya Yuki, bahkan Vano juga tidak memberi kabar apa pun. Tidak pernah menelepon, juga tidak pernah mengirim pesan. Kejadian malam itu seolah hanya mimpi musim semi. Setelah terbangun, semuanya pun berlalu begitu saja.
Dashiel sendiri hampir melupakannya. Sesekali ketika teringat, yang tersisa hanya bayangan punggung seorang wanita yang putih seperti salju.
Sampai suatu hari, di hampir tengah malam. Dashiel sudah berbaring di tempat tidur untuk istirahat, tetapi ponselnya tiba-tiba berdering. Dia melihat layar ponsel.
Nama yang muncul: Putri Salju.
Tubuh Dashiel langsung tersentak.
Itu nomor Yuki. Dulu Dashiel menyimpannya dengan nama Kak Yuki. Karena lama tidak ada kabar, dia kemudian mengganti nama kontaknya menjadi Putri Salju.
Putri Salju hanya akan bangun jika dicium oleh pangeran. Dashiel tidak tahu apakah dirinya adalah pangeran Yuki, tapi bagi Dashiel, Yuki adalah Putri Salju dalam mimpinya.
"Kak ... Kak Yuki ...."
Karena gugup, tenggorokannya terasa agak kering.
"Dashiel, kamu di mana?" Suara Yuki terdengar dari ponsel, lembut, sedikit serak, dan tetap merdu seperti sebelumnya.
"Aku ... aku di rumah."
"Masih di kabupaten ya," kata Yuki. "Datanglah ke Kota Herlos."
"Ke Kota Herlos?"
"Mm." Yuki mengiyakan. "Datang besok atau lusa. Setelah sampai, cari tempat bernama Hotel Seven Seas. Mereka sedang merekrut satpam. Kamu pergi melamar di sana. Sudah kamu catat?"
"Hah?"
Dashiel agak bingung.
"Ya sudah, segitu aja dulu." Yuki melanjutkan, "Kalau sudah diterima, kirim pesan ke aku."
Setelah berkata demikian, dia langsung menutup telepon.
Dashiel memegang ponselnya dan tertegun lama. Yuki menyuruhnya pergi ke Kota Herlos untuk melamar menjadi satpam. Apa maksudnya? Mencarikannya pekerjaan? Atau ... ada maksud lain?
Hampir semalaman Dashiel tidak tidur. Di dalam hatinya, seolah ada api liar yang terus membara.
Saat fajar tiba, dia akhirnya mengambil keputusan. Dia mengemas sebuah tas, lalu naik bus jarak jauh menuju Kota Herlos.
Saat ini tahun 2012. Daerah Duplex Bay masih belum memiliki kereta cepat. Katanya baru akan dibangun tahun depan.
Hari sudah gelap ketika dia tiba. Dia terlebih dulu mencari hotel untuk menginap. Keesokan harinya, dia menanyakan lokasi Hotel Seven Seas. Benar saja, di depan pintu ada papan bertuliskan perekrutan satpam.
Tubuh Dashiel tinggi dan besar, usianya juga pas, 25 tahun. Dia berhasil diterima.
Hari itu juga dia mulai bekerja. Kepala tim keamanan, Enrico, menjelaskan beberapa aturan kepadanya dan menugaskannya untuk sif malam.
Sif malam berlangsung dari pukul tujuh malam sampai tujuh pagi. Malam itu juga Dashiel langsung bertugas. Enrico menemaninya sambil memberi beberapa pengarahan.
Keesokan paginya pukul tujuh, setelah pergantian sif, barulah Dashiel mengirim pesan kepada Yuki.
[ Kak Yuki, aku sudah diterima. ]
Sekitar pukul setengah sembilan, Yuki membalas pesan.
[ Oke. ]
Setelah itu tidak ada kabar lagi.
Dashiel juga tidak berani mengirim pesan kepada Yuki. Dia hanya bisa menunggu dengan pasif. Bahkan dia sendiri juga sebenarnya tidak tahu apa yang sedang ditunggunya.
Yuki menyuruhnya datang ke Kota Herlos .... Apakah dia punya maksud lain, atau Yuki memberinya pekerjaan yang cukup bagus ini hanya karena hubungan mereka yang singkat itu?
Dashiel benar-benar tidak bisa menebaknya. Pikiran wanita memang sulit ditebak, apalagi wanita seperti Yuki.
Vano juga berada di Kota Herlos. Dia bekerja di sebuah perusahaan farmasi.
Dashiel tidak menghubungi Vano. Walaupun dulu mereka tumbuh bersama sejak kecil, bahkan sering bermain saat masih anak-anak, Vano sudah kuliah dan bekerja di kota besar. Dia bukan lagi Vano yang dulu.
