LOGINPOV Angela
“Apakah kau melihat siapa itu?” tanya Lyla saat aku kembali ke tempat kami tadi.
“Tidak,” jawabku.
Dia mengembuskan napas kasar. "Ini semua salahmu. Kalau sampai ada berita buruk apa pun tentangku muncul di media, apa pun itu, kau juga akan ikut jatuh bersamaku.”
Aku mendengus pelan, menatapnya balik.
"Salahku?" kataku. "Kau yang datang ke sini, Lyla. Tidak ada yang menyeretmu."
Ekspresinya langsung menge
POV AaronMesin mobil menyala dan tatapanku masih terus fokus ke jalan.Lyla duduk di sampingku sambil mengembuskan napasnya tajam. “Serius?” gumamnya. “Aaron… tidak bisakah kau setidaknya pura-pura bahagia saat kau keluar denganku?”Aku tetap menatap jalan dan tidak menjawab."Kau bilang kau mau mencoba denganku. Tapi yang kulihat cuma ini...” dia memberi isyarat ke arahku, kesal “Ekspresi seperti kau lebih memilih berada di mana pun selain di sini.”“Apa sebenarnya aku cuma… pelampiasanmu agar kau bisa melupakannya?”Aku menepikan mobil.Cukup keras sampai ban sedikit bergesekan dengan aspal.Keheningan langsung jatuh di antara kami.Lalu aku menoleh dan menatapnya.“Cukup, Lyla.”Suaraku rendah dan terkendali.Dia membeku.“Aku sudah bilang sebelumnya,” lanjutku tenang. “Aku mau mencoba denganmu. Tapi tidak dengan cara yang kau paksakan.”Bibirnya terbuka, tapi tidak ada
POV Angela“Apakah kau melihat siapa itu?” tanya Lyla saat aku kembali ke tempat kami tadi.“Tidak,” jawabku.Dia mengembuskan napas kasar. "Ini semua salahmu. Kalau sampai ada berita buruk apa pun tentangku muncul di media, apa pun itu, kau juga akan ikut jatuh bersamaku.”Aku mendengus pelan, menatapnya balik."Salahku?" kataku. "Kau yang datang ke sini, Lyla. Tidak ada yang menyeretmu."Ekspresinya langsung mengeras. Sementara aku tetap menatapnya, tidak mengalihkan pandangan."Kalau kau tidak muncul," lanjutku. "Kau tidak akan ikut terseret dalam masalahku."Rahangnya mengeras. Matanya menyala menahan amarah. Dia menatapku seperti ingin merobekku hidup-hidup lalu berbalik dan pergi begitu saja.Langkahnya tajam dan penuh emosi, meninggalkanku sendirian di sana.Keheningan langsung jatuh begitu dia pergi.Aku mengembuskan napas. "Ya Tuhan..." gu
POV AngelaAku berbalik dan menatapnya.“Lyla? Apa yang kau lakukan di sini?”Dia belum sempat menjawab ketika pintu toilet terbuka dan seseorang masuk. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengenakan kembali topi, masker, dan kacamata.Tiba-tiba, Lyla mencengkeram pergelangan tanganku.“Kita tidak bicara di sini," katanya rendah, nyaris seperti berbisik. "Ayo."***Dia menarikku keluar dari restroom tanpa menunggu persetujuanku.Genggamannya kuat, langkahnya cepat. Aku tidak punya pilihan selain mengikutinya saat dia menyeretku menyusuri lorong.Kami berhenti di area parkir samping yang lebih sepi. Hanya beberapa mobil. Cukup jauh dari orang-orang.Begitu berhenti, dia langsung melepaskan tanganku dengan kasar hingga tubuhku sedikit terdorong ke belakang.Aku menatapnya, napasku masih belum stabil.Lyla berdiri tegak di depanku, tangannya langsung terlipat di depan d
