Mag-log inPOV Angela
"Aku sudah di rumah," kataku.
"Aku sudah menghubungimu puluhan kali," suara Beth terdengar cepat dan tajam di ujung telepon. "Kau sadar situasi kita sekarang?"
Aku memejamkan mata, memijat pelipis. "Aku butuh waktu, Beth. Sedikit ruang untuk bernapas."
"Bernapas? Ini bukan waktunya, Angela," suaranya berubah serius. "Kita sedang berada dalam krisis. Krisis yang bisa menghancurkanmu!"
Aku menarik napas dalam. Diam. Tak tahu harus berkata apa.
"Film ini baru rilis tiga hari. Tapi yang menjadi headline bukan aktingmu, melainkan foto bodoh itu. Skandal ini menyeret semua kerja keras kita ke lubang."
"Rating film kita jatuh. Salah satu kritikus bahkan menulis kalau film itu lebih cocok dibintangi oleh aktris profesional, bukan... wanita simpanan. Dan kalimat itu langsung viral di forum-forum industri."
Kata-kata itu menghantam keras. Aku bukan simpanan siapa pun, tapi publik sudah memutuskan versinya sendiri.
"Beth, aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Edward. Itu hanya foto yang disalahartikan," kataku pelan, nyaris putus asa.
"Angela, dengar aku baik-baik," suara Beth menjadi lebih pelan. "Mereka tidak peduli tentang kebenaran. Mereka peduli tentang citramu. Dan citramu sekarang... berantakan."
Aku bisa mendengar napasnya di ujung telepon sebelum kalimat berikutnya menghantam.
"Kita bukan dari agensi besar. Kita tidak punya investor kuat yang bisa menutupi semua ini. Dan lebih parahnya lagi... agensi sudah mengambil keputusan."
Aku menegang. "Keputusan apa?"
"Mereka memutuskan untuk mengeluarkanmu, Angela."
Jantungku seperti berhenti sejenak. "Tunggu. Maksudmu... aku dikeluarkan?"
"Ya," jawabnya tegas. "Agensi kita ditekan habis-habisan. Direktur casting yang kita incar minggu depan sudah mundur. Pihak sponsor juga mulai menarik diri. Agensi tidak mau ambil risiko lebih besar. Dan sesuai klausul, kau tetap harus membayar penalti."
"Berapa?" tanyaku lirih, suaraku tercekat.
"Sekitar seratus lima puluh ribu dolar."
Aku membeku. Angka itu terasa seperti jerat di leherku.
"Itu termasuk penalti pelanggaran kontrak dan ganti rugi promosi yang gagal karena sponsor mundur sebelum kampanye selesai," lanjut Beth.
"Beth... aku tidak memiliki uang sebanyak itu. Aku bahkan belum menerima sisa pembayaran honor finalku."
"Studio menahan pembayarannya karena kontrak mereka memungkinkan untuk menahan pembayaran kalau terjadi kerusakan reputasi sebelum promosi selesai. Apalagi sekarang rating film jatuh drastis," kata Beth.
Aku menunduk, menatap kosong ke lantai. "Tapi ini semua cuma berdasarkan beberapa foto yang tidak benar. Tidak ada bukti apa pun."
"Angela," suara Beth terdengar berat, tapi nadanya tetap tegas. "Mereka tidak peduli itu benar atau tidak. Mereka cuma tidak mau ambil risiko. Dan barusan... email pemutusan kontraknya sudah masuk ke inbox-mu."
Tanganku melemah. Aku masih memegang ponsel, tapi rasanya tidak nyata lagi. Kata-kata Beth terus terngiang di kepalaku. Direktur casting yang mundur, pihak sponsor yang mulai menarik diri, agensi yang menghentikan kerja sama.
Semua mimpiku, semua yang kubangun, runtuh begitu saja.
Apa ini mungkin ada hubungannya dengan Aaron lagi? Satu skandal saja tetapi semua pihak tidak mau terlibat lagi denganku. Jika benar, dia berhasil. Dia menjatuhkanku saat aku hampir berhasil meraih mimpiku.
Aku membiarkan ponselku terlepas ke sofa. Duniaku serasa ikut jatuh bersamanya.
Seratus lima puluh ribu dolar. Honor yang tertahan. Karir yang bisa kukatakan... musnah.
Aku bukan artis besar. Aku belum punya tabungan, belum punya kontrak lanjutan, bahkan belum sempat menikmati hasil kerja kerasku. Jadi, dari mana aku bisa memiliki uang sebanyak itu? Semua perjuanganku lenyap. Bukan karena kesalahanku. Tapi karena dunia memutuskan aku bersalah.