Alasan utama sebenarnya tetap karena Yuki. Dia datang ke Kota Herlos karena Yuki langsung menyuruhnya datang, bukan melalui Vano.
Dashiel menduga, mungkin Yuki tidak ingin Vano mengetahui hal ini. Begitulah, lebih dari sebulan kembali berlalu.
Suatu hari, sekitar pukul sembilan lebih sedikit, Enrico tiba-tiba memanggil Dashiel. "Dashiel, kamu punya SIM, 'kan? Datang ke depan."
Setelah lulus SMA, Dashiel langsung terjun ke dunia kerja. Dia pernah melakukan berbagai macam pekerjaan, bahkan pernah mengemudikan bus jarak jauh. Tentu saja dia punya SIM.
Dashiel segera bergegas ke depan. Enrico berkata, "Ada tamu yang minum terlalu banyak. Kamu bawa mobilnya dan antar dia pulang."
Di depan terparkir sebuah mobil kecil, Mazda 6 berwarna merah. Saat Dashiel mendekat dan melihat ke dalam, seorang wanita duduk di kursi pengemudi. Wajahnya memerah karena minum terlalu banyak.
Ternyata itu Zoey.
Zoey tampaknya lumayan mabuk. Dia belum sampai kehilangan kesadaran, hanya kepalanya sedikit pusing dan tangan serta kakinya terasa lemas, sehingga tidak berani mengemudi. Namun, kesadarannya masih jelas.
Begitu melihat Dashiel, dia langsung mengenalinya. Mata yang tadinya setengah terpejam tiba-tiba membelalak.
"Dashiel?"
"Kak Zoey."
Dashiel juga tidak menyangka akan bertemu dengan Zoey di sini. Dia pun menyapa wanita itu.
Dashiel tidak tahu usia Zoey, tetapi dirinya lebih muda beberapa bulan dari Vano. Jadi, sepertinya tidak salah kalau dia memanggil Zoey sebagai Kakak.
"Benaran kamu, ya." Zoey mengedipkan mata dua kali. "Kamu datang ke Kota Herlos?"
"Mm." Dashiel mengangguk. "Aku kerja jadi satpam di sini. Kalau kamu nggak keberatan, aku bisa setirin mobilmu."
"Kamu naik saja." Zoey sendiri berpindah ke kursi penumpang.
Dashiel masuk ke mobil.
"Pergi ke Vila Magnifico." Zoey menyebutkan tujuannya. "Kamu tahu jalannya? Dari sini keluar, ke timur, lewat Jalan Pinus."
Dashiel sudah bekerja sebagai satpam lebih dari sebulan, tapi dia juga tidak bermalas-malasan. Saat tidak ada tugas siang hari, dia berkeliling Kota Herlos. Arah umum kota, jalan utama, dan bangunan penanda penting pada dasarnya sudah dia kenal.
"Aku tahu." Dashiel memutar mobil keluar.
"Kenapa kamu datang ke Kota Herlos?" Zoey sangat penasaran.
"Cari kerjaan," jawab Dashiel.
"Kak Yuki yang suruh kamu datang, 'kan?" tanya Zoey dengan nada ingin tahu.
Dashiel langsung tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
Dia tidak terlalu berani berbohong kepada Zoey, karena dia tidak tahu bagaimana sebenarnya hubungan antara Zoey dan Yuki. Jika dia berbohong dan nanti Zoey mengetahuinya, pasti Zoey akan kesal kepadanya. Itu berarti dia akan menyinggung satu orang lagi, bahkan mungkin juga Vano.
"Kak Yuki benar-benar hebat, ternyata nyembunyiin pria di rumahnya ya."
Dashiel tidak menjawab, yang berarti seolah-olah mengiyakan. Zoey langsung mengepalkan tangan kecilnya dengan penuh semangat.
Ucapannya membuat Dashiel ingin tertawa, sekaligus kehabisan akal. Namun jika dipikirkan lagi, apa sebenarnya maksud Yuki menyuruhnya datang? Dia sendiri juga tidak bisa menjelaskannya.
"Kalian sekarang ...."
Belum sempat pertanyaannya selesai diajukan, Zoey langsung menghentikan kalimatnya.
Jelas sekali, dia sangat penasaran. Wajahnya yang sudah agak merah karena minum, kini semakin merona karena kegembiraan di hatinya. Seluruh wajahnya tampak merah padam seperti cahaya senja di awal musim semi.
Dashiel bisa memahami perasaannya, tapi benar-benar tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Dia hanya bisa tersenyum canggung.
Namun, Zoey malah salah paham. Dia mengangguk dan tidak melanjutkan pertanyaannya lagi, hanya kembali mengepalkan tangan kecilnya dengan penuh semangat.
