MasukDi hadapanku berdiri seorang pria berjas hitam. Senyum ramah tersungging di wajah tampannya.
"Ronald?"
"Ya, itu aku," jawabnya, lalu tanpa permisi langsung meraih pinggangku.
Aku hanya tersenyum tipis. Tubuhku kaku, tidak nyaman dengan sentuhannya yang mendadak. Tapi aku menelan keberatanku. Dua ribu lima ratus dolar. Aku harus bertahan.
Ronald membawaku berkeliling, mengenalkanku pada para pria berjas dan wanita bergaun mahal. "Pacarku," katanya berkali-kali, seolah aku benar-benar miliknya. Tangannya tak pernah lepas dari pinggangku.
Aku berusaha menjaga sikap. Bicara seperlunya. Tersenyum saat perlu. Aku hanya berharap malam ini bisa cepat berakhir, dan aku bisa pergi dengan uangku.
Sampai mataku menangkap sosok yang paling tak ingin kulihat malam ini.
Aaron.
Dia berdiri di dekat meja minuman, berbincang santai dengan sekelompok pria. Matanya tidak melihat ke arahku, tapi kehadirannya langsung memukul jantungku.
Kenapa dia ada di sini?
"Angela, coba ini," kata Ronald sambil menyodorkan segelas minuman.
"Tidak, terima kasih," tolakku pelan.
"Oh, ayolah." Dia memaksakan gelas itu ke tanganku. "Kau di sini bukan untuk membuat aturan. Sedikit saja, untuk bersenang-senang."
Dengan berat hati, aku menerima gelas itu. Aku ingin menjaga kesadaranku tetapi sepertinya untuk mendapatkan uang, aku terpaksa harus minum.
"Terima kasih," gumamku.
Ronald kembali menyeretku ke lingkaran rekan-rekannya. Salah satu menatapku lama, matanya menyipit, sebelum berkata,"Sepertinya aku pernah melihatmu. Apakah kau artis pendatang baru itu, Angela Jones?"
Aku tersenyum dan menjawab dengan anggukan ringan. "Ya, benar. Aku Angela Jones."
"Oh," sahut pasangan pria itu sambil menyesap minumannya. "Kau... benar-benar memiliki hubungan dengan sutradara itu?"
Pertanyaan itu membuat napasku tercekat, mengingatkanku kembali kepada semua masalahku.
"Itu tidak benar," jawabku cepat. Nadaku datar, mataku menatap lurus. Aku tak perlu membela diri lebih dari itu. Yang penting, jawaban singkatku sudah cukup menjelaskan semua skandal itu tidak benar. Tetapi dari tatapan mata mereka, aku melihat ada keraguan di sana. Terserah jika mereka tidak percaya, aku juga tidak akan peduli.
Pesta terus berlanjut. Musik mengalun, tawa pecah di sana-sini. Ronald masih sibuk berbincang dengan rekan bisnisnya, sementara mataku menyapu ruangan. Mencari satu sosok.
Aaron. Ke mana dia?
"Apa yang kau cari?" tanya Ronald tiba-tiba.
"Ah, tidak ada."
"Aku tahu kau bosan," Ronald langsung meraih tanganku. "Ayo cari udara segar. Terlalu ramai di sini."
Dia menarikku menjauh dari area utama lounge. Kami naik beberapa anak tangga kecil menuju sisi rooftop lounge yang lebih tenang, di mana cahaya lampu redup dan hanya ada beberapa tamu yang duduk berpasangan, menikmati malam.
Musik dari area utama masih terdengar samar, tapi di sini angin malam lebih terasa, menenangkan. Pemandangan kota yang gemerlap terbentang luas di bawah.
"Akhirnya kita bisa sendiri," napas Ronald menguar bau alkohol. Dia menggenggam tanganku, mengelusnya perlahan sampai ke lengan atas. "Kau sangat cantik."
Aku menarik sedikit tanganku, tapi dia malah melingkarkan lengannya ke pinggangku.
"Ronald, kita cuma pura-pura pacaran, bukan..."
Dia hanya terkekeh dan tidak menjawab.
Tetapi tangannya masih terus bergerak, menyusuri sisi pinggangku, turun sedikit ke pinggul. Gerakannya lambat, seolah menguji reaksiku.
Aku langsung mundur setapak. "Cukup, Ronald."