Mataku mulai panas, tapi aku menahan air mataku. Kelelahan, rasa malu, dan ketakutan menumpuk seperti beban di dadaku.
***
Keesokan pagi, aku terbangun di sofa dengan punggung pegal dan kepala yang berat.
Aku tak ingat kapan tertidur. Mungkin setelah menatap kosong langit-langit terlalu lama.
Sebelum aku mengumpulkan kesadaranku, aku meraih ponselku. Jam sudah lewat pukul delapan pagi.
Tanpa pikir panjang, aku membuka email. Mataku langsung mencari satu hal, pemutusan kontrak yang Beth sebutkan semalam. Kujelajahi isi email, mencari detail yang membuat kepalaku semakin berat.
Ditempatkan di bagian akhir paragraf keempat, kalimat itu terasa vonis. Tenggat waktu pembayaran penalti : tujuh hari kerja.
Tujuh hari?
Mataku terpaku di layar, membacanya berulang kali. Tubuhku terhempas ke sandaran sofa.
Nominal seratus lima puluh ribu dolar terus berputar di benakku. Angka yang terasa sangat menyesakkan untukku.
Aku terduduk lama, menatap langit-langit apartemen kecilku. Udara terasa pengap. Rasanya semua dinding merapat ke arahku, menghimpit.
Aku butuh uang. Cepat. Banyak. Dan aku hanya punya tujuh hari.
Aku melangkah ke lemari. Menatap deretan tas branded yang dulu kukumpulkan dari kerja sama endorsement kecil-kecilan, dari pemotretan, dari momen-momen saat aku masih dianggap 'bintang baru yang menjanjikan'... semua kini hanya simbol dari sesuatu yang sudah mati. Apakah aku akan bisa bangkit lagi setelah semua ini? Entahlah.
Aku mulai memotret satu per satu dan mulai mengunggahnya ke situs penjualan barang bekas.
Aku mencantumkan deskripsi yang jujur.
"Kondisi sangat baik. Pemakaian hanya sekali. Barang dari kerja sama endorsement."Tapi saat kuselesaikan unggahan terakhir, aku sadar, ini tidak akan cukup.
Kalaupun semua laku, nilainya tak akan menutup angka seratus lima puluh ribu dalam tujuh hari.
Mataku akhirnya melirik ke tab browser. Dan di sana, salah satu iklan muncul, situs yang menawarkan "Companionship Service."
Pacar Sewaan.
Aku membaca deskripsinya.
"Jadilah pendamping untuk semalam. Tidak ada tuntutan fisik. Kau yang menentukan batasannya. Hanya kencan makan malam, acara privat, atau menemani dalam acara sosial saja."
Aku menatap layar. Tanganku gatal ingin menutup. Tapi, aku terus membaca testimonial dari pengguna yang mengklaim mendapat dua ribu dolar dalam semalam hanya untuk menemani dinner seorang kolektor seni.
Ada juga cerita tentang seorang mantan model yang diminta menemani seorang pengusaha ke gala amal dengan bayaran fantastis hanya untuk tampil dan bicara seperlunya.
Aku akhirnya mulai mengisi formulir pendaftaran. Kupilih fotoku yang paling sederhana tapi tetap menawan. Kutambahkan portofolio kecil. Kutulis syarat jelas : Tidak ada layanan seksual. Tidak menginap.
Ponselku bergetar dua jam kemudian.
Permintaan pertama masuk.
Nama klien : Ronald.
Durasi permintaan : Pesta private. Catatan : Menginginkan pendamping profesional, mampu berbicara dengan percaya diri. Tidak ada permintaan khusus soal fisik. Bayaran : $2.500.Aku menatap layar itu cukup lama.
Jantungku berdetak lebih cepat. Takut. Tapi juga... harapan?
Accept.
Klik.
Aku akhirnya menerima permintaan itu setelah menimbang cukup lama.
***
Malam harinya, aku akhirnya tiba di hotel mewah. Di meja depan, seorang resepsionis dengan senyum ramah menyapa, "Selamat malam, Nona. Bagaimana kami bisa membantu Anda?"
"Saya ada jadwal untuk acara pribadi malam ini."
Dengan cekatan, resepsionis itu memverifikasi undanganku di ponsel dan memberikan akses ke ruang acara di lantai atas.