Tubuh Zoey mungil, tidak setinggi Yuki. Tinggi badan Yuki hampir 165 cm, sedangkan Zoey kira-kira hanya sekitar 160 cm. Namun, tangannya agak berisi. Saat mengepalkan tangannya seperti itu, tampak seperti roti kukus kecil yang lembut.
Mobil sampai di Apartemen Magnifico. Mereka masuk ke area dalam dan parkir. Zoey berkata, "Dashiel, bantu aku naik ke atas."
Dashiel sendiri tidak merasa keberatan, tentu saja dia juga tidak enak untuk menolak. Dia memegang lengan Zoey untuk menopangnya.
Kaki Zoey agak lemas, sehingga sebagian besar tubuhnya bersandar pada Dashiel. Pada akhirnya, Dashiel tidak punya pilihan selain merangkul pinggangnya.
Rumah Zoey berada di lantai enam. Zoey membuka pintu. Sampai di pintu, dia mengganti sepatu dengan sandal rumah, lalu dengan santai mengambilkan sepasang sandal untuk Dashiel.
"Dashiel, kamu juga pakai ini."
"Vano nggak di rumah?" tanya Dashiel. Vano dan Zoey tinggal bersama tanpa menikah, Vano pernah membanggakannya, jadi Dashiel tahu.
"Lagi dinas ke luar kota," kata Zoey. "Beberapa hari lagi baru pulang."
"Kalau begitu ... aku pulang dulu saja."
Karena Vano tidak di rumah, Dashiel merasa agak tidak nyaman.
"Apa yang kamu takutkan?" Zoey berbalik menatapnya. "Tutup pintunya."
Melihat wajahnya sedikit kesal, Dashiel tidak enak untuk menolak. Dia hanya bisa menutup pintu dari belakang. Begitu pintu tertutup, Zoey tiba-tiba condong ke depan dan seluruh tubuhnya langsung jatuh ke dalam pelukan Dashiel.
Dashiel kaget. Dia mengira Zoey mabuk dan tidak bisa berdiri dengan stabil, jadi dia segera memegang pinggang Zoey.
"Kak Zoey, kamu nggak apa-apa?"
Tak disangka, tangan Zoey terangkat dan malah melingkari lehernya. Gerakannya itu jelas bukan karena tidak bisa berdiri. Tubuh Dashiel langsung kaku. Seolah tersambar petir, dia bahkan tidak berani bergerak sedikit pun.
Zoey tertawa pelan.
"Kamu takut?"
"Apa yang kamu takuti? Takut Vano, atau takut Yuki?"
"Aku ... aku ...."
Dashiel sendiri tidak tahu apa yang dia takuti. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menjawabnya, karena situasi ini terlalu di luar nalar.
"Kamu nggak perlu takut sama Vano. Aku saja nggak takut, kenapa kamu takut?" Zoey tertawa kecil. "Kalau Yuki, dia sudah bercerai."
Tangannya melingkari leher Dashiel, seluruh tubuhnya menempel di dada Dashiel.
"Kamu nggak kepengin romantis sedikit? Nggak ingin hidupmu punya sedikit sensasi yang berbeda? Waktu kamu tua nanti, kamu nggak ingin punya kenangan yang istimewa?" Zoey menimpali, "Gendong aku ke dalam kamar."
"Ng ... nggak benar, deh." Kepala Dashiel terasa meledak. "Ka ... kamu itu milik si Vano. Nanti kalau kalian sudah menikah, aku ... aku harus manggil kamu Kakak Ipar."
"Bukankah ada pepatah, makanan paling enak itu pangsit, dan yang paling menyenangkan itu adalah kakak ipar?" Zoey tertawa di pelukannya dan tubuhnya bergerak-gerak menggoda Dashiel.
Dalam perasaan Dashiel, dia seakan-akan sedang memeluk bola api.
"Ng ... nggak boleh ...." Dashiel mencoba mendorongnya menjauh.
Namun, Zoey tetap melingkarinya dan tidak melepaskan.
"Aku kasih kamu dua pilihan." Zoey tersenyum manis, tetapi kata-katanya terdengar menakutkan, "Pertama, gendong aku masuk ke dalam. Kedua, kamu pergi, dan aku langsung menelepon polisi, bilang kamu mencoba memperkosaku."
Sambil berkata demikian, tiba-tiba dia mengulurkan tangan dan langsung menarik kerah bajunya sendiri.
Zoey mengenakan blus kasa merah. Tarikan itu sangat kuat hingga kancingnya terlepas. Seketika, mata Dashiel dipenuhi pemandangan kulitnya yang putih.
Dashiel langsung panik.
"Kak Zoey, jangan begitu ...."
Namun, Zoey sudah mencium bibirnya.