ログインPOV Angela
“Apakah kau melihat siapa itu?” tanya Lyla saat aku kembali ke tempat kami tadi.
“Tidak,” jawabku.
Dia mengembuskan napas kasar. "Ini semua salahmu. Kalau sampai ada berita buruk apa pun tentangku muncul di media, apa pun itu, kau juga akan ikut jatuh bersamaku.”
Aku mendengus pelan, menatapnya balik.
"Salahku?" kataku. "Kau yang datang ke sini, Lyla. Tidak ada yang menyeretmu."
Ekspresinya langsung menge
POV IanSudah setengah jam lamanya aku duduk di restoran ini sementara pikiranku terus kembali padanya.Angela.Aku sudah melihat semua artikel tentangnya yang membanjiri internet tentang keterkaitannya dengan Aaron.Cengkeramanku pada gelas anggur semakin mengencang.Namanya selalu dikaitkan dengan Angela. Dia bisa menikmati semua perhatian itu untuk sementara. Pada akhirnya, Angela tetap milikku."Ian."Suara Evelyn memotong lamunanku.Aku mengangkat kepala dan melihat ke arahnya. Dia memberi isyarat halus ke arah seberang meja.Saat itulah aku menyadari ibuku sudah meletakkan pisau dan garpunya.Tatapannya tertuju lurus padaku.Dari ekspresinya, jelas terlihat jika dia sudah berusaha menarik perhatianku beberapa saat lalu."Ada apa?"Salah satu alisnya terangkat."Itu hal pertama yang kau katakan setelah mengabaikan kami sepanjang
POV Aaron"Kau yang datang padaku lebih dulu."Aku mengangkat tangan dan mencengkeram rahangnya."Kau yang meminta bantuanku."Tatapanku mengunci tatapannya."Dan begitu kau mendapatkan apa yang kau inginkan, kau langsung mencari cara untuk kabur."Aku merasakan tubuhnya menegang di bawah cengkeramanku."Kau berjanji padaku tiga tahun."Rahangku mengeras."Sekarang kau mencoba pergi bahkan sebelum menepati janji itu."Dia menelan ludah lalu menggeleng pelan."Aku tidak bisa terus seperti ini.""Kita bertengkar setiap kali berada di ruangan yang sama.""Kita saling menyakiti.""Dan tidak ada satu pun dari kita yang tahu cara menghentikannya."Aku tetap diam.Membiarkannya mengeluarkan semua alasan yang sudah dia siapkan."Hubungan ini tidak sehat, Aaron."Sudut bibirku bergerak tipis membentuk senyuman."Sehat?"Aku menggeleng pelan.
POV AngelaPertanyaan demi pertanyaan menghujaniku tanpa jeda. Aku menundukkan kepala dan terus berjalan.Tapi itu tidak membuat mereka mundur."Angela!""Satu komentar saja!"Seseorang berjalan mundur tepat di depanku sambil terus memotret.Akibatnya, jalanku terhalang. Aku terpaksa berhenti.Kilat kamera kembali meledak dari segala arah.Aku mencoba bergerak ke kiri.Mereka ikut bergeser.Aku mencoba ke kanan.Mereka melakukan hal yang sama.Rasanya seperti terjebak di tengah badai lampu kilat, teriakan, dan pertanyaan yang datang bertubi-tubi dari segala arah."Angela, jawab pertanyaannya!"Aku menggenggam koper itu semakin erat.Mobil yang kupesan masih terparkir di depan sana. Begitu dekat. Namun sekarang rasanya seperti berada bermil-mil jauhnya.Para paparazzi terus memojokkanku, membuatku nyaris tidak ada ruang untuk bergerak.Detak jantungku semakin c