Saat memasuki lift menuju lantai atas, aku bisa merasakan kegelisahan di hati. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi malam ini, tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus menyelesaikan malam ini dengan baik, dapatkan bayaran, dan keluar tanpa masalah.
Lift berhenti di lantai rooftop, dan aku melangkah keluar dengan jantung yang berdetak kencang. Suara musik memadu dengan gelak tawa tamu berpakaian glamor.
Aku menahan napas, menatap gaun satin biru tua yang kupakai, dan menyesuaikan anting-anting mutiara palsu di telingaku.
"Angela Jones?" seseorang menepuk bahuku membuatku berbalik seketika.
POV Angela"Dia punya banyak kesempatan untuk menghancurkanmu, Angela.""Tapi dia tidak melakukannya.""Bahkan ketika kau dalam bahaya, dia tetap memilih untuk menyelamatkanmu."Dadaku terasa sesak mendengar kata-katanya."Tapi itu bukan sesuatu yang bisa kujawab untuk kalian berdua."Lyla menggeleng pelan."Kalau kau ingin tahu apa yang sebenarnya dia rasakan, kurasa itu sesuatu yang harus kalian bicarakan berdua."Aku tersenyum kecil.Untuk pertama kalinya, tidak ada ketegangan di antara kami.Lyla melirik ke arah pintu."Aku mungkin sebaiknya membiarkanmu beristirahat.""Kurasa aku sudah cukup menyita waktumu hari ini."Aku menatapnya."Terima kasih sudah datang."Senyum tipis muncul di bibirnya."Jaga dirimu baik-baik, oke?"Aku mengangguk.Lyla membuka pintu, lalu kembali menatapku untuk terakhir kalinya."Dan, Angela?""Ya?"Dia terdiam sesaat."Jangan terlalu takut dengan apa yang dia rasakan.""Kadang, seseorang mengatakan bahwa mereka membenci orang lain karena mengakui peras
POV Angela"Kau... kau membelikannya untukku?"Aaron mengangguk singkat."Beth bilang Bennett menghancurkan ponselmu."Aku menatap kotak ponsel di tanganku.Entah kenapa, benda sederhana itu justru membuatku semakin tidak mengerti dirinya.Aku perlahan mengangkat wajah."Kau membuatku semakin sulit memahami dirimu.""Kau membenciku, tapi...""Cukup, Angela," potongnya."Jangan coba memahamiku."Aku kembali menatap ponsel itu."Aku tidak bisa menerima ini."Rahangnya mengeras."Kenapa?""Karena aku sudah terlalu banyak berutang padamu."Aku tersenyum hambar."Kontrak itu saja belum lunas.""Belum lagi semua biaya yang sudah kau keluarkan untukku."Aku menggeleng pelan."Aku bahkan tidak tahu kapan aku bisa membayar semuanya.""Aku tidak ingin membuat utangku padamu semakin besar.""Aku tidak menyuruhmu membayarnya."
POV AaronPintu kamar rumah sakit menutup pelan di belakangku lalu aku berjalan menuju lift.Begitu pintu lift terbuka, ingatanku langsung kembali pada kejadian itu.Mobil yang hancur.Bau bensin yang menyengat.Pecahan kaca yang berserakan di sepanjang jalan.Mobil yang membawa Angela ringsek menghantam pembatas jalan.Dia masih terjebak di dalamnya dalam keadaan tidak sadarkan diri.Salah seorang polisi memecahkan jendela di sisi penumpang, sementara aku memaksa membuka pintu mobil yang sudah penyok.Aku masuk ke dalam, menjangkau tubuh Angela, lalu melepaskan sabuk pengamannya."Angela."Kelopak matanya bergerak pelan. Dia membuka mata sesaat dan menatapku dengan pandangan yang mulai kehilangan fokus. "Tetap denganku," kataku lagi. Tidak ada jawaban.Aku menyelipkan satu tangan ke belakang punggungnya dan tangan lainnya ke bawah kedua lututnya, bersiap mengangkatnya keluar.Lalu...Sebuah tangan berlumuran darah tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Angela.Ian Bennett. Dar