POV AngelaAku langsung bersembunyi di balik mobil Aaron yang lain.Lyla tersenyum.Lalu tanpa ragu, dia melangkah maju dan memeluk Aaron.Dan Aaron…tidak menolak.Tangannya terangkat.Membalas pelukan itu.Rasa nyeri tajam langsung menjalar di dadaku.Lyla melepaskan pelukannya, mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar, lalu berbalik menuju mobilnya.Mesinnya menyala. Lampu depan menyapu jalanan dan dalam beberapa detik, dia sudah pergi.Meninggalkan Aaron berdiri di sana.***Aku menunggu sampai mobilnya benar-benar menghilang sebelum akhirnya keluar dari persembunyianku.Begitu aku mendekat, tatapan Aaron yang dingin langsung terkunci padaku.Dia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya berbalik dan masuk melalui pintu samping. Sementara aku hanya mengikutinya dari belakang.Begitu aku melangkah masuk, tangannya langsung mencengkeram
POV AngelaBeberapa minggu terakhir jadwalku benar-benar padat.Syuting iklan kampanye kecantikan, kerja sama dengan brand mewah, meeting dengan brand.Aku masih memenuhi kontrakku dengan Aaron.Aku hanya perlu sedikit waktu lagi.Begitu uangku cukup untuk melunasi semua hutangku padanya...Aku akan mengakhiri kontrak ini dalam tahun ini juga.Akhir-akhir ini, hubungan kami berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya.Dia tidak pernah bicara lagi padaku.Aku hanya datang ketika diminta.Dan aku benci betapa tidak ada artinya aku untuknya.Di matanya, aku bukan apa-apa selain seseorang yang dia butuhkan saat dia ingin.Aku terus meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak peduli. Ini hanya sementara. Aku hanya perlu menahan diri sedikit lebih lama.Tapi setiap kali aku meninggalkan rumahnya... rasa sakit itu selalu ikut pulang bersamaku.***
POV Aaron"Saya minta maaf.”Dadaku terasa berat saat mendengar kata 'maaf' darinya.“Kami tidak bisa menyelamatkan ibu Anda.”Aku hanya berdiri di sana, menatapnya. Mendengar… tapi tidak benar-benar memproses.Dia membawaku ke ruangan lain. Langkahku terasa berat, tapi aku tetap berjalan.Kami berhenti.Ibuku terbaring di sana. Tubuhnya tertutup kain putih sampai dada. Wajahnya terlihat pucat. Dia diam, tidak bergerak.Aku berjalan pelan hingga akhirnya berhenti di samping tempat tidur.Menatapnya.Saat itu aku tahu tidak ada lagi yang tersisa untukku di dunia ini.Waktu terasa berhenti.Atau mungkin tetap berjalan, hanya saja aku tidak lagi menjadi bagian darinya.Polisi datang.Aku diminta menjawab beberapa pertanyaan tentang kematian ibuku.Mereka mengatakan jika pelaku belum berhasil ditangkap. Tabrak lari, k
POV AaronAku tidak bergerak saat dia pergi. Seharusnya itu tidak berarti apa-apa. Tapi sialnya, pikiranku terus kembali ke ekspresi wajahnya tadi, cara matanya berubah saat melihat Lyla di kamarku.Rahangku mengeras. Bukan rasa bersalah. Bukan penyesalan. Aku tahu persis aku tidak
POV IanAku mengangkat pandanganku padanya.Ibuku berdiri di depanku dengan postur tenang, sepenuhnya terkendali.“Jangan sampai kau mengacaukan semuanya lagi.”Aku menghela napas pelan. “Tidak akan.”"Bagus."Dia menatapku beberap
POV Aaron“Terima kasih,” katanya.“Karena menyelamatkanku dari Ian tadi.”Aku tidak langsung menjawab.Kami hanya saling menatap beberapa detik. Lalu tangannya perlahan terangkat. Biasanya aku akan menepisnya. Aku tidak suka disentuh apalagi ol
POV AngelaBeth menatap mobil itu lagi.“Oke,” lanjutnya. “Jadi kau menang lotre… atau diam-diam jadi miliarder dan lupa memberi tahu aku?”Aku terkekeh pelan. “Ya. Persis begitu."“Aku serius.” Dia menyilangkan ta