POV AngelaBeberapa menit kemudian, aku menyadari Aaron tidak sedang membuat satu hidangan saja.Dia membuat beberapa.Karena penasaran, aku berdiri dan berjalan mendekatinya di dapur. Aku terpana melihat pemandangan di depanku.Di atas kitchen island sudah tersaji beberapa potong roti sourdough panggang, grilled chicken dan roasted potatoes.Sementara itu, sepanci sup ayam hangat sedang mendidih di atas kompor.Aku memandang semuanya dengan tak percaya selama beberapa saat. Bahkan cara dia menata makanannya terlihat sangat profesional."Jadi kau bisa memasak."Dia tidak menjawab.Pandanganku beralih ke freezer besar di sampingku."Aku ingat pernah melihat banyak wadah makanan berlabel di freezermu. Ada nama makanan dan tanggalnya. Itu masakanmu?""Bukan," jawabnya singkat."Jadi, siapa yang menyiapkannya?""Seorang koki.""Aku
POV AngelaAku melihat Aaron langsung berbalik ke arahku.Aku masih berusaha berpura-pura seolah tidak ada yang salah sementara gelombang mual menghantamku lagi sampai aku tidak bisa menahannya.Satu tanganku langsung bertumpu pada dinding bata sementara tangan satunya menutupi mulutku.“Ugh..."Aku membungkuk dan akhirnya muntah.Napasku menjadi tidak beraturan saat aku berusaha menenangkan diri.Beberapa detik kemudian, Aaron sudah berdiri tepat di depanku.“Ada apa denganmu?”Aku cepat-cepat menyeka mulutku lalu memaksa diri berdiri tegak.“Tidak apa-apa.”Ekspresinya tetap dingin. Dia hanya menatapku selama beberapa detik.Lalu perkataannya kali ini menghantamku.“Kita ke rumah sakit.”Mataku langsung membelalak.“Apa?”“Tidak.” Aku cepat-cepat menggeleng. “Tidak perlu.”
POV AaronSaat aku kembali ke rumah malam harinya, aku melepaskan dasiku sambil masuk ke dalam rumah. Aku menghempaskan tubuhku ke sofa. Tubuhku sudah lelah setelah hari yang panjang tetapi pikiranku terus terbayang Angela.Aku berjalan lebih jauh ke dalam rumah untuk menemukannya tetapi dia tidak ada di mana-mana.Aku langsung mengeluarkan ponselku.Panggilan itu langsung tersambung setelah dering kedua."Di mana dia?""Di sebuah private members club di West Hollywood.""Dengan siapa?""Sendirian.""Kirim alamatnya," kataku sebelum mengambil kunci mobil dari meja."Ya, Tuan."***Kurang dari tiga puluh menit kemudian, aku berjalan memasuki private club itu dan berhenti di depan salah satu ruangan.Begitu aku masuk, kedua wanita itu langsung menoleh ke arahku.Angela membeku sementara ekspresi Lyla langsung berubah seketika.Tatapan
POV AngelaAku langsung bersembunyi di balik mobil Aaron yang lain.Lyla tersenyum.Lalu tanpa ragu, dia melangkah maju dan memeluk Aaron.Dan Aaron…tidak menolak.Tangannya terangkat.Membalas pelukan itu.Rasa nyeri tajam lan
POV AngelaBeberapa minggu terakhir jadwalku benar-benar padat.Syuting iklan kampanye kecantikan, kerja sama dengan brand mewah, meeting dengan brand.Aku masih memenuhi kontrakku dengan Aaron.Aku hanya perlu sedikit waktu lagi.Begitu uangku cukup
POV Aaron"Saya minta maaf.”Dadaku terasa berat saat mendengar kata 'maaf' darinya.“Kami tidak bisa menyelamatkan ibu Anda.”Aku hanya berdiri di sana, menatapnya. Mendengar… tapi tidak benar-benar memproses.Dia membawaku ke rua
POV AaronAku berdiri beberapa detik di sana setelah tangannya terlepas dari lenganku.Dia sudah tertidur tapi kata-katanya masih menggantung di kepalaku.Aku berbalik keluar dari kamarnya dan berjalan turun menuju kamarku.Aku masuk ke kamar mandi. Air shower langsung