POV AngelaDia mengenakan kemeja biru tua, jas luarnya sudah tidak dipakai dan samar-samar terlihat lingkaran gelap di bawah matanya.Untuk beberapa saat, tak ada satu pun dari kami yang berbicara.Lalu dia memecah keheningan."Kau sudah sadar."Aku mengangguk pelan.Ekspresinya tidak berubah sedikit pun."Bagus."Tatapannya tetap tertuju padaku."Ian sudah ditangkap."Mataku langsung membelalak."Apa?""Dia selamat dari kecelakaan itu. Polisi langsung menangkapnya."Aku menatapnya, berusaha mencerna setiap kata yang baru saja kudengar."Jadi..."Aku menelan ludah dengan susah payah."Semuanya sudah berakhir?""Iya."Rasa lega menyapu dadaku begitu cepat.Akhirnya...Ian akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.Dia tidak akan bisa menguntitku lagi.Dia juga tidak akan bisa menyakiti siapa pun lagi.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...Aku tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan terhadap seseorang yang rela melakukan apa pun hanya karena obsesi.Tatapanku perlahan kem
POV AngelaKelopak mataku terasa begitu berat.Butuh beberapa kali usaha sebelum akhirnya berhasil kubuka perlahan.Langit-langit putih mulai terlihat jelas di atas sana.Selama beberapa detik aku hanya menatapnya, tidak benar-benar mengerti di mana aku berada.Sinar matahari yang hangat menembus celah tirai, menyelimuti ruangan asing itu dengan cahaya lembut.Aku berkedip beberapa kali hingga pandanganku akhirnya benar-benar fokus.Lalu semuanya kembali memenuhi ingatanku.Ian telah menculikku.Kami melarikan diri dengan mobil.Kecelakaan itu.Bayiku.Jantungku langsung mencelos.Refleks, tanganku bergerak menuju perutku.Namun baru sedikit bergerak, rasa nyeri yang tajam menjalar dari bahu hingga tulang rusukku.Aku terkesiap pelan.Baru saat itulah kusadari ada infus yang terpasang di punggung tanganku. Pelipisku terasa tertarik oleh balutan perban, sementara seluruh tu
POV AngelaAir mataku hampir jatuh, tetapi kutahan sekuat mungkin.Saat itulah pintu kamar terbuka begitu saja.Salah satu pria bertubuh tinggi bergegas masuk. Napasnya memburu, wajahnya tegang.Ian langsung menoleh dengan kesal karena gangguan itu."Apa?"Nada suaranya tajam."Kau sudah membeli makanannya?""Belum, Tuan."Pria itu sempat melirik ke arahku sebelum kembali menatap Ian."Kami mendapat informasi kalau polisi sudah bergerak. Mereka berhasil menemukan tempat ini."Dadaku langsung mengencang. Polisi...Harapan yang tadi nyaris padam kembali menyala.Aku berharap mereka akan menemukanku di sini. "Kita harus pergi sekarang," lanjut pria itu.Ian tidak tampak terkejut. Dia hanya mengangguk singkat, lalu mengalihkan tatapannya padaku. "Sepertinya kita harus pindah," katanya tenang. Aku menggeleng tegas."Aku tidak akan ikut denganmu."Rahang Ian langsung mengeras."Apa yang baru saja kau katakan?" suaranya nyaris seperti geraman."Aku bilang aku tidak ikut."Dalam dua langk
POV AngelaSeorang suster keluar dari ruang ICU. "Apakah Anda keluarga dari Mrs. Jones?"Aku segera berdiri dan mendekat. "Ya, saya putrinya. Bagaimana kondisinya?" tanyaku, cemas. "Saat ini, Dr. Smith sedang menyelesaikan catatan pasca-operasinya," jawabnya. "Dia akan menemui Anda di ruangannya s
POV AngelaAku menunduk, berusaha menyembunyikan kekacauan yang bergejolak di dadaku. Telepon dari rumah sakit itu terus terngiang di kepalaku. Mom dalam kondisi kritis. Mereka membutuhkan persetujuanku untuk operasi. Tapi aku tidak tahu bagaimana menjelaskan semua ini kepada Aaron. Aku tidak ingin
POV AngelaAku tak tahu apa lagi yang terjadi saat aku menutup kedua mataku, tapi tiba-tiba cengkeramannya lepas dari leherku. Aku melihat Ian terjatuh. Sepertinya ketika Ian fokus padaku, Aaron menyerangnya dari belakang. Ian terjungkal ke lantai, mengeluarkan rintihan kesakitan. Aaron langsung m
POV Angela"Angela, kau dicari Ms. Miller di ruang seni," ujar salah seorang temanku, suaranya terengah-engah seperti baru saja berlari.Ruang seni? Kenapa dia mencariku jam segini? Ini sudah saatnya pulang sekolah, dan aku harus segera menjenguk Mom di rumah sakit. Dengan rasa penasaran, aku menyu