Dia menatapku sambil tersenyum, tapi matanya seperti mulai kabur karena efek alkohol. "Ayolah, Angela. Aku sudah bayar mahal, dan kau luar biasa seksi malam ini." Dia terkekeh. "Lima belas ribu lagi, kalau kau mau temani aku semalaman."
Aku membeku.
Sebelum sempat berkata apa pun, dia mendekatiku kembali. Mengecup pipiku, turun ke rahang, lalu ke leher. Aku menahan napas, tubuhku menegang.
Ini bukan lagi pura-pura. Ini pelecehan.
Aku mendorong dadanya. Tanpa pikir panjang, aku menyiramkan isi gelasku ke wajahnya. Beberapa tamu menoleh ke arah kami.
Dari sudut mataku, aku kembali melihat Aaron. Ternyata dia masih berada di pesta ini.
Dia berdiri di batas area lounge, tak jauh dari kami, menyaksikan semuanya dengan tatapan datar. Satu tangannya menggenggam gelas kristal, menatapku seperti aku hanya bagian dari hiburan malam ini.
"Berhenti. Aku bukan pelacur," kataku pada Ronald.
Ronald tiba-tiba mencengkeram lenganku kasar. "Jangan main-main denganku. Kau pikir kau siapa?" bisiknya di telingaku.
Satu tangannya menahan daguku, yang lain masih mencengkeram lenganku.
"Biarkan aku pergi!" bisikku, berusaha menarik lenganku yang masih dalam cengkeramannya. Tapi dia terlalu kuat.
"Kau pikir ada yang peduli kalau aku membawamu paksa ke kamar?" Suaranya rendah, nadanya penuh ancaman.
Aku menatapnya tajam. "Beberapa orang melihat kita. Kau tak cukup bodoh untuk menghancurkan reputasimu di tengah orang-orang penting ini," kataku.
Matanya menyipit, lalu sebuah senyum terukir di bibirnya.
"Kau sangat berani. Aku mulai menyukaimu."
Dia menahan tengkukku dengan satu tangan, kasar, lalu memiringkan wajahnya mendekat ke arahku. Napasnya yang panas dan bau alkohol menyapu kulit pipiku. Napasku tercekat. Bibirnya hampir menyentuhku.
Aku menoleh cepat, menolak, tapi cengkeramannya pada tengkukku malah menguat.
"Ronald, hentikan," bisikku tajam, suaraku gemetar tapi mataku tidak. Aku ingin terlihat kuat, meski di dalam, perutku sudah terasa seperti diikat simpul. "Kau sudah melewati batas."
"Jangan pura-pura polos," desisnya. "Kau datang ke pesta ini dengan gaun seperti itu, memamerkan tubuhmu padaku. Jangan bohongi dirimu sendiri."
Tangannya turun ke punggungku, menekan pelan, mencoba membuatku tunduk. Tapi aku menegakkan kepala, menahan napas, dan menguatkan tubuh. Aku menolaknya tanpa suara, seluruh tubuhku menegang.
Jantungku berdetak kencang, bukan karena godaan, tapi karena jijik dan takut.
Tepat saat bibirnya nyaris menyentuh bibirku, sebuah suara dingin dan tegas menggema dari balik kerumunan.
"Lepaskan dia."
Aku menoleh.
Aaron.
Dia berdiri di bawah cahaya lampu gantung rooftop, gelas di tangannya masih penuh. Sikapnya tenang, tapi tatapan matanya tajam.
"Pak Ca-Carter..." gumam Ronald, terdengar nada gugup dari suaranya. Sepertinya Ronald mengenal Aaron.
Aaron hanya menatapnya sekilas sebelum matanya jatuh padaku. Kemudian dia melangkah maju, menarik lenganku dari cengkeraman Ronald. Dia tak menunggu persetujuan dan menarikku begitu saja, kasar dan penuh otoritas.
"Pak Carter..." Ronald mencoba menyela. "Maaf, tapi dia adalah wanita saya malam ini."
Aaron tak menjawab. Cengkeramannya di lenganku tak berkurang sedikit pun. Sementara Ronald sepertinya mulai menyadari bahwa tindakannya mulai mengundang perhatian dari beberapa tamu undangan.
"Perdebatan kecil antar pasangan," katanya kepada sepasang tamu di dekat kami. "Tidak ada yang perlu dilihat di sini."
Sebagian tamu memang mulai berbalik, mungkin tak ingin ikut campur.
Ronald mencoba mendekat padaku, berusaha menarikku kembali. Tapi Aaron tidak melepaskanku. Tatapan tajam Aaron membuat Ronald langsung berhenti di tempat.
"Pak Carter," Ronald mendesis. "Apakah Anda mengenal wanita ini?"
Aaron tidak bergeming. Hanya matanya yang bergerak, menatapku dingin dan mungkin juga jijik.
Ronald tertawa sinis. "Tidak mungkin Anda mengenali... wanita murahan seperti ini, bukan?"
Tubuhku menegang. Darahku mendidih mendengar perkataan Ronald. Wanita murahan seperti apa yang dia maksud? Aku?
Aaron tetap diam. Tatapannya jatuh padaku seperti menilai sampah.
Ronald mendesak, "Dia ini wanita bayaran. Aku membayarnya. Dia milikku malam ini."
Namun Aaron masih juga tidak melepaskan lenganku. Sebaliknya, cengkeramannya semakin kuat, membuatku sedikit meringis kesakitan.
Akhirnya, Aaron berbicara. Suaranya pelan, datar, tetapi keras.
"Aku akan mengganti semuanya," katanya. "Berapapun yang kau bayar, aku bayar dua kali lipat."
Ronald membuka mulut, tapi Aaron memotong cepat.
"Malam ini," katanya, nadanya menggeram sambil melirik ke arahku. "Wanita ini milikku."
"T-tapi..." Ronald berusaha berbicara tetapi tatapan dingin Aaron membuatnya terdiam.
Ronald akhirnya mendecakkan lidah, seperti tidak senang, tetapi sesaat kemudian dia mengangkat tangannya. "Baiklah, Pak Carter. Silakan... nikmati 'barang' Anda."
Aku merasa marah mendengar caranya bicara tentangku. Tapi Aaron tetap tenang, seolah aku memang hanya transaksi untuknya.
Setelah memberikan uang pada Ronald, Aaron menarikku menjauh dari sisi rooftop. Cengkeramannya kuat, tak memberiku ruang untuk berontak. Aku hampir terseret mengikuti langkahnya yang panjang dan terburu-buru.
Kami masuk ke koridor eksklusif lounge yang mengarah ke penthouse pribadi. Musik dan keramaian semakin jauh. Sepanjang jalan, Aaron tak melepaskan tanganku.
"Aaron, lepaskan!" seruku, berusaha menarik lenganku, tapi dia justru memojokkan tubuhku ke dinding.
POV IanBajingan ini benar-benar sudah tidak menyayangi hidupnya.Aku menatapnya beberapa detik. Dia tampak tenang. Terlalu tenang.Lalu aku memukulnya.Tinju pertamaku menghantam wajahnya keras. Kepalanya tersentak ke samping.Aku tidak berhenti.Aku memukulnya lagi. Dan lagi.Buku-buku jariku panas. Darah langsung muncul, mengalir dari sudut bibirnya ke dagu.Satu temanku menahan bahunya kuat-kuat, menekannya tetap berlutut. Carter tidak bisa menghindar kali ini.Aku memukulnya sampai napasku sendiri berat.Sampai dadaku naik turun.Sampai tanganku bergetar bukan karena lelah, tapi karena puas.Dan sialnya… dia masih bisa tertawa.Bukan keras. Bukan lepas. Hanya dengusan rendah, terputus, bercampur darah.Aku berhenti.Menatapnya.“Kau masih bisa tertawa?” tanyaku pelan.Carter mengangkat wajahnya sedikit. Darah menetes dari bibirnya.
POV IanAku duduk santai di sofa kulit, satu tangan memegang gelas wiski. Lampu redup memantul di cairan amber itu.Seorang wanita di sisi kiriku menuangkan minuman tanpa diminta. Yang satu lagi duduk di pangkuanku, mencondongkan tubuh, mulutnya menempel di bibirku, lidahnya bergerak berani.Aku membalasnya lebih dalam, lebih kasar hingga dia mendesah pelan.Pintu ruang VIP terbuka.Dentuman bass dari lantai bawah langsung terdengar. Tiga anak buahku melangkah masuk. Begitu aku melihat wajah mereka, aku sudah tahu.Aku mendorong wanita di pangkuanku menjauh.“Keluar,” kataku singkat.Pintu menutup kembali dan musik teredam.Aku tidak menoleh.“Kami gagal,” kata salah satu dari mereka.Gelas wiski masih di tanganku. Aku memutarnya pelan, es berdenting pelan di dalamnya.Gagal.Satu kata. Tapi cukup untuk membuat rahangku mengeras.Aku melem
POV AaronAku tidak memberinya kesempatan.Aku maju dan menghantamkan bahuku ke dadanya. Benturan itu merobohkannya. Aku jatuh bersamanya, lututku menghantam aspal. Dengan tangan yang masih berfungsi, aku mencengkeram kerahnya dan menghantamkan kepalanya ke tanah.Dia terkulai dan tak bisa bangkit lagi.Aku berdiri terhuyung. Lenganku berdenyut keras, nyeri menjalar sampai bahu. Aku menggenggamnya, masih bisa digerakkan. Sakit, tapi tidak patah.“Aaron!” Angela berlari ke arahku, wajahnya terlihat pucat. “Tanganmu...”“Ke mobil,” potongku cepat. “Sekarang.”Dia ragu sepersekian detik, sebelum akhirnya berbalik dan berlari. Aku tetap berdiri, menghadap mereka.Tidak ada yang maju. Tatapan mereka berubah—bukan takut, tapi menghitung ulang.Tiba-tiba, lampu sorot menyapu persimpangan dari arah berlawanan. Empat SUV hitam masuk hampir bersamaan, berhenti membe
POV AaronAku tahu kami tidak sendirian sejak aku duduk di mobil menunggu Angela keluar. Naluri itu tak pernah salah. Tanpa ragu, aku meraih ponsel, mengetik beberapa kata singkat, lalu mengirimkannya.Begitu mobil bergerak, mobil di belakang ikut melaju. Tidak agresif. Tidak menjaga jarak terlalu dekat. Dia berada tepat di posisi aman, terlalu rapi untuk disebut kebetulan.Aku tetap mengemudi, menanggapi ocehan Angela yang mencoba memancing emosiku. Nada suaranya naik turun, tapi aku tetap berusaha tenang.Begitu ada celah, aku menekan pedal gas.Mobil melesat, kecepatan naik, cukup untuk menguji mereka.Mataku terkunci pada kaca spion.Mobil itu ikut mempercepat.Sudah jelas sekarang.Angela terus mengomel, nada frustrasinya terdengar jelas di kabin. Aku hanya diam, menunggu sampai akhirnya dia menyadari sendiri—kami sedang diikuti.Tiba-tiba, ponselnya berdering. Aku menangka
POV AngelaAku langsung mengenali dua orang yang berjalan di belakang Beth. Lauren dan Natalie. Kami pernah satu agensi. Pernah berbagi ruang tunggu casting yang sama.Beth berhenti di samping mejaku, lalu mencondongkan tubuh sedikit seperti sedikit merasa bersalah.“Angela, kau tidak keberatan, kan? Mereka ikut setelah tahu aku mau ketemu kau."Aku melirik ke arah Lauren dan Natalie.“Keberatan?” kataku. “Ayolah. Duduk.”Lauren tersenyum kepadaku. "Hai, Angela.""Hai," jawabku. "Lama gak ketemu."Natalie tertawa kecil. "Iya. Terakhir kali aku lihat kau, kita masih menunggu hasil casting yang gak pernah dikabarin itu "Lauren menyeringai. "Dan ternyata perannya jatuh ke anak produser."Aku menghela napas, setengah tertawa.Obrolan kami langsung mengalir. Tidak dipaksa. Seperti kami hanya berhenti bicara sebentar, bukan terpisah lama.Bartender datang, B
POV AngelaAku menatap layar. Nama Aaron masih menyala di sana. Ibu jariku menggantung di atasnya.Aku memutuskan untuk tidak mengangkat telepon itu hingga dering itu berhenti dengan sendirinya.Aku menghela napas perlahan, tidak yakin apa yang akan dilakukan Aaron karena aku mengabaikannya seperti ini.Aku menyalakan mesin dan terus mengemudi, tanpa tujuan.Ponselku berdering lagi.Aku mengeluarkannya dari tas dan melihat namanya muncul untuk kedua kalinya.Kali ini tanpa ragu, aku langsung menekan tolak.Layar menjadi gelap.Cengkeramanku di setir mengencang. Aku bahkan tidak tahu ke mana tujuanku sekarang.Tanpa benar-benar merencanakannya, aku berbelok.Beberapa menit kemudian, rumah ayahku muncul di ujung jalan.Aku memarkir mobil di tepi jalan dan duduk diam sejenak, menatap pintu depan. Rumah itu tampak sama seperti biasanya. Bersih. Rapi. Tak ada yang berubah.Aku tur







